Hujan belum benar-benar reda ketika Al membawa Hanum masuk ke dalam mobil hitam yang menunggunya. Reno duduk di kursi depan, siap mengemudi, sementara dua anak buah lain mengawal dari belakang. Mesin meraung, meninggalkan pelabuhan yang kini masih dipenuhi jejak pertarungan dan sirene polisi samar-samar.
Hanum duduk di samping Al, tubuhnya masih gemetar, kedua tangannya menggenggam erat lengan pria itu seakan takut ia akan lenyap begitu saja. Matanya bengkak, wajahnya pucat, tetapi sorotnya tetap indah, sorot yang selama ini menjadi cahaya bagi kegelapan hidup Al.
Al memeluk bahunya, menunduk, mencium ubun-ubun Hanum. “Kau aman sekarang. Aku janji, Hanum. Tak ada yang bisa menyentuhmu lagi tanpa melewati mayatku.”
Hanum menggeleng pelan, air matanya jatuh. “Aku bukan takut pada mereka, Al. Aku takut kehilanganmu. Kau selalu membawa dirimu ke dalam bahaya.”
Ucapan itu menusuk lebih dalam dari luka apapun. Al menatapnya lama, lalu mengusap pipinya yang basah. “Kalau aku jatuh, aku jatuh untukmu, tapi aku tak akan pergi sebelum memastikan kau aman.”
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak biasa dari luar, seperti gudang kecil. Namun, begitu pintu besi dibuka, lorong bawah tanah panjang terbentang. Inilah markas rahasia Al, satu-satunya tempat yang bahkan Arman tak pernah tahu.
Mereka berada dimarkas besar milik Al.
Ruangan itu luas, penuh layar monitor, peta kota dan rak senjata yang berjajar rapi. Bau minyak dan besi bercampur dengan aroma kopi yang masih mengepul dari meja kayu.
Hanum melangkah masuk dengan ragu. “Tempat apa ini?”
“Rumah sebenarnya,” jawab Al singkat. “Bukan rumah besar keluarga Faidzin, bukan kantor partai, bukan gedung bisnis. Di sini aku bebas jadi diriku sendiri dan mulai malam ini, kau juga bebas. Tak ada yang bisa mencarimu di sini.”
Hanum menoleh padanya, bibirnya bergetar. “Kau, kau melakukan semua ini hanya untukku?”
Al menghela napas, lalu mendekat, menahan wajahnya dengan kedua tangan. “Tidak. Aku membangun ini untuk hari ketika aku sadar, aku harus hidup sebagai diriku sendiri, tapi alasan aku menggunakannya sekarang? Hanya karena kau. Hanum, kau satu-satunya alasanku melawan.”
Hanum tak mampu berkata-kata. Tubuhnya masih lemah. Namun, hatinya berdegup kencang. Ia menunduk, lalu perlahan menyandarkan keningnya di dada Al. Detak jantung pria itu keras, cepat dan hangat, tempat paling aman di dunia.
Malam itu, Hanum diberi kamar kecil yang nyaman di markas tersebut. Al sendiri berdiri lama di depan pintu kamar setelah mengantarnya, seolah enggan pergi.
Hanum menatapnya, lalu berkata lirih, “Jangan pergi. Duduklah di sini sebentar.”
Al masuk, duduk di kursi di dekat ranjang. Ia menatap Hanum yang berbaring, rambutnya terurai, wajahnya masih pucat namun indah dalam cahaya lampu redup.
“Hanum,” suara Al serak. “Aku tahu semua ini terlalu gila. Aku menyeretmu ke dunia yang seharusnya tak pernah kau lihat, tapi aku janji, aku akan menebus semuanya. Bahkan jika aku harus melawan darahku sendiri.”
Hanum mengulurkan tangannya, meraih jemari Al. “Kau bukan pewaris Arman. Kau bukan alat siapa pun. Kau, hanya Al. Dan itu sudah cukup bagiku.”
Al meremas tangannya erat, lalu tanpa sadar mendekat. Bibirnya menyentuh punggung tangan Hanum, lembut, penuh rasa sakit dan cinta.
Malam itu, mereka berbicara lama. Tentang ketakutan Hanum, tentang masa kecil Al yang ternyata penuh luka, tentang masa depan yang tak pasti dan di antara semua percakapan itu, perasaan mereka tumbuh semakin nyata.
Sebelum Hanum tertidur, ia berbisik, “Jangan pernah biarkan aku sendirian lagi.”
Al menjawab pelan, “Selama aku masih bernapas, kau takkan pernah sendiri.”
Setelah memastikan Hanum tertidur dengan tenang, Al keluar ke ruang monitor. Reno sedang menunggu dengan wajah serius.
“Bos, ada sesuatu yang harus kau lihat.”
Reno menyerahkan sebuah amplop tebal dengan segel emas. Undangan resmi, tampak mewah.
“Dari siapa?” tanya Al sambil membukanya.
“Seorang kolega bisnis furnitur, tapi ada nama besar di balik acara ini. Banyak politisi dan pengusaha akan hadir.”
Mata Al menyipit saat membaca isi undangan. Sebuah acara pertemuan besar di hotel mewah dengan agenda gala dinner dan lobi politik dan yang paling mengejutkan, nama Arman Faidzin tercantum sebagai salah satu tamu kehormatan.
Reno menambahkan, “Kami cek, undangan ini dikirim langsung ke alamat usahamu. Tidak lewat keluarga Faidzin. Sepertinya mereka ingin menarikmu secara pribadi.”
Al mengepalkan tangan. “Kalau begitu, ini kesempatan. Aku bisa lihat langsung gerakan Arman, tapi aku harus berhati-hati.”
Ia menatap kamar tempat Hanum beristirahat, wajahnya diliputi keraguan. Namun, ia tahu satu hal, ia tak akan meninggalkan Hanum lagi.
Di malam acara itu.
Hotel bintang lima itu penuh cahaya, karpet merah terbentang, musik orkestra mengalun lembut. Para tamu berdandan mewah, bercampur antara pengusaha, politisi dan wajah-wajah yang sudah lama Al kenal dari lingkaran kotor keluarganya.
Al datang mengenakan jas hitam elegan, sikapnya dingin dan berwibawa. Di sisinya, Hanum melangkah anggun dalam gaun biru tua sederhana. Namun, menawan. Semua mata tertuju pada mereka, terutama pada Hanum yang kecantikannya memancar alami.
Bisikan-bisikan mulai terdengar di antara tamu. “Itu Al Faidzin, tapi siapa gadis muda di sampingnya?”
Al menggenggam tangan Hanum, memberi isyarat agar ia tak takut.
Namun, di tengah keramaian itu, seseorang mendekat. Seorang pria tinggi dengan senyum licik, dia adalah musuh lama Al, Darian Pradipta, pengusaha muda yang dulu pernah dikalahkan Al dalam perebutan proyek besar.
“Al, lama tak berjumpa.” Darian mengulurkan tangan, tatapannya menusuk penuh kebencian. “Dan, ini siapa? Kekasihmu?”
Al hanya menatap dingin. “Tak ada urusan denganmu, Darian.”
Namun, Darian tidak berhenti. Ia menoleh ke Hanum, lalu meraih tangannya seolah hendak mencium. “Namamu siapa, Nona? Jarang sekali aku lihat gadis secantik ini di lingkaran politik kotor kita.”
Hanum menegang, berusaha menarik tangannya. Tatapannya gelisah, sementara Al dengan cepat menyambar tangan Darian, cengkeramannya keras hingga pria itu meringis.
“Jangan pernah menyentuhnya,” suara Al rendah tapi penuh ancaman.
Darian tersenyum miring meski wajahnya menahan sakit. “Ah, jadi benar gosipnya. Kau jatuh hati pada seorang gadis. Menarik. Kau tahu kan, di dunia ini, kelemahan sekecil apapun bisa jadi senjata dan dia terlihat seperti kelemahan paling indah.”
Ucapan itu membuat darah Al mendidih.
Hanum memegang lengan Al, berbisik, “Jangan, Al. Semua orang melihat.”
Namun, Darian sudah melangkah pergi, meninggalkan tawa kecil yang menusuk telinga.
Saat Al berusaha menenangkan Hanum, seorang pelayan mendekat, menyelipkan secarik kertas kecil ke tangannya.
Al membukanya diam-diam. Tulisannya singkat, dengan tinta merah.
“Kalau kau terus melawan, gadis itu takkan selamat. A.F.”
Al membeku. Rahangnya mengeras. Itu inisial Arman Faidzin.
Ia menatap Hanum yang sedang berusaha tersenyum agar tidak terlihat cemas di depan orang-orang dan untuk pertama kalinya, Al sadar, perang ini baru benar-benar dimulai dan Hanum adalah taruhan paling berharga yang bisa ia hilangkan kapan saja.
Di pesta penuh cahaya itu, Al sadar bahwa musuh-musuhnya tak lagi hanya bersembunyi dalam bayang-bayang. Mereka kini menatap langsung pada Hanum dan siap merenggutnya kapan saja.
Pesan misterius dari Arman di tengah acara, membuat Al harus memilih, tetap melawan atau kehilangan Hanum selamanya.