Seira berjalan terburu-buru melewati lobby megah penthouse itu. Tubuhnya bergetar, bukan hanya karena langkah tergesa, tapi juga karena sisa gemuruh batin yang belum reda.
Begitu keluar dari pintu kaca, seseorang memanggilnya. “Seira!”
Sashi berdiri di dekat mobil, tangan di pinggang, wajahnya kesal luar biasa. Pria gemulai itu melambaikan tangan dengan ekspresi dramatis khasnya, lalu mendekat.
“Darling! Kau bikin aku mati berdiri di sini. Aku telepon berkali-kali, kau tidak jawab! Aku hampir masuk ke dalam pakai hak tinggi ini, tahu tidak?” Sashi mendengus, tangannya berkacak pinggang seperti seorang diva yang tersinggung.
Seira langsung memotong, suaranya terburu-buru. “Sashi, jangan sekarang. Cepat, kita harus pergi.”
Sashi mengerutkan alisnya, menatap penuh curiga. “Memang kita mau pergi, penerbangan sejam lagi Atau… tunggu. Darling, kau berhasil meminta izin pada Ezra untuk ke Milan hari ini?”
Pertanyaan itu membuat Seira terdiam sejenak. Nafasnya tercekat.
Dia menunduk, matanya menatap lantai, lalu perlahan berkata dengan suara rendah, hampir berbisik. “Berdoa saja, Sashi. Semoga Ezra tidak mencariku dalam tiga hari ke depan.”
Sashi membelalakkan mata, menepuk bibirnya dengan dramatis. “Ya Tuhan… kau melakukannya tanpa izinnya?”
Seira mengangkat wajah, sorot matanya tajam namun rapuh. “Kalau aku menunggu izinnya, aku tidak akan pernah bisa ke Milan. Tidak untuk proyek ini. Dan kau tahu betul, Sashi, ini adalah kesempatan yang terlalu besar untuk kurelakan begitu saja.”
Sashi terdiam, lalu akhirnya menghela napas panjang. Tangannya terangkat, menyapu rambutnya yang dicat pirang ke belakang. “Baiklah, darling. Aku ikut saja. Tapi ingat, aku ini bukan penyihir yang bisa membuat Ezra buta arah. Kalau dia tahu kau di Milan… aku hanya bisa doakan kau masih punya kepala saat kembali.”
Seira tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip guratan luka. “Itu risiko yang harus aku ambil.”
Mereka segera masuk ke mobil. Sopir pribadi yang biasanya membawa Seira sudah disingkirkan, diganti oleh salah satu kenalan Sashi yang bisa dipercaya. Mobil itu melaju cepat meninggalkan gedung penthouse, membawa Seira menjauh dari segala belenggu yang menghimpit dadanya.
Di kursi belakang, Seira bersandar, menutup mata sejenak. Dia merasa tubuhnya lelah luar biasa, tapi hatinya tetap gelisah.
Bayangan wajah Ezra terus menari di pikirannya, tatapan dingin itu, dominasi penuh bara itu, suara rendah yang penuh ancaman. Seira menyalakan layar handphonenya. Wallpapernya ada fotonya bersama Ezra saat bulan madu. Saat senyum Ezra masih menjadi pusat gravitasinya. Saat itu, Ezra adalah pria yang membuatnya percaya bahwa cinta bisa memberi rumah.
Seira menahan air mata. “Kenapa semuanya jadi begini…” bisiknya pelan, nyaris tidak terdengar.
Sashi menoleh sekilas, lalu meraih tangan Seira, menggenggamnya lembut. “Darling, jangan hancur dulu. Kau harus kuat. Kau sudah mengambil langkah besar. Milan menunggumu. Ini bukan hanya tentang pekerjaan, tapi tentang dirimu sendiri. Tentang mimpimu, Milan.. darling!.”
Seira menatap Sashi, bibirnya bergetar, tapi akhirnya ia mengangguk. “Aku tahu… aku tahu.”
Mobil terus melaju, membawa mereka menuju bandara. Dan di kejauhan, malam mulai menutup langit kota, seolah ikut menyembunyikan rahasia besar yang baru saja lahir. Rahasia yang, cepat atau lambat, akan membara kembali, lebih besar, lebih berbahaya, dan bisa menghancurkan segalanya.
**
Pagi datang. Cahaya matahari menyelinap tipis dari balik tirai tinggi, jatuh di lantai marmer kamar utama penthouse itu seperti garis-garis asing yang tak pernah diundang.
Ezra terbangun perlahan.
Kepalanya masih berat, tenggorokannya kering. Tubuhnya terasa hangat oleh sisa tidur, namun ada sesuatu yang langsung terasa salah bahkan sebelum matanya benar-benar terbuka.
Sunyi.
Bukan sunyi biasa, melainkan sunyi yang terlalu rapi. Tidak ada langkah kaki ringan Seira, tidak ada suara mesin kopi otomatis dari dapur kecil yang biasanya ia nyalakan tanpa sadar. Tidak ada aroma sarapan, tidak ada dengusan kecil khas Seira ketika ia membaca pesan di ponselnya sambil duduk di tepi ranjang.
Ezra membuka mata sepenuhnya. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Seprai rapi, nyaris terlalu rapi. Tidak ada lekukan tubuh, tidak ada sisa kehangatan. Ia menatapnya lama, seolah menunggu sesuatu berubah dengan sendirinya.
Tidak berubah.
Ezra duduk, menyandarkan punggung ke sandaran ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, rahangnya mengeras tanpa ia sadari. Ingatan tentang pertengkaran semalam datang seperti kilatan cahaya—kata-kata tajam, nada tinggi, tatapan penuh murka yang tak memberi ruang bernapas.
Dan kepergian Seira. Bukan kepergian biasa. Ada sesuatu dalam caranya melangkah tadi malam yang berbeda. Terlalu tenang untuk seseorang yang kalah. Terlalu cepat untuk seseorang yang hanya ingin menjauh sesaat.
Dering ponsel memecah keheningan.
Ezra melirik meja samping ranjang, meraih ponselnya tanpa tergesa. Nama yang muncul di layar membuat alisnya sedikit berkerut.
Nael.
Ia mengangkat panggilan itu, suaranya masih serak oleh tidur.
“Ya.”
[Ezra. Aku baru mendarat dari Shanghai. Aku sudah selesaikan semua. Bagianmu juga.] suara Nael terdengar lelah, khas orang yang baru melewati belasan jam penerbangan.
Ezra mengusap wajahnya dengan satu tangan, matanya menatap lurus ke depan. “Datang ke penthouse.”
Di seberang, terdengar jeda singkat. Lalu helaan napas. [Sekarang?] Nael terdengar setengah tidak percaya. [Ezra, aku butuh istirahat juga. Setidaknya mandi dan..]
Ezra tidak langsung menjawab.
Ia memejamkan mata, lalu membukanya kembali. Tatapannya beralih ke langit-langit kamar, putih, tinggi, dingin. Sorot matanya mengeras, bukan oleh marah yang meledak, melainkan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya: ketenangan penuh kendali.
“Kalau begitu,” katanya datar, nyaris tanpa emosi, “bawa wanita itu. Suruh dia datang padaku.”
Hening di ujung sana.
Nael menghembuskan napas panjang, jelas kesal, jelas tidak setuju, tapi juga jelas tidak punya ruang untuk membantah.
[…Oke,] katanya akhirnya. [Aku akan atur.]
Panggilan terputus.
Ezra menurunkan ponsel perlahan. Tangannya tetap menggenggamnya beberapa detik lebih lama, seolah benda itu adalah satu-satunya penghubungnya dengan dunia yang masih bisa ia kendalikan.
Ia bangkit dari ranjang.
Langkahnya membawa dirinya mengelilingi kamar. Lemari pakaian Seira masih tertata rapi, tapi beberapa hanger kosong. Terlalu sedikit untuk liburan biasa. Terlalu banyak untuk sekadar pergi sebentar.
Ezra berhenti.
Ada perasaan asing merayap di dadanya—bukan marah, bukan cemburu. Lebih mirip… kehilangan kendali. Sesuatu yang hampir tak pernah ia rasakan sepanjang hidupnya. Ia duduk di tepi ranjang, menatap ruang kosong di depannya.
Kekosongan. Dan anehnya, kekosongan itu mengingatkannya pada masa lalu. Awal-awal pernikahan.
Bayangan itu datang tanpa diminta. Hari-hari ketika mereka nyaris tak keluar dari kamar ini. Tirai tertutup, dunia luar seperti tak ada. Mereka hidup dalam ruang sempit yang hanya berisi tubuh, tawa, percakapan panjang di tengah malam.
Saat itu, Seira masih sering tertidur di dadanya. Tangannya selalu mencari Ezra lebih dulu. Tubuhnya tak pernah jauh dari satu sama lain. Dan Ezra, yang tak pernah membutuhkan siapa pun—justru merasa dunia terasa lebih stabil ketika Seira ada di sisinya.
Ketika cinta itu masih membara. Ketika mereka masih saling membutuhkan, bukan saling menguasai. Ezra menghembuskan napas pelan. Dada itu terasa kosong sekarang. Bukan karena ia merindukan Seira secara sentimental—ia tidak pernah membiarkan dirinya sejauh itu. Tapi karena sesuatu dalam dirinya sadar: ada bagian hidupnya yang dulu penuh, kini tak lagi ia miliki sepenuhnya.
Ia berdiri kembali, berjalan ke jendela besar. Kota terbentang di bawah sana, sibuk, hidup, tak peduli pada kekacauan kecil di dalam penthouse seorang pria berkuasa.
Ezra menyipitkan mata.
Seira pergi tanpa izin.
Pikiran itu berputar pelan, tapi tajam. Dan ia tahu, cepat atau lambat, ia akan menemukan jawabannya. Ia selalu menemukan apa yang ingin ia temukan.
Namun pagi itu, Exzavier Xander berdiri di hadapan kenyataan yang tidak bisa ia perintah untuk kembali.