Drama

Harga Sebuah Kesetiaan

Penulis Yoonna
11 January 2026

Praka menggelengkan kepalanya dengan kuat, menunjukkan penolakan.

"Aku masih belum setuju, Kaluna," ujar Praka, nadanya kini tegas dan menuntut logika.

"Kita akan menghancurkan Ameertha jika melanjutkan ini! Perusahaan pencuri itu tentu sudah membuat persiapan untuk mengklaim desain itu. Tentu saja akan berdampak buruk bagi Ameertha, bahkan jika kita akhirnya bisa membuktikan kepemilikan. Kerusakan reputasi di mata publik dan pasar tidak bisa dihindari!"

Ketegangan di ruang konferensi semakin mencekik.

Kaluna menatap Praka dengan tatapan yang dingin dan tak bergeming. Dia tidak membentak, tetapi otoritasnya tidak terbantahkan.

"Faktanya, Praka, desain itu milik Ameertha," balas Kaluna, suaranya pelan namun penuh kepastian. "Seperti anjing yang dipelihara, desain itu juga akan kembali pada pemiliknya."

Kalimat metaforis Kaluna itu menusuk, menyiratkan bahwa dia memandang desain yang dicuri itu sebagai milik mereka yang pasti akan kembali, sementara PT. Salsabila hanyalah pencuri yang memelihara barang curian untuk sementara.

Di sela-sela ketegangan yang serius itu, Andrian diam-diam menyembunyikan senyum puasnya.

Untuk pertama kalinya, dia melihat Praka dan Kaluna bertentangan secara frontal. Biasanya, mereka selalu kompak, bersinergi dalam setiap keputusan. Melihat wajah Praka yang tegang, yang tidak lagi selalu benar di mata Kaluna, adalah sebuah momen kecil kemenangan bagi Andrian.

"Praka benar, ada risiko reputasi," potong Andrian, suaranya tenang.

Andrian melihat kesempatan emas untuk mengambil hati Kaluna dengan membenarkan tindakannya. Dia melangkah maju, berdiri tepat di sisi Kaluna, secara fisik dan verbal menunjukkan aliansi.

"Namun, strategi Kaluna jauh lebih cerdas. Jika kita panik dan mengubah rencana, itu mengirimkan sinyal kepada musuh bahwa kita lemah dan rencana awal kita memang mudah dihancurkan," sambung Andrian yang tetap mendukung Kaluna.

Andrian menatap Praka, lalu kembali menatap Kaluna.

"Kita tunjukkan pada mereka bahwa kita tidak peduli dengan desain yang mereka curi, karena kita punya sesuatu yang jauh lebih besar," lanjut Andrian, matanya memancarkan dukungan penuh. "Kita biarkan mereka menggunakan Rencana Dasar itu sebagai landasan mereka, sementara kita mengatur rencana untuk menghancurkan landasan itu di bawah kaki mereka."

Andrian menoleh kepada Kaluna, senyumnya kini terlihat jelas. "Aku setuju, Kapten. Kita tidak mengubah apa-apa. Kita tunjukkan pada mereka bahwa kita tidak bermain di level mereka."

Ekspresi Kaluna sedikit melunak mendengar dukungan Andrian yang cerdas dan tepat waktu. Itu bukan hanya dukungan suami, tetapi pengakuan strategis dari seorang manajer produksi yang kompeten.

Praka menghela napas panjang. Menyadari dia telah kalah suara, mungki juga salah mencerna pikiran Kaluna. Terutama karena Andrian kini menjadi sekutu strategis Kaluna.

"Baiklah," ujar Praka, nadanya mengandung nada menyerah. "Jika kau yakin desain itu akan kembali pada pemiliknya, maka kita lanjutkan. Tapi, Kaluna, Rayyan harus benar-benar siap. Kesalahan sekecil apa pun di panggung akan menjadi bencana yang fatal."

"Itu sebabnya dia akan dilindungi. Oleh Manajer Produksi terbaik Ameertha," kata Kaluna, menatap Andrian, memberikan pujian terselubung yang membuat Andrian semakin puas.

"Tujuh puluh dua jam, kita mulai sekarang!" tegas Kaluna, mengakhiri perdebatan dan memimpin mereka menuju fase pelaksanaan yang paling krusial.

Beralih lagi pada Lusi, yang berjalan cepat keluar dari gedung Ameertha, wajahnya yang sembab kini mengeras dipenuhi tekad yang dingin. Cek senilai ratusan juta dari Kaluna terasa seperti bara di tangannya. Dia telah mendapatkan uang yang dibutuhkan untuk ibunya, tetapi dia kehilangan harga diri dan kepercayaan.

Ia memacu mobilnya, menjauh dari kawasan bisnis yang ramai menuju sebuah kafe tersembunyi di pinggiran kota, lokasi pertemuan rahasia yang telah dijadwalkan dengan bos barunya.

Di sudut terpencil kafe itu, CEO PT. Salsabila Inti Karya, seorang wanita paruh baya dengan power suit yang mahal dan senyum sinis yang selalu tersungging, sudah menunggu.

Lusi duduk di hadapan wanita itu, tanpa basa-basi.

"Aku sudah melakukan bagianku," ujar Lusi, suaranya sedikit bergetar, tetapi dia berusaha keras untuk terdengar tegas. "Desain Ameertha sudah kau dapatkan dan daftarkan. Aku menuntut bayaranku sekarang."

Wanita itu menyesap kopi dengan santai, tatapan matanya menunjukkan superioritas yang menjengkelkan. Dia tidak terburu-buru, seolah membiarkan Lusi merasakan ketidaknyamanan itu.

"Bayaran?" Wanita itu mengangkat alisnya, senyum sinisnya semakin lebar.

Dunia Lusi terasa runtuh. "Aku sudah melakukan segala yang kau suruh! Aku bahkan telah mengkhianati kepercayaan Kaluna! Kau berjanji padaku sejumlah uang untuk biaya operasi Ibuku!"

Wanita itu tertawa kecil, suara tawanya kering dan palsu. Dia meletakkan cangkirnya dengan bunyi pelan yang dingin.

"Aku tidak pernah memintamu untuk mengkhianati siapapun. Aku hanya memintamu untuk memberikan beberapa berkas yang secara kebetulan ada di mejamu," kata wanita itu, tanpa ada rasa iba sedikit pun.

Wanita itu tidak memberi Lusi sepeser uang pun. Bahkan, dia tidak membawa dompetnya.

"Perjanjian kita hanya lisan, bukan? Tidak ada kontrak, tidak ada tanda tangan," kata CEO pesaing itu, suaranya kini menusuk. "Kau tidak bisa menuntut apa pun dariku. Kau hanyalah seorang karyawan yang melanggar kerahasiaan perusahaanmu sendiri."

Lusi terbelalak. Dia baru menyadari betapa bodohnya dia dalam permainan ini. Ia telah mengkhianati orang yang paling peduli padanya demi janji kosong dari orang yang hanya memanfaatkannya sebagai alat sekali pakai.

"Kau pembohong! Kau memanfaatkan kebutuhanku!" Lusi memukul meja, menarik perhatian beberapa pengunjung.

"Tolong, Lusi. Jangan membuat keributan. Aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan," wanita itu berbisik, nadanya meremehkan. "Kau bebas sekarang. Dan aku yakin Kaluna pasti akan menghancurkan reputasimu di mana pun kau mencoba mencari pekerjaan. Itulah yang dilakukan CEO sejati pada pengkhianat, bukan?"

Lusi tersentak. Dia teringat kata-kata Kaluna: "Aku tidak akan melakukan apapun terhadap reputasi ataupun kariermu."

Kaluna menyelamatkannya. Kaluna, yang dia khianati, memberinya uang dan menjamin masa depannya. Sementara wanita di depannya, yang dia bantu, justru meninggalkannya tanpa apa-apa dan bahkan meragukan jaminan Kaluna.

"Kaluna tidak akan melakukan itu," Lusi menggertakkan gigi, membela Kaluna dengan sisa-sisa kesetiaan yang dia miliki.

Wanita itu tersenyum puas. "Tentu saja. Kaluna adalah orang yang emosional, meskipun dia berusaha keras menyembunyikannya. Dia adalah orang yang baik, dan itu adalah kelemahannya."

CEO pesaing itu bangkit dari kursinya. "Nikmati hidup barumu, Lusi. Dan terima kasih untuk desainnya. Berkatmu, Ameertha sudah tamat."

Wanita itu melenggang pergi, meninggalkan Lusi sendirian di tengah kafe, menangis dalam diam.

"Kau akan menyesal, Nyonya," bisik Lusi, tatapannya kini dipenuhi amarah yang dingin.

Lusi kini memegang dua lembar kertas di tangannya. Cek bernilai dua ratus juta dari Kaluna, yang dia khianati, dan janji kosong dari wanita yang dia bantu.

Dia tidak punya pilihan selain menerima kebenaran pahit itu. Dia telah kehilangan segalanya, tetapi setidaknya, ibunya akan selamat.

Lusi segera meninggalkan kafe itu. Dia harus segera mengurus ibunya dan menghilang dari kota, sesuai dengan harga yang telah dia bayar.