Drama

Kemenangan Telak Ameertha

Penulis Yoonna
11 January 2026

Andrian langsung melangkah ke arah panggung, tetapi pergerakannya terhenti.

Kaluna, yang berdiri di sebelahnya langsung meraih pergelangan tangan Andrian. Genggamannya lembut, namun tegas.

"Jangan sekarang, Tuan Sugara," bisik Kaluna, tatapannya tenang.

Andrian menoleh, matanya penuh amarah terkontrol.

"Mereka sudah terlampau jauh, Kaluna. Bahkan menyeret nama Sugara! Aku bisa memutarbalikkan fakta ini dalam sepuluh detik. Aku bisa menghancurkan panitia yang disuap itu sekarang juga!"

Kaluna tersenyum tipis, senyum yang begitu tenang hingga terasa mengancam.

"Kau bisa saja memutar balik fakta ini, tapi tindakan dan serangan yang terlalu cepat, tidak akan memberi kesempatan bagi dalang permainan ini untuk keluar," ujar Kaluna.

"Apa maksudmu, Kaluna?" tanya Andrian, nada suaranya kembali datar, memahami bahwa ada lapisan lain dari strategi ini.

Kaluna menatap kerumunan media dan pesaing di aula.

"Aku telah menyusun rencana, dan rencana itu berjalan sempurna," kata Kaluna, matanya menyipit. "Kita hanya perlu beberapa detik untuk menunggu tikus-tikus itu keluar dari sarangnya."

Andrian menatap Kaluna sejenak, melihat keyakinan mutlak yang terpancar dari mata istrinya. Dia teringat janji dukungan mutlak yang dia berikan tadi malam.

Andrian menarik napas panjang. Dia duduk kembali, otoritasnya dikesampingkan demi mengikuti permainan Kaluna. Dia menyerahkan semua kendali ke tangan Kijang Emasnya.

Leon yang berada di belakang panggung sebenarnya sudah siap untuk melompat dan menenangkan bosnya, tapi dia duduk kembali dengan tenang.

”Bagus, untuk pertama kalinya aku ditugaskan sebagai operator dan tidak perlu bergerak untuk menghentikan amukan Tuan Muda. Istrinya benar-benar memegang kendali atasnya,” gumam Leon yang menatap lurus ke arah Andrian.

Saat panitia yang dibayar PT. Salsabila Inti Karya selesai membaca pernyataan tuduhan peniruan, keheningan tegang melanda aula. Tepat di tengah keributan yang diciptakan media, Kaluna tidak bergerak. Dia hanya menatap dingin ke kerumunan.

Tiba-tiba, seperti yang diperkirakan Kaluna, dua figur yang selama ini berada di balik layar melonjak dari kursi VIP.

Mereka adalah Marisa dan Kajayanti, dua tokoh berpengaruh yang sudah lama dikenal sebagai lawan abadi Kaluna di panggung bisnis dan maupun pribadi. Mereka berjalan cepat menuju panggung, bergabung dengan CEO PT. Salsabila Inti Karya. Wajah mereka memancarkan kegembiraan dan arogansi yang tak tertahankan.

"Oh, Kaluna!" seru Marisa, suaranya melengking tinggi, menikmati drama yang terjadi. "Kami sudah memperingatkanmu! Kesombonganmu akan membuat Ameertha bangkrut!"

Kajayanti melipat tangan di dada, memandang Kaluna dengan tatapan meremehkan dari ujung rambut hingga ujung kaki.

"Lihat dirimu," cibir Kajayanti. "Tidak ada lagi Tuan Sugara di sisimu? Dia tidak bergerak sama sekali untuk membelamu. Dan apa ini? Mencoba meniru desain orang lain? Kau benar-benar sudah tamat, Kaluna!"

Mendengar perkataan Kajayanti, Andrian ingin segera bangkit untuk mematahkan leher gadis itu. Tapi, lagi-lagi Kaluna menahannya.

Margaret tersenyum puas melihat sekutunya muncul di panggung.

"Kalian lihat, media?" tambahnya, memanfaatkan kehadiran Marisa dan Kajayanti untuk menguatkan alibinya.

"Semua orang tahu Ameertha sedang berada di ujung tanduk! Mereka panik dan mencoba mencuri desain kami!"

Marisa melangkah maju, mendekat ke Kaluna dengan senyum sinis.

"Ameertha akan didiskualifikasi hari ini, Kaluna," ancam Marisa. "Dan kami akan pastikan, tidak ada bank atau investor yang mau menyentuh perusahaanmu lagi! Kau sudah kalah!"

Para penonton dan media segera mengarahkan semua kamera dan mic mereka pada drama baru ini. Kehadiran Marisa dan Kajayanti, yang secara terbuka menyatakan kemenangan, menegaskan bahwa mereka adalah dalang utama di balik sabotase Lusi dan PT. Salsabila.

Kaluna, yang selama ini diam, kini tersenyum lebar. Senyumnya begitu tulus, namun dingin dan penuh perhitungan, memancarkan aura kemenangan yang sejati.

"Benar dugaanku," bisik Kaluna, cukup keras untuk didengar oleh Andrian yang duduk di sampingnya.

Kaluna kemudian mengambil langkah maju. Matanya kini hanya tertuju pada Marisa, Kajayanti, dan CEO PT. Salsabila Inti Karya. Panggung telah terisi penuh oleh tikus-tikus yang dia tunggu.

"Terima kasih atas penampilan panggung yang dramatis, Nyonya-nyonya," ujar Kaluna, suaranya tenang, tetapi penuh otoritas.

Kaluna menoleh kepada Leon, memberikan isyarat visual yang hampir tak terlihat. Leon yang memahami isyarat, segera meraih earpiece kecil di telinganya.

"Aktifkan sekarang juga!" perintah Leon.

Di panggung, Kaluna menatap Marisa, Kajayanti, dan Margaret dengan sorot mata yang tak terhindarkan.

"Anda datang ke sini, bukan hanya untuk mencuri desain," kata Kaluna, suaranya mulai naik. "Tetapi untuk menikmati momen kehancuran. Anda mengakui peran Anda, dan itu adalah kesalahan fatal."

Kaluna melangkah ke sisi layar holografik besar.

"Anda semua menuduh Ameertha meniru koleksi yang didaftarkan PT. Salsabila Inti Karya," ujar Kaluna. "Tapi bagaimana jika saya tunjukkan bahwa koleksi itu, adalah milik Ameertha, yang sengaja didaftarkan oleh pihak luar untuk membongkar jaringan pengkhianatan yang jauh lebih besar?"

Kaluna melangkah maju, tangannya memberi isyarat kepada Andrian untuk menampilkan bukti pamungkas.

"Panitia, buyers, dan media sekalian," ujar Kaluna, suaranya lantang dan berwibawa.

Layar holografik segera menampilkan sebuah file digital kuno yang terlihat disajikan dengan stempel waktu bertahun-tahun yang lalu.

"Saya memiliki dokumen otentik desain busana ini. Desain ini telah saya buat dan kembangkan selama bertahun-tahun, bahkan sebelum Ameertha berdiri. Sebagai bagian dari visi pribadi saya," tegas Kaluna.

Dokumen itu menampilkan blueprint desain, bukan hanya pola siluet, tetapi juga kalkulasi material terperinci, struktur tersembunyi, dan bahkan nama desain yang disematkan, ”The Chrysalis of Light.”

Leon, yang memegang kendali teknis, bahkan terpana melihat detail-detail isi dokumen itu. Dia dan semua timnya terkejut, betapa Kaluna memang benar-benar memiliki strategi dan pertahanan yang matang. Bukan hanya untuk Ameertha, tetapi juga untuk dirinya sendiri.

Para buyers dan panitia mulai terhipnotis oleh detail isi dokumen yang tak tertandingi itu. Hanya seorang desainer sejati, yang telah menginvestasikan waktu bertahun-tahun, yang bisa menyusun dokumen sedetail itu. Konsensus mulai bergeser, PT. Salsabila Inti Karya-lah yang meniru.

"Ada kesan terakhir yang seharusnya kita saksikan untuk lebih menguatkan bukti ini," ujar Kaluna, menghentikan perkataannya sejenak, membuat semua orang menunggu.

Klaim kepemilikan sudah cukup. Namun, Kaluna ingin kemenangan yang mutlak dan memalukan untuk Marisa dan gengnya.

Kaluna kemudian melirik Rayyan. Rayyan mengangguk mengerti.

"Sejak awal, saya sudah memperhatikan desain gaun tiruan itu," jelas Kaluna. "Mereka benar-benar mengikuti arahan dari dokumen palsu yang saya bocorkan. Sebuah instruksi yang mencakup tidak hanya pola, tetapi juga detail aksesoris tersembunyi."

Dengan gerakan selaras, Kaluna dan Rayyan berjalan ke model Ameertha dan model PT. Salsabila yang masih berdiri kaku di tengah panggung.

Kaluna dan Rayyan secara bersamaan menarik lapisan kain luar yang memang dirancang untuk terlepas. Baik di gaun milik Ameertha dan juga PT. Salsabila.

”Fantastis!”

”Luar biasa!”

Semua orang terkejut.

Gaun Ameertha itu terlihat lebih memukau dari sebelumnya. Lukisan Rayyan yang fantastis kini terpadu di balik lapisan kain tipis, gemerlap mutiara Swarosky muncul secara perlahan. Itu bukan ilusi optik, tapi sebuah keajaiban yang hanya bisa dipikirkan oleh Kaluna dan sentuhan tangan terampil Rayyan.

Namun, perhatian semua orang segera beralih ke model PT. Salsabila Inti Karya.

Begitu lapisan kain gaun model PT. Salsabila ditarik oleh Kaluna, gaun itu justru menampilkan pemandangan buruk. Tiba—tiba, keluar aroma busuk yang menusuk hidung!