Drama

Lahirnya Persekutuan Senyap Leon dan Praka

Penulis Yoonna
11 January 2026

Di area luar panggung, di mana euforia kemenangan Ameertha baru saja digantikan oleh kekacauan botol anggur dan bau busuk yang samar, Leon dan Praka bergerak seperti bayangan yang terlatih.

Leon, yang biasanya tenang dan berorientasi pada detail, tampak tegang. Dia menarik Praka ke sudut, jauh dari kerumunan fotografer yang kini ramai mengarahkan lensa mereka pada mobil Andrian Sugara yang baru saja meninggalkan lokasi pameran.

"Situasi kritis, Praka," bisik Leon, matanya memindai kerumunan wartawan yang mulai berbisik-bisik, "Kita harus menghentikan rumor sebelum menyebar. Nona Kaluna ingin musuh-musuhnya dihancurkan oleh hukum, bukan oleh headline sensasional. Kita harus melindungi reputasi Marisa dan Kajayanti agar mereka tidak menjadi korban opini publik, yang justru akan menyulitkan proses pengadilan."

Praka mengangguk cepat, tangannya sudah memegang alat komunikasi rahasia. Menghubungi pusat informasi, tugasnya adalah memblokir akses dan informasi.

"Aku sudah mengerahkan tim keamanan tambahan untuk memblokir semua siaran langsung. Tidak ada live stream yang boleh beroperasi di sini. Semua footage harus diperiksa sebelum keluar," jawab Praka, nadanya penuh ketegasan militer. "Tapi bagaimana dengan Margaret? Dia sekarang diwawancarai, menyalahkan Kaluna."

"Itu urusan Nona Kaluna," sela Leon. "Tugas kita lebih halus. Fokus. Kita harus menciptakan narasi bahwa penyerangan botol anggur adalah tindakan individu karena frustrasi, bukan bagian dari konspirasi besar yang melibatkan semua pihak PT. Salsabila. Ini untuk melindungi Marisa dan Kajayanti agar mereka bisa diadili tanpa simpati publik."

Leon mendekati seorang panitia teknis acara yang tampak pucat.

"Anda," ujar Leon dengan otoritas mutlak, "Segera umumkan bahwa insiden penyerangan ini adalah kecelakaan pribadi yang disebabkan oleh tekanan emosional setelah kalah, dan tidak ada hubungannya dengan PT. Salsabila secara kelembagaan. Tekankan bahwa PT. Salsabila menghormati keputusan juri dan akan bekerja sama penuh dengan penyelidikan polisi terkait tindakan penyerangan yang dilakukan salah satu tamunya."

Panitia itu, yang mengenali Leon sebagai tangan kanan Sugara Group, segera bergegas melaksanakan instruksi.

Sementara itu, Praka menghadapi sekelompok wartawan yang mencoba merekam kesaksian para buyers yang marah.

"Mohon maaf, Bapak dan Ibu sekalian," ujar Praka dengan suara tenang namun tegas, menempatkan tubuhnya di antara wartawan dan buyer. "Demi menjaga profesionalisme, kami mohon untuk tidak merekam kesaksian yang bersifat emosional. Keputusan pemenang sudah final dan didasarkan pada bukti dokumen. Kejadian penyerangan adalah insiden pribadi yang sedang ditangani oleh pihak berwajib."

Wartawan tentu saja memprotes. "Kami punya hak untuk melaporkan kebenaran!"

"Kebenaran akan diungkap di pengadilan, bukan di siaran pers ini," balas Praka, wajahnya datar. "Kami meminta kerja sama Anda untuk menghormati proses hukum. Anda akan mendapatkan pernyataan resmi dan terperinci besok. Malam ini, kami hanya mengonfirmasi bahwa, Pemenang adalah Ameertha. PT. Salsabila bersikap kooperatif."

Dengan kombinasi penutupan akses oleh tim keamanan Praka dan pengumuman spinning narasi oleh Leon, perlahan namun pasti, gelombang informasi di tempat acara mulai terkendali.

"Bagus, Praka," bisik Leon. "Kita berhasil meredam narasi Margaret adalah korban konspirasi. Sekarang fokusnya akan bergeser ke tindakan bodoh Marisa dan kooperasi PT. Salsabila, sebuah kebohongan yang harus kita buat untuk melindungi target Nona Kaluna.

Di tengah kekacauan yang tersisa, lampu sorot yang masih menyala, sisa-sisa dekorasi yang sedikit rusak, dan bau samar akar tanaman yang membusuk, Leon dan Praka akhirnya menemukan waktu untuk menghela napas. Mereka berjalan ke tengah panggung, ke tempat kekacauan terbesar terjadi.

Kelelahan membuat mereka tidak memedulikan etiket. Keduanya ambruk, duduk di lantai panggung yang dingin, dengan punggung saling bersandar satu sama lain, mengawasi kerumunan kecil panitia yang sibuk membersihkan.

"Akhirnya, keadaan ini terkendali juga," kata Leon, suaranya terdengar lega namun serak. Ia memejamkan mata, merasakan ketegangan yang perlahan meninggalkan pundaknya.

Praka menghela napas panjang, suara napasnya terdengar berat. "Aku tidak pernah menyangka pengendalian narasi akan menjadi bagian dari tugas keamanan. Melindungi musuh agar mereka tidak mati di tangan media... sungguh strategi yang unik."

Mereka terdiam sesaat, menikmati keheningan relatif. Namun, mereka merasakan keanehan posisi mereka. Dua pengawal yang sangat profesional dan formal, saling bersandar di tengah panggung yang baru saja menjadi lokasi drama, tiba-tiba terasa aneh.

Mereka berdua tersentak hampir bersamaan, refleks menarik tubuh masing-masing menjauh beberapa inci. Mereka saling pandang, dan ekspresi canggung di wajah Leon disambut dengan senyum geli dari Praka.

”Kau...” tujuk Leon pada Praka.

”Kau juga, apa yang kau lakukan?” tanya Praka kembali.

Tiba-tiba, tawa pecah dari keduanya, tawa yang lepas dan jarang mereka tunjukkan di hadapan publik atau majikan mereka. Itu adalah tawa lega setelah melewati krisis besar.

Tawa itu mereda, dan mereka kembali bersandar, kini dengan jarak yang sedikit lebih sopan, kemeja mereka terlihat lusuh dan berantakan karena gerakan refleks dan keringat dingin.

Leon merogoh saku kemejanya, mengeluarkan pena mahal yang selalu dibawanya. Kebiasaan sebagai pengawal sekaligus asisten pribadi yang selalu siap mencatat. Ia memutar-mutar pena itu, menatap Praka.

"Praka," ujar Leon pelan, pandangannya serius. "Sebenarnya... bagaimana hubunganmu dengan Kaluna?"

Praka menoleh, terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba dan mendalam itu. Ia melemparkan pandangan sekilas ke arah pintu ruang tunggu, memastikan tidak ada yang memperhatikan dua pria konyol itu.

"Hubungan?" ulang Praka, nadanya sedikit hati-hati. " Hubunganku dengannya adalah profesionalitas kerja. Aku melayaninya, menjaga keselamatannya, sesuai kontrakku dengan Ameertha."

Leon menggeleng pelan. "Tidak, bukan itu yang kumaksud. Kau bertindak bukan hanya sebagai pengawal. Cara kau berinteraksi, ketegasanmu saat dia terancam, dan cara dia mempercayaimu untuk tugas-tugas sebagai wali kuasa. Itu... lebih dari sekadar kontrak."

Praka terdiam lama, menatap cahaya sorot lampu panggung yang masih menyilaukan.

"Kau melihatnya, Leon. Mungkin, kau juga sudah cukup lama bersamanya," jawab Praka, akhirnya. "Aku mengenalnya sejak kecil, bahkan aku bersamanya di masa-masa sulitnya. Sebelum Tuan Sugara datang, akulah yang menjadi bayangan utamanya. Aku melihatnya membangun kembali dirinya dari nol, sendirian."

Praka menghela napas, suaranya sedikit melunak. "Aku adalah Prajuritnya, Leon. Kesetiaanku bukan hanya pada nama Ameertha, tapi pada gadis yang berjuang mempertahankan kehidupannya bahkan terus bangkit. Aku merasa... bertanggung jawab atas keselamatannya, melebihi sekadar gaji. Dia adalah Nona-ku, dan aku akan mati untuk memastikan dia berhasil mengembalikan kejayaan yang seharusnya menjadi miliknya."

Praka menoleh ke arah Leon. "Sekarang, giliranku. Kau, Leon. Kau adalah kaki tangan Tuan Sugara, tapi malam ini kau bertindak sebagai ahli strategi media yang brilian. Kau melampaui tugasmu hanya demi rencana Kaluna. Apa hubunganmu dengannya?"

Leon tersenyum tipis, memegang pena itu lebih erat.

"Aku hanyalah orang yang di asuh oleh keluarga Cassavanos saat ayahku meninggal," jawab Leon, suaranya tenang namun ada nada sarkasme yang samar. "Aku tahu semua rahasia Sugara ataupun Cassavanos. Aku juga tahu berapa banyak Nona Kaluna disabotase. Aku tahu bahwa ia layak mendapatkan semua yang ia raih malam ini."

"Aku tidak loyal kepada siapapun, Praka, kecuali kepada efisiensi dan keadilan. Dan Nona Kaluna... ia adalah satu-satunya orang di perusahaan ini yang mampu memenuhi dua kriteria itu. Aku membantunya karena aku ingin melihat Tuan Mudaku berjalan dengan benar, tanpa manipulasi dan tanpa orang-orang serakah. Aku membantunya karena ia adalah pilihan terbaik Tuan Mudaku, secara logis.”

Leon dan Praka kembali terdiam, kini dengan pemahaman baru tentang posisi masing-masing dalam lingkaran kepercayaan Kaluna yang kecil. Masing-masing melayani Kaluna dengan cara yang berbeda.

Praka dengan darah dan kesetiaan naluriah, dan Leon dengan logika dingin dan efisiensi sebagai wujud kesetiaan terhadap tuannya.

Praka menatap Leon, sorot matanya yang tegas melembut. "Intinya, tujuan kita sama, Leon. Kita adalah panglima perang yang setia pada kaisar-kaisarnya."

Praka kemudian menjulurkan tangannya di antara mereka, mengabaikan debu panggung yang menempel di kemejanya. "Bisa kita memiliki kesepakatan, Leon?"

Leon tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka dan penuh makna. Dia ikut mengulurkan tangannya, menjabat tangan Praka dengan mantap. "Sepakat!" ujarnya.

Aliansi tidak terduga di tengah puing-puing kekacauan itu telah terjalin dengan suara tawa kekonyolan yang memecah keheningan.