Drama

Dokumen Pengalihan

Penulis Yoonna
10 January 2026

Di dalam ruangan, sudah menunggu tiga orang staf Ameertha. Seorang manajer produksi, kepala tim desain tekstil, dan seorang ahli logistik pameran.

Kaluna berdiri di ujung meja bundar. Berkas-berkas di tangannya kini hanya formalitas.

"Kita tidak akan membahas banyak, langsung pada intinya saja," ujar Kaluna, suaranya kembali ke mode CEO yang efisien.

Dia melirik sekilas ke arah Rayyan, yang duduk di sisinya dengan ekspresi gugup, lalu ke arah Lusi, seorang wanita muda dengan kemeja putih yang menjadi salah satu tim inti mereka, yang duduk di sisi Praka.

"Lusi," panggil Kaluna tanpa basa-basi. "Bagaimana dengan berkas yang saya suruh amankan?"

Lusi tersentak sedikit, tapi segera mengangguk pasti. "Sudah saya simpan, Nona. Sesuai instruksi Anda, di lemari besi kantor pusat."

Kaluna menatap Lusi dengan mata tajam yang membuat Lusi sulit membalas tatapan itu.

"Baiklah, kau simpan saja dokumen-dokumen itu, jaga kerahasiaannya sampai aku kembali untuk mengambilnya," titah Kaluna.

Lusi mengangguk. Namun, kilat mata Kaluna membaca kedipan gugup Lusi, gerakan kecil dan nyaris tak terlihat yang tidak luput dari perhatian Kaluna.

Kaluna memilih untuk mengabaikannya, untuk saat ini. Dia kembali menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

"Kita tidak akan membahas jauh tentang rencana yang akan kita tampilkan nanti, semua sudah ada di draf dokumen itu. Rapat ini hanya untuk memperkenalkan Rayyan kepada tim-timnya saja,” tegas Kaluna.

Andrian mengangguk mengerti, ekspresinya sedikit melunak saat Kaluna menyebut nama adiknya. Dia menghargai efisiensi Kaluna, meskipun cara kerjanya seringkali menyimpang dari prosedur standar yang rumit.

Leon, yang berdiri di belakang Andrian, tidak bisa menahan gumamannya dalam hati.

”Pasangan yang serasi, Tuan muda selalu bersikap seperti ini, membingungkan dan seolah menganggap spele persiapan rapat yang disusun sedemikian rupa. Kali ini istrinya juga bertindak demikian. Bagaimana pasangan angsa ini bisa begitu satu hati, padahal mereka baru saja menikah,” batin Leon.

Kaluna melanjutkan, tanpa memperdulikan kebingungan para peserta rapat yang terlibat di sana.

"Rayyan adalah wajah baru di Amertha dan kunci kita untuk memenangkan pameran ini. Fokus utama tim adalah memastikan Rayyan tampil tanpa cela," Kaluna memberikan instruksi dengan cepat, seperti tembakan.

Praka tersenyum kecil pada Andrian, seolah berkata, ”Kau hanya bertugas menjadi tameng.”

Andrian hanya mendengus, menerima peran itu karena dia tahu pertahanan adalah kekuatan terbesarnya.

"Akan saya pastikan tidak ada seekor lalat pun yang mengganggu rencana ini, Nona Kaluna," ujar Andrian.

Kemudian, Kaluna diam-diam mengangkat tangan, menutupi mulutnya dengan punggung tangan, dan berpura-pura menguap lebar. Sebuah tindakan yang sangat kontras dengan sikapnya yang selalu terkontrol.

Seketika itu juga, Lusi langsung menguap. Lusi segera menutup mulutnya, sedikit terkejut dengan refleksnya sendiri.

Kaluna tersenyum dalam hati. Dugaannya benar, Lusi memang sedang mengawasinya. Reaksi refleks Lusi adalah bukti bahwa dia mengamati setiap gerakan Kaluna dengan intensitas tinggi, seperti seorang pengamat yang terlalu fokus pada subjeknya.

"Rapat selesai... Lusi," panggil Kaluna, nadanya datar. "Kau boleh pergi sekarang,"

Lusi mengangguk lega, bergegas mengemasi tasnya. "Baik, Nona Kaluna."

"Pastikan kau menyimpan dokumen yang kuserahkan padamu di tempat yang benar-benar tidak terakses. Kerahasiaan ini adalah kuncinya," tambah Kaluna.

"Saya jamin, Nona," ujar Lusi, mencoba bersikap meyakinkan, namun matanya masih memancarkan kegugupan.

Kaluna hanya mengangguk tipis. Lusi segera beranjak, berjalan cepat keluar ruangan, lalu menuruni tangga menuju pintu keluar kafe JP.

Kaluna berjalan ke jendela besar, tepat di mana dia dan Praka sebelumnya berbicara. Dia berdiri di sana sejenak, menatap ke bawah. Beberapa saat kemudian, dia melihat sosok Lusi keluar dari pintu utama gedung dan berjalan cepat menuju area parkir.

Setelah memastikan kepergian Lusi, Kaluna segera berbalik. Kembali ke mode CEO-nya yang dingin dan kritis.

”Oke, Tim!” ujar Kaluna, nambun terhenti.

Awalnya, Kaluna berniat memberi tahu semua orang tentang kecurigaannya. Namun, niat itu langsung menguap.

Lusi adalah sekretaris yang paling dia percayai dalam tiga tahun terakhir. Jika orang terdekatnya saja kini berpotensi menjadi mata-mata, apa gunanya dia mempercayai orang lain di ruangan ini?

"Saya tahu Anda semua adalah tim inti terbaik yang dimiliki Ameertha," ujar Kaluna, suaranya pelan namun menusuk, jauh lebih mengancam daripada teriakan. "Anda semua memiliki akses ke informasi sensitif, dan terutama, Anda akan bekerja dekat dengan Rayyan."

Dia berjalan pelan mengelilingi meja, pandangannya menyapu wajah setiap orang, menahan kontak mata sesaat pada Praka dan Andrian.

"Saya hanya akan menghimbau satu hal," lanjutnya.

Kaluna berhenti tepat di depan Rayyan yang duduk tegang. Kaluna meletakkan telapak tangannya di bahu Rayyan, sebuah isyarat kepemilikan dan perlindungan.

"Siapapun di ruangan ini, atau di luar sana yang berani bermain api dan mencoba menghianati saya, atau mencoba menyabotase Rayyan dan rencana ini, maka dia sedang bermain-main dengan takdirnya sendiri."

Kaluna membiarkan ancaman itu menggantung di udara. Itu bukanlah janji kosong. Itu adalah pernyataan fakta.

Para staf, termasuk kepala tim desain dan ahli logistik, bergegas keluar ruangan setelah Kaluna mengakhiri rapat.

Praka dan yang lainnya ikut keluar. Begitu juga dengan Leon yang sempat mendapat kode perintah dari Andrian yang meminta mereka meninggalkannya dan Kaluna di ruang rapat itu.

"Kau berlebihan, Kaluna," kata Andrian, menghampiri Kaluna.

Dia tahu ancaman Kaluna tadi bukan hanya untuk tim, tetapi juga untuk dirinya, jika dia gagal.

Kaluna mengambil napas dalam-dalam, lalu memutar badan dan bersandar pada bingkai jendela.

Kaluna tidak menoleh. "Aku memastikan mereka mengerti konsekuensinya, Tuan Sugara. Dalam perang besar, aku tidak mentolerir kelemahan, apalagi pengkhianatan."

"Termasuk Lusi?" tanya Andrian tajam. "Sekretaris yang selama ini kau puji karena efisiensinya."

Kaluna akhirnya berbalik, tatapannya sekeras berlian.

”Ya, aku lega jika kau memahaminya. Aku mencurigainya dan aku tidak akan menoleransi keraguan di sekitar berkas sepenting itu," ungkap Kaluna.

Andrian menghela napas pendek, lebih terdengar seperti dengusan kesal. "Jadi, berkas apa yang kau serahkan padanya?”

Kaluna melangkah mendekat, menghentikan langkahnya hanya beberapa senti dari suaminya. Ketegangan fisik di antara mereka terasa mencekik.

"Dokumen rencana yang mereka pegang, hanya akan digunakan Rayyan untuk latihan, hanya rencana dasar," bisik Kaluna, suaranya rendah dan penuh perhitungan.

Andrian menarik tangan Kaluna, menuntunnya duduk di salah satu kursi.

"Jadi, kau sengaja melakukan pertunjukan menguap itu untuk mengujinya?" ulang Andrian lagi untuk memastikan pemahamannya.

"Tuan Sugara, dia adalah sekretaris yang paling kupercayai. Jika Lusi saja bisa menjadi mata-mata... maka kita benar-benar dikelilingi serigala." Kaluna menghela napas berat dan menunduk.

Rasa frustrasi Kaluna tulus. Dia telah membangun benteng kepercayaannya selama bertahun-tahun, dan fondasi itu baru saja retak.

"Tapi, dokumen itu... Kaluna, aku masih tidak mengerti, dokumen apa sebenarnya yang kau serahkan padanya? Dokumen yang harus dijaga kerahasiaannya hingga kau kembali untuk mengambilnya? Bukankah draf rencana pameran seharusnya sudah ada di tangan tim inti?" tanya Andrian lagi.

Kaluna mendongak, tatapannya dingin.

"Sekali lagi, itu bukan draf rencana pameran, Tuan Sugara. Apa aku harus menjelaskan isinya? Mengapa kau tidak mengerti juga? Itu hanya sebuah dokumen pengalihan," ungkap Kaluna.

”Apa maksudnya dokumen pengalihan?” tanya Andrian.

Dia mencondongkan tubuh ke depan, berbicara sangat pelan, memastikan tidak ada mikrofon tersembunyi yang bisa menangkap suaranya.

"Dokumen yang akan menjadi acuan Rayyan dan tim, itu hanya bagian awal. Rencana kemenangan yang sebenarnya masih ada di tanganku. Aku menyerahkan dokumen palsu itu kepada Lusi sebagai umpan. Jika ada pengkhianat, mereka pasti akan mencuri dokumen yang kuserahkan pada Lusi."

Andrian terdiam, menyadari betapa jauh istrinya berpikir. Dia adalah CEO yang benar-benar bermain catur, bukan go.

"Jadi, Rayyan akan berlatih menggunakan strategi palsu?" tanya Andrian.

Kaluna menepuk jidatnya sendiri.

"Tidak sepenuhnya palsu, Tuan Sugara. Itu dasar yang baik, tapi kunci utamanya masih aman," ujar Kaluna.

Andrian mengangguk perlahan, bukan tanda persetujuan, melainkan pengakuan atas strategi istrinya yang rumit dan kejam.

"Tugasmu," lanjut Kaluna, memotong jeda. "Kau adalah Manajer Produksi, aku ingin kau menjamin keamanan penuh adikmu. Jaga jarak semua orang, terutama Lusi, dari Rayyan. Amati setiap pergerakan mereka. Aku tidak peduli dengan caramu, tapi kau harus memastikan benteng ini utuh."

"Aku mengerti," potong Andrian, nada suaranya tegas, seperti panglima yang menerima perintah dari pimpinan yang dia hormati sekaligus saingi.

Kaluna kemudian mengambil tasnya dan berjalan menuju pintu.