Drama

Bayangan Gradasi - Gemerlap Pesta Politik - Bab 26

Penulis Ichan
12 September 2025

Hingar bingar di pesta politik malam itu hanyalah topeng. Di balik gemerlap lampu kristal dan alunan musik orkestra, ancaman berdarah sudah menunggu Al dan Hanum. Hanya butuh satu langkah salah dan nyawa Hanum akan jadi tumbalnya.

Lampu kristal di ballroom berkilauan. Namun, dada Al terasa gelap, sesak, penuh bara. Kertas kecil bertuliskan inisial A.F. masih terkepal di tangannya, nyaris remuk. Ia tahu benar arti pesan itu. Ayahnya, Arman Faidzin, tidak pernah berbicara tanpa maksud. Jika ia sudah menuliskan ancaman, maka itu berarti eksekusi sudah disiapkan.

“Al.” Hanum berbisik lirih, jemari mungilnya menyentuh lengan Al, mencoba menenangkan. “Ada apa? Kau pucat sekali.”

Al menoleh cepat, menatap wajah Hanum. Cantik, rapuh, tapi berani. Sorot matanya seakan memohon agar ia jujur. Namun Al tidak bisa. Tidak di sini, tidak di tengah ratusan mata yang mengawasi.

“Tidak apa-apa,” jawabnya singkat, suaranya serak. “Tetap di sisiku. Jangan pernah jauh.”

Hanum mengangguk meski kebingungan.

Tiba-tiba, musik berhenti. Semua kepala menoleh ke arah panggung utama ketika nama Arman Faidzin disebut oleh pembawa acara.

Al menegang.

Dari sisi ruangan, seorang pria tua berjalan dengan langkah mantap. Rambutnya memutih sebagian, jasnya berkelas, senyumnya tipis namun menggetarkan. Sorot matanya tajam, penuh wibawa, mata yang dulu selalu menatap Al dengan dingin, mata yang kini mengunci padanya seolah menembus seluruh lapisan jiwanya.

Arman Faidzin. Ayahnya.

Saat acara berlanjut dengan pidato sambutan, Al tidak lagi mendengar kata-kata. Otaknya penuh strategi, jantungnya berdegup liar.

Ia baru sadar bahaya itu nyata ketika Reno menghampirinya dengan wajah panik. “Bos, Hanum, dia hilang.”

Darah Al seperti berhenti mengalir. “Apa?!”

“Baru saja. Ada dua orang pelayan yang mendekatinya. Kami kira aman, tapi.” Reno menelan ludah. “Mereka bukan pelayan biasa. Mereka membawa Hanum ke arah koridor belakang.”

Al tidak menunggu. Ia berlari menerobos kerumunan, sementara Reno dan anak buah lain mengikuti. Kepanikan mulai menggerogoti benaknya. Namun, amarahnya lebih besar.

“Arman!” desisnya. “Kalau dia menyentuh Hanum, aku akan.”

Langkahnya terhenti ketika ia tiba di sebuah lorong gelap di belakang ballroom. Di sana, cahaya lampu redup menyoroti sebuah pemandangan yang menusuk hatinya.

Hanum.

Tubuh mungilnya didorong ke lantai marmer. Tangannya terikat kasar, mulutnya ditutup kain. Wajahnya basah air mata. Di sampingnya berdiri dua pria bertubuh besar dan di depan mereka, sosok yang membuat Al ingin berteriak.

Arman Faidzin, ayahnya sendiri, berdiri dengan tenang sambil memegang pistol berlapis perak.

“Lepaskan dia!” suara Al menggelegar, penuh amarah.

Arman menoleh perlahan, senyum dingin terukir di bibirnya. “Akhirnya kau datang, anakku.”

Al meraih senjatanya dari balik jas, namun sebelum ia bisa mengarahkan, salah satu anak buah Arman menghunus pisau ke leher Hanum. Bilahnya menempel erat, menimbulkan goresan merah tipis di kulit putihnya.

Hanum menjerit tertahan.

“Tidak!” Al menurunkan senjatanya dengan cepat. Tangannya gemetar. “Jangan sakiti dia. Aku, aku akan lakukan apa saja!”

Arman terkekeh pelan, suaranya rendah dan menusuk. “Kau bicara seolah punya pilihan, Al. Kau tahu, aku tidak pernah menyukai kelemahan dan gadis ini, jelas kelemahan terbesarmu.”

“Dia tidak ada sangkut paut denganmu!”

“Justru karena itu. Dia tidak penting bagi siapa pun kecuali dirimu dan karena itulah, dia akan jadi alat terbaik untuk membuatmu tunduk.”

Arman memberi isyarat. Salah satu anak buahnya untuk menembak.

Suara pistol meletup, memecah lorong.

Hanum menjerit kesakitan. Peluru menembus perutnya. Darah langsung mengalir deras membasahi gaun biru tua yang ia kenakan. Tubuhnya terhuyung, matanya membesar menahan perih.

“Hanum!” Al berlari ke arahnya, tapi langkahnya terhenti lagi ketika pisau semakin menekan leher kekasihnya. Darah segar mengalir tipis dari kulitnya yang tergores.

“Al,” suara Hanum serak, nyaris tak terdengar. Matanya penuh air mata, tubuhnya gemetar menahan sakit. “Jangan, jangan lawan. Aku tak apa.”

Al merasa jiwanya hancur. Tangannya mengepal, air matanya jatuh tanpa ia sadari. Ia ingin membunuh semua orang di hadapannya, tapi satu gerakan salah berarti Hanum mati seketika.

“Arman, berhenti!” teriak Al, suaranya pecah. “Lepaskan dia. Kau mau aku tunduk? Baik. Aku akan ikuti semua perintahmu. Hanya, lepaskan dia.”

Arman tersenyum puas. “Begitu saja dari tadi, Al. Kau memang darahku. Kau bisa membenci aku, tapi pada akhirnya, kau akan selalu kembali. Karena aku tahu titik lemahnya.”

Al menurunkan pistolnya, lalu menjatuhkannya ke lantai. Bunyi logam beradu menggema. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tanda menyerah.

Air mata mengalir deras di pipinya, bukan karena takut, tapi karena sakit. Sakit melihat Hanum terkapar, darahnya membasahi lantai, nyawanya tergantung hanya pada belas kasihan orang yang seharusnya menjadi ayah, bukan algojo.

Hanum mencoba tersenyum meski wajahnya pucat, bibirnya bergetar. “Al, jangan, jangan serahkan dirimu, demi aku.”

“Diam, Hanum. Kau jangan bicara. Aku mohon,” Al terisak, suaranya pecah. “Aku janji, aku akan menuruti mereka. Aku akan lakukan apa saja, asal kau selamat.”

Arman mengangguk pada anak buahnya. Pisau sedikit menjauh. Namun, masih menempel di leher Hanum. Pistol diturunkan, tapi tetap siaga.

“Baik, Al,” kata Arman datar. “Mulai malam ini, kau akan kembali pada keluarga. Kau akan ikut denganku. Semua asetmu, semua orangmu, akan berada di bawah kendaliku. Kau akan jadi pewaris yang kutentukan, bukan pemberontak murahan dan gadis ini.” Arman menatap Hanum dingin. “Akan tetap hidup, selama kau patuh.”

Al hampir runtuh mendengar kalimat itu. Ia tahu, ini bukan akhir. Ini hanya awal dari penderitaan baru.

Reno yang menyusul dari belakang lorong tertegun melihat pemandangan itu. Namun, Al memberi isyarat singkat dengan matanya, jangan bergerak.

Air mata jatuh lagi dari matanya ketika ia melangkah mundur, menyerahkan dirinya bulat-bulat.

“Aku janji,” bisiknya, menatap Hanum penuh cinta. “Aku janji, aku akan menuruti mereka. Demi kau. Demi nyawamu.”

Hanum menutup mata, air matanya mengalir, tubuhnya semakin lemah.

Arman menepuk bahu anak buahnya. “Bawa dia. Rawat secukupnya agar tidak mati, tapi biarkan luka itu mengingatkan siapa yang berkuasa di sini.”

Al berteriak putus asa ketika Hanum ditarik kasar oleh dua pria berbadan besar. Darahnya tercecer di lantai, wajahnya pucat hampir tak bernyawa.

“Hanum!”

Namun, pisau di lehernya lagi-lagi jadi pengingat. Satu gerakan gegabah dan nyawa itu hilang.

Arman mendekat, menatap mata Al. “Selamat datang kembali, anakku. Kau sudah membuat pilihan yang tepat. Ingat baik-baik, mulai saat ini, setiap tarikan napas gadis itu bergantung pada kesetiaanmu padaku.”

Al terdiam, air matanya menetes deras, hatinya koyak. Ia sudah jatuh ke dalam perangkap ayahnya dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa kalah.


Di lorong hotel yang dingin, Hanum dibawa menjauh dengan darah yang terus mengalir dari luka tembaknya. Tatapan terakhirnya pada Al penuh cinta sekaligus perpisahan. Sementara itu, Al berdiri di hadapan Arman dengan tangan kosong, terikat janji yang mematikan: tunduk sepenuhnya atau kehilangan Hanum selamanya.

Namun, jauh di dalam hatinya, satu janji lain mulai terbakar, jika ia harus menukar seluruh dunia untuk merebut Hanum kembali, maka ia akan melakukannya, meski itu berarti menumpahkan darah ayahnya sendiri.