Pagi hari di pusat kota, bahkan sebelum matahari bersinar penuh, berita penyerangan yang melibatkan botol anggur dan pewaris Sugara Group sudah menyebar sebagai rumor liar di kalangan elit. Namun, kabar yang menghantam keras justru terjadi di markas Ken Aji Corporate.
Kekacauan berpindah dari gemerlap panggung pameran ke lorong-lorong dingin Kantor Pusat Ken Aji Group. Jika di panggung Ameertha bau yang tercium adalah anggur busuk, di sini baunya adalah kecemasan yang mencekam.
Ratusan pekerja dari divisi pabrik hingga staf administratif berkumpul di lobby, menciptakan kerumunan yang tidak stabil. Suara riuh rendah tuntutan mereka memantul di dinding marmer.
"Apa benar Ken Aji akan pailit?"
"Bagaimana dengan gaji kami bulan depan?!"
"Kami dengar semua aset sudah dijaminkan!"
Di lantai atas, di dalam ruang kerjanya yang luas, Ken Aji tampak seperti singa yang terluka. Jasnya sudah terlempar ke sembarang arah, rambutnya berantakan, dan wajahnya memerah padam.
Di atas mejanya, tumpukan laporan keuangan menunjukkan angka merah yang mengerikan.
"Sialan! Dasar wanita-wanita tidak berguna!" teriak Ken Aji sambil menyapu semua barang di atas mejanya hingga jatuh berserakan.
Dia baru saja menyadari kenyataan pahit, dana talangan masif yang diberikan Kaluna tempo hari untuk menyelamatkan operasional perusahaan telah raib.
Marisa dan Kajayanti ternyata tidak menyetorkan uang itu ke kas perusahaan, melainkan mencucinya melalui akun-akun fiktif untuk kepentingan pribadi dan ambisi pameran mereka.
"Mereka mencuri dari tangan yang ingin memberi makan mereka!" raung Ken Aji pada dinding kosong.
Kepalanya berdenyut hebat. Ia merasa dikhianati oleh darah dagingnya sendiri.
Sementara itu, di parkiran basement, Leon dan Praka yang malah tertidur di mobil, baru saja menerima laporan dari intelijen lapangan mereka. Wajah Leon yang biasanya tenang kini menunjukkan garis ketegangan yang nyata.
"Kondisinya lebih buruk dari prediksi kita, Praka," ujar Leon sambil menutup tabletnya. "Pekerja mulai menjarah inventaris kecil di gudang belakang. Ken Aji kehilangan kendali total."
Praka menghidupkan mesin mobil dengan gerakan kasar. "Jika Ken Aji tumbang malam ini karena amukan massa, rencana Kaluna untuk mengambil alih secara legal akan berantakan. Kita harus segera menemuinya."
Mobil hitam itu melesat membelah jalanan kota, menuju kediaman Cassavanos.
Hanya dalam waktu singkat, mereka sudah berdiri di hadapan Kaluna dan Andrian. Melihat wajah kedua pria itu, Kaluna langsung tahu bahwa kemenangan di panggung tadi hanyalah awal dari badai yang lebih besar.
"Kaluna, kita punya situasi kritis di Ken Aji Group," buka Praka tanpa basa-basi. "Para pekerja melakukan mosi tidak percaya. Kantor dikepung."
"Lalu bagaimana dengan ayah?" tanya Kaluna singkat, suaranya tenang namun tajam.
"Ternyata, Marisa dan Kajayanti menilep seluruh dana darurat yang kau berikan, Kaluna. Uang itu tidak pernah sampai ke sistem penggajian. Marisa menggunakannya untuk menyewa desainer bayangan dan membeli suara juri," papar Praka.
Leon melangkah maju, memberikan data digital pada Kaluna. "Jika kita tidak bergerak sekarang, Ken Aji Group Akan segera hancur. Para pekerja butuh jawaban, dan Ken Aji hanya punya kemarahan."
Kaluna terdiam sebentar, menatap kegelapan di balik jendela kamarnya. Senyum tipis yang dingin muncul di wajahnya.
"Ayah marah? Bagus," ucap Kaluna perlahan. "Biarkan dia merasakan bagaimana rasanya dikhianati oleh orang yang paling dia percaya, persis seperti yang dia lakukan padaku dulu."
Dia menoleh pada Praka. "Pergilah! Selesaikan semuanya!"
"Tapi... Apa yang harus kulakukan, Kaluna?" tanya Praka.
"Kau lebih tahu apa yang harus Kau lakukan, Raka," jawab Kaluna tegas.
Praka tertegun sejenak. Panggilan "Raka" yang keluar dari mulut Kaluna bukan sekadar nama, melainkan kode rahasia masa kecil mereka. Sebuah perintah mutlak yang berarti, "Selesaikan dengan cara kita."
"Aku mengerti," jawab Praka, suaranya kembali ke nada militer yang dalam. Ia berbalik,dan langsung melangkah menuju pintu.
"Praka, aku ikut!" ujar Leon.
Leon sudah melangkah menuju pintu, tangannya baru saja hendak meraih kunci mobil ketika sebuah tangan yang kokoh dan kasar mencengkeram bahunya.
"Tetap di sini, Leon," ujar Praka. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman peringatan.
Leon menoleh, alisnya bertaut. "Kondisi di sana bisa berubah menjadi kerusuhan fisik, Praka. Kau butuh seseorang untuk mengawasi punggungmu saat kau menghadapi massa."
"Tidak," balas Praka tegas, matanya melirik ke arah Andrian masih dalam masa pemulihan dan Kaluna yang kini menjadi target utama kebencian keluarga Ken Aji. "Tuan Sugara masih terluka. Dia tidak dalam kondisi bisa melindungi siapapun jika ada serangan balasan ke rumah ini. Dan Kaluna adalah otak dari semua ini. Jika aku pergi dan kau juga pergi, siapa yang akan menjamin keamanan di sini?"
Leon terdiam. Logika dinginnya mulai bekerja. Ia melihat ke arah Kaluna yang masih menatap ke luar jendela, lalu beralih ke tangan Praka yang masih memegang alat komunikasi.
"Kau akan sendirian menghadapi singa yang sedang kalap, Raka," bisik Leon.
Praka tersenyum tipis, senyum yang tidak mengandung kehangatan, melainkan kesiapan untuk berperang.
"Aku sudah biasa berada di tengah serigala sendirian sejak kecil. Tugasmu adalah memastikan bahwa saat aku kembali dengan dokumen itu, kaisar kita tetap aman di tahtanya."
Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Praka berbalik dan menghilang di kegelapan koridor menuju basement.
Lampu-lampu jalanan berkelebat cepat di kaca mobil Praka. Di kepalanya, ia menyusun strategi. Perintah "Raka" dari Kaluna berarti ia tidak datang sebagai negosiator, melainkan sebagai eksekutor yang membawa kenyataan pahit.
Saat ia tiba di depan kantor pusat Ken Aji Group, pemandangannya jauh lebih buruk dari laporan intelijen. Gerbang besi sudah goyah ditarik massa. Beberapa ban dibakar di tengah jalan, menciptakan asap hitam yang menyatu dengan langit kelabu sebelum fajar.
"Buka gerbangnya!" teriak seorang pria berseragam pabrik, tangannya memegang balok kayu. "Mana gaji kami?! Mana Ken Aji?!"
Praka turun dari mobil dengan tenang. Dia tidak membawa senjata api, hanya sebuah map hitam tebal di tangan kirinya. Aura dingin yang terpancar dari tubuhnya membuat massa yang paling beringas sekalipun mundur selangkah demi selangkah, memberinya jalan seolah ia adalah pemecah ombak di tengah lautan manusia.
Praka tidak menggunakan lift. Ia menaiki tangga darurat dengan kecepatan konstan, menghindari kerumunan di lobby. Begitu sampai di lantai puncak, ia mendengar suara barang pecah.
PRANG!
Ken Aji berdiri di tengah kekacauan ruangannya, menatap kosong ke arah pintu yang terbuka. "Siapa kamu? Pergi! Aku tidak punya uang lagi!"
Praka melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, mengunci keributan dari luar. "Tuan Kinan, saya tidak datang untuk meminta uang. Saya datang untuk menawarkan jalan keluar dari kehancuran total yang diciptakan istri dan putri kesayangan Anda."
Ken Aji tertawa getir, matanya merah karena kurang tidur dan amarah. "Jalan keluar? Perusahaanku dijarah, keluargaku pencuri, dan massa ingin kepalaku! Siapa kau sebenarnya?!"
Praka melemparkan map hitam yang dipegangnya ke atas meja yang sudah berantakan. "Di dalam sana ada bukti aliran dana fiktif yang dilakukan Marisa dan Kajayanti. Lengkap dengan nomor rekening tujuan dan tanda tangan digital palsu yang mereka gunakan."
Ken Aji gemetar saat membuka lembar demi lembar. "Ini... ini gila. Mereka benar-benar mengkhianatiku demi sebuah pameran busana?"
"Bukan hanya itu," Praka melanjutkan, suaranya sedingin es. "Kaluna sudah membeli 40% hutang piutang perusahaanmu dari bank dalam satu jam terakhir. Secara teknis, dia adalah kreditur terbesarmu sekarang. Jika kau tidak menandatangani surat penyerahan kendali operasional malam ini, biarkan massa di bawah masuk dan menyelesaikan sisanya."
Suara gedoran di pintu lobby bawah terdengar sampai ke lantai atas. Ken Aji jatuh terduduk di kursi kebesarannya yang kini terasa seperti kursi pesakitan.
"Kaluna... dia ingin aku merangkak padanya?"
"Dia ingin kau melihat kenyataan," balas Praka. "Bahwa orang yang kau buang adalah satu-satunya yang bisa memadamkan api ini. Tandatangani, atau bersiaplah menjadi sejarah yang terlupakan."