Drama

Sang Ular Beludak

Penulis Yoonna
11 January 2026

Pagi yang seharusnya sudah mulai tenang di kediaman Cassavanos pecah oleh suara deru mobil yang berhenti mendadak di depan gerbang utama. Bukan polisi, bukan juga wartawan, melainkan sebuah taksi yang menurunkan Kajayanti dalam kondisi yang sangat mengenaskan.

Gaun bermerek yang ia kenakan kemarin malam kini tampak kusut dan kotor. Riasan wajahnya luntur oleh air mata dan keringat, membuatnya terlihat jauh dari citra putri elit Sugara Group yang biasanya sombong.

Semua orang keluar ke halaman depan. Andrian berdiri bersandar pada pilar pintu dengan Leon di sampingnya, sementara Kaluna melangkah maju dengan tenang, seolah sudah memprediksi kehancuran ini.

"Kaluna!" teriak Kajayanti dengan suara serak.

Begitu melihat sosok kakaknya, ia langsung menjatuhkan diri berlutut di atas aspal kasar, tepat di depan kaki Kaluna.

"Aku mohon... tolong aku," isak Kajayanti. Tangannya yang gemetar mencoba meraih ujung gaun Kaluna, namun Leon bergerak maju satu langkah, sebuah peringatan halus yang membuat Kajayanti menarik kembali tangannya.

"Semua sudah habis, Kaluna. Rumah kita disita bank pagi ini karena jaminan hutang. Semua rekeningku dibekukan. Apartemen pribadiku sudah disegel polisi untuk penyelidikan," ratap Kajayanti. "Aku tidak punya tempat tinggal. Aku tidak punya uang sepeser pun untuk membeli makan!"

Leon menatap pemandangan itu dengan dingin. "Kemana perginya semua teman sosialitamu, Kajayanti? Kemana perginya desainer-desainer yang kau bayar dengan uang curian itu?"

Kajayanti tidak menjawab Leon. Ia hanya menatap Kaluna dengan mata memelas.

"Kau menang, Kaluna! Kau sudah mengambil segalanya! Ayah hilang, Ibu di penjara... setidaknya beri aku satu kamar di rumah ini. Aku ini adikmu!" keluh Kajayanti memohon.

Kaluna menunduk, menatap adik tirinya dari ketinggian moral yang kini ia miliki. Tidak ada kebencian di wajahnya, hanya kekosongan yang lebih menyakitkan daripada amarah.

"Adik?" tanya Kaluna pelan. "Lucu sekali kau baru mengingat kata itu sekarang. Ke mana kata itu saat kau dan ibumu membiarkanku tidur di gudang belakang tanpa selimut?"

"Aku salah! Aku minta maaf! Tapi tolong jangan biarkan aku jadi gelandangan!" Kajayanti bersujud, air matanya membasahi sepatu Kaluna.

"Leon!" panggil Kaluna tanpa melepaskan pandangan dari Kajayanti.

"Ya, Nona?" jawab Leon, suaranya berat dan mantap.

"Berikan dia alamat rumah singgah di pinggiran kota," perintah Kaluna dingin.

Kajayanti terbelalak. "Rumah singgah? Di pinggiran kota? Itu tempat kumuh, Kaluna! Aku tidak bisa tinggal di sana!"

"Tempat itu cocok untukmu merenungi kesalahanmu, Kajayanti," potong Kaluna, suaranya kini setajam silet. "Jika kau tidak mau, silakan tidur di jalanan. Pilihan ada di tanganmu."

Kaluna berbalik, tidak sudi melihat wajah adiknya lebih lama lagi. Ia berjalan, hendak masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Andrian.

Pagi yang tegang itu semakin memanas saat sesosok wanita dengan pembawaan elegan namun angkuh muncul dari balik pilar. Alivia melangkah maju dengan dagu terangkat, memecah kesunyian yang ditinggalkan Kaluna.

Alivia menatap Kajayanti yang masih bersujud di aspal dengan tatapan yang sulit diartikan. Bukan rasa kasihan murni, melainkan pandangan seorang predator yang melihat peluang baru.

"Berhenti, Kaluna!" suara Alivia menggema, menghentikan langkah Kaluna yang baru saja hendak masuk ke dalam rumah.

Kaluna berbalik perlahan, alisnya bertaut.

Alivia berjalan mendekati Kajayanti, lalu dengan gerakan dramatis, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Kajayanti berdiri. "Bangunlah, Gadis malang. Tidak seharusnya calon menantuku bersujud seperti ini di depan orang yang tidak punya hati."

Andrian, yang masih bersandar di pintu, tersentak. "Ibu! Apa yang kau lakukan? Perjodohan itu sudah mati sejak aku menikahi Kaluna!"

Alivia menepis ucapan putranya dengan kibasan tangan. Ia menatap Kaluna dengan senyum penuh tantangan. "Rumah ini adalah kediaman Cassavanos, dan selama aku masih menjadi nyonya di sini, aku berhak menentukan siapa yang boleh tinggal. Kajayanti memiliki kelas yang sama denganku, tidak seperti beberapa orang yang datang dari jalanan."

Alivia beralih pada Kajayanti, membisikkan sesuatu yang cukup keras untuk didengar semua orang. "Jangan takut, Sayang. Kau akan tinggal di sini, di bawah perlindunganku. Kau akan mendapatkan kembali martabatmu."

Di matanya, Alivia melihat Kajayanti bukan sebagai pengungsi, melainkan sebagai sekutu. Ia tahu Kaluna terlalu kuat jika dihadapi sendirian, dan ia butuh seseorang yang sangat mengenal kelemahan Kaluna. Siapa lagi yang lebih baik selain adiknya sendiri yang kini penuh dengan dendam?

Praka melangkah maju, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia bisa merasakan bahaya yang mengancam Kaluna dari dalam rumah ini sendiri. Ia menatap Alivia dengan pandangan yang sangat tajam, seolah bisa menembus tengkorak wanita itu.

"Nyonya Alivia," suara Leon terdengar rendah, sebuah peringatan yang tidak tertutup. "Memasukkan serigala ke dalam rumah hanya akan membahayakan semua orang."

"Kau hanya seorang pelayan, Leon! Jangan lancang mengajariku!" bentak Alivia.

Kaluna hanya terdiam, wajahnya tetap tenang seperti permukaan air di tengah badai. Ia melirik Kajayanti yang kini berdiri di samping Alivia, wajahnya yang tadi memelas kini mulai berubah.

sebuah senyum kemenangan yang tipis dan licik mulai muncul di bibir Kajayanti yang gemetar.

"Begitu rupanya," ucap Kaluna pelan. Ia menatap Andrian sejenak, lalu kembali pada Alivia. "Jika Anda ingin memelihara ular di dalam rumah ini, silakan. Tapi jangan salahkan saya jika suatu hari nanti, ular itu juga akan mematuk tangan yang memberinya makan."

Kaluna berbalik dan berjalan masuk, disusul oleh Andrian. Pertempuran di luar gedung mungkin sudah selesai, tapi perang di dalam kediaman Cassavanos baru saja dimulai.

Drama di kediaman Cassavanos semakin memanas ketika Alivia, dengan langkah penuh kemenangan, menggandeng Kajayanti masuk ke ruang keluarga utama. Ia berniat memamerkan kemenangannya atas Kaluna, namun langkahnya terhenti seketika saat melihat sosok wanita sepuh yang duduk anggun di kursi kebesarannya.

Maulidah, nenek Andrian sekaligus ibu mertua Alivia yang sangat disegani, sedang menyesap tehnya dengan tenang. Matanya yang tajam meski sudah dimakan usia langsung tertuju pada Kajayanti yang tampak seperti tikus basah di samping menantunya.

"Ibu... Ini Kajayanti, putri Ken Aji. Saya memutuskan untuk membiarkannya tinggal di sini sementara waktu. Kondisinya sangat memprihatinkan setelah kejadian semalam," ujar Alivia, sedikit menurunkan nada bicaranya.

Kajayanti segera membungkuk hormat, mencoba memasang wajah paling malang yang ia miliki. "Hormat saya, Oma."

Maulidah tidak segera menjawab. Ia menatap Kajayanti dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu beralih pada Alivia. Sebuah senyum tipis yang penuh teka-teki muncul di wajah sang matriark.

"Jika itu keputusanmu, Alivia, aku tidak akan melarang. Rumah ini memang cukup besar untuk menampung satu orang lagi yang kehilangan arah," ucap Maulidah pelan.

Alivia tersenyum puas, merasa mendapat dukungan. Namun, ia tidak menyadari sorot mata Maulidah yang sebenarnya.

Setelah Alivia membawa Kajayanti menuju kamar tamu di sayap kanan, Maulidah memberi isyarat kecil pada Leon yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. Leon segera mendekat, menundukkan kepala dengan hormat.

"Leon," bisik Maulidah, suaranya kini terdengar sangat serius. "Awasi gadis itu. Jangan biarkan dia lepas dari pandanganmu sedikit pun."

Leon sedikit terkejut. "Oma juga... memiliki kekhawatiran yang sama?"

Maulidah menatap ke arah koridor tempat Alivia dan Kajayanti menghilang. "Alivia itu bodoh. Dia pikir dia sedang menyelamatkan calon menantu yang penurut."

Maulidah meletakkan cangkir tehnya dengan dentingan halus yang terdengar tegas.

"Alivia bukan memihak seorang calon anak menantu, Leon. Dia sedang mencari sekutu," kata Maulidah pada Leon. "Dia ingin menggunakan dendam Kajayanti untuk menyingkirkan Kaluna dari hidup Andrian. Tapi yang dia tidak sadar, Kajayanti punya maksud yang lain, sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar ingin tinggal di sini."

Maulidah menggenggam tangan Leon, tatapannya menghujam. "Kajayanti tidak datang untuk meminta perlindungan. Dia datang untuk mencuri apa yang menurutnya telah dirampas Kaluna. Dan jika dia harus menghancurkan rumah ini untuk mendapatkannya, dia akan melakukannya.

Leon mengangguk mantap. "Saya mengerti, Oma!"