Drama

Bayangan Gradasi - Pewaris Palsu - Bab 24

Penulis Ichan
12 September 2025

Hujan deras membasahi malam, menyapu jalanan kota dengan kilatan petir yang seakan ikut menertawakan rahasia besar yang akhirnya terbuka.

Al berdiri di balkon rumah besar keluarga Faidzin, tubuhnya masih bergetar setelah percakapan terakhir dengan Firdaus. Hatinya campur aduk antara kemarahan, keputusasaan dan tekad yang terbakar. Firdaus, ayah Hanum, tadi dengan mata berair menyatakan restunya. Namun, syaratnya jelas, Al harus menjadi pelindung Hanum, bukan sekadar seorang kekasih.

Restu itu seharusnya membuat dadanya lapang, tapi di saat yang sama, kabar penculikan Hanum menancap seperti pisau ke dalam jantungnya. Satu-satunya orang yang bisa membuatnya merasa bernilai kini berada dalam bahaya.

Di antara semua itu, Al baru saja mendengar kebenaran yang selama ini dikubur dalam-dalam, Arman Faidzin bukan ayah kandungnya.


"Jadi, selama ini aku hanya alat? Hanya pewaris palsu untuk melanjutkan permainan politik kotor kalian?"

Al meremas pagar besi di hadapannya hingga buku jarinya memutih. Tadi, ia mendengar secara langsung semuanya yang terlontar mulut pamannya sendiri. Dia adalah orang lama di partai politik di keluarganya. Hal itu membuat semuanya terkuak fakta. Al bukan darah daging Arman. Ia hanyalah anak panti asuhan yang diadopsi oleh istri Arman, sekadar wayang untuk meneruskan nama besar mereka.

Orangtua kandungnya? Telah tiada, bahkan sebelum ia cukup besar untuk mengingat wajah mereka. Mereka mati dalam kecelakaan misterius yang bahkan arsip resminya dikaburkan.

Seketika seluruh masa lalunya runtuh. Semua perlakuan dingin Arman, semua tuntutan tanpa kasih sayang, semua paksaan menjadi pewaris politik, ternyata ada alasannya. Ia bukan putra yang ditunggu dengan cinta, hanya bidak catur yang dipungut agar papan permainan tetap berjalan.

Namun, kesedihan itu tak sempat ia cerna lama. Ponselnya bergetar. Suara berat anak buahnya terdengar di seberang.

"Bos, kami sudah dapat lokasi Hanum. Dia disekap di gudang tua dekat pelabuhan utara, tapi mereka punya banyak orang yang memiliki senjata senjata."

Al menutup matanya sejenak. Sekujur tubuhnya bergolak. Tangannya terkepal.

"Tahan aku, Hanum. Aku akan datang."


Gudang tua di pelabuhan itu hanya diterangi lampu-lampu redup yang berayun diterpa angin laut. Bau asin menusuk hidung, bercampur dengan aroma karat besi dan oli yang basi.

Hanum diikat di kursi, mulutnya disumpal kain kotor. Di depannya, seorang pria bertubuh kekar memainkan pisau berkilat, sengaja menggoreskan ujungnya di udara, mendekati pipi Hanum.

"Cantik sekali wajahmu, sayang kalau harus ada luka, tapi mungkin luka kecil bisa membuat pacarmu itu gila," ucapnya sambil menyeringai.

Air mata Hanum jatuh. Ia berusaha menahan teriakannya meski tubuhnya gemetar.

Saat pisau itu semakin dekat, suara derap langkah kaki terdengar. Dari kegelapan, Al muncul bersama tiga anak buahnya. Matanya merah, nafasnya berat.

"Lepaskan dia."

Pria pemegang pisau itu menoleh, terkekeh.

"Nah, ini dia sang pewaris kotor, akhirnya datang."

Al tak peduli hinaan itu. Ia melangkah maju, tubuhnya dipenuhi aura liar, lebih mirip binatang buas yang baru keluar dari kandang.

Anak buah musuh segera menyerbu. Al tak lagi berpikir. Tinju dan tendangannya melayang brutal. Suara tulang patah terdengar bertubi-tubi.

Salah satu anak buahnya, Reno, berteriak sambil menembak ke arah lawan. "Bos! Kami cover dari belakang!"

Namun, Al tak butuh perlindungan. Matanya terkunci pada Hanum yang masih terikat, wajahnya pucat, sementara pisau berkilau makin dekat ke kulit halusnya.

Darahnya mendidih. Ingatan masa lalunya tentang bagaimana ia hanya dijadikan alat, semakin memicu amarahnya. Kini, hanya Hanum yang nyata baginya. Hanum satu-satunya alasan ia masih berdiri.

Ketika pria kekar itu hampir menempelkan pisau ke pipi Hanum, Al melompat dengan kecepatan mengejutkan. Suara hantaman keras menggema ketika Al meninju wajah pria itu hingga terjungkal beberapa meter. Pisau terlempar, berkilat di lantai besi.

Al mencengkeram kerah bajunya, menatap dengan tatapan gila.

"Sentuh dia sekali lagi, aku hancurkan kau di depan semua orangmu."

Pria itu masih sempat menyeringai meski bibirnya berdarah.

"Kau kira kau siapa, hah? Kau bahkan bukan anak Arman! Semua orang tahu itu, kau cuma yatim piatu busuk yang dijadikan wayang olehnya!"

Urat di pelipis Al menonjol. Hatinya seperti disayat, tapi justru hinaan itu yang membuatnya semakin bringas. Tinju demi tinju ia hujamkan tanpa ampun. Darah berceceran di lantai, sementara Hanum berusaha meronta meski masih terikat, air matanya deras melihat Al yang berubah seperti monster.

Setelah lawan terkapar nyaris tak bernyawa, salah satu anak buah musuh yang masih hidup berteriak,

"Jangan salahkan kami! Semua ini perintah Arman! Dia yang ingin gadis itu jadi umpan!"

Dunia Al seakan berhenti.

"Arman? Ayah itu?"

Meski terengah-engah, pria itu melanjutkan,

"Dia tahu kalau kau mulai berontak. Jadi dia jadikan pacarmu itu kambing hitam. Agar kau tunduk lagi. Agar kau tetap jalankan warisan politiknya!"

Al membeku. Kini semua kepingan puzzle terpasang. Ia bukan darah daging Arman. Ia hanya pion dan Hanum, gadis yang ia cintai, dijadikan sandera untuk mengikatnya kembali.

Dengan tangan gemetar, Al meraih Hanum dan melepaskan ikatannya. Gadis itu langsung memeluknya erat, tubuhnya gemetar tak terkendali.

"Al, aku takut, aku hampir."

"Ssst, aku di sini, Hanum. Aku tak akan biarkan mereka menyentuhmu lagi."

Tatapannya beralih pada musuh yang tersisa. Kali ini bukan sekadar amarah. Ada dendam, ada sakit hati, ada kehendak untuk memutuskan rantai politik busuk yang telah merenggut hidupnya.


Di luar gudang, sirene polisi samar terdengar. Namun, Al tahu, polisi pun banyak yang sudah dibeli Arman. Tak ada yang benar-benar bisa ia percaya selain dirinya sendiri dan anak buah setianya.

Ia menatap Hanum yang masih memeluknya, lalu menatap Reno dan dua orang lain.

"Bawa Hanum ke tempat aman. Jangan lepaskan dia barang sedetik."

Reno mengangguk. "Kalau kau sendiri, Bos?"

Al menoleh ke pintu, wajahnya dingin.

"Aku akan menyelesaikan semua ini. Mulai malam ini, aku bukan lagi pewaris Arman. Aku akan hancurkan kerajaannya, meski darahku sendiri yang harus jadi taruhannya."

Hanum mencoba menggenggam tangannya.

"Al, jangan tinggalkan aku."

Al menyentuh pipinya yang masih basah air mata.

"Aku tak pernah meninggalkanmu. Justru demi kau, aku harus lakukan ini."

Al berjalan keluar dari gudang, tubuhnya basah kuyup diguyur hujan, langkahnya berat tapi mantap. Di tangannya, ia menggenggam pisau yang tadi hampir melukai Hanum.

Matanya menatap lurus ke arah lampu-lampu kota di kejauhan, ke arah tempat Arman berada.

"Kau mencuri masa kecilku. Kau menjadikan aku boneka. Sekarang, aku akan datang, Ayah. Aku akan merebut kembali hidupku."

Al memutuskan perang terbuka melawan Arman Faidzin, kini bukan lagi sebagai pewaris, melainkan sebagai musuh yang membawa dendam pribadi.