Malam di kediaman Cassavanos terasa sangat sunyi, namun udara di dalamnya seolah bermuatan listrik yang siap meledak. Kaluna, yang merasa tenggorokannya kering karena rentetan peristiwa hari ini, berjalan menuju dapur yang hanya diterangi lampu remang-remang di atas meja bar.
Saat ia sedang menuangkan air ke dalam gelas kaca, sebuah langkah kaki yang angkuh terdengar mendekat.
Kajayanti muncul dari balik kegelapan lorong, sudah tidak ada lagi wajah malang yang ia tunjukkan tadi pagi. Ia kini mengenakan gaun tidur sutra pemberian Alivia, lengkap dengan senyum sinis yang biasa ia pamerkan saat masih menjadi putri mahkota di rumah mereka dulu.
"Ternyata minum air pun harus di tengah malam supaya tidak terlihat menyedihkan, ya?" sindir Kajayanti sambil bersandar pada meja dapur.
Kaluna tidak menoleh. Ia menyesap airnya dengan tenang.
"Kau sudah mendapatkan kamarmu. Seharusnya kau tidur, bukan berkeliaran mencari masalah," ujar Kaluna datar.
Kajayanti tertawa kecil, suara tawa yang sarat dengan kebencian. "Tadi pagi, aku datang untuk memohon. Aku bahkan bersujud di kakimu dan berpura-pura menjadi adik yang baik karena aku pikir kau punya sedikit belas kasihan. Tapi karena kau tidak peduli, bahkan kau sama sekali tidak berniat memboyongku masuk..."
Kajayanti melangkah maju, sorot matanya menajam. "Terpaksa, aku tidak perlu berpura-pura lagi sekarang. Aku sudah punya Nyonya Alivia di pihakku. Dan dengar baik-baik, Kaluna... aku akan merebut semua yang kau punya. Rumah ini, posisi ini, dan suamimu."
Kaluna meletakkan gelasnya perlahan di atas meja marmer. Ia berbalik, menatap Kajayanti dengan pandangan yang membuat bulu kuduk berdiri. Kaluna tidak memaki, ia justru melangkah maju secara perlahan.
Satu langkah. Kajayanti tersentak, senyumnya sedikit memudar.
Dua langkah. Kajayanti refleks mundur, punggungnya menabrak lemari pendingin. Ia terkejut melihat betapa tenangnya Kaluna, seolah ancamannya tadi hanyalah suara nyamuk yang lewat.
"Silakan lakukan apapun yang ingin kau lakukan, Kajayanti," ujar Kaluna dengan suara rendah namun sangat tegas.
Kaluna kini berdiri tepat di depan wajah Kajayanti, memaksa adiknya itu mendongak.
"Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuhku, apalagi apa yang sudah menjadi milikku. Kau berada berkali-kali lipat jauh di bawahku. Kau tidak akan pernah bisa mengimbangiku, tidak dalam seribu tahun sekalipun," lanjut Kaluna tenang, namun penuh penekanan di setiap katanya.
Kajayanti hendak membalas, namun lidahnya mendadak kelu. Ia melihat otoritas dan kekuatan di mata Kaluna yang selama ini ia remehkan.
Tepat saat ketegangan mencapai puncaknya, sebuah tangan yang kokoh melingkar di pinggang Kaluna. Andrian muncul dari kegelapan, menarik tubuh Kaluna dengan lembut agar bersandar pada dadanya. Ia memeluk Kaluna dari belakang, meletakkan dagunya di bahu istrinya itu, seolah menegaskan keberpihakannya tanpa perlu banyak bicara.
Andrian menatap Kajayanti dengan dingin, sebuah tatapan yang jelas mengatakan bahwa kehadirannya di dapur ini hanya akan berakhir dengan kehinaan jika ia tidak segera pergi.
"Sudah malam, Sayang. Ayo kembali ke kamar, reuniannya besok saja," bisik Andrian lembut di telinga Kaluna, mengabaikan keberadaan Kajayanti yang berdiri kaku dengan wajah yang kembali memerah karena malu dan marah.
Kajayanti melangkah pergi dengan kaki yang menghentak keras, mencoba meredam gejolak amarah yang mendidih di dadanya. Namun, saat ia baru saja mencapai lorong sepi menuju kamarnya, sebuah bayangan muncul dari balik pilar kayu yang gelap.
Langkahnya terhenti seketika. Di sana, Leon berdiri dengan tangan bersedekap, bersandar santai pada dinding namun tatapannya setajam elang. Tidak ada keramahan yang biasa ia tunjukkan.
"Belum puas dengan drama di dapur, Nona Kajayanti?" tanya Leon, suaranya datar namun sarat dengan sindiran.
Kajayanti mendengus, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya. "Minggir! Jangan karena kau adalah tangan kanan Andrian, kau pikir bisa ikut campur urusanku. Aku sedang tidak ingin bicara dengan pelayan."
Leon tidak bergeming. Ia justru melangkah maju, menghalangi jalur jalan Kajayanti. Senyum miring yang meremehkan tersungging di bibirnya.
"Pelayan?" Leon terkekeh pendek. "Kau tahu, perbedaanku dengan pelayan, aku tahu semua rahasia kotor di rumah ini. Dan kau... kau adalah rahasia yang paling tidak diinginkan."
Leon mendekat, menundukkan kepalanya hingga wajah mereka sejajar. "Dengar, aku sudah melihat banyak wanita seperti ibumu mencoba menghancurkan keluarga ini. Tapi kau? Kau bahkan tidak punya setengah dari kecerdikannya. Kau masuk ke sini hanya karena belas kasihan Nyonya Alivia yang sedang buta arah."
"Berhenti menghinaku!" desis Kajayanti dengan wajah memerah.
"Ini bukan penghinaan, ini peringatan," potong Leon, suaranya kini berubah menjadi dingin dan mengancam. "Jangan pernah berpikir untuk mendekati Tuan Muda dengan trik murahmu. Aku yang mengatur setiap langkah di rumah ini. Jika kau mencoba menyabotase Kaluna atau mencari celah untuk merusak pernikahan mereka, aku sendiri yang akan memastikan hidupmu di sini terasa seperti di neraka. Jauh lebih buruk dari rumah singgah yang ditawarkan Kaluna tadi."
Leon menyentuh gagang pintu kamar Kajayanti, membukanya sedikit seolah mempersilakan wanita itu masuk ke penjaranya.
"Masuklah! Bermimpilah setinggi langit untuk merebut segalanya, tapi ingat satu hal, di rumah ini... aku adalah mata yang tidak pernah berkedip. Satu langkah salah darimu, kupastikan kau didepak keluar tanpa membawa apa-apa, bahkan harga dirimu yang sudah hancur itu."
Kajayanti menatap Leon dengan penuh kebencian, namun ada getaran ketakutan di matanya. Ia menyambar gagang pintu dan masuk dengan terburu-buru, membantingnya tepat di depan wajah Leon.
Leon berdiri di depan pintu yang tertutup itu selama beberapa saat, lalu ia memperbaiki posisi jasnya dengan tenang.
Pintu kamar tertutup rapat, mengunci kebisingan drama di dapur tadi jauh di luar sana. Di dalam kamar yang luas itu, cahaya lampu nakas yang temaram menciptakan suasana yang lebih intim namun sarat dengan ketegangan emosional.
Andrian berdiri di dekat jendela, memperhatikan Kaluna yang sedang duduk di tepi ranjang, tampak tenang namun jemarinya saling bertautan erat. Andrian mendekat, suaranya melunak, tidak lagi penuh sindiran seperti saat di depan Kajayanti tadi.
"Apa dia mengganggu pikiranmu, Kaluna?" tanya Andrian pelan. "Apa dia berusaha membuatmu merasa tertekan dengan segala omong kosongnya?"
Kaluna mendongak, garis bibirnya membentuk senyum tipis yang getir. "Aku sudah terbiasa menghadapi mereka yang penuh manipulasi, Tuan Sugara. Bertahun-tahun aku hidup dengan duri di sekelilingku. Kajayanti bukan hal baru bagiku."
Andrian terdiam, namun pikirannya justru semakin tidak tenang. Dia memang masih sedikit dini mengenal Kaluna, tapi ia tahu bahwa di balik ketangguhan wanita ini, ada luka masa kecil yang sangat dalam.
Dan Kajayanti, bersama Marisa, adalah arsitek utama di balik trauma tersebut. Ia khawatir kehadiran Kajayanti di bawah atap yang sama akan memicu kembali memori-memori kelam yang selama ini coba dikubur oleh Kaluna.
"Aku bisa saja mengusirnya malam ini juga," ujar Andrian dengan nada yang tiba-tiba berubah tajam. Mata gelapnya berkilat serius. "Bahkan, aku bisa melenyapkannya dari dunia ini, jika kau mau."
Kaluna menggeleng pelan, ia menyentuh lengan Andrian untuk menenangkannya. "Tidak perlu bertindak secepat itu, Tuan Sugara. Ini adalah permainan yang akan berjalan dan berhenti dengan sendirinya. Jika kita mengusirnya sekarang, dia hanya akan menjadi martir di mata ibumu. Biarkan dia di sini, sampai dia menghancurkan dirinya sendiri dengan keserakahannya."
Andrian berlutut di depan Kaluna, menggenggam kedua tangan istrinya itu dengan protektif. Ia bisa merasakan betapa dinginnya telapak tangan Kaluna.
"Kaluna, dengarkan aku," ucap Andrian sungguh-sungguh. "Jika kau merasa tidak nyaman sedikit pun, jika rumah ini mulai terasa menyesakkan bagimu... kita bisa pergi dari sini sekarang juga. Kita pindah ke apartemenku."
Kaluna menatap mata Andrian, mencari ketulusan di sana, dan ia menemukannya. "Terima kasih, Tuan Sugara. Tapi melarikan diri bukan caraku menyelesaikan masalah. Aku ingin mereka melihat sendiri bagaimana aku berdiri di puncak kehancuran yang mereka buat."