Feels To Be Yours-Wanita Lain-BAB 1O

Penulis Ryukaze
10 January 2026

Ezra sudah sampai.

Mobil berhenti di pelataran apartemen yang nyaris tak menarik perhatian. Tidak ada penjaga berseragam rapi, tidak ada lobi megah dengan marmer mengilap. Hanya bangunan modern bertingkat sedang, bersih, fungsional, tempat orang hidup, bukan tempat orang memamerkan hidup.

Ezra turun tanpa menunggu pintu dibukakan. Langkahnya mantap, seolah tempat ini sama dikenalnya dengan penthouse miliknya sendiri.

Ia memasukkan kode akses. Pintu terbuka dengan bunyi klik lembut. Di dalam, sunyi.

Bukan sunyi yang dingin seperti di rumahnya sendiri, melainkan sunyi yang… bernapas. Ada aroma berbeda di udara. Bukan parfum mahal, bukan pengharum ruangan. Aroma tubuh yang bersih, hangat, samar, aroma seseorang yang benar-benar hidup di tempat ini.

Ezra menutup pintu perlahan.

Apartemen itu sederhana. Tidak sempit, tapi jauh dari mewah. Sofa abu-abu bersih, meja kayu terang, rak buku penuh namun tertata. Tidak ada hiasan berlebihan. Tidak ada lukisan mahal. Tidak ada benda yang diletakkan hanya untuk dilihat.

Ia berjalan pelan, matanya menyapu setiap sudut.

Rapi. Terlalu rapi untuk seseorang yang masih kuliah, pikirnya sesaat, sebelum menyadari, ini bukan kerapian dingin. Ini kerapian yang fungsional. Segala sesuatu punya tempat karena memang digunakan.

Di sudut ruang makan kecil, ada meja dengan tumpukan buku.

Ezra mendekat.

Ekonomi mikro. Manajemen keuangan. Statistik bisnis. Beberapa buku berbahasa Inggris dengan sampul yang sudah mulai lecek di sudutnya—sering dibuka, sering dipelajari.

Dia duduk di kursi, tubuhnya yang besar terasa kontras dengan furnitur minimalis itu. Tangannya mengambil satu buku dari tumpukan. Di dalamnya, catatan tangan memenuhi margin. Tulisan rapi, kecil, konsisten. Tidak ada coretan asal. Setiap garis tampak dipikirkan.

Di sela halaman, ada lembar kuis. Matematika bisnis. Ezra membaca soal itu. Sederhana. Perhitungan dasar tentang margin, risiko, dan proyeksi keuntungan. Sesuatu yang mungkin dipelajari di tahun pertama perkuliahan.

Persoalan sepele di ruang kelas, sementara di dunia nyata, ia setiap hari mengambil keputusan yang nilainya ratusan miliar. Angka-angka di kertas ini seperti mainan dibandingkan tekanan yang ia tanggung. Namun entah kenapa, sudut bibirnya bergerak sedikit.

Bukan senyum penuh. Hanya tarikan kecil, nyaris tak terlihat. Ia menutup buku itu perlahan, meletakkannya kembali seperti semula. Langkah kaki terdengar dari arah pintu. Cepat, ringan, sedikit tergesa.

Ezra tidak menoleh langsung. Pintu terbuka.

“—Tuan.”

Suara itu lembut, jernih, dan anehnya selalu tepat mengenai sesuatu di dada Ezra.

Ia menoleh.

Wanita muda itu berdiri di ambang pintu, membawa tas punggung dan beberapa buku di pelukan. Penampilannya sederhana. Sepatu sneaker putih sedikit berdebu. Hoodie crop warna sage yang membuat kulitnya terlihat hangat. Rok krem pucat yang jatuh ringan di betisnya.

Tidak ada riasan berlebihan. Rambutnya diikat rendah, sedikit berantakan karena angin.

Ia tersenyum kecil saat melihat Ezra sudah duduk menunggunya.

“Kau baru pulang?” tanya Ezra.

Suaranya rendah, tenang, tapi ada kelelahan yang tidak ia sembunyikan.

Wanita itu, Noa menyeringai riang. “Sebenarnya masih ada dua makul,” katanya ringan. “Tapi Kak Nael bilang Tuan mencariku.”

Nada bicaranya jujur. Tidak dibuat-buat. Tidak ada ketakutan. Tidak ada kepura-puraan. Ezra mengangguk sekali.

Tatapannya tertahan di wajah Noa sedikit lebih lama dari seharusnya. Ada sesuatu yang selalu memikatnya, bukan kecantikan yang mencolok, melainkan sikapnya. Cara Noa berdiri seolah dunia tidak menekan bahunya. Seolah ia memilih berada di sini, bukan terjebak.

Berani meninggalkan dunia kecilnya demi hadir untuknya. Sesuatu yang Seira tak pernah bisa, atau mau—lakukan.

“Aku lelah, Noa,” gumam Ezra.

Pengakuan itu keluar begitu saja. Tanpa perintah. Tanpa dominasi. Noa berhenti tersenyum lebar. Ekspresinya melunak. Ia melangkah masuk, meletakkan buku dan tasnya di meja, lalu menatap Ezra dengan sorot yang hangat tapi tidak menuntut.

“Saya mandi dulu, Tuan,” katanya lembut. “Setelah itu aku akan menemanimu.”

Ezra mengangguk lagi. Ia tidak berkata apa-apa ketika Noa berbalik melangkah pelan menuju koridor kamar mandi. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara. Namun sebelum menghilang, Noa berhenti.

Ia menoleh.

“Tuan,” panggilnya.

Ezra mengangkat pandangannya.

Noa tersenyum kecil. “Air hangat bisa membantu mengurangi lelah.”

Tatapan mereka bertemu.

Detik itu terasa lebih panjang dari seharusnya. Ada sesuatu di udara—bukan hasrat mentah, bukan juga kepolosan. Sesuatu yang lebih rumit. Ketergantungan yang belum diberi nama. Ezra berdiri. Tubuhnya yang tinggi membuat Noa harus sedikit mendongak saat ia melangkah mendekat. Ezra tidak menyentuhnya. Tidak mendekat terlalu jauh. Tapi kehadirannya saja cukup membuat ruang di antara mereka terasa menyempit.

Dia menatap Noa lebih dalam, seolah menimbang sesuatu. Lalu, tanpa kata lain, ia melangkah melewatinya. Menuju kamar mandi.

Noa menyusul beberapa menit kemudian.

Pintu kamar mandi tidak dikuncinya. Ia mendorongnya perlahan, membiarkan uap hangat menyapa kulitnya. Ruangan itu dipenuhi suara air yang jatuh stabil, ritmis, menenangkan, kontras dengan badai yang beberapa hari terakhir bersarang di kepala Ezra.

Noa berdiri sejenak di ambang pintu.

Ia melepas hoodie-nya dengan gerakan santai, seolah itu rutinitas biasa. Kain itu jatuh ke lantai tanpa suara berarti. Roknya menyusul, dilonggarkan perlahan, dibiarkan melorot hingga kakinya bebas. Yang tersisa hanyalah dalaman sederhana, cukup untuk menutup bagian paling pribadi dari tubuhnya.

Tidak ada rasa malu di wajah Noa. Tidak ada niat pamer. Tubuh itu hadir apa adanya—polos, muda, tanpa tuntutan.

Ezra menatap.

Ia tidak bergerak. Tidak mendekat. Tidak menjauh. Hanya matanya yang bergerak perlahan, memindai lekuk tubuh yang sudah tak asing baginya. Tidak semegah tubuh Seira, tidak dipoles untuk dunia. Namun justru karena itu, tubuh Noa terasa nyata. Dikenalnya dengan cara yang berbeda, bukan sebagai trofi, melainkan sebagai kehadiran.

Noa melangkah mendekat.

Ia berhenti tepat di depan Ezra, mengangkat tangan, meletakkannya di pinggang pria itu. Sentuhannya ringan, hangat. Tidak menggoda, tidak menuntut.

Tangannya bergerak naik, melewati kain kaos Ezra, menariknya pelan hingga terlepas dari tubuh pria itu. Gerakannya terlatih, tapi lembut. Seolah ia paham betul batas antara melayani dan menyerang.

Ezra membiarkan.

Senyum Noa muncul, kecil, nyaris malu-malu. Senyum yang selalu berhasil melonggarkan sesuatu di dada Ezra. Senyum yang tidak pernah meminta lebih dari yang ia berikan. Noa meraih keran shower, menyesuaikan suhu air. Ia memastikan kehangatannya pas, tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin. Perhatiannya detail, sabar.

Lalu ia menarik tangan Ezra.

Mereka berdiri di bawah guyuran air bersama.

Air mengalir di bahu Ezra, membasahi rambutnya, menuruni punggungnya yang tegang. Noa berdiri dekat, cukup dekat untuk berbagi kehangatan, tapi tidak menempel. Jarak yang aman. Jarak yang ia pilih.

Tidak ada ciu man. Tidak ada de sahan. Hanya kehadiran.

Noa menuangkan sabun ke telapak tangannya. Busa putih muncul, harum ringan. Tangannya menyentuh kulit Ezra—perlahan, penuh kehati-hatian. Gerakannya seperti seseorang yang merawat luka yang tak terlihat. Ezra menutup mata.

Sentuhan itu tidak membangkitkan hasrat yang liar. Tidak seperti biasanya. Justru sebaliknya. dia meredam. Menenangkan. Mengisi ruang kosong yang selama ini tak ia sadari menganga.

Setiap gerakan Noa terasa tulus. Tidak ada ambisi. Tidak ada kebutuhan untuk dimiliki. Ia hanya ingin merawat, seolah lelah Ezra adalah tanggung jawab yang ia ambil tanpa diminta. Ezra merasakan dadanya mengendur.

Dengan Seira, setiap sentuhan selalu berakhir pada tuntutan, siapa berkuasa, siapa menyerah. Dengan Noa, tidak ada pertarungan.

Hanya air hangat, sabun, dan keheningan yang aman. Noa tidak berbicara. Ia tahu kapan kata-kata justru mengganggu. Tangannya bergerak dengan ritme yang konsisten, menyeka, membersihkan, menenangkan. Tidak sekali pun ia berusaha menuntut perhatian lebih.

Ezra membuka mata.

Ia menatap Noa dari dekat. Rambut Noa basah, menempel di pelipisnya. Wajahnya tenang, fokus. Tidak ada permainan. Tidak ada drama.

Ia menghela napas panjang.

Noa mengangkat pandangannya, bertemu mata dengan Ezra. Ia tersenyum kecil, seolah bertanya tanpa kata, apakah cukup?

Ezra tidak menjawab.

Ia hanya berdiri di sana, membiarkan air dan kehadiran Noa melakukan apa yang tidak mampu dilakukan oleh kekuasaan, uang, atau kemarahan.