Drama

Bidak Dingin Kaluna

Penulis Yoonna
11 January 2026

Sementara itu, di Kediaman Cassavanos

Leon berdiri di balkon, matanya terus menyapu area taman melalui teropong termal. Di dalam ruangan, Kaluna duduk di hadapan Andrian yang tampak lebih tenang.

"Kau memberikan tugas terberat pada Praka," ujar Andrian lirih.

Kaluna menyesap tehnya yang sudah dingin. "Praka tidak pernah gagal. Dia tahu cara berbicara dengan pria yang sudah kehilangan segalanya. Ayah butuh pukulan terakhir agar sadar bahwa dunianya yang megah hanyalah fatamorgana."

Andrian menatap punggung Kaluna yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, namun juga ada kegelisahan melihat betapa dinginnya wanita itu menggerakkan bidak-bidak caturnya.

"Bagaimana kau bisa begitu yakin dia akan menyelesaikannya?" tanya Andrian pelan, suaranya parau. "Kau menyerahkan nyawa perusahaan, bahkan mungkin... nyawa ayahmu di tangan Praka."

Kaluna menghentikan langkahnya sejenak tanpa menoleh. "Sama seperti kau mempercayai Leon, Tuan Sugara. Ada orang-orang yang diciptakan bukan untuk bicara, tapi untuk memastikan dunia tetap berputar sesuai keinginan kita. Praka adalah orang itu bagiku."

Setelah mengatakan itu, Kaluna melanjutkan langkahnya, menghilang di balik pintu besar menuju ruang kerjanya, meninggalkan keheningan yang berat di antara kedua pria itu.

Leon, yang merasa sebentar lagi akan menerima serang an dari bosnya, segera bergerak. Ia hendak mengikuti Kaluna. Namun, gerakan tubuhnya terhenti seketika.

"Mau ke mana kau, Leon?"

Suara Andrian terdengar rendah, hampir seperti desisan. Leon refleks memasang kuda-kuda halus, otot-ototnya menegang. Ia tahu benar bahwa meski Andrian sedang dalam masa pemulihan, pria itu tetaplah seorang Sugara yang mematikan.

Leon menunggu serangan fisik, atau setidaknya ledakan amarah, namun yang ia dapati hanyalah tatapan tajam yang menginterogasi.

Andrian tidak menyerang. Ia hanya menyandarkan punggungnya yang cedera ke kursi, matanya menyipit menatap Leon.

"Sejak kapan kau menjadi begitu akrab dengan Praka?" tanya Andrian. Ada nada kecurigaan dalam suaranya, kecemburuan profesional atau mungkin sekadar rasa ingin tahu yang dalam.

"Kalian berdua bertindak seolah-olah sudah berlatih bersama selama bertahun-tahun," selidik Andrian lagi.

Leon perlahan mengendurkan ketegangannya, meski tangannya tetap waspada. Ia teringat momen di basement, saat ia dan Praka berbagi informasi tanpa perlu banyak kata, dan bagaimana mereka saling berbagi tugas melindungi Kaluna dan Andrian.

"Sejak kejadian tadi malam, Tuan Muda," jawab Leon jujur, suaranya datar namun mantap.

Andrian menaikkan sebelah alisnya. "Hanya dalam satu malam?"

"Dalam situasi hidup dan mati, satu menit sudah cukup untuk mengetahui siapa yang bisa kau percayai, Tuan," tambah Leon. "Praka memiliki bau yang sama denganku. Bau orang yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk hilang selain kesetiaannya pada majikannya. Dia menjaga Nona Kaluna, dan aku menjaga Anda. Itu membuat kami berada di pihak yang sama."

Andrian terdiam, meresapi jawaban itu. Ia melihat ke arah pintu tempat Kaluna pergi, lalu ke arah kegelapan di luar di mana Praka sedang bertarung dengan waktu.

"Begitu ya..." gumam Andrian. "Satu malam yang mengubah segalanya."

Di tengah deru amukan massa di luar dan sirene polisi yang mulai terdengar sayup-sayup dari kejauhan, suasana di dalam ruangan kerja Ken Aji justru terasa hampa udara.

Ken Aji menatap tangan Praka yang masih memegang dokumen itu—tangan yang kokoh, penuh bekas luka kecil yang menunjukkan masa lalu yang keras. Ia kemudian mendongak, menatap mata Praka yang tidak menunjukkan emosi sedikit pun, sebuah kontras yang tajam dengan kepanikan yang sedang melanda dirinya.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Ken Aji dengan suara bergetar. Ia meletakkan pena yang nyaris ia gunakan untuk menandatangani surat itu. "Aku mengenal semua orang di lingkaran Kaluna selama ini, tapi kau... kau muncul entah dari mana."

Ken Aji terkekeh pahit, air mata kemarahan menggenang di sudut matanya. "Kenapa dia begitu mempercayaimu? Kenapa dia menyerahkan urusan kotor ini padamu, bahkan lebih dari dia mempercayai ayahnya sendiri? Aku ini darah dagingnya!"

Praka tidak segera menjawab. Ia berjalan perlahan menuju jendela besar, menatap ke bawah di mana barikade keamanan mulai jebol oleh massa yang marah.

"Tuan Kinan," suara Praka terdengar berat dan bergema di ruangan yang luas itu. "Darah memang memberikan kehidupan, tapi tidak selalu memberikan kesetiaan. Anda memberinya nama keluarga, tapi Anda juga yang membiarkannya kelaparan di tengah kemewahan."

Praka berbalik, menatap langsung ke netra Ken Aji.

"Di saat Anda sibuk membanggakan Marisa dan Kajayanti, saya adalah orang yang memastikan dia tidak mati kedinginan di jalanan," papar Praka.

BRAKK!

Pintu ruangan itu dihantam dari luar. Massa sudah mencapai lantai atas. Petugas keamanan kantor yang tersisa sudah tidak sanggup lagi menahan mereka.

"Tandatangani sekarang," perintah Praka, suaranya berubah menjadi nada militer yang tidak menerima bantahan. "Atau saya akan membuka pintu itu dan membiarkan mereka masuk sebelum polisi sampai di sini. Jika itu terjadi, dokumen ini tidak akan berguna karena Anda tidak akan punya nyawa untuk menyerahkan apa pun."

Ken Aji melihat ke arah pintu yang digedor hebat, lalu melihat ke arah map hitam di hadapannya. Dengan tangan gemetar hebat, ia mencoretkan tanda tangannya di atas materai. Sebuah tanda tangan yang secara resmi mengakhiri kekuasaannya dan memindahkan seluruh kendali Ken Aji Group ke tangan Kaluna.

Praka segera menyambar dokumen itu, memasukkannya ke dalam kemejanya.

"Keputusan yang bijak, Tuan," ujar Praka. Ia kemudian menekan tombol di earpiece-nya. "Leon, dokumen sudah di tangan. Aktifkan protokol evakuasi. Aku akan membawa singa tua ini keluar lewat jalur belakang sebelum massa membakarnya hidup-hidup."

Pintu kayu mahoni yang kokoh itu akhirnya menyerah. Dengan dentuman keras, daun pintu terlempar dari engselnya. Lima orang pria bertubuh besar, provokator yang menyusup di antara kerumunan pekerja, merangsek masuk dengan wajah beringas. Di tangan mereka terdapat pipa besi dan kayu yang ujungnya dipaku.

"Itu dia! Ken Aji si pencuri!" teriak salah satu dari mereka, matanya merah karena amarah yang disulut provokasi.

Ken Aji merosot ke bawah meja kerjanya, gemetar hebat. Singa yang tadi mengaum kini benar-benar menjadi mangsa yang ketakutan.

Praka berdiri tegak di depan meja, menghalangi pandangan mereka ke arah Ken Aji. Ia tidak bergerak sedikit pun, tangannya masih berada di samping tubuh, namun auranya berubah total. Ia bukan lagi seorang CEO, ia adalah sebuah mesin tempur.

"Tuan Kinan, tetap di bawah," perintah Praka tenang.

"Minggir, bocah! Kami hanya ingin si tua itu!" teriak pria terdepan sambil mengayunkan pipa besi ke arah kepala Praka.

Dengan gerakan yang hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, Praka bergeser satu inci ke samping. Pipa besi itu hanya mengenai udara kosong. Sebelum pria itu sempat menarik senjatanya kembali, tangan kanan Praka melesat mencengkeram pergelangan tangan lawan, sementara sikunya menghantam ulu hati pria itu dengan kekuatan yang mematikan.

"BUGH!"

Pria itu langsung tumbang, paru-parunya dipaksa mengeluarkan udara hingga ia tidak bisa berteriak.

Melihat kawan mereka jatuh, empat orang lainnya maju bersamaan dari sudut yang berbeda. Praka tidak menunggu serangan mereka. Ia meluncur maju, menggunakan momentum tubuhnya untuk menghantam pria kedua dengan tendangan berputar tepat di rahang.

"KRETAK!"

Suara tulang yang bergeser terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.

Dua orang lainnya mencoba menyergap dari belakang. Praka menangkap lengan salah satu penyerang, memutar tubuhnya, dan menjadikannya tameng manusia saat rekan pria itu mengayunkan balok kayu.

"Argh! Sialan!" kutuk penyerang itu saat balok kayunya justru mengenai bahu kawannya sendiri.

Tanpa membuang waktu, Praka melepaskan tamengnya dan melancarkan dua pukulan cepat ke arah saraf di leher mereka. Keduanya ambruk seketika, kehilangan kesadaran sebelum sempat menyentuh lantai.

Hanya tersisa satu orang yang kini gemetar, memegang pisau lipat dengan tangan yang tidak stabil. Praka menatapnya dengan pandangan kosong.

"Kau punya dua pilihan," ucap Praka, suaranya rendah dan mengancam. "Lari keluar dan katakan pada teman-temanmu bahwa polisi sudah di depan gerbang, atau kau akan tidur di lantai ini selamanya bersama mereka."

Pria itu menelan ludah, melihat keempat temannya yang terkapar tak berdaya hanya dalam waktu kurang dari satu menit. Ia menjatuhkan pisaunya dan lari tunggang langgang keluar ruangan.

"Jalan, Tuan. Lewat lift barang. Massa akan membakar gedung ini dalam hitungan menit," ujar Praka dingin sambil memeriksa saku jaketnya, memastikan dokumen berharga dari Kaluna masih aman di sana.