Drama

Harga Sebuah Janji

Penulis Yoonna
11 January 2026

Akar tanaman kering dan bahan organik yang sengaja ditambahkan Kaluna sebagai bagian aksesoris gaun. Sesuai instruksi dalam dokumen palsu itu, kini membusuk di bawah sorot lampu panggung. Itulah jebakan Kaluna.

Bau itu sangat menyengat, membuat beberapa buyer dan kolega di barisan depan menutup hidung. Mereka mulai mencaci sang model dari grup Salsabila.

”Apa-apaan ini?”

”Kenapa tiba-tiba tempat ini menjadi seperti tempat pembuangan sampah?”

"Dasar pembuat onar, keluarkan model itu dari sini sekarang juga!" teriak seorang kolega, menuntut.

Karena bau yang sangat mengganggu, model PT. Salsabila terpaksa diseret keluar.

Kaluna tertawa, tawa yang dingin dan penuh kemenangan. "Bau itu berasal dari akar tanaman langka yang akan membusuk setelah beberapa hari. Tanaman langka itu ... sebenarnya sulit ditemukan di era sekarang, tapi kuakui dedikasi Nyonya Margaret yang luar biasa hebat dapat menemukan akar tanaman itu."

”Sial! Ini jebakan!” teriak Margaret, yang wajahnya sudah pucat pasi, menatap marah ke arah Marisa dan Kajayanti. "Tidak ada rencana tentang ini! Apa maksudnya semua ini?"

Marisa dan Kajayanti, yang juga terkejut dengan bau busuk itu, membela diri. "Kita hanya melakukan sesuai dengan apa yang ada di dalam dokumen itu!"

Kaluna tersenyum lebar. "Tentu saja. Kalian mengikuti instruksiku dari dokumen itu. Harusnya kalian meneliti dulu bahan-bahan apa yang kumaksud."

Panitia akhirnya menyadari bahwa Ameertha adalah pemilik desain otentik ini, dan dokumen palsu beserta jebakan bau busuk adalah bukti konspirasi yang tak terbantahkan.

Pengumuman kebenaran dan pemenang akhirnya diumumkan. Ameertha dinyatakan sebagai pemenang mutlak. Pihak PT. Salsabila terancam mengalami pemboikotan total.

Margaret langsung pucat dan naik darah.

”Kalian merusak reputasiku, kalian mempermainkanku. Siap-siap! Aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Jangan lupa, aku juga akan menyeret nama Ken Aji Corporate untuk terancam pemboikotan karena terlibat konspirasi,” ancam Margaret kepada Marisa dan Kajayanti.

”Tidak, Nyonya. Ini permainan gadis sialan itu, kami tidak pernah merencanakan permainan untuk menyerang anda,” ujar Marisa berusaha membuat sekutunya tetap mendukungnya.

Tapi Margaret telah terbakar emosi dan tidak lagi memberi celah kepada Marisa dan Kajayanti untuk membenarkan diri.

Marisa, yang kehilangan segala rencananya langsung dihantam amarah. Dia meraih botol anggur yang ada di salah satu meja dekat panggung. Matanya dipenuhi kegilaan.

"Dasar, kau anak sialan! Tamatlah kau malam ini, Kaluna!" teriak Marisa, berlari ke arah Kaluna, mengayunkan botol anggur itu ke kepala Kaluna.

Dalam sekejap mata, Andrian yang tadinya duduk tenang, bangkit. Dia berbalik dengan refleks luar biasa, menarik Kaluna ke dalam pelukannya, dan memposisikan dirinya sebagai perisai.

Botol anggur itu pecah di punggung Andrian dengan suara keras yang memecah euforia kemenangan.

Kaluna memekik terkejut, merasakan darah hangat membasahi kemeja Andrian. Andrian memejamkan mata menahan rasa sakit, tetapi tetap tegak melindungi istrinya.

Polisi segera menangkap Marisa yang memberontak.

Kaluna memutar tubuhnya, memegang wajah Andrian. Matanya dipenuhi ketakutan dan air mata.

"Tuan Sugara, kau terluka!"

Andrian tersenyum lemah, senyum seorang prajurit yang telah menepati janji.

"Aku bilang, aku adalah bentengmu," bisik Andrian, sebelum pandangannya meredup dan dia ambruk, masih dalam pelukan Kaluna.

Di tengah puing-puing kemenangan, Kaluna tersadar bahwa Tuan Sugara yang dingin ini telah menepati janjinya. Dia bukan hanya pilar bisnis, tetapi perisai hidupnya.

Dalam hitungan detik, Leon dan Praka yang tadinya di posisi masing-masing, langsung melompat ke panggung, bergerak cepat mendekati Kaluna.

"Tuan Muda!" seru Leon panik, hendak meraih Andrian untuk membantu memapah atau membawanya turun.

"Biar aku saja, Leon!" perintah Kaluna tajam, suaranya kembali mengeras meski bergetar. Dia berhasil memposisikan Andrian agar kepalanya bersandar di bahunya.

Leon dan Praka terdiam, terkejut melihat kekuatiran mutlak di wajah Kaluna.

Kaluna menggeleng pelan, rasa sakit melihat Andrian bercampur dengan perhitungan dingin seorang ahli strategi. Matanya yang merah beralih menatap Marisa yang kini diamankan oleh polisi.

"Aku yang akan mengurus Tuan Sugara," ujar Kaluna, menunjuk Leon dan Praka dengan dagunya.

"Kalian berdua, amankan situasi ini. Jangan biarkan media, ataupun para buyers yang sedang marah, menghakimi Marisa ataupun Kajayanti,” sambungnya.

Leon dan Praka saling pandang, bingung. Musuh yang baru saja disikat habis, kini harus dilindungi reputasinya?

"Tapi Nona, mereka yang merencanakan ini semua," ujar Leon, tidak mengerti.

"Aku tahu!" jawab Kaluna, sedikit frustrasi. "Aku ingin mereka bangkrut di pengadilan, bukan dihancurkan oleh opini publik! Kekalahan ini adalah milikku untuk dieksploitasi, bukan milik media! Segera amankan mereka dari sorotan!"

Praka mengangguk cepat. "Iya, Kaluna. Tentu saja. Kami akan mengendalikan suasana dan menghentikan semua siaran langsung di area ini."

Praka menarik tubuh Leon menjauh dari Kaluna dan Andrian. Mereka bergerak cepat menuju tim keamanan dan media, mulai memblokir akses dan menginstruksikan penghentian siaran.

Mereka harus melindungi musuh-musuh Kaluna dari penghakiman publik, demi menjamin bahwa kejatuhan mereka hanya akan terjadi di bawah kendali Kaluna.

Kaluna menatap seorang panitia yang berdiri kaku dekat tirai.

"Tolong ambilkan handuk bersih dan air hangat! Sekarang! Ini darurat!" pinta Kaluna.

Panitia yang masih terkejut dan ketakutan itu, segera bergegas melaksanakan perintah Kaluna.

Kaluna menggeleng pelan. Lalu kembali memapah Andrian ke ruang tunggu di belakang panggung.

Panitia yang ketakutan kembali dengan handuk dan baskom berisi air hangat. Kaluna segera menarik perlahan kemeja hitam yang sobek dan berlumuran darah di punggungnya.

Andrian mendesis menahan perih. "Aku baik-baik saja, Kaluna. Hanya luka permukaan."

"Diam," perintah Kaluna lembut namun tegas, matanya fokus pada lukanya.

Dengan tangan yang awalnya gemetar tetapi kemudian menjadi mantap, Kaluna membersihkan pecahan kaca kecil yang mungkin menempel dan mengusap luka Andrian dengan air hangat. Sentuhannya sangat lembut, penuh perhatian yang belum pernah dilihat Andrian di depannya.

Kaluna berbisik pelan saat membersihkan luka. "Kenapa kau melakukan ini?”

Andrian memejamkan mata, menikmati sentuhan Kaluna meskipun ada rasa sakit.

"Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyentuhmu. Itu janjiku. Dan lagi pula," dia membuka mata, tersenyum lemah, "Aku tidak pernah melihatmu menangis sebelumnya. Aku ingin melihatmu menangis hanya untukku."

Air mata Kaluna kembali menetes, kali ini bukan karena ketakutan, melainkan karena rasa haru dan terkejut atas kejujuran Andrian. Dia cepat-cepat mengusap air matanya.

"Kenapa kau melakukannya juga?" tanya Andrian.

"Apa?" tanya Kaluna, sibuk memastikan Andrian tidak kesakitan.

"Dua wanita itu," ujar Andrian. "Kenapa kau masih berusaha melindungi mereka? Padahal mereka secara terang-terangan menginginkan kehancuranmu."

Kaluna terdiam sesaat. Langkahnya melambat, sorot matanya yang tegas seketika menjadi melankolis.

"Mereka berdua adalah orang-orang yang disayang oleh Ayahku," jawab Kaluna pelan.

Andrian langsung terdiam. Dia melupakan rasa sakitnya sejenak, menatap ekspresi Kaluna yang kini terlihat seperti gadis kecil yang terluka.

"Maksudmu... kau tidak ingin nama mereka tercoreng di depan umum?" tanya Andrian, memastikan dia mengerti lapisan strategi Kaluna ini.

Kaluna menghela napas. "Jika mereka hancur di sini, secara publik, mereka akan menjadi martir bagi koneksi lama Ken Aji. Itu akan memicu keributan di dewan direksi lama, bahkan mungkin menyeret nama Ken Aji ke dalam skandal ini."

Dia memandang Andrian. "Aku ingin mereka diadili di ruang sidang, Tuan Sugara. Secara pribadi. Secara hukum. Biarkan hakim dan pengacara yang membongkar kebusukan mereka, bukan media yang haus drama."

Kaluna melanjutkan, suaranya kini kembali tajam, menggantikan melankolisnya. "Marisa dan Kajayanti adalah bagian dari sisa-sisa koneksi lama yang mencoba mengambil alih Ameertha. Aku ingin mencabut akar mereka secara legal, tenang, dan bersih. Tidak ada sisa-sisa chaos."

Andrian menatap Kaluna. Rasa kagumnya melonjak. Istrinya tidak hanya memikirkan bisnis, tetapi juga warisan emosional dan stabilitas internal.

"Kau benar-benar tidak pernah melakukan hal tanpa alasan, Kaluna," puji Andrian, senyum tipis di wajahnya menunjukkan rasa terima kasih dan respek yang mendalam.

"Sangat jarang," jawab Kaluna, sedikit tersenyum kembali. "Sekarang, berhentilah bicara. Kita harus mengurus lukamu sebelum aku memutuskan untuk menggunakan cedera ini untuk membuat seluruh Sugara Group mendukungku tanpa syarat."

Andrian tertawa kecil, meskipun sedikit perih. "Sudah kuduga. Semua ada harganya."