Drama

Memancing Emosi Lusi

Penulis Yoonna
11 January 2026

Ketika Andrian tiba di Ameertha, suasana terasa mencekam. Para staf terlihat panik, bisikan terdengar di mana-mana. Andrian, tanpa membuang waktu, langsung menuju ruang konferensi.

Di sana, Kaluna sudah berdiri di depan layar holografik, blazer hitamnya kembali dikenakan, memancarkan aura es. Praka berdiri di sisinya, wajahnya serius, tidak ada lagi senyum menggoda yang biasa. Sekitar dua puluh manajer divisi duduk tegang mengelilingi meja, menanti hukuman mati.

Kaluna tidak menunggu Andrian duduk. Dia menunjuk ke layar, yang menampilkan perbandingan dua set desain yang hampir identik. Desain di sebelah kanan adalah milik Ameertha, dan di sebelah kiri adalah yang didaftarkan oleh perusahaan pesaing, PT. Salsabila Inti Karya.

"Rencana kita," suara Kaluna memecah keheningan, dingin dan tajam seperti pecahan kaca, "telah didaftarkan oleh PT. Salsabila dua jam yang lalu. Selamat, kita bukan lagi kompetitor, kita adalah peniru."

Para manajer langsung panik, bisik-bisik ketakutan memenuhi ruangan.

"Cukup!" Praka membanting tangannya ke meja, membuat semua orang terdiam seketika.

Andrian mengambil kursi di sisi Kaluna, tatapannya bertemu dengan Praka. Sebuah anggukan singkat, saling memahami urgensi situasi, tanpa kata-kata.

"Manajer Produksi, Tim Desain, Tim Logistik, kalian semua akan bekerja langsung di bawah Rayyan Sugara, mulai sekarang," perintah Praka. "Saya akan menyerahkan inti dari rencana ini hanya kepada Rayyan secara pribadi. Dia adalah wajah dan otak baru Ameertha. Kalian semua bertanggung jawab untuk mengeksekusi visinya."

"Berapa banyak waktu yang kita butuhkan?" tanya Andrian.

"Tujuh puluh dua jam," jawab Praka. "Waktu yang cukup bagi Rayyan untuk menguasai inti rencana dan bagi tim kita untuk mengubah total semua persiapan logistik dan produksi."

”Tidak akan ada yang berubah, Raka,” potong Kaluna.

Suaranya mengandung nada yang sangat percaya diri, seolah kekacauan yang terjadi adalah bagian dari rencana besarnya.

Para manajer saling pandang, bingung. Bukankah rencana mereka baru saja dicuri? Bagaimana bisa tidak ada yang berubah? Andrian dan Praka pun menatap Kaluna dengan alis terangkat, menantikan penjelasan.

Kaluna kemudian menoleh, tatapannya menyapu setiap wajah di ruangan itu, hingga berhenti pada Lusi, sekretarisnya yang duduk di barisan depan dengan wajah pucat.

"Saya rasa rapat kita selesai. Kalian semua, kembali ke pos masing-masing dan tunggu instruksi lebih lanjut," perintah Kaluna, suaranya pelan tapi mutlak.

Semua orang terkejut. Rapat baru dimulai, dan krisis sudah di depan mata.

Hasan, Kepala Logistik Pameran yang prosedural, memberanikan diri untuk bersuara, mewakili kebingungan massal.

"Nona Kaluna, maaf, tapi, kita sekarang berada dalam situasi kritis! Rencana sudah bocor! Saya rasa, kita membutuhkan keputusan akhir sekarang juga! Kita harus bagaimana? Kita masih butuh kesimpulan yang jelas!" bantah Hasan, suaranya tegang dan sedikit gemetar.

Kaluna menoleh padanya, tatapannya sedingin baja. Senyum lebarnya menghilang seketika, digantikan oleh aura CEO yang tidak mentolerir pertanyaan.

"Aku butuh waktu untuk memikirkannya. Sekarang, tolong tinggalkan aku dan Lusi," ujar Kaluna, tanpa menaikkan volume suaranya sedikit pun, namun otoritasnya terasa seperti hantaman yang tak terhindarkan.

”Tapi, Nona,” ujar Hasan lagi, yang kemudian langsung dibalas tatapan dingin yang lebih mematikan dari Kaluna.

”Kubilang, keluar!” kata Kaluna yang mengepalkan tangannya.

Hasan terdiam, pucat pasi. Dia menyadari dia telah melampaui batas. Dia segera menunduk dan bergegas keluar, diikuti oleh semua manajer divisi lainnya. Praka dan Leon, memahami isyarat Kaluna, juga segera melangkah menuju pintu.

Dalam beberapa detik, ruangan konferensi yang besar itu menjadi sepi. Semua orang keluar, kecuali Andrian yang masih duduk di kursinya, matanya terpaku pada Kaluna.

Kaluna tidak perlu menoleh. Dia merasakan kehadiran suaminya yang menantang.

"Kau juga, Tuan Sugara," ujar Kaluna, suaranya kembali dingin.

Andrian tidak bergerak. "Tapi, Kaluna—"

"Ini masalah internal Ameertha," potong Kaluna, berbalik dan menatap langsung ke mata Andrian. "Aku meminta privasi untuk ini."

Andrian mencondongkan tubuh ke depan, matanya tajam.

"Termasuk kepada suamimu sendiri?" tanyanya, nada suaranya mengandung sedikit rasa sakit hati karena dikecualikan.

Kaluna hanya menatapnya sejenak, lalu mengalihkan pandangan, menolak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Keheningan itu sudah cukup sebagai jawaban.

Andrian menghela napas panjang. Dia mengerti. Kaluna sedang berhadapan dengan pengkhianatan dari orang terdekatnya, dan dia perlu menghadapi situasi ini dengan isolasi total.

Dia menghormati batasan yang Kaluna tetapkan, betapapun kerasnya itu.

”Baiklah,” ujar Andrian.

Andrian bangkit dari kursinya. Dia berjalan ke sisi Kaluna, dan alih-alih berdebat, dia meletakkan telapak tangannya di pundak Kaluna.

Dia tidak berkata apa-apa. Sentuhan itu adalah pernyataan diam. Pernyataan bahwa dia akan selalu ada, benteng yang kokoh, menunggu di luar, siap menerima perintahnya ketika dia membutuhkannya.

Kaluna memejamkan mata sejenak merasakan sentuhan itu, kemudian membukanya kembali, sorot matanya kembali tajam. Andrian melepaskan sentuhannya, dan berjalan ke pintu, meninggalkannya sendirian dengan bidak yang akan dia hancurkan.

"Tiga tahun, Lusi. Tiga tahun kau memegang kepercayaanku. Dan hari ini, kau menjualnya seharga berapa?" suara Kaluna tenang, tanpa emosi, membuatnya jauh lebih mengancam daripada teriakan.

Di ruang konferensi yang sunyi, di mana gema kekacauan dari luar masih terasa samar, Lusi duduk kaku di hadapan Kaluna.

"Saya tidak mengerti, Nona," ujar Lusi, suaranya terdengar tercekat dan masih berusaha keras mempertahankan kepolosan yang rapuh.

Kaluna tidak membalas dengan kemarahan. Dia hanya bersandar santai di sandaran kursinya, aura CEO-nya sedingin gunung es.

"Katakan untuk siapa kau bekerja, Lusi," Kaluna mengulang, nadanya datar, seolah hanya menanyakan nama kopi pagi.

"Saya... saya tidak mengerti apa yang Nona bicarakan," balas Lusi, matanya mulai berkaca-kaca, mencoba memohon belas kasihan.

"Begitu ya," kata Kaluna, senyum tipis sinis muncul di bibirnya.

Kaluna mengulurkan tangan ke tas tangan yang tergeletak di meja, sebuah tas kulit mewah yang berisi beberapa berkas. Dengan gerakan lambat dan penuh perhitungan, dia mengeluarkan sebuah map kulit berwarna navy. Map itu tampak tipis, tidak seperti dokumen perusahaan yang tebal.

"Lalu ini, bisa kau jelaskan apa ini?" Kaluna meletakkan map yang langsung terbuka itu.

Lusi terbelalak. Wajahnya langsung pucat pasi, seperti tertampar kenyataan yang tak terhindarkan. Map itu bukan dokumen strategi, tetapi sesuatu yang jauh lebih pribadi dan eksplosif.

"Tiga tahun bersamaku, aku pikir kau sudah benar-benar memahamiku, Lusi," kata Kaluna, suaranya kini mengandung kekecewaan yang nyata.

Kaluna membiarkan Lusi menatap map itu, membiarkan ketakutan itu meresap ke dalam dirinya.

"Kau lupa, aku selalu membuat privasi, Lusi. Bukan hanya privasi dari musuh korporat, tapi juga dari orang-orang terdekatku." Kaluna berhenti sejenak, tatapannya menusuk ke mata Lusi.

Map itu berisi salinan cetak korespondensi email antara Lusi dan Chief Marketing Officer PT. Salsabila Inti Karya, yang namanya masih disamarkan dalam beberapa kode dan angka. Lengkap dengan jadwal pertemuan rahasia tim Kaluna di kafe JP malam itu.

Lusi gemetar, air mata yang dia tahan kini benar-benar jatuh. Bukan air mata penyesalan, melainkan air mata ketakutan karena tertangkap basah.

"Nona, saya—"

"Aku tidak butuh penjelasan untuk hal itu Lusi," potong Kaluna, suaranya kembali sedingin es.

"Nona... saya mohon ampun," Lusi terisak, tangisnya pecah tak tertahankan. "Saya khilaf! Saya terpaksa melakukannya... Ibu saya butuh biaya operasi yang sangat besar. Saya tidak punya pilihan lain, Nona..."

Lusi memohon, suaranya dipenuhi keputusasaan yang tulus. Dia mencoba mengalihkan fokus dari kejahatan korporatnya ke tragedi pribadi.

”Kau punya pilihan! Kau saja yang tidak mau mengambilnya,” bentak Kaluna.

Kaluna menatapnya. Ekspresi dinginnya tidak menunjukkan amarah, tetapi kekecewaan yang jauh lebih menusuk.

Dia tidak peduli dengan alasan, tetapi dengan fakta bahwa kepercayaannya telah dilanggar.

"Tiga tahun kita bersama, Lusi," suara Kaluna pelan dan menusuk. "Kau adalah sekretaris pribadiku, orang yang paling dekat dengan seluruh rencana dan keuanganku."

Kaluna mencondongkan tubuh sedikit. "Kenapa kau tidak berbicara padaku tentang Ibumu?"

Lusi mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. "Saya... saya tidak ingin merepotkanmu, Nona. Anda sudah memiliki begitu banyak masalah korporat yang harus diurus. Saya tidak ingin menambah beban Anda..."

Kaluna tersenyum getir, senyum yang nyaris menyakitkan.

"Kau tahu, sebenarnya... aku lebih suka direpotkan dari pada dikhianati, Lusi," ujar Kaluna.

Kalimat itu adalah pukulan telak yang merangkum filosofi hidupnya. Bagi Kaluna, kerumitan finansial adalah hal sepele yang bisa diatasi, tetapi pengkhianatan menciptakan kerentanan yang tidak bisa dia toleransi dalam benteng kepercayaannya.

Lusi menutup matanya, menyadari betapa bodohnya keputusannya. Dia telah mengorbankan kepercayaan yang jauh lebih berharga daripada uang yang dia terima dari tindakannya ini.