Di lantai tertinggi Gedung Ameertha, suasana kerja telah berubah menjadi mode darurat militer.
Praka segera menjalankan instruksi Kaluna. Dia memimpin rapat dadakan dengan semua manajer divisi, suaranya dipenuhi urgensi yang dibuat-buat, persis seperti yang diinstruksikan Kaluna.
"Koleksi kita telah dicuri," tegas Praka, rahangnya terkatup rapat, menampilkan kemarahan yang meyakinkan. "Tetapi Kaluna menolak menyerah. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita. Tidak ada ruang untuk kesalahan."
Tim mengangguk dengan ekspresi panik. Kepergian Lusi yang tiba-tiba dan tanpa suara telah menjadi pesan peringatan yang kuat.
Mereka akan mulai bekerja gila-gilaan, mengalihkan fokus dari desain yang dicuri ke rencana lain yang baru diumumkan.
Sementara itu, di sebuah ruangan studio yang diisolasi di kediaman Cassavanos, Andrian memulai pelatihan intensif dengan Rayyan.
"Gerakan, narasi, fokus audiens, semua harus sempurna. Dan di hari pameran, kau akan meluncurkan rencana terakhir,” titah Andrian.
Rayyan berdiri tegak, memancarkan aura ketegangan yang belum pernah dia miliki sebelumnya. Dia memegang selembar mind map rencana pameran, mencoba memasukkannya ke dalam memori.
"Jangan tegang," kata Andrian, melangkah maju.
Dia meraih pundak Rayyan, sentuhan yang lebih suportif daripada mendominasi.
"Aku tahu ini berat," ujar Andrian. "Kau harus memproses dua rencana yang bertolak belakang, kau harus berpura-pura panik di depan tim, tapi kau harus sempurna di panggung. Tapi ingat satu hal, Rayyan."
Rayyan menatap kakaknya, menanti setiap kata.
"Di panggung nanti, kau tidak hanya membawa nama Ameertha. Kau membawa kepercayaan penuh dari Kaluna. Kau adalah bidak kunci dalam pertempuran paling penting dalam hidupnya saat ini."
Andrian membingkai misi ini sebagai kepercayaan dari Kaluna jauh lebih kuat daripada sekadar tugas perusahaan.
"Aku akan melakukan yang terbaik, Kak," janji Rayyan, suaranya sedikit bergetar. "Aku hanya takut... takut jika aku melakukan kesalahan, semuanya akan hancur."
Andrian tersenyum. Itu adalah senyum langka, senyum kecil yang hangat, tulus, dan menenangkan.
"Tidak akan hancur, Rayyan. Karena kau tidak sendirian," kata Andrian. Untuk pertama kalinya, dia menurunkan semua dinding protektif dan aura CEO-nya.
"Aku akan berada di belakangmu, Rayyan. Dan aku akan pastikan, tidak ada satu lalat pun yang mengganggumu di panggung. Kau adalah adikku, dan kau akan menang."
Kata-kata itu, diucapkan dengan ketulusan yang mendalam, menghapus jarak yang selama ini terbentang di antara mereka.
Rayyan selalu merasa di bawah bayangan Andrian, selalu merasa kurang berharga. Tetapi saat ini, di tengah krisis, dia merasakan koneksi yang nyata dan tak terbantahkan.
Air mata Rayyan menggenang. "Terima kasih, Kak."
Rayyan tidak bisa menahannya lagi. Dia melangkah maju, memeluk Andrian dengan erat.
Kedua saudara itu saling berpelukan. Bagi Rayyan, ini adalah pertama kalinya dia merasa sedekat ini dengan Andrian sebagai keluarga sejati, juga sekutu dalam perang.
Kaluna yang ternyata sejak tadi berdiri di ambang pintu, mengalihkan pandangan, tersenyum kecil. Dia tahu, ikatan keluarga ini adalah fondasi yang jauh lebih kuat daripada strategi bisnis manapun.
"Waktunya singkat, Rayyan. Tetapi dengan semangat ini, kita pasti berhasil," ujar Andrian.
Andrian melepaskan pelukan itu, menepuk punggung Rayyan dengan bangga. Matanya tidak sengaja menangkap sosok Kaluna yang baru saja mengurungkan niatnya untuk bergabung.
"Sekarang, kembali bekerja, Pemenang. Tujuh puluh dua jam hampir habis," perintah Andrian, kembali ke mode Panglima, tetapi kali ini, dengan kehangatan seorang kakak di matanya.
Selama tujuh puluh dua jam, Rayyan akan hidup dalam isolasi. Bergantian antara berlatih di studio untuk dilihat oleh tim produksi, juga menyerap inti rencana terakhir yang sangat rahasia dari Kaluna.
Andrian berjalan ke kamar, hendak menemui Kaluna.
Sebelumnya, dia telah mengalihkan tim intelijen internalnya untuk fokus pada PT. Salsabila Inti Karya. Tidak butuh waktu lama untuk mendapatkan kabar.
Tepat waktu, sebuah notifikasi e-mail di ponselnya berdering.
”Perpecahan terjadi di PT. Salsabila. Manajer Operasional bernama Dina menuntut peninjauan ulang berkas yang didaftarkan. Ada kekhawatiran yang disebarkan secara anonim tentang cacat tersembunyi dalam rencana Ameertha yang dicuri. CEO pesaing itu menolak menanggapi kekhawatiran itu, menyebutnya sebagai gangguan Ameertha dan menekankan pada persiapan klaim kepemilikan. Suasana kantor Salsabila tegang.
Andrian tersenyum tipis. "Sesuai dugaanmu, Kaluna.”
Dia segera membawa laporan itu ke Kaluna, yang kini mengunci diri di ruang kerja.
"PT. Salsabila sedang sibuk bertengkar dengan diri mereka sendiri. Mereka yakin kita panik dengan hilangnya berkas itu, tapi mereka kini meragukan desain yang mereka curi," kata Andrian.
"Bagus," kata Kaluna, tanpa mengangkat kepala dari laptopnya. "Itu akan mengalihkan fokus mereka dari kita. Mereka akan menghabiskan waktu berharga untuk mencari cacat yang tidak mereka pahami."
Andrian mengambil kesempatan untuk duduk di sisi Kaluna, menatap wajahnya yang lelah dan tegang.
"Kau tidak tidur selama dua malam, kau akan jatuh sakit jika terus seperti ini," ujar Andrian lembut.
"Aku tidak bisa tidur, Tuan Sugara. Perang ini baru dimulai," jawab Kaluna.
Kaluna tiba-tiba mengangkat pandangannya, matanya menatap Andrian dengan intensitas yang membuat Andrian menahan napas.
"Jujur padaku, Tuan Sugara," tuntut Kaluna. "Apakah kau benar-benar percaya kita akan menang?”
Andrian tidak menjawab dengan kata-kata manis. Dia menjawab dengan ketegasan yang sama.
"Aku tidak pernah melihatmu kalah, Kijang Emas," ujar Andrian.
Waktu berlari tanpa ampun. Dalam empat puluh delapan jam berikutnya, Ameertha diselimuti ketegangan. Praka dan timnya berhasil menciptakan ilusi kepanikan yang sempurna.
Media mulai mencium bau skandal. Rumor tentang manipulasi karya dari pihak Ameertha mulai beredar. Semua mengarah pada kesimpulan bahwa Ameertha sedang berada di ujung tanduk.
Di sisi lain, PT. Salsabila Inti Karya bersiap merayakan kemenangan. CEO wanita itu semakin yakin bahwa Ameertha telah hancur dan terpaksa meluncurkan rencana lain yang buruk.
"Hanya beberapa jam lagi," bisik Andrian, menyesap tehnya.
"Aku tahu," jawab Kaluna datar. "Aku hanya memastikan semua hitungan sudah benar. Aku tidak bisa membiarkan ada variabel yang tersisa."
Andrian meletakkan cangkirnya, lalu menoleh sepenuhnya menghadap Kaluna. Matanya memancarkan ketenangan yang langka, bebas dari keruwetan kantor maupun kepahitan masa lalu.
"Kau sudah melakukan semua yang kau bisa, Kaluna. Percayalah pada hitunganmu, dan percayalah pada Rayyan," kata Andrian.
Kaluna menghela napas, menutup matanya sejenak. "Bukan itu yang membuatku tidak bisa tidur, Tuan Sugara."
Andrian mencondongkan tubuh sedikit. "Lalu?"
Kaluna membuka matanya dan menatapnya. Sorot matanya dipenuhi kerentanan yang jarang dia perlihatkan.
"Lupakan saja, Tuan Sugara. Akan kuceritakan saat aku menginginkannya," katanya, menunda pengungkapan kegelisahan hatinya tentang inisial di taman itu.
Andrian sedikit terkejut, namun senyum tulus muncul di bibirnya.
"Baiklah, aku akan menunggu itu," balas Andrian lembut.
Andrian kemudian menatap wajah Kaluna. Ada kilatan aneh di mata Andrian yang tiba-tiba mendorongnya untuk menggoda Kaluna. "Kegundahan ini... apa ini tentang cinta?"
Kaluna menatapnya, bingung. "Maksudmu, cinta?"
Andrian seketika tersentak, menyadari betapa bodohnya pertanyaan itu. Dia tergagap, wajahnya ikut memerah.
"Oh, tidak... maksudku... aku, lupakan saja," kata Andrian, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Kaluna menyembunyikan senyum di wajahnya yang memerah, rasa geli memenuhi dirinya melihat Tuan Sugara yang dingin bisa tergagap karena pertanyaan konyol.
Kaluna bangkit, pura-pura ingin meninggalkan Andrian.
Namun, sebelum Kaluna bisa mengambil langkah, Andrian bergerak cepat. Dia menarik tangan Kaluna dengan lembut tapi pasti, membuat Kaluna kembali duduk di sofa. Andrian menoleh, dan tatapannya kini kembali ke mode Tuan Sugara. Namun kali ini, dia adalah CEO yang melindungi satu-satunya harta berharganya.
"Dengarkan aku, Kaluna," ujar Andrian, suaranya dalam dan tegas, penuh otoritas mutlak yang membuat jantung Kaluna semakin berdebar kencang.
"Apapun hasil pameran besok, entah kita dianggap penipu, entah kita menang dengan gemilang... Aku tidak peduli. Semua aset, kekuasaan, dan pengaruh yang kubangun ini, semuanya mutlak di bawah kendaliku," tegas Andrian.
Dia memegang kedua tangan Kaluna erat-erat, menatapnya lurus-lurus.
"Aku menjamin, tidak ada satu orang pun, tidak ada satu media pun, dan tidak ada satu pesaing pun, yang akan bisa menyentuhmu atau Ameertha. Tidak ada yang akan bisa menghancurkan apa yang telah kau bangun."
Andrian mencondongkan tubuh sedikit. "Kita akan menang. Tapi bahkan jika kita gagal, kau akan tetap memiliki dukungan mutlak dariku. Kau tidak akan pernah jatuh, Kaluna."
Jantung Kaluna berdebar kencang. Kata-kata itu bukan hanya jaminan bisnis, tetapi seolah menjadi janji perlindungan Andres yang kembali sebagai Tuan Sugara yang kuat.