Suasana kafe yang semula ramai tiba-tiba terasa hening di sekitar mereka.
Kajayanti yang berada di sebelah Ken Aji, tersentak, wajahnya memerah karena malu dan amarah. Dia menatap Kaluna dengan tatapan penuh kebencian yang terbuka.
Marisa segera maju sedikit, berbisik keras kepada Ken Aji, tetapi suaranya cukup lantang untuk didengar Kaluna.
"Sudah kubilang, Mas. Dia akan memanfaatkan uangnya itu untuk terus menghina kita, seolah kita sangat berhutang budi padanya," bisik Marisa dengan nada mengipasi.
Kaluna tersenyum sinis, menatap Marisa.
"Apa yang kau katakan, Nyonya Marisa? Hutang budi? Oh, tentu saja," ujar Kaluna dengan intonasi mengejek. "Jika bukan karena uangku... mungkin... kalian tidak akan lagi terlibat di peresmian ini."
Kaluna melirik tajam ke arah Andrian, yang tetap diam. Pria itu bersikap seperti biasanya, hanya mengamati dari belakangnya, menunggu batas akhir Kaluna.
"Jadi Ayah," Kaluna kembali ke Ken Aji, suaranya dipenuhi otoritas mutlak. "Tidak perlu kau memikirkan operasional kafe orang kepercayaanku. Kafe Praka adalah milikku sudah pasti menjadi miliknya."
Ken Aji terdiam, benar-benar terpojok oleh referensi utang lama dan dominasi Kaluna yang tak terbantahkan. Marisa dan Kajayanti hanya bisa menahan amarah, tidak mampu membalas pukulan telak itu.
Tepat saat Ken Aji hendak membuka mulut, kemungkinan untuk melontarkan ancaman atau cemoohan balik yang bisa merusak Kaluna secara emosional, Andrian melangkah maju.
Andrian menempatkan dirinya di samping Kaluna, bahunya yang lebar menjadi perisai yang nyata. Dia merangkul pinggang Kaluna dengan tegas, menariknya sangat dekat.
"Maaf, Tuan Kinan," sapa Andrian dengan suara dingin dan tenang, memotong ucapan Ken Aji. "Saya rasa urusan yang menyangkut Ameertha dan keuangan, sudah selesai. Kaluna telah memberikan penjelasan yang sangat jelas tentang kepemilikan dan haknya untuk melakukan investasi strategis."
Andrian menatap mata Ken Aji, tatapannya kini berubah menjadi peringatan tajam.
"Malam ini adalah acara peresmian bisnis. Bukan ajang untuk menyelesaikan drama pribadi. Aku harap, demi hubungan baik keluarga dan korporat, Ayah dapat menghormati batas ini. Silakan nikmati acaranya, atau... silakan pergi dari sini!" tegas Kaluna.
Ancaman dingin dari Andrian, sang CEO Sugara Group, memiliki bobot yang berbeda. Ken Aji tahu dia tidak bisa berperang melawan Kaluna dan Andrian secara bersamaan tanpa kerugian besar.
Ken Aji mengangguk kaku, ekspresi kalah tersirat di wajahnya.
Andrian dan Kaluna, dengan ketegangan yang masih terasa, segera menjauh dari area Ken Aji dan rombongannya yang kini berdiri canggung di sudut kafe.
Andrian berbisik di telinga Kaluna, "Kau luar biasa, Nyonya Sugara. Tapi, kau hampir terlewat batas."
"Aku tidak suka diganggu saat sedang bekerja, Tuan Sugara," balas Kaluna, suaranya sedikit serak karena adrenalin.
Kaluna segera mencari Rayyan. Dia melihat Rayyan yang tadi berdiri kaku di belakang Leon, kini tampak tercengang dan sedikit gemetar.
Mereka berdua berjalan menuju Rayyan, tampak pucat namun matanya bersinar karena menyaksikan pertahanan diri Kaluna.
"Rayyan, bagaimana perasaanmu?" tanya Kaluna lembut, menyingkirkan buket mawar birunya ke tangan Leon.
Rayyan mendongak, matanya yang biasa tertutup ketakutan kini menunjukkan campuran rasa syukur dan sedikit ketidakpercayaan.
"Aku... aku baik-baik saja, Kakak ipar," jawab Rayyan. "Aku tidak pernah melihat orang seberani dirimu."
Kaluna tersenyum penuh makna. "Keberanian datang dari keyakinan. Malam ini, kau juga perlu keberanian itu, Rayyan. Kafe ini adalah panggung pertamamu. Aku hanya ingin memastikan, di depan semua orang ini, tidak ada lagi yang bisa membatasi gerakmu."
Rayyan mengangguk, dia memejamkan mata sejenak, mengambil napas dalam-dalam. "Aku mengerti. Terima kasih."
Praka mendekat, matanya menatap Kaluna dengan misterius.
"Tunggu sebentar, Nyonya Sugara," ujar Praka. "Acara peresmian kafe ini belum lengkap tanpa menu spesial. Ini bukan hanya tentang bisnis, ini sanjungan untuk wanita paling berpengaruh di kafe ini."
Praka memberi isyarat kepada salah satu pelayannya yang membawa piring saji yang tertutup rapat. Aromanya samar-samar menyebar, kontras dengan canapé mewah yang disajikan untuk tamu lain.
Praka mengambil alih piring itu dan meletakkannya di hadapan Kaluna di salah satu meja kecil. Dia membuka penutupnya dengan gerakan teatrikal.
Kaluna menatap piring itu dengan mata terkejut. Ekspresinya yang selalu tenang kini menunjukkan emosi langka.
"Kau ingat?" bisik Kaluna, suaranya dipenuhi nostalgia yang tiba-tiba.
Nasi Telur Orek adalah makanan favoritnya saat dia masih kecil dan besar bersama Praka.
Praka selalu berusaha memasak untuknya, tapi gagal. Namun, nasi telur orek adalah satu-satunya masakan Praka yang tetap bisa dinikmati Kaluna meski juga termasuk masakan yang gagal.
Praka tersenyum, senyum tulus yang tidak mengandung sindiran atau kecemburuan.
"Bagaimana mungkin aku lupa, Kaluna? Di antara semua masakan mewah yang pernah kau cicipi, kau selalu kembali pada hidangan yang paling jujur ini," ujar Praka.
“Dan yang paling penting, kau yang memasaknya?” Kaluna mengangkat dagunya sebagai tuntutan persetujuan.
Praka tersenyum dan mengangguk, membenarkan ucapan Kaluna.
Andrian mengerutkan kening, menatap jijik pada piring sederhana di atas meja kecil itu.
"Nasi telur orek?" sindirnya, suaranya dingin, kontras dengan gemerlap lampu kafe. "Tuan Praka, di tengah peresmian yang mewah ini, kau menyajikan... sarapan sisa untuk istriku? Ini adalah hidangan yang gagal secara presentasi."
Praka tertawa kecil, tidak tersinggung. "Tuan Sugara, saya jamin, ini adalah hidangan terbaik di seluruh kafe malam ini. Hanya saja, ini bukan untuk semua orang."
Mata semua orang tertuju pada Kaluna, menunggu reaksinya atas sindiran Andrian.
Kaluna menoleh ke suaminya, senyumnya kini menghilang, digantikan oleh tatapan yang lembut namun penuh makna. Dia mengambil sendok perak di samping piring itu dan menyuap sedikit nasi telur orek.
"Kau salah, Tuan Sugara," ujar Kaluna pelan, suaranya serak karena emosi. "Ini bukan makanan yang gagal. Ini adalah makanan yang paling spesial."
Kaluna menoleh ke Praka. "Terima kasih, Raka. Hanya kau yang tahu tentang ini."
Andrian terdiam. Ekspresi wajahnya yang dingin perlahan melunak menjadi rasa ingin tahu yang mendalam, bercampur sedikit kecemburuan.
Dia menyadari bahwa Praka telah menyentuh sisi Kaluna yang bahkan dia sendiri belum mengenalnya.
"Spesial kenapa?" tanya Andrian, nadanya menuntut penjelasan.
Kaluna tidak menjawab langsung. Dia hanya menatap piring itu dengan mata berkaca-kaca, sebelum dengan cepat menepis emosi itu dan kembali fokus.
"Ini adalah makanan yang membuatku ingat bahwa kesuksesan tidak selalu berbau kemewahan. Itu saja," jawab Kaluna singkat, memberi isyarat kepada Praka bahwa momen emosional harus dihentikan.
Praka tersenyum bangga. Tapi tak lama, dia segera beralih ke mode bisnis. Praka segera mengambil kesempatan untuk berbicara dengan nada rendah yang terkesan kasual.
"Kaluna," bisik Praka, seolah-olah mengomentari hidangan tersebut. "Aku ingin kita membicarakan masalah Amertha secepatnya. Ada beberapa detail peluncuran yang harus kau setujui malam ini juga. Ini menyangkut pergerakan dana yang cukup sensitif."
Menyadari keseriusan Praka, Kaluna langsung berpikir bahwa ini bukan hanya tentang Ameertha. Ada hal baru yang jelas ingin disampaikan Praka secara pribadi dengannya.
Kaluna menoleh ke wajah Andrian. Dia memberikan isyarat yang jelas dan dingin melalui matanya, sebuah isyarat yang mengatakan, 'Tinggalkan aku dengannya. Ini urusan Ameertha.'
Andrian mengernyitkan dahi. Dia merasakan dorongan kuat untuk menolak dan ikut campur, terutama setelah percakapan emosional Kaluna dengan Praka tentang Nasi telur orek itu. Namun, dia melihat ketegasan mutlak di mata Kaluna.
Kaluna kembali menatap Andrian.
"Aku akan segera turun, Tuan Sugara,” katanya.
Andrian menghela napas panjang, menunjukkan bahwa dia tidak menyukai instruksi ini, tetapi dia menghormati batasan profesional Kaluna. Dia tahu, jika dia mendesak, Kaluna akan menggunakan argumen korporat untuk menyingkirkannya.
"Baiklah," ujar Andrian dengan nada dingin yang menunjukkan kekecewaannya. "Jangan lama-lama. Aku tidak suka meninggalkan istriku yang membawa mawar langka sendirian di keramaian."
Andrian mencium cepat kening Kaluna sebagai penanda kepemilikan, lalu berbalik menuju area utama kafe, meninggalkan Kaluna dan Praka di meja kecil itu.
Kaluna tersenyum kecil pada Praka begitu Andrian menjauh. "Ayo, Raka. Ruang kerjamu."
Mereka berdua berjalan menuju tangga ke lantai atas, meninggalkan Rayyan bersama Leon. Dan mawar biru, simbol romansa mahal Andrian, teronggok di sudut meja.