Drama

Kelvin Bagaskara

Penulis Yoonna
11 January 2026

Praka baru saja mencapai pintu lift barang di lantai basement ketika seorang informan dari jaringan intelijennya menghubungi melalui saluran radio pribadi.

"Tuan Praka, batalkan jalur keluar Barat! Massa baru saja menjebol gerbang belakang. Mereka sudah mengepung semua titik keluar, lobby, basement, bahkan jalur logistik. Mereka membawa bensin. Mereka berniat membakar gedung ini jika Ken Aji tidak diserahkan!"

Praka menghentikan langkahnya dengan kasar.

"Sial!" umpat Praka. Matanya menyapu sekeliling basement yang remang-remang. Suara teriakan massa di atas sana terdengar seperti gemuruh badai yang siap menelan apa saja.

Ken Aji, dengan wajah pucat pasi, tergagap, "Kita... kita terjebak? Mereka akan membunuhku, kan? Kaluna... dia ingin aku mati di sini!"

"Diam!" bentak Praka. Otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, membedah denah gedung yang sudah ia hafal di luar kepala. "Jika dia ingin kau mati, dia tidak akan mengutusku ke sini."

Praka melepaskan Ken Aji dan segera menekan tombol komunikasi di telinganya. "Rencana gagal. Seluruh akses keluar diblokade. Massa sudah kehilangan akal, mereka membawa bahan bakar."

Di seberang sana, suara Leon terdengar tegang di tengah suara sirine polisi. "Praka, kau tidak bisa bertahan di sana. Jika gedung itu terbakar, kau akan terpanggang bersama dokumennya!"

"Aku tahu," balas Praka dingin. Ia melihat ke arah tangki air raksasa dan pipa gas di langit-langit basement. Sebuah strategi gila mulai terbentuk di kepalanya. "Aku butuh kau melakukan sesuatu. Hubungi pemadam kebakaran pusat, katakan ada kebocoran gas skala besar di Ken Aji Group. Dan Leon... kirimkan helikopter ke atap sekarang juga. Situasi saat ini tidak memungkinkan untuk keluar lewat bawah."

"Helikopter dalam situasi kerusuhan? Itu berisiko, Praka!"

"Lakukan saja! Aku akan membawa singa ini naik kembali ke puncak," pinta Praka tegas.

Praka kemudian berbalik menatap Ken Aji yang tampak nyaris pingsan. "Tuan Ken, kita akan melakukan pendakian terakhir. Jika Anda ingin selamat, pastikan kaki Anda tidak berhenti melangkah. Karena jika Anda tertinggal satu langkah saja, saya tidak akan kembali untuk menjemput Anda."

Praka menyambar sebuah botol pemadam api (APAR) dari dinding sebagai senjata tambahan. Ia tidak lagi bergerak dengan hati-hati, ia bergerak dengan agresi penuh. Ia harus menembus kerumunan kecil yang sudah mulai masuk ke area tangga darurat bawah sebelum api benar-benar menyulut gedung itu.

"Naik!" perintah Praka sambil mendorong Ken Aji menuju tangga darurat, sementara di atas sana, suara baling-baling helikopter mulai terdengar sayup, bersaing dengan teriakan kemarahan ribuan orang.

"Siapa kau sebenarnya, Praka?" Ken Aji terengah-engah, bersandar pada dinding dingin. "Kenapa kau masih berusaha menyelamatkanku? Jika gedung ini terbakar, kau juga akan mati."

Praka menoleh, matanya berkilat di tengah kegelapan lorong yang kini hanya diterangi lampu darurat berwarna merah.

"Masih banyak waktu untuk menjelaskan semua ini, Tuan. Yang pasti, aku melakukan apapun yang diinginkan Kaluna," sahut Praka.

Setelah menembus kepulan asap dan barikade massa dengan manuver yang nyaris mustahil, Praka berhasil membawa Ken Aji keluar dari neraka yang membara itu. Tubuh Ken Aji yang biasanya tegap kini tampak lunglai, wajahnya hitam terkena jelaga, dan napasnya tersengal-sengal.

Praka tidak membawanya ke rumah sakit, tidak juga ke kantor polisi. Dengan mobil yang sudah disiapkan di titik buta kamera pengawas, ia melesat menuju sebuah gedung apartemen mewah di jantung kota yang fasadnya dingin dan tertutup, The Obsidian.

Apartemen itu adalah unit pribadi yang tidak terdaftar atas nama siapapun, yang berafiliasi dengan Sugara maupun Ken Aji Group. Ini adalah salah satu aset hantu milik Kaluna yang hanya diketahui oleh Praka.

"Klik!"

Pintu baja dengan pengamanan biometrik ganda terbuka. Praka mendorong Ken Aji masuk ke dalam ruangan yang luas namun minimalis. Seluruh jendela menggunakan kaca anti-peluru, dan sistem udaranya memiliki penyaring mandiri.

"Duduklah, Tuan!" pinta Praka singkat.

Ken Aji ambruk di sofa kulit mahal. Ia menatap berkeliling dengan pandangan kosong. "Di mana ini? Kenapa kau membawaku ke sini?"

Praka melepaskan jasnya yang robek di bagian bahu, memperlihatkan kaos hitam yang basah oleh keringat. Ia berjalan ke arah panel kontrol di dinding, menekan beberapa digit angka, dan mengaktifkan mode Lockdown.

"Apartemen ini adalah satu-satunya tempat paling aman di kota ini untuk saat ini," jawab Praka sambil menuangkan air mineral ke gelas dan meletakkannya dengan lembut di depan Ken Aji. "Di luar sana, polisi mencari Anda untuk dimintai keterangan, massa mencari Anda untuk dibakar, dan Kajayanti, mungkin sedang menyusun skenario bahwa Anda tewas dalam kebakaran agar dia bisa menguasai sisa aset."

Ken Aji gemetar, gelas di tangannya beradu dengan giginya. "Kajayanti... dia tidak mungkin sekejam itu."

"Dia sudah melakukannya, Tuan Kinan," potong Praka dingin. Ia menyalakan layar televisi besar di dinding yang langsung menampilkan berita utama, "Kebakaran Besar di Gedung Ken Aji, CEO Diduga Terjebak di Dalam."

"Rencana mereka semuanya gagal, ibunya di penjara, perusahaan ayahnya hancur, apalagi yang bisa dia lakukan untuk menarik simpati?" lanjut Praka.

Praka berdiri di depan jendela besar, menatap kobaran api yang masih terlihat dari kejauhan.

"Anda akan tetap di sini sampai situasi benar-benar terkendali. Tenang saja, apapun yang Anda butuhkan akan tersedia," ujar Praka menenangkan.

Ken Aji tertunduk lesu, menyadari bahwa meski ia selamat dari api, ia kini berada dalam penjara paling mewah di dunia, di bawah pengawasan pria yang lebih ia takuti daripada maut itu sendiri.

Ken Aji kembali bertanya, "Siapa kau sebenarnya, Praka. Kau mempertaruhkan nyawamu untuk menyelamatkanku?"

Praka menarik nafas beratnya, dia menjawab, "Mungkin... kau telah melupakanku Tuan kinan, tapi apa itu artinya, kau juga sudah lupa pada Alina baldey? Lihatlah ke dalam mataku. aku bahkan masih ingat, ketika usiaku baru tujuh tahun, kau selalu bilang bahwa mataku sangat mirip dengannya."

Suasana di dalam apartemen mewah itu seketika menjadi sunyi senyap, lebih dingin daripada pendingin ruangan yang berdesis halus. Kata-kata Praka barusan menghantam udara seperti godam yang memecahkan kaca.

Ken Aji membeku. Gelas yang dipegangnya perlahan terlepas dari jemarinya yang gemetar, airnya tumpah membasahi karpet mahal, namun ia tidak peduli. Matanya melebar, menatap tajam ke arah pria di depannya yang selama ini ia anggap sebagai mesin pembunuh tak berwajah.

"Ka-kau... kau Kelvin?" bisik Ken Aji, suaranya nyaris hilang.

Praka melangkah maju. Cahaya lampu kota dari balik jendela menyinari separuh wajahnya, menciptakan bayangan yang tajam dan kelam.

Ia menundukkan kepalanya, membiarkan Ken Aji menatap langsung ke dalam netranya yang gelap namun berkilat oleh emosi yang tertahan selama puluhan tahun.

"Kau selalu bilang bahwa mataku adalah berkah karena sangat mirip dengannya," ujar Praka, suaranya rendah dan sarat dengan kepahitan. "Tujuh tahun... usia di mana seorang anak seharusnya belajar membaca, tapi kau justru mengajariku bagaimana rasanya dibuang dan dilupakan agar nama baik keluargamu tetap suci."

Lutut Ken Aji terasa lemas. Ia menatap mata itu, mata yang dulu pernah ia cintai.

"Kelvin Bagaskara... Kau masih hidup, Nak?" Ken Aji tergagap, menyebut nama kecil Praka.

Praka tersenyum sinis, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya.

Tanpa menanggapi perkataan Ken Aji, Praka langsung berbalik meninggalkannya di dalam apartemen yang dingin itu sendirian.

Langkah kaki Praka bergema berat di atas lantai marmer saat ia berjalan menuju pintu keluar. Ia tidak menoleh sedikit pun, bahkan ketika suara isak tangis Ken Aji mulai pecah di belakangnya. Panggilan "Kelvin" yang keluar dari mulut pria itu terasa asing dan terlambat dua puluh tahun.

Bagi Praka, nama Kelvin Bagaskara sudah mati di hari ia dibuang. Nama itu dikubur bersama air mata Alina Baldey. Sekarang, yang tersisa hanyalah Praka—perisai sekaligus pedang bagi Kaluna.