Drama

Malam Pertunjukan

Penulis Yoonna
11 January 2026

Malam itu, tempat pameran fashion tahunan telah dipenuhi media, buyers internasional, dan tentu saja, para pesaing.

Suasana di belakang panggung Ameertha diselimuti ketegangan yang dibuat-buat, berkat ilusi panik yang telah disebar Praka.

Di sisi lain, di booth PT. Salsabila Inti Karya, suasana penuh euforia dan kesombongan. CEO pesaing itu berdiri tegak, memancarkan kepercayaan diri yang berlebihan.

"Ameertha akan memulai dengan desain curian mereka," bisik CEO pesaing itu kepada koleganya. "Begitu mereka tampil, tim legal kita akan langsung mendaftarkan klaim kepemilikan. Mereka akan dianggap peniru dan diskualifikasi. Malam ini, Ameertha tamat."

Di ruang tunggu Ameertha, Rayyan sudah siap. Andrian berdiri di sisinya, Kaluna di belakangnya.

"Ingat Rencana Terakhir, Rayyan," bisik Kaluna. "Jangan pernah meluncurkannya sampai para pencuri itu berdiri di depanmu."

"Siap, Kakak Ipar," jawab Rayyan, matanya memancarkan tekad baru.

Musik mulai mengalun. Pameran dimulai.

Desain Ameertha adalah pertunjukan kedua. Sesuai dugaan, PT. Salsabila Inti Karya tampil pertama, menampilkan koleksi yang persis sama dengan desain Ameertha.

Margaret, sang CEO pesaing tersenyum lebar. Rencananya berjalan lancar.

”Bagus! Mereka benar-benar membuat desain yang sama persis. Sekarang giliran kita, Rayyan!” ujar Kaluna.

Rayyan melangkah ke panggung, wajahnya memancarkan aura serius dan sedikit gugup. Dia memimpin presentasi, menampilkan model-modelnya yang juga mengenakan koleksi yang sama persis dengan PT. Salsabila Inti Karya.

Begitu model terakhir Ameertha melintas, Margaret langsung melompat dari kursinya, wajahnya penuh kemenangan.

"Mereka adalah plagiator!" teriaknya, suaranya memecah keheningan di aula. "Tim legal! Sekarang! Ameertha mencuri desain kami yang sudah terdaftar dua jam lebih dulu!"

Media menjadi gempar. Para buyer saling berbisik. Andrian dan Praka, yang berada di posisi strategis, berpura-pura terkejut.

Margaret berjalan cepat ke tengah panggung, mendekati Rayyan yang berdiri kaku, wajahnya terlihat pasrah.

"Aku sudah mendaftarkannya lebih dulu!" gertak Margaret dengan bangga. "Desain ini milik kami! Kalian didiskualifikasi! Ameertha tamat!"

Rayyan menatap lurus ke mata wanita itu, lalu menghela napas. Ekspresi gugupnya tiba-tiba menghilang, digantikan oleh senyum tipis, dingin, persis seperti Kaluna.

"Maaf, Nyonya," ujar Rayyan, suaranya tenang. "Desain yang baru saja kami tunjukkan adalah mutlak koleksi milik Ameertha."

Rayyan memberi isyarat kepada Leon, yang memegang kendali teknis di belakang layar. Leon segera menekan sebuah tombol.

Di layar holografik besar di belakang panggung, muncul sebuah judul baru, ”The Fisrt Exchange.” Kemudian di bawahnya, sebuah tulisan kecil muncul, Terdaftar pada pukul 08:00 WIB, tiga hari lalu."

Suasana menjadi riuh. CEO pesaing itu terkejut, wajahnya memucat.

"Apa maksudmu?" tuntutnya.

"Maksud kami," suara tegas Kaluna tiba-tiba bergema di aula, didukung oleh mic tersembunyi. Kaluna berjalan ke sisi Rayyan, mengenakan setelan jas putih yang kontras dengan setelan hitam Andrian.

"Bahwa kami tidak pernah peduli dengan desain yang Anda curi, daftarkan, dan pamerkan dengan bangga," jelas Kaluna, tatapannya tajam.

"Selamat, Anda telah menjadi investor utama pada koleksi yang tidak akan pernah laku di pasar, Nyonya," sambung Kaluna.

"Anda hanya mencoba memutarbalikkan fakta!" bentaknya.

Kaluna tersenyum. "Tunggu dulu, Nyonya, jangan terburu-buru. Kami masih belum selesai!”

Rayyan mengangguk. Musik di aula tiba-tiba berubah, menjadi megah dan dramatis.

Model-model Ameertha, yang tadinya menampilkan desain pembuka, kembali ke panggung dengan tampilan yang benar-benar berbeda.

Mereka mengenakan koleksi baru, The Golden Deer, yang menampilkan teknik tenun dan inovasi material yang sama sekali tidak pernah terbayangkan oleh PT. Salsabila Inti Karya, atau bahkan tim internal Ameertha, karena semua proses dilakukan dalam isolasi.

Koleksi itu luar biasa, memukau, dan jelas-jelas orisinal. Koleksi yang dicuri tadi hanyalah sketsa kasar dibandingkan karya seni yang sekarang dipamerkan.

"Perusahaan Anda telah mendaftarkan koleksi palsu sebagai milik Anda, Nyonya," kata Kaluna dingin.

Andrian, yang berdiri di pinggir panggung, mengangkat tangannya ke arah Kaluna. Kaluna berjalan mendekat. Andrian menatapnya dengan bangga, sebuah senyum kecil yang tulus.

"Seperti yang kukatakan," bisik Andrian, hanya untuk didengar Kaluna. "Aku tidak pernah melihatmu kalah, Kijang Emas."

Model-model Ameertha kini menampilkan koleksi The Golden Deer. Koleksi ini memang luar biasa, tetapi yang membuatnya menakjubkan adalah sentuhan akhir yang tidak pernah disangka siapa pun.

Gaun-gaun tersebut bukan hanya terbuat dari tenun inovatif, tetapi seluruh permukaan kainnya didominasi oleh detail-detail halus yang mustahil dikerjakan oleh mesin. Setiap gaun adalah kanvas berjalan yang menceritakan kisah mitologi, disajikan dalam palet warna yang memikat.

”Wow,” gumam seorang penonton di tengah keramaian.

”Aku belum pernah melihat perpaduan seni serumit ini,” susul yang lainnya.

Gaun-gaun itu dihiasi oleh lukisan tangan Rayyan yang disematkan langsung pada material. Sentuhan kuasnya memberikan efek dimensi dan kedalaman pada motif rusa emas, membuat setiap model terlihat seperti berjalan keluar dari museum seni.

Keahlian artistik Rayyan telah mengubah koleksi busana menjadi karya seni rupa murni yang tak tertandingi.

Para buyer internasional, media, dan bahkan CEO pesaing terdiam sejenak. Mata mereka terpukau oleh keindahan yang tak terduga ini. Koleksi yang dicuri, kini terlihat seperti cetakan massal yang kaku di samping karya agung Rayyan.

Kekalahan mereka sudah jelas, namun CEO PT. Salsabila Inti Karya, masih berusaha menciptakan alibi baru.

"Tidak mungkin! Ini hanya sebuah pengalihan!" teriak Margaret, menunjuk ke model-model yang baru saja kembali. "Perhatikan baik-baik! Desain awal mereka sama! Pola dasar gaun, siluet, dan tema warnanya sama persis dengan yang kami tunjukkan!"

Margaret segera memanggil seorang pria yang mengenakan lencana panitia.

"Panitia!" teriaknya. "Kami akui ada sedikit perbedaan di bagian akhir, tetapi pola konstruksi busana adalah inti dari desain! Itu sama! Ini adalah upaya Ameertha untuk meniru dengan menambahkan hiasan!"

Panitia yang telah disuap oleh pihak lawan segera melangkah maju, wajahnya terlihat tidak nyaman, tetapi terpaksa menjalankan perannya.

"Memang benar," ujar panitia itu dengan suara lantang yang didukung microfon. "Kami harus mengakui bahwa pola konstruksi dasar dari kedua koleksi, yang disajikan PT. Salsabila Inti Karya dan dari Ameertha Corporate, adalah identik. Perbedaan detail lukisan di The Golden Deer tidak menghapus fakta bahwa desain awal busana Ameertha meniru yang telah didaftarkan lebih dulu oleh PT. Salsabila!"

Tuduhan peniruan, meskipun didasarkan pada umpan yang sengaja dibocorkan, seketika menghantam reputasi Ameertha.

Di bangku VIP, dewan direksi Ameertha dan para investor segera berdiri, wajah mereka tegang. Mereka tidak tahu tentang strategi umpan Kaluna. Mereka hanya melihat fakta, koleksi mereka sama, dan pesaing telah mendaftarkannya lebih dulu.

"Diskualifikasi!"

"Peniruan!"

"Sugara Group juga harus bertanggung jawab! Ameertha berada di bawah naungannya untuk hal ini!” Seorang penonton bayaran sengaja memancing emosi Andrian.

Andrian, yang mendengarkan teriakan yang menyeret nama perusahaannya, segera bangkit dari kursinya. Sebagai CEO Sugara Group yang menjadi pondasi hukum Ameertha, dia tidak bisa membiarkan tuduhan ini berdiri.

Matanya berkilat dingin, semua aura kekuasaan tertinggi muncul. Dia siap menggunakan otoritasnya, menelepon tim legalnya, atau bahkan memutarbalikkan fakta dengan kekuatan politik yang dimilikinya.

”Sial! Mereka mencari masalah denganku,” ujar Andrian, geram.