Drama

Sabotase di Kantor Ameertha

Penulis Yoonna
10 January 2026

Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika Kaluna bangkit. Dia telah menyelesaikan kewajiban rumah tangganya di pagi hari.

Dia mengenakan pakaian kasual yang serba hitam, kontras dengan gaun-gaun mewah yang biasa dipakainya. Di balik blusnya, dia memastikan liontin giok yang retak itu tersimpan aman, terasa dingin di kulitnya.

Dia kembali turun. Ruang makan masih terasa sunyi, hanya ada Andrian yang sudah duduk di sana, membaca laporan sambil menyesap kopi. Dia tidak terkejut melihat Kaluna sudah siap.

"Kau serius pergi sendiri?" tanya Andrian, tanpa mengangkat pandangan dari laporannya.

Dia memang tidak bertanya ke mana Kaluna akan pergi, menepati janjinya untuk memberikan privasi.

"Aku sudah mengatakannya, bukan?" jawab Kaluna datar seraya mengambil roti panggang dan mengolesinya selai.

"Jangan khawatir. Aku tidak membawa aset Sugara bersamaku," sambungnya.

Andrian akhirnya meletakkan laporannya. "Aku mengkhawatirkanmu, bukan aset yang sewaktu-waktu bisa kau curi, Kaluna." Matanya menatap tajam, penuh ketulusan yang sulit diabaikan.

Kaluna menelan ludah. "Aku akan kembali sebelum malam."

Kaluna menyetir mobilnya sendiri, tanpa pengawal. Tujuannya adalah taman bermain dekat rumah Ken Aji, tempat dia sering bertemu Andres saat kecil.

Taman sangat terawatt, namun sepi. Kaluna berjalan menuju bangku kayu tempat dia terakhir kali melihat Andres berlari menjauh. Dedaunan berguguran di sekelilingnya, menciptakan suasana melankolis.

Dia duduk, mengeluarkan liontin giok itu, dan menatap ukiran siluet yang nyaris tak terlihat.

"Tidak perlu sebuah nama untuk mengingatmu. Aku akan langsung mengenalmu saat kita bertemu nanti..." Janji Andres bergema di benaknya.

Kaluna menghela napas. "Mengapa aku masih menunggu janji yang diucapkan oleh seorang anak kecil?" ujarnya sambil tersenyum tulus.

Dia kembali menyimpan liontin itu dan beranjak.

Namun, saat berjalan keluar dari area taman, matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah goresan samar di tiang kayu dekat gerbang.

Dia mendekat. Goresan itu tampak seperti inisial yang terukir paksa, tidak rapi, tetapi familier. Dia harus menyipitkan mata untuk membacanya.

A.S.

Hati kaluna langsung menerka-nerka semua hal.

”A.S.? Andres? Atau... Andrian Sugara?”

Jantung Kaluna berdebar kencang.

”Apakah Andres dan Andrian adalah orang yang sama? Mungkinkah Andres, yang datang dari latar belakang rumit, kembali sebagai Andrian, Tuan Sugara yang dingin dan kuat?”

”Apa ini yang dimaksud Andres puluhan tahun yang lalu?”

”Tidak, mengapa aku berpikir seperti itu. Itu tidak mungkin. Andres memiliki mata yang lembut, sedangkan mesin pendingin itu, matanya runcing seperti tetesan air yang membeku seketika.”

”Kalaupun dia berubah, mustahil sifat lahir Andres tidak ada yang tersisa pada mesin pendingin itu. Ayolah, Kaluna... kau berpikir terlalu jauh.”

Kaluna memaksakan diri menjauh dari tiang itu. Dia harus kembali ke realitas, mengurus pengkhianat di kantor. Dia memacu mobilnya menjauh dari taman itu.

Lima detik setelah mobil Kaluna menghilang dari pandangan, suasana sepi di taman itu pecah. Sebuah mobil mewah berwarna gelap bergerak cepat mendekat ke gerbang taman.

Dari mobil itu, seorang pria melangkah keluar. Berjalan lurus ke tiang kayu tempat ukiran A.S. berada. Dia berdiri di sana, menatap ukiran yang nyaris hilang dimakan usia dan cuaca.

"Kenapa kau tidak pernah datang, Peri Kecil?" bisik pria itu.

Dia menundukkan kepala, suaranya dalam dan serak. Nadanya penuh kesedihan yang terpendam.

Dengan gerakan lambat, pria itu mengangkat jarinya. Dia mengusap goresan yang hampir hilang itu, seolah menyentuh kenangan. Wajahnya menunjukkan ekspresi campuran kerinduan dan kepahitan.

"Aku sudah memberi tahu keberadaanku di sini, tapi kau tidak pernah menyadarinya," lanjutnya, suaranya nyaris seperti desahan.

Pria itu adalah Andrian Sugara.

Dia ataupun Kaluna sering datang ke tempat ini, ke satu-satunya jangkar yang mengikat mereka dengan masa lalu.

Namun, seperti yang terjadi berkali-kali dalam pernikahan mereka, Kaluna melihat petunjuk itu, menyentuhnya, tetapi tidak pernah sepenuhnya memahaminya. Dia selalu melihat Andrian sebagai Tuan Sugara yang dingin dan strategis, bukan sebagai Andres, anak laki-laki yang begitu manis.

”Padahal aku ingin sekali mengatakan kepadamu tentang apa yang selama ini telah kulalui, kujalani, bahkan perasaan yang saat ini menggangguku. Betapa aku ingin mengatakan kepadamu bahwa aku telah jatuh cinta, pada seorang gadis yang... ah nanti saja saat kita bertemu,” gumam Andrian.

Wajahnya memancarkan senyuman yang getir.

Tiba-tiba, sebuah suara parau memecah keheningan.

"Tadi seorang gadis cantik, sekarang pemuda tampan yang mengamati ukiran itu. Apa kalian sedang bertengkar?"

Andrian seketika menegang. Dia memutar tubuhnya dan mendapati seorang pria tua, penjaga taman, berdiri beberapa langkah di belakangnya, memegang selang air.

Andrian membulatkan matanya, jantungnya berdetak kencang.

"Gadis cantik? Apa itu dia, apa dia ke sini?" batin Andrian, panik.

Dia menatap wajah pria tua yang menjaga taman itu.

"Siapa yang kau maksud, Paman?" tanya Andrian, berusaha menahan kegugupannya agar tidak terlihat.

Pria tua itu tersenyum maklum.

"Oh, maaf, sepertinya aku telah salah duga. Dulu, hampir setiap hari ada seorang gadis cantik yang selalu duduk di bangku taman itu. Dia memegang sebuah liontin giok, lalu menangis, dan pergi."

Mata Andrian melebar. Liontin giok. Itu pasti Peri Kecil.

"Tapi... beberapa bulan belakangan ini, saya tidak pernah melihatnya lagi. Dan kebetulan, hari ini, dia datang lagi, tapi tidak lama langsung pergi setelah mengamati ukiran di pohon ini," sambung pria tua itu, menunjuk tiang dengan ukiran A.S.

"Peri Kecil," desis Andrian, suaranya nyaris tak terdengar.

Pengakuan dari penjaga taman itu menamparnya. Peri Kecil datang, dia melihat petunjuknya, tetapi dia tetap pergi tanpa menyadari bahwa orang yang ditunggunya selalu berada di sisinya.

"Katakan ke mana dia pergi, Paman?" tanya Andrian, kini dengan nada mendesak, semua aura CEO-nya muncul.

Laki-laki tua itu menunjuk ke gerbang. "Dia baru saja pergi ke arah sana beberapa menit yang lalu."

Andrian bergegas kembali ke mobilnya. Amarah dan rasa frustrasi melonjak, bukan pada penjaga taman itu, tetapi pada dirinya sendiri karena terlambat sampai di taman itu.

"Kau melihat inisial itu, Peri Kecil. Kenapa kau tidak menunggu sebentar saja!" gumamnya di balik kemudi yang melaju secepat kilat.

Dia bertekad menyusul gadis itu kemanapun arahnya pergi. Dia akan membuatnya mendengarkan, memaksanya untuk melihat janji di balik matanya yang beku.

Tapi, tepat ketika mobil mewah itu berbelok tajam dari jalan utama taman, ponsel Andrian berdering keras, memecah fokusnya. Nama Leon muncul di layar.

Dengan helaan napas frustrasi yang teredam, Andrian menjawab.

"Ada apa, Leon? Aku sedang dalam perjalanan penting," desisnya, suaranya tajam dan tidak sabar, sebuah nada yang jarang dia gunakan pada Leon.

Suara Leon terdengar terengah-engah dan tegang di ujung telepon.

”Tuan Muda, ada kekacauan di Ameertha,” ujar Leon hati-hati.

Andrian memjamkan matanya, menarik nafas dengan berat seraya menunggu informasi selanjutnya dari Leon.

Terdengar juga tarikan nafas berat Leon dari seberang telepon sebelum melanjutkan lagi pernyatannya.

Leon terdiam sejenak, menelan ludah. ”...Kami baru mendapat laporan dari panitia. Koleksi busana dengan desain, tema, dan bahkan material yang sangat mirip sudah didaftarkan lebih dulu. Dan itu bukan atas nama Ameertha."

Andrian menekan rem mobilnya dengan keras, mengabaikan klakson kendaraan lain di belakangnya. Dunia pribadinya tentang penemuan masa lalu harus segera disimpan kembali di lemari es.

"Leon, ulangi!" perintah Andrian, suaranya tajam, memotong kekacauan di ujung telepon. "Apa yang sudah didaftarkan? Bagaimana bisa?"

"Desain koleksi Nona Kaluna, Tuan Muda. Sudah didaftarkan oleh... oleh perusahaan lain, dua jam yang lalu," suara Leon terdengar putus asa.

Andrian mengepalkan tangan di kemudi. Itu pasti desain yang sengaja Kaluna bocorkan melalui Lusi. Strategi umpan Kaluna bekerja, tapi hasilnya jauh lebih cepat dan fatal dari yang diperkirakan.

"Di mana posisimu sekarang, Leon?" tanya Andrian, nada suaranya kembali ke mode CEO yang dingin.

"Saya sudah berada di Ameertha, Tuan Muda. Ada kekacauan di lobi. Dan... dan Nona Kaluna baru saja tiba dan sedang mengadakan rapat dadakan di ruang konferensi utama. Dia langsung memanggil semua manajer divisi."

Mata Andrian menyipit. Kaluna tidak pernah membuang waktu. Dia pasti sudah mencurigai hal ini jauh sebelum Andrian mendapat kabar.

"Baiklah, aku akan segera tiba di sana dalam lima menit," titah Andrian.

"Siap, Tuan Muda!"

Andrian menutup telepon, rahangnya mengeras. Dia membalikkan mobilnya, menjauhi jalan taman, menjauhi kenangan Andres, dan menuju kekacauan di kantor Ameertha.