Kaluna menatap manik mata Andrian yang sarat dengan kekhawatiran. Tawaran untuk pergi ke apartemen sangat menggiurkan, sebuah pelarian manis menuju kedamaian berdua. Namun, ada beban yang jauh lebih berat di pundak Kaluna daripada sekadar kenyamanan pribadi.
"Aku tidak bisa pergi, Tuan Sugara," ucap Kaluna lembut namun tak tergoyahkan.
Di dalam benaknya, Kaluna sudah menyusun kepingan teka-teki yang mulai ia selidiki sejak menginjakkan kaki di rumah ini. Ada kabut tebal di antara Alivia dan Rayyan yang selama ini menjadi penghalang ikatan batin antara ibu dan anak itu. Kaluna merasa ada rahasia besar yang sengaja dikubur oleh Alivia, sesuatu yang membuat hubungan mereka begitu dingin dan penuh kecurigaan.
Bukan hanya itu, ambisinya untuk menggali kembali kecelakaan Ferdinan dua puluh tahun yang lalu belum juga menemui titik terang di rumah ini. Kasus yang menyeret nama Ken Aji, bukanlah kebetulan belaka. Jika ia pergi sekarang, ia akan kehilangan akses untuk membongkar kebenaran di balik kematian tragis itu.
"Ada terlalu banyak benang kusut di rumah ini, Tuan Sugara. Aku tidak bisa menyelesaikannya jika kita melarikan diri," batin Kaluna sambil mengusap rahang tegas Andrian.
Kaluna menarik napas panjang, matanya berkaca-kaca namun penuh ketegasan.
"Cinta yang tumbuh di antara kita... aku ingin menjaganya. Tapi aku ingin cinta kita tumbuh di atas tanah yang bersih. Aku tidak ingin ada satu pun rahasia atau rasa bersalah dari masa lalu yang tertinggal dan menjadi racun dalam hubungan kita di masa depan. Aku harus menuntaskan ini agar saat aku bersamamu sepenuhnya, tidak ada lagi bayang-bayang yang mengejar kita," batin Kaluna lagi.
Malam itu, di dalam kesunyian kamar, Kaluna menyusun rencana di kepalanya. Besok adalah kesempatan emas yang telah ia tunggu-tunggu. Jadwal rumah Cassavanos telah ia hafal di luar kepala, dan esok hari, konstelasi penghuni rumah itu akan memberinya ruang gerak yang sempurna.
Alivia, seperti biasa, akan keluar pagi-pagi sekali untuk menjaga citra sosialitanya bersama rekan-rekan elitnya, mungkin untuk menenangkan desas-desus tentang Marisa. Maulidah memiliki agenda rutin setiap hari Kamis untuk acara santunan. Yang menarik, kali ini Rayyan akan mendampingi Mulidah.
Sejak kejadian besar kemarin, sosok Rayyan yang tenang mulai dikenal publik sebagai seniman motivator, dan ia kini banyak dicari sebagai narasumber.
Sementara itu, Andrian akan pergi bersama Leon menuju markas Sugara Group untuk bertarung melawan provokasi media.
Rumah itu akan kosong dari pengawasan ketat.
Keesokan Paginya
Suara mesin mobil terakhir terdengar menjauh dari gerbang. Kaluna berdiri di balik tirai kamarnya, memastikan semua orang benar-benar telah pergi.
"Ini saatnya," bisik Kaluna pada dirinya sendiri.
Kaluna membatalkan niatnya untuk menyisir ruang kerja Alivia. Instingnya mengatakan bahwa wanita selicik Alivia tidak akan menyimpan bukti yang paling berbahaya di tempat yang jelas. Ia justru teringat pada sebuah sudut terpencil di kediaman Cassavanos, Gudang di depan Perpustakaan Timur.
Tempat itu lembap, berdebu, dan hampir tidak pernah dikunjungi oleh penghuni rumah maupun pelayan, kecuali saat pembersihan besar-besaran. Namun, selama tinggal di sini, mata tajam Kaluna beberapa kali menangkap sosok Alivia menyelinap ke arah sana dengan gerak-gerik waspada, seolah sedang mengunjungi sebuah makam rahasia.
"Tempat ini, begitu sesak. Tapi seharusnya aku bisa menemukan sedikit petunjuk di sini," ujar Kaluna perlahan.
Pintu kayu tua itu berderit pelan saat Kaluna mendorongnya. Di dalamnya, tumpukan perabotan lama ditutupi kain putih, menciptakan siluet hantu di bawah cahaya matahari yang menembus ventilasi kecil. Kaluna mulai menyisir setiap sudut, hingga matanya tertuju pada sebuah lemari arsip tua yang terkunci rapat, namun di bawah kakinya, ia melihat bekas gesekan di lantai, tanda bahwa lemari ini sering digeser.
Kaluna menggeser lemari itu dan menemukan sebuah brankas besi kecil yang ditanam di dinding di baliknya. Berkat bantuan teknis yang pernah diajarkan Praka, Kaluna berhasil membukanya.
Gudang itu seketika terasa mencekik. Kaluna terpaku, jemarinya gemetar saat memegang sebuah lembaran foto usang yang terselip di balik tumpukan dokumen tua. Di sana, seorang anak laki-laki dengan senyum tulus yang sangat ia kenali menatap ke arah kamera.
"Kakak..." bisik Kaluna lirih.
Selama ini, ia selalu bertanya-tanya mengapa rumah semegah Cassavanos terasa begitu kosong dari sejarah. Tidak ada foto masa kecil Andrian maupun Rayyan di dinding-dindingnya, seolah Alivia sengaja menghapus jejak masa lalu putra-putranya. Kini ia tahu, Andrian Sugara adalah teman kecil yang selama ini ia tunggu-tunggu kehadirannya.
Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik. Di dasar peti tua yang sama, terselip sebuah benda yang membuat darah Kaluna seolah berhenti mengalir.
Kaluna meraih gelang itu dengan tangan yang kaku. Ingatannya melesat kembali ke malam yang paling menghancurkan hidupnya. Malam di mana ia bersembunyi di balik lemari, menyaksikan ibunya tersungkur sambil memegangi dada. Ia melihat seorang pemuda berdiri di sana, melontarkan kata-kata ancaman yang begitu kejam hingga memicu serangan jantung fatal pada ibunya.
Pemuda itu memakai gelang yang sama persis dengan yang ada di genggamannya sekarang.
"Tidak... tidak mungkin," isak Kaluna. Napasnya mulai tersengal, dadanya terasa sesak seolah dihantam godam besar. "Jadi, jadi... orang itu..."
Air mata jatuh membasahi gelang manik tersebut. Kenyataan ini jauh lebih menyakitkan daripada pengkhianatan manapun. Pria yang baru saja mulai ia cintai, pria yang ia anggap sebagai rumah tempatnya pulang, ternyata memiliki keterkaitan dengan kematian tragis ibunya.
"Ibu... bagaimana aku bisa mencintai orang yang telah membunuhmu?" ujar Kaluna dengan suara parau yang menyayat hati.
Guncangan emosional itu membuatnya lemas. Tangannya kehilangan tenaga, hingga peti kayu kecil di depannya terjatuh dan hampir menimpa kakinya. Suara benturan peti itu menggema di dalam gudang yang sunyi, memecah kesunyian yang mencekam.
Di balik celah pintu yang sedikit terbuka, sepasang mata mengintip dengan binar kemenangan. Kajayanti berdiri di kegelapan koridor, menahan napas agar kehadirannya tidak terdeteksi. Ia telah mengikuti Kaluna sejak tadi, dan apa yang baru saja ia dengar adalah amunisi paling mematikan yang pernah ia dapatkan.
“Sempurna! nampaknya, nasib baik masih berpihak padaku. Kau menemukan teman masa kecilmu, tapi kau juga menemukan pembunuh ibumu di orang yang sama,” batin Kajayanti dengan senyum licik yang merekah di bibirnya.
Kajayanti memutar otak dengan cepat. Jika Kaluna membenci Andrian, maka ini adalah peluang emas baginya untuk masuk. Ia tidak perlu lagi bersusah payah merayu Andrian, ia hanya perlu memastikan luka ini terus terbuka dan membuat Kaluna pergi dari rumah ini karena rasa bersalah pada ibunya.
Kajayanti segera menarik diri dari ambang pintu sebelum Kaluna menyadarinya. Ia berjalan menjauh dengan langkah ringan, hampir seperti menari. Di kepalanya, sebuah rencana jahat mulai tersusun rapi.
Kajayanti terduduk di lantai kamarnya, napasnya masih memburu karena antusiasme yang gelap. Ia baru saja menyaksikan kehancuran mental Kaluna, dan kini ia butuh bukti pelengkap untuk menyempurnakan rencananya.
"Dimana? Dimana benda itu?" ujar Kajayanti cepat.
Ia meraih tas mahalnya, lalu dengan gerakan kasar menumpahkan seluruh isinya ke atas permadani. Berbagai barang mewah, lipstik bermerek, cermin kecil, hingga kartu kredit yang sudah tidak bisa digunakan, berhamburan.
"Di mana benda itu... aku tahu aku belum membuangnya!" geramnya kesal sambil mengacak-acak barang-barang tersebut.
Tiba-tiba, sebuah giok kecil berkilat di sela-sela dompetnya. Kajayanti memungutnya dengan ujung jari yang gemetar. Itu adalah sebuah liontin rusak, patahannya sudah hilang, talinya sudah putus dan permukaannya sedikit tergores, namun coraknya masih ada.
Senyum lebar yang mengerikan mengembang di bibir Kajayanti. Ia menggenggam liontin itu erat-erat di depan dadanya.
"Tidak sia-sia aku masih menyimpannya selama ini," ucap Kajayanti dengan nada penuh kemenangan.
Liontin itu adalah milik Kaluna yang hilang bertahun-tahun lalu, atau tepatnya, liontin yang terjatuh saat Kaluna kecil dibawa paksa ke pusat rehabilitasi. Liontin yang menjadi simbol janji antara Peri Kecil dan teman masa kecilnya.
"Ternyata, Kaluna tidak berhalusinasi tentang kakak di masa kecilnya," gumam Kajayanti sambil tertawa sinis. "Dia benar, pria itu nyata. Dan pria itu adalah Andrian Sugara."
Ia bangkit dan berjalan menuju cermin besar di kamarnya, menatap bayangannya sendiri dengan angkuh. Dengan Kaluna yang kini tengah hancur dan membenci Andrian karena masalah gelang manik itu, jalan bagi Kajayanti terbuka lebar.
"Peri kecil... bersiaplah. Aku akan menggantikan posisimu di hati Andrian, dan kau akan pergi dari sini membawa dendam kematian ibumu," kata Kajayanti lagi pada bayangannya.