Bab 13 SEMUA KARENA USULAN KELUARGAMU

10 January 2026

"Oh ya? mama Arga mah yang buatin lauk ini khusus buat aku?" tanya Nindy saat itu sembari tangannya sibuk untuk meraih makanan yang ada di atas meja depannya dan mulai mengambilnya lalu menaruhnya ke atas piring yang ada di depannya tepat.

"Eh, sampai lupa, papa di mana mah?" tanya Nandi yang lalu menghentikan aktivitas tangannya yang saat itu sedang sibuk mengambil lauk untuk beberapa saat.

"Papa ya? tadi sudah bertemu dengan Arga. Dia sudah pergi katanya ada urusan penting. Jadi pagi ini kita sarapannya bertiga aja," ucap jawab mama. Akhirnya Nindy pun melanjutkan aktivitasnya saat itu.

Sedangkan Arga, dia hanya menatap Nindy menikmati makanannya yang tampak begitu lahap.

"Ini nak Arga, kamu juga makan lauk buatan calon mama mertuamu ini ya?" ucapan Mama Nindy yang seketika menyadarkan Arga ketika melihat Arga yang saat itu hanya menatap ke arah Nindy.

Terlihat Mama Nindy segera mengambil piring yang lalu diisi nasi dan juga beberapa lauk buatannya, mama lalu meletakkan piring itu ke atas meja yang berada di depan Arga tepat.

"Terimakasih Tante," ucap Arga.

"Sama-sama, nggak usah sungkan. Kita juga bakalan jadi keluarga nantinya," balas Mama Nindy. Lelaki itu hanya memaksakan senyumannya ke arah Mama Nindy.

Mama Nindy sengaja membiarkan meja makan itu hening untuk beberapa saat dan yang ada hanya 3 orang yang menikmati makanan di sana, tanpa mengobrol atau bicara. Hingga aktivitas tersebut selesai.

"Nak Arga nanti mau mengajak Nindy ke Butik mana? tadi Mama kamu bilang pada Mama kalau kamu akan mengajak Nindy ke salah satu butik, kalau kamu belum memiliki Butik pilihan, kamu bisa datang ke butik yang biasa Mama datangi."

Nindy hanya mendengus ketika mendengar apa yang Mamanya katakan. Karena sudah pasti Butik langganan Mama itu harganya tidak murah. Karena terlalu seringnya Nindy mengantar Mamanya ke sana, jadi Nindy tahu betul harga-harga di Butik tersebut dari yang termurah sampai yang paling mahal.

"Tidak apa-apa Tante, saya sudah memiliki Butik langganan tersendiri yang biasa bekerja sama dengan perusahaan saya. Jadi saya akan datang ke sana saja karena sudah pasti butik itu tahu model seperti apa yang saya inginkan."

Lelaki itu lalu meraih gelas minumannya untuk beberapa saat sebelum meneguk seluruh isinya sampai tidak tersisa.

"Baiklah Ma, kalau memang begitu ceritanya, ya sudah, aku menurut aja dia mau mengajakku kemana yang pasti aku tidak ingin acara pertunanganku nanti akan mendapatkan gaun yang buruk," balas Nindy. Akhirnya Nindy dan juga Arga berpamitan pada Mama Nindy.

"Tunggu Sayang, nanti pulangnya tidak boleh malam-malam ya?" ucap Mama sebelum Nindy dan juga Arga masuk ke dalam mobil. Saat itu keduanya langsung menatap satu sama lain, di mana mereka merasa ucapan Mamanya tersebut benar-benar di luar pemikiran mereka.

"Tidak Tante. Mungkin sebelum makan siang saya akan mengantarkan Nindy pulang kembali, karena saya harus kembali ke kantor karena ada urusan," balas Arga. Terlihat Mama Nindy pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali tanda wanita itu mengerti.

Akhirnya mereka berdua segera masuk ke dalam mobil. Terlihat Arga dan juga Nindya hanya diam dan tidak mengobrol.

"Kenapa Mamamu sampai memiliki pemikiran jika aku akan membawamu hari ini sampai malam?" ucap tanya Arga tiba-tiba yang memecah keheningan. Nindy sedikit terkejut saat mendengar pertanyaan itu.

"Mana aku tahu? kalau kamu bertanya padaku lalu aku harus bertanya pada siapa?" balas Nindy kemudian yang lalu sibuk kembali menata pada layar ponselnya.

[Bos, kita memiliki beberapa kandidat yang ingin bekerja sama dengan kita. diantaranya adalah perusahaan calon tunanganmu Bos. Dia berani memberi nominal angka yang tinggi agar kamu mau bekerja di perusahaannya,]

Nindy tanpa sadar menyunggingkan senyuman sembari sekilas melirik ke arah lelaki yang saat itu sedang mengemudi disampingnya. Nindy tidak pernah menyangka jika ternyata perusahaan lelaki itu juga mengincar dirinya untuk mengajak bekerja sama.

Ternyata apa yang Nindy lakukan saat itu juga bisa dilihat oleh Arga, lelaki itu merasa penasaran dengan ekspresi senyuman yang Nindy dilakukan.

"Apa yang lucu, kenapa sampai membuatmu tersenyum seperti itu?" tanya Arga tiba-tiba.

"Tidak apa-apa, andai saja orang itu tahu jika ternyata yang diincar itu adalah musuh bebuyutannya, kira-kira apa ya yang akan ditanggapi oleh musuh bebuyutan itu? haruskah dia menerima atau menolaknya?" ucap gerutu Nindy yang tidak bisa Arga mengerti.

"Maksud kamu bicara begitu apa? musuh bebuyutan apa? maksud kamu kita?" tanya lelaki itu kemudian. Saat itu Nindy hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.

"Asal kamu tahu saja ya, kalau Mama dan juga Papa tidak memaksaku. Aku juga tidak mungkin untuk melakukan banyak hal seperti ini bersama denganmu!" ucap lelaki itu. Tapi sepertinya Nindy lebih fokus dan asik pada layar ponselnya dan tidak menanggapi perkataan Arga saat itu. Arga pun juga tidak peduli.

[Biarkan saja. Gantung saja. Aku ingin melihat sebatas mana penawaran itu!] balas Nindy pada pesan yang dia kirimkan untuk Asistennya.

"Kau tidak keberatan aku membawamu ke butik yang biasa bekerja sama dengan perusahaanku kan?" tanya Arga. Nindy hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai jawaban.

"Kau nggak mau memilih Butik tersendiri yang menurutmu sesuai dengan seleramu? bukankah kebanyakan wanita suka hal yang biasanya dia inginkan?" tanya Arga lagi.

"Kok bawel ya? aku nggak masalah dimanapun Butiknya! aku hanya mau pesta pertunanganku itu aku terlihat sempurna. Lagian, nggak banyak orang juga yang di undang. Aku juga nggak terlalu minat berfoto ria," balas Nindy. Balasan itu membuat Arga merasa kesal. Tapi dia hanya bisa menyembunyikannya saja.

"Akh sudahlah! lupakan saja! anggap aku nggak bicara apa-apa," balas Arga lagi yang tidak mau berdebat.

Hingga terlihat Arga menepikan mobilnya dan menghentikannya tepat di tepian jalan. Hal itu lalu membuat Nindy bertanya-tanya.

"Kenapa berhenti di sini? mana Butiknya?" tanya Nindy sembari mengedarkan pandangan matanya menatap ke segala arah. Di mana di sana dia tidak menjumpai Butik atau toko baju dan sejenisnya.

"Aku ingin bicara denganmu. Rasanya masih mengganjal sekali dan ingin aku katakan," ucap Arga yang lalu melepas sabuk pengaman dari tubuhnya dan menghadapkan tubuh itu ke arah Nindy berada.

"Apa?" tanya Nindy.

"Kau tidak merasa sikapmu sangat aneh? aku tahu, kita sepakat untuk menjadi orang asing saat hanya berdua saja. Aku juga tahu kita ini sama-sama terpaksa karena oermintaan orang tua. Bisa saja aku menolak apa yang mereka inginkan. Aku bisa hidup sendiri dengan sumberdaya ku. Tapi apa? mereka hanya punya anak lelaki aku satu-satunya..Mau tidak mau aku harus patuh. Tapi, kenapa sikapmu yang malah begini? bukankah sejak awal perjodohan ini adalah keinginan keluargamu? usulan Papamu."