Drama

Alibi Liontin Peri Kecil

Penulis Yoonna
11 January 2026

Malam semakin larut ketika deru mobil Andrian akhirnya berhenti di pelataran. Andrian melangkah masuk dengan bahu yang tampak tegang, masalah di Sugara Group benar-benar menguras energinya.

Langkahnya terhenti di ruang tengah ketika Kajayanti tiba-tiba muncul dari kegelapan, membawa segelas air hangat dengan senyum yang dipaksakan lembut.

"Andrian, kau baru pulang? Kau pasti sangat lelah. Minumlah ini dulu," ucap Kajayanti mencoba meraih lengan Andrian.

Andrian langsung menarik tangannya dengan kasar, matanya menatap Kajayanti dengan rasa jijik yang tak ditutupi. "Singkirkan tanganmu, Kajayanti. Dan berhenti bersikap seolah kau adalah nyonya di rumah ini."

Andrian hendak melangkah pergi, namun kalimat Kajayanti selanjutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Bahkan jika aku adalah alasanmu merindukan masa lalu, Kakak?"

Andrian berbalik dengan cepat. Di depan wajahnya, Kajayanti mengangkat sebuah liontin rusak yang tergantung di jemarinya. Cahaya lampu kristal memantul di permukaan giok tua itu.

"Dari mana kau mendapatkan benda itu?" suara Andrian bergetar, antara amarah dan keterkejutan yang luar biasa.

Kajayanti melangkah maju, menatap mata Andrian dengan pandangan yang dibuat sedalam mungkin. "Kau yang memintaku untuk menyimpannya, Kakak. Aku terus menunggumu untuk menjemputku."

Andrian terpaku. Ia mengambil liontin itu dengan tangan gemetar. Kenangan masa kecil yang selalu ia simpan rapat-rapat seolah meledak di depan matanya. Meskipun logika di kepalanya menolak, benda di tangannya adalah kenyataan yang tidak bisa ia bantah.

Dalam kekalutan emosi dan kelelahan yang luar biasa, Andrian menarik Kajayanti ke dalam pelukannya, sebuah pelukan penuh rasa bersalah dan kerinduan pada masa lalu yang hilang.

Dari balik pilar lantai atas, Kaluna berdiri membeku. Ia menyaksikan pemandangan itu dengan hati yang hancur berkeping-keping. Bukan hanya karena Andrian memeluk wanita lain, tapi karena pria yang ia anggap pelindungnya kini sedang memeluk iblis yang telah mencuri identitasnya.

Sorot mata Kaluna meneriakkan, "Jangan! Jangan percaya padanya!"

Namun, lidahnya kelu. Bayangan gelang manik di gudang tadi masih menghantuinya. Jika Andrian adalah pembunuh ibunya, haruskah ia menyelamatkannya dari kebohongan Kajayanti?

Konflik batin itu membuatnya tetap bungkam hingga Andrian membawa Kajayanti pergi ke arah ruang kerja untuk bicara lebih lanjut.

Setelah mereka menghilang, Leon muncul dari bayang-bayang. Ia sudah sejak tadi memperhatikan semuanya, termasuk reaksi Kaluna.

Leon menghampiri Kaluna, berdiri cukup dekat untuk melihat kepedihan di mata wanita itu.

"Dari matamu, aku tahu kau tahu bahwa Kajayanti sedang berbohong," bisik Leon, suaranya berat dengan kekecewaan. "Tapi kenapa kau diam saja, Nona? Kenapa kau membiarkan Tuan Muda jatuh ke dalam perangkapnya?"

Kaluna menghapus air matanya dengan gerakan yang sangat cepat, seolah-olah kelemahan yang baru saja terlihat hanyalah ilusi semata. Ia kembali menegakkan punggungnya, wajahnya berubah menjadi topeng porselen yang dingin dan tak terbaca.

Ia menatap ke arah pintu ruang kerja tempat Andrian dan Kajayanti menghilang, lalu beralih menatap Leon dengan sorot mata yang tajam namun tenang.

"Biarkan saja dia memainkan perannya, Leon," ucap Kaluna, suaranya kini terdengar sangat datar, hampir tanpa emosi. "Kita akan lihat, sejauh mana dia mampu memainkan peran itu dengan baik."

Leon mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban itu. "Tapi Nona Kaluna, Tuan Muda sangat menghargai kenangan itu. Jika dia percaya Kajayanti adalah orangnya, dia akan melakukan apa saja untuknya. Ini berbahaya."

"Justru itu poinnya," balas Kaluna pelan. "Sebuah kebohongan yang dibangun di atas fondasi yang rapuh akan hancur dengan sendirinya saat bebannya semakin berat. Jika Andrian tidak bisa mengenali siapa aku hanya dari mataku, maka biarkan dia tertipu oleh sebuah benda mati."

Kaluna mengepalkan tangannya di balik saku gaunnya, menyentuh gelang manik yang masih ia simpan di sana. Pikirannya masih berkecamuk antara rasa cinta yang baru tumbuh dan dendam kematian ibunya yang kini menganga kembali.

Baginya, kebohongan Kajayanti hanyalah gangguan kecil dibandingkan badai yang sedang ia siapkan untuk menghancurkan sejarah kelam keluarga Cassavanos.

"Awasi saja mereka, Leon. Jangan lakukan apa pun untuk saat ini," perintah Kaluna. "Biarkan Kajayanti menikmati kemenangannya malam ini. Karena semakin tinggi dia terbang dengan identitas orang lain, semakin hancur dia saat terjatuh nanti."

Leon terdiam melihat keteguhan di wajah Kaluna. Ia membungkuk hormat, menyadari bahwa Kaluna sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan status Peri Kecil.

Sementara itu, di dalam ruang kerja, Andrian masih menatap liontin itu di tangannya, sementara Kajayanti duduk di dekatnya dengan wajah yang dibuat-buat sendu, mulai membisikkan cerita-cerita karangan yang dirangkai dari ingatan masa kecil yang ia curi dari penderitaan Kaluna.

Meskipun liontin itu ada di tangannya, dan kata-kata Kajayanti terdengar seperti jawaban dari pencariannya selama belasan tahun, tubuh Andrian bereaksi dengan cara yang berbeda.

Kajayanti mencoba memanfaatkan momen itu. Ia bergerak maju, tangannya perlahan melingkar di bahu Andrian, mencoba menarik pria itu ke dalam pelukan yang lebih intim untuk mengunci keyakinannya.

"Aku di sini sekarang, Kakak. Tidak perlu lagi mencari..." bisik Kajayanti dengan nada yang dibuat semanja mungkin.

Namun, belum sempat pelukan itu mengerat, Andrian justru mematung. Tubuhnya menegang, menolak sentuhan itu secara naluriah.

Aneh. Seharusnya hatinya menghangat, namun yang ia rasakan justru hawa dingin yang mengganggu.

Setiap kali Kajayanti berbicara tentang masa lalu, yang muncul di benak Andrian bukanlah wajah gadis kecil dari memorinya, melainkan wajah Kaluna. Ia teringat tatapan tajam Kaluna, ketenangan istrinya saat menghadapi badai, dan aroma tubuh Kaluna yang selalu membuatnya merasa tenang.

Andrian melepaskan tangan Kajayanti dari bahunya dengan gerakan tegas, hampir seperti sebuah penolakan mentah-mentah.

"Cukup, Kajayanti," ujar Andrian dingin.

Ia mundur dua langkah, menciptakan jarak yang lebar di antara mereka. Matanya yang tajam kini menyelidik, menatap Kajayanti seolah wanita itu adalah teka-teki yang salah susunannya.

"Kau bilang kau peri kecil itu," suara Andrian berat, penuh kecurigaan. "Tapi kenapa setiap kali aku melihatmu, aku tidak merasakan apa pun kecuali kekosongan? Kenapa kehadiranku di samping Kaluna terasa jauh lebih nyata daripada semua kata-katamu tentang masa lalu ini?"

Kajayanti terkesiap, wajahnya yang tadi penuh percaya diri kini sedikit goyah. "Itu... itu karena kau sudah terlalu lama tidak bertemu denganku, Kakak!"

Andrian tidak mendengarkan. Ia menatap liontin di tangannya, lalu menatap pintu keluar. Pikirannya berteriak bahwa ada yang salah. Kewaspadaannya sebagai seorang Sugara yang terbiasa hidup di tengah musuh kini bekerja maksimal.

"Simpan ceritamu untuk malam ini," ucap Andrian sambil memasukkan liontin itu ke saku jasnya. "Aku akan menyelidiki sendiri kebenaran ini. Jika kau berbohong, Kajayanti... kau akan tahu apa artinya membangunkan singa yang sedang tidur."

Andrian berbalik dan melangkah keluar dari ruangan itu dengan terburu-buru. Ia tidak mencari kamarnya, ia mencari Kaluna. Ia butuh melihat mata istrinya untuk memastikan apakah dunia yang ia pijak saat ini masih nyata atau hanya ilusi yang diciptakan Kajayanti.

Sementara itu, di lorong gelap, Kaluna masih berdiri mematung. Ia mendengar langkah kaki Andrian yang mendekat. Ia tahu suaminya sedang menuju ke arahnya, namun gelang manik di sakunya terasa seberat ribuan ton, seolah menahan Kaluna untuk memberikan pelukan yang diinginkan Andrian.