Mobil mewah itu melaju tenang memasuki gerbang tinggi Kediaman Sugara. Andrian dan Kaluna turun. Andrian segera menuju ruang kerjanya, sementara Kaluna naik ke kamar mereka.
Di kamar, setelah menanggalkan gaun birunya, Kaluna berdiri di dekat jendela, menatap taman yang gelap dan sunyi. Pikirannya melayang jauh.
Jari-jarinya menggenggam erat sesuatu di balik telapak tangan, sebuah kalung tipis dengan liontin berbentuk siluet yang terukir pada batu giok kecil. Batu itu kini terlihat usang, tetapi memiliki kilau hijau yang memancarkan kenangan masa kecil.
Pikirannya kembali ke sebuah taman bermain yang terletak tidak jauh dari rumah Ken Aji, tempat masa kecilnya sering kali dihabiskan dalam kesendirian.
Kilas balik dimulai,
Sore itu, di bangku taman dekat rumah Ken Aji, Kaluna kecil, berusia sekitar sembilan tahun, duduk sendirian, mengamati. Pandangannya tertuju pada seorang anak laki-laki yang fokus mengukir sesuatu di atas batu kecil. Anak laki-laki itu memiliki mata yang cerdas dan rambut yang sedikit berantakan.
Anak laki-laki itu memegang pahat kecil dan sepotong batu giok. Dia terlihat sangat serius, seolah dunia hanya terdiri dari dirinya dan ukiran itu.
Setelah beberapa saat, dia mengangkat kepalanya, menyadari keberadaan Kaluna.
"Sudah lama?" tanya pria kecil itu, suaranya lugas.
Kaluna mengangguk kecil. "Sejak goresan pertama."
Pria kecil itu tersenyum. Dia mengulurkan batu giok yang baru saja selesai diukirnya, yang kini terpasang pada tali kulit tipis.
”Ambillah," kata Andres. "Ini untukmu. Aku mengukir siluet ini, tapi aku tidak yakin itu siluet apa."
Kaluna menerimanya. Giok itu terasa dingin dan halus di telapak tangannya.
"Seorang peri?" tanya Kaluna saat mengamati ukiran itu.
Andres tersenyum lebar, tapi dia tidak mengiakan apa yang baru daja dikatakan oleh Kaluna.
"Besok, aku akan ikut Ibuku ke Meksiko," katanya mendadak. "Akan butuh waktu lama untuk kembali."
Kaluna terkejut. "Mendadak sekali."
"Iya. Aku harus mempersiapkan diri untuk perang di masa depan," kata Andres, matanya memancarkan tekad yang aneh untuk anak seusianya. "Dunia ini terlalu rumit untuk anak-anak seperti kita."
Dia menatap Kaluna yang masih terpana tidak mengerti tentang kata-katanya.
"Kau belum menyebutkan namamu," tuntut Andres kemudian.
"Namaku..." Kaluna memulai, namun Andres memotongnya cepat.
*"Peri Kecil," potong Andres, dia tersenyum manis. *
Kaluna, yang terkejut dengan nama panggilan itu, keningnya mengerut, matanya tajam seolah bertanya, "Kenapa Peri Kecil?"
Andres menatapnya dengan mata yang sangat dewasa untuk anak seusianya.
"Tidak perlu sebuah nama untuk mengingatmu. Aku akan langsung mengenalmu saat kita bertemu nanti," jawab Andres, nadanya penuh keyakinan. "Tidak ada yang sebaik dan selembut peri kecilku."
Andres menghela napas, nadanya menjadi serius dan penuh harapan.
"Aku harap kau tidak berubah. Mungkin, Andres yang akan kau temui saat dewasa nanti bukan lagi Andres lemah yang baik hatinya. Dan Peri Kecil harus membantuku kembali ke latar belakang yang seharusnya," harap Andres, matanya memancarkan kesedihan.
Kaluna, terpengaruh oleh kata-kata perpisahan yang berat itu, akhirnya bertanya, "Dan... namamu?"
Andres tersenyum, senyum tulus yang akan segera hilang darinya. "Panggil saja aku Andres."
Andres tidak menunggu jawaban. Dia berbalik dan berlari kencang menjauh.
”Jangan katakan namaku pada siapapun ya! Nama itu, hanya untuk Peri Kecilku,” teriak Andres dari kejauhan.
Andres menghilang dari pandangan, meninggalkan Kaluna kecil yang sendirian, dengan batu giok dingin di tangannya dan janji perang di telinganya.
Kilas balik berakhir,
Kaluna kembali menatap batu giok itu, kini sudah retak, dan bagian terbesar dari liontin aslinya telah hilang, mungkin patah saat dia terjatuh dalam salah satu pertengkarannya di masa lalu. Namun, bagian yang tersisa adalah siluet ukiran kecil yang dibuat Andres, bagian paling penting yang menyimpan kenangan dan janji.
Kaluna membuka genggamannya. Kalung giok itu terasa seperti jangkar, mengikatnya pada janji masa lalu yang penuh misteri.
Pikirannya kembali pada percakapannya dengan Praka di ruang kerja kafe tadi.
Kaluna mengingat kembali senyum Praka yang tulus saat berbicara tentang ketidak fokusannya, dan pertanyaan tajam yang menusuk itu.
"Apakah kau mulai jatuh cinta padanya?"
Bahkan ucapan Praka tentang kecemburuan Andrian yang terselubung di balik hadiah mawar mewah terasa menamparnya.
Perlahan, air mata jatuh dari sudut mata Kaluna, membasahi pipinya tanpa suara.
Dia menggenggam kalung giok di tangannya erat-erat, mengulang sumpah yang dia pegang selama bertahun-tahun.
Ia bergumam sangat pelan, nyaris tak terdengar, sebuah pengakuan yang dia sembunyikan bahkan dari dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin aku berani mencintai orang lain, sementara yang kutunggu, belum pernah muncul lagi, Andres..."
Kata-kata itu adalah manifestasi dari janji yang dia bawa sejak kecil. Dia tidak mengizinkan dirinya mencintai Andrian, atau siapa pun. Karena dia masih setia pada janji untuk membawa Andres kembali.
Air mata itu belum sempat dia hapus, ketika dia merasakan sepasang lengan yang kuat memeluknya dari belakang.
Seketika, insting pertahanan Kaluna aktif. Dia segera memasukkan liontin giok yang retak itu lebih dalam ke saku kimononya, menyembunyikan bukti masa lalu, sebelum sepenuhnya menyadari siapa yang memeluknya.
"Kau menangis?" bisik Andrian.
Suaranya mengandung campuran keheranan dan rasa sakit. Dia membalik tubuh Kaluna, memaksa Kaluna menatap matanya.
"Tidak," jawab Kaluna cepat, menyentuh pipinya, membantah air mata itu.
Andrian mengabaikan bantahan itu. Dia menatap Kaluna lekat-lekat, menyadari betapa rentannya istrinya saat ini. Dia tidak bertanya mengapa, tapi langsung menarik kepala Kaluna terbenam di dada bidangnya.
Kaluna membiarkan Andrian memeluknya sejenak, menerima kehangatan yang asing namun familier itu.
Setelah momen emosional itu mereda, Kaluna langsung mengalihkan topik dengan cepat.
"Jika kau izinkan, aku akan pergi mengunjungi suatu tempat besok pagi," ujar Kaluna.
Andrian mengerutkan kening, aura protektifnya segera muncul.
"Kutemani?" tanya Andrian.
"Tidak perlu," jawab Kaluna tegas.
"Baiklah, kalau begitu, Leon—" Andrian memulai, berniat menugaskan pengawalan.
"Kubilang tidak, Tuan Sugara. Aku butuh waktu untuk sendiri," ujar Kaluna, tatapannya menuntut privasi mutlak.
Andrian menghela napas, dia menyadari Kaluna membutuhkan ruang untuk mencerna dan menata kembali emosinya. Dia menghormati batasan yang dibuat istrinya, tetapi harus ada jaminan.
"Baiklah," ujar Andrian, raut wajahnya melunak. "Besok adalah milikmu sepenuhnya, tapi satu hal, hati-hati. Dan tujuanmu kembali, hanya di Rumah Cassavanos."
"Iya," kata Kaluna.
Senyum kecil, yang merupakan campuran godaan dan ancaman, muncul di bibirnya.
"Tentu saja. Jika aku tidak kembali, maka wilayah ini akan rata dengan debu, iya, 'kan?" Kaluna menggoda suaminya, merujuk pada dominasi korporat Andrian yang akan goyah tanpanya.
Andrian tertawa kecil, senyum menawannya muncul.
”Bukan hanya wilayah ini, sayang. Tapi juga duni ini,” ujar Andrian mencubit hidung suaminya.
Dia mendekat, mengecup kening Kaluna dengan lembut, sebagai penanda kesetiaan dan perlindungan. Kemudian menyentuh bibirnya, ciuman yang lambat dan mengikat. Tangannya mulai menyentuh leher Kaluna, berniat melanjutkan keintiman yang sudah lama tertunda di antara mereka.
Namun, Andrian segera menjauh, menarik diri saat Kaluna masih memejamkan mata.
"Tidak sebelum kau mengizinkannya," kata Andrian, suaranya serak karena gairah yang dia tahan.
Andrian menghormati Kaluna, memberinya kendali penuh atas batasan fisik mereka. Dia tahu, setelah semua kerahasiaan dan drama strategi yang mereka bagi malam ini, hubungan mereka tidak bisa melampaui pernikahan kontrak.
Dia mengambil jubah mandinya dan berjalan ke kamar mandi, meninggalkan Kaluna sendirian, terbungkus dalam keheningan.
Kaluna berdiri di tengah ruangan, tangannya menyentuh saku kimono, merasakan liontin giok yang retak itu. Dia adalah Peri Kecil yang saat ini juga mungkin masih ditunggu-tunggu oleh Andres.