Kaluna dan Praka memasuki ruang kerja yang sunyi di lantai atas. Ruangan itu memiliki jendela besar yang menghadap ke keramaian kafe di bawah, memberikan isolasi yang diperlukan.
Kaluna, segera setelah pintu tertutup, menjatuhkan sikap CEO-nya. Dia melepas blazernya dan menatap Praka dengan serius.
"Apa yang begitu sensitif, Raka?" tanya Kaluna, langsung ke inti.
Praka tidak menyalakan layar holographic atau mengeluarkan dokumen apapun. Dia hanya bersandar di meja kerjanya, menatap Kaluna dengan senyum tulus tanpa sindiran yang biasa.
"Aku bohong," jawab Praka terus terang. "Tidak ada pergerakan dana yang sensitif, Kaluna. Hanya ada satu pergerakan yang sangat sensitif di sini."
Kaluna tercengan, menghadap ke arah Praka usai menanggalkan blazernya ke kursi.
Praka menunjuk ke dada Kaluna. "Pergerakan hatimu."
Kaluna terdiam. Ekspresi tenangnya mulai retak. Dia menatap Praka dengan tatapan peringatan yang tajam.
"Aku tidak suka diganggu dengan drama emosional, Raka. Waktuku terbatas," ujar Kaluna, suaranya dingin.
"Kau tidak fokus, Kaluna. Beberapa minggu terakhir, rencanamu terlalu dipengaruhi oleh reaksi. Reaksi Rayyan, reaksi Alivia, dan yang paling parah, reaksi Andrian," Praka mengabaikan peringatan itu.
“Apa maksudmu tidak fokus?” tanya Kaluna, suaranya mulai meninggi.
Praka maju selangkah. "Kau yang mendominasi, kau yang memegang kendali hukum dan finansial. Tapi kenapa kau terlihat sangat peduli, terutama kau mendadak menyukai bunga pemberian Andrian? Aku belum pernah melihatmu se-emosional itu, bahkan saat kita harus berjuang mati-matian dulu."
Kaluna memalingkan wajah, berjalan ke jendela, menatap lampu-lampu kota yang ramai di luar.
"Itu hanya reaksi untuk menunjukkan apresiasi, Raka. Jangan berlebihan,"
"Apresiasi yang membuatmu bersinar sejenak, tapi juga bisa membuatmu goyah," balas Praka. "Mawar biru langka. Kontrak perlindungan korporat yang melindungi adik iparmu dari ibunya sendiri, semua itu hanyalah tindakan kecil."
Praka melanjutkan, suaranya melembut, dipenuhi keprihatinan. "Tapi sesungguhnya, dia sedang melakukan upaya besar untuk menaklukanmu, Kaluna. Bukan dengan kata-kata cinta, tapi dengan bahasa yang paling kau pahami, kekuatan korporat dan dominasi. Apakah... dia berhasil menyentuhmu? Apakah kau mulai jatuh cinta padanya?"
Kaluna berbalik dengan cepat, sorot matanya yang tajam kembali.
"Jangan konyol, Raka. Cinta adalah kerentanan terbesar. Dan aku tidak akan terjebak di dalamnya,” ujarnya cepat.
"Kau tahu, Kaluna. Andrian adalah pria yang sangat dingin, tetapi mawar itu, perlindungan Rayyan itu... itu bukan lagi sekadar kontrak bisnis. Dia membeli bunga puluhan juta untukmu. Dia mengubahnya menjadi tindakan korporat yang legal. Itu menunjukkan dia sedang berusaha keras untuk memahami caramu bekerja dan mencintaimu, dengan caranya sendiri," desak Praka.
Kaluna berjalan kembali ke meja, meraih blazer-nya.
"Itu menunjukkan dia pintar, Raka. Dia tahu cara memenangkan kepercayaanku, dan itu saja. Jangan merusak rencana kita dengan imajinasi romantis," ujar Kaluna.
Namun, saat dia mengenakan kembali blazer-nya. Gerakannya terlihat kurang tegas, seolah pikirannya benar-benar terbagi.
Praka menghela napas, menyadari bahwa Kaluna tidak akan mengakuinya. Dia terus mengingatkan Kaluna tentang tujuan awalnya.
Kaluna menghela napas, menatap Praka dengan sorot mata yang sedikit melunak.
"Ada banyak hal yang harus kuurus di rumah Cassavanos, ada banyak yang harus diperbaiki atau mungkin harus kuselamatkan, Raka," ucapnya pelan, mengacu pada keretakan dalam keluarga tersebut.
"Fokusku mungkin akan sedikit terbagi, Raka. Tapi, aku tidak akan lupa pada tujuan awal kita,” tambah Kaluna.
Penegasan itu menenangkan Praka. Dia tahu bahwa meskipun emosi Kaluna mungkin mulai terganggu, logika dan tujuannya tetap tajam.
“Baiklah, aku percaya padamu, Kaluna,” ujar Praka.
“Tapi ingat satu hal, Praka! Misi kita adalah mengungkap kebenaran, bukan balas dendam," ujar Kaluna lagi.
Praka tersenyum lebar, menyentuh pipi Kaluna.
“Baiklah, Rubah Kecil. Kau masih menguasai permainan ini, kuakui. Tapi ingat, setiap orang akan kembali pada hidangan yang paling jujur pada akhirnya," kata Praka.
Kaluna hanya memberinya senyum tipis, senyum yang tidak mematikan seperti biasanya, melainkan sedikit bingung. Dia kemudian berbalik, membuka pintu, dan berjalan kembali ke lantai bawah.
Andrian, dengan mata tajam dan tegang, masuk ke salah satu ruangan VIP yang didesain mewah namun intim di kafe JP. Leon dan Rayyan mengikutinya dari belakang, merasakan aura dingin yang memancar dari CEO Sugara Group itu.
Andrian mengepalkan tangannya, menyentak dasinya, membiarkan kemarahan yang tertahan meledak dalam bisikan tajam.
"Sial! Praka itu," desis Andrian, melayangkan pandangan dingin ke pintu di mana Kaluna dan Praka menghilang di tangga. "Kenapa dia selalu ingin membuktikan bahwa dialah yang paling tahu tentang Kaluna? Pria ini lama-lama ingin menguburku secara perlahan!"
Andrian mencaci, suaranya mengandung campuran cemburu dan harga diri yang terluka. Ia tidak peduli bahwa Rayyan dan Leonada di sana. Fokusnya hanya pada Praka dan piring nasi telur orek konyol yang berhasil menembus benteng Kaluna.
Rayyan berdiri kaku, kembali menjadi dirinya yang tertekan oleh konflik. Ia mencoba untuk tidak terlalu memperhatikan pertengkaran itu.
Leon, sang asisten yang terlatih, segera maju, mencoba meredakan bosnya.
"Tuan Muda," panggil Leon dengan hati-hati. "Harap tenang. Nona Kaluna hanya mengurus masalah Ameertha yang tiba-tiba muncul. Bukankah kau tau, Praka adalah..."
"Diam, Leon!" potong Andrian tajam, tanpa menoleh. "Kau pikir ini hanya tentang teman lama, penyelamat, atau apapun itu? Dia mengabaikan mawar puluhan jutaku, Leon, demi sepiring nasi gagal dari masa lalu! Itu bukan bisnis!"
Leon menundukkan kepala. Dia tahu, ketika emosi pribadi bercampur dengan harga diri korporat, Andrian bisa menjadi sangat tidak terduga.
"Apa yang harus saya lakukan, Tuan?" tanya Leon, mencari perintah konkrit untuk mengalihkan fokus Andrian dari kecemburuan yang tidak produktif ini.
Andrian berhenti, berdiri di tengah ruangan. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menemukan kembali kontrol dirinya.
Andrian tidak memberikan jawaban. Dia hanya menatap dingin ke arah Rayyan, seolah-olah adiknya adalah satu-satunya alasan dia harus tetap rasional di tengah kemarahannya.
Tepat pada saat itu, pintu ruangan VIP terbuka. Kaluna masuk, diikuti oleh Praka yang memasang ekspresi santai, sedikit berlebihan. Kaluna langsung berjalan ke sisi Andrian, kehadirannya seolah menepis ketegangan yang diciptakan Praka.
"Raka, bagaimana dengan rapat kita? Apakah semuanya sudah siap?" tanya Kaluna, suaranya kembali ke mode CEO yang tajam.
Kaluna melirik ke luar jendela. Keramaian kafe di bawah sudah mulai menyusut. Dia kembali menoleh ke Praka.
Praka tersenyum, mengangguk penuh percaya diri. "Tentu saja, Kaluna. Ruangan di sebelah sudah siap. Staf yang kau minta untuk hadir juga sudah ada di sana."
"Bagus," timpal Kaluna, sorot matanya dingin dan penuh perhitungan. "Pastikan rapat ini diisolasi penuh dan jangan ada yang memiliki akses untuk masuk. Tidak ada rekaman suara atau video, tidak ada notulensi yang disimpan di server.."
Andrian yang mendengar itu, menyentuh lengan Kaluna. "Perjanjian Perlindungan Korporat sudah dalam proses, Kaluna. Kita tidak perlu khawatir tentang ancaman legal dari luar. Tapi isolasi penuh ini untuk apa?"
Kaluna menoleh padanya, senyum tipisnya kembali, namun tidak mencapai matanya. "Perlindungan legal itu penting, Tuan Sugara. Tapi kerahasiaan adalah benteng pertama. Kita harus memastikan tidak ada yang meniru ide ini, dan menjamin kejutan kita sempurna."
Dia lalu menatap Rayyan yang masih berdiri kaku. "Rayyan, kau sudah siap?"
Rayyan menelan ludah, mengangguk perlahan.
Kaluna melangkah lebih dulu, diikuti oleh Andrian, Praka, Leon, dan Rayyan, menuju ruang rapat kecil yang tersembunyi.