Drama

Masa Lalu yang Berliku

Penulis Yoonna
11 January 2026

Langkah kaki Andrian yang terburu-buru berhenti tepat beberapa meter di depan Kaluna. Napasnya masih sedikit memburu, bukan karena lelah fisik, melainkan karena gejolak batin yang sedang menghantamnya.

Ia menatap Kaluna yang berdiri dalam diam di tengah lorong yang remang. Wajah istrinya itu begitu tenang, namun ketenangan itu terasa seperti lapisan es yang menutupi api yang membara di bawahnya.

"Kenapa kau hanya berdiri di sini, Kaluna?" tanya Andrian dengan suara serak. "Kenapa kau tidak menyambutku seperti biasanya?"

Kaluna menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman tipis yang terasa sangat jauh. "Bagaimana aku bisa tega mengganggu pertemuan yang sudah tertunda bertahun-tahun dengan teman masa kecilmu, Tuan Sugara?"

Kata-kata Kaluna terdengar seperti belati yang menusuk ego Andrian. Pria itu menggeleng kuat, ia melangkah maju dan mencoba meraih bahu Kaluna, namun wanita itu sedikit menghindar dengan halus.

"Kaluna, aku masih belum yakin," ucap Andrian sungguh-sungguh, matanya mencari kepastian di dalam netra Kaluna. "Logikaku melihat liontin itu, tapi hatiku... hatiku menolak. Dia bukan orang yang kucari. Dia tidak terasa seperti peri kecil yang ada di ingatanku."

Kaluna terdiam. Mendengar pengakuan itu, ada sedikit rasa lega yang menyelinap di antara sesak di dadanya. Setidaknya, Andrian tidak sebodoh yang ia kira. Keraguan Andrian terhadap Kajayanti memberinya secercah harapan, atau mungkin justru memperumit keadaan.

Jika Andrian memiliki insting sekuat itu untuk mengenali jiwa teman masa kecilnya, apakah mungkin insting Kaluna tentang gelang manik itu juga salah? Ataukah pria di depannya ini memang memiliki dua sisi, seorang pelindung di masa kecil, namun berubah menjadi sosok yang mengerikan di malam kematian ibunya?

"Jika kau ragu, maka carilah kebenarannya," ujar Kaluna lembut, namun tatapannya tetap menyimpan jarak. "Tapi ingat, kebenaran seringkali lebih menyakitkan daripada kebohongan yang manis."

Andrian mengerutkan kening, merasa ada makna ganda dalam ucapan istrinya. "Apa maksudmu? Kau tahu sesuatu?"

Kaluna tidak menjawab. Ia hanya menyentuh saku gaunnya, di mana gelang manik itu tersimpan. Keraguan Andrian tentang Kajayanti menjadi bahan bakar baginya untuk terus menyelidiki.

Ia harus memastikan, apakah gelang itu jatuh di tangan orang yang salah, ataukah pria yang ia cintai ini benar-benar menyimpan sisi gelap yang tak termaafkan?

"Sudah malam, Tuan Sugara. Kau harus istirahat," pungkas Kaluna sambil berjalan melewati Andrian, meninggalkan pria itu berdiri sendirian di koridor.

Kaluna terus melangkah tanpa menoleh lagi, membiarkan keheningan lorong menelan suaranya. Langkah kakinya yang anggun dan ritmis terdengar menjauh, meninggalkan Andrian yang masih berdiri mematung di tempatnya.

Andrian memperhatikan punggung Kaluna hingga wanita itu menghilang di balik pintu kamar. Alih-alih merasa kesal karena diabaikan, sebuah senyum tipis, senyum yang jarang sekali ia tunjukkan kepada siapa pun, perlahan merekah di wajah tegasnya.

Bagi pria sedingin Andrian, sikap dingin Kaluna malam ini justru menjadi oase di tengah kekacauan pikirannya.

"Kau cemburu, Kaluna..." batin Andrian.

Di matanya, sikap menjauh dan kata-kata tajam Kaluna tadi bukanlah bentuk kebencian, melainkan manifestasi dari rasa kepemilikan. Andrian merasa bahwa Kaluna sedang terganggu karena kehadirannya sempat terbagi dengan Kajayanti. Pikiran itu membuat hatinya yang tadinya sesak karena liontin tersebut, mendadak terasa ringan dan berbunga-bunga.

Ia merasa menang. Baginya, kecemburuan Kaluna adalah bukti paling valid bahwa wanita itu benar-benar telah jatuh hati padanya, melampaui segala batasan kontrak atau formalitas hubungan mereka selama ini.

Andrian memasukkan tangannya ke dalam saku, menyentuh liontin pemberian Kajayanti dengan remeh. Meskipun benda itu ada padanya, perhatian Andrian kini sepenuhnya tertuju pada bagaimana cara membujuk.

"Istriku sedang merajuk, aku harus memikirkan cara untuk membuatnya tidak marah lagi," tutur Andrian sambil tersenyum.

Namun, Andrian tidak tahu bahwa di balik pintu kamar yang tertutup itu, Kaluna tidak sedang merajuk karena cemburu. Ia sedang duduk di tepi ranjang dengan napas yang masih berat, mengeluarkan gelang manik dari sakunya dan menatapnya dengan pandangan yang kosong.

Jika Andrian berbunga-bunga karena merasa dicintai, Kaluna justru sedang merakit bom waktu yang siap meledakkan kebahagiaan pria itu kapan saja.

"Sial!" gumam seseorang dari kejauhan dengan kesal.

Kajayanti yang masih berdiri di balik bayangan dinding koridor mencengkeram kain gaun tidurnya. Giginya terkatup rapat menyaksikan senyuman bodoh di wajah Andrian. Ia mengharapkan kekacauan, namun yang ia lihat justru sebaliknya.

Andrian tampak seperti pria yang baru saja memenangkan lotre hanya karena melihat istrinya merajuk.

"Sialan kau, Andrian," desis Kajayanti pelan. "Bagaimana bisa kau begitu buta? Aku sudah membawakanmu kunci masa lalumu, tapi matamu tetap saja mencari wanita itu."

Namun, kekesalan itu tidak bertahan lama. Detik berikutnya, Kajayanti kembali menegakkan kepalanya. Ia mengingat ekspresi hancur Kaluna di gudang tadi, mengingat bagaimana napas kakaknya itu tersengal saat menggenggam gelang manik-manik yang menjadi saksi bisu kematian ibunya.

"Silakan saja, Andrian. Berusahalah sekeras mungkin untuk mencairkan hatinya," gumamnya dengan nada mengejek. "Kau tidak tahu bahwa semakin kau mendekatinya, semakin Kaluna akan merasa tercekik oleh bayangan kematian ibunya yang ada pada dirimu."

Kajayanti tahu, selama gelang itu ada di tangan Kaluna, dan selama Kaluna percaya bahwa pemuda pemakai gelang itu adalah Andrian, maka cinta mereka hanyalah sebuah bom waktu. Tidak peduli seberapa manis Andrian bersikap, Kaluna akan selalu melihat seorang pembunuh setiap kali ia menatap mata suaminya.

"Nikmatilah bunga-bunga di hatimu itu sementara waktu, Kakak Ipar," ucap Kajayanti sambil berbalik menuju kamarnya dengan langkah angkuh. "Karena saat kenyataan pahit itu meledak, aku akan ada di sana untuk memungut sisa-sisa kehancuranmu."

Malam itu, di bawah satu atap Cassavanos, tiga orang terjaga dengan isi kepala yang saling bertolak belakang.

Andrian dengan cinta yang mulai mekar, Kajayanti dengan rencana busuknya, dan Kaluna yang sedang bertarung dengan rasa benci di tengah rasa cintanya yang hancur.

...

Pagi itu, suasana di kantor pusat Sugara Group sangat terkendali namun intens. Di ruang kerja pribadinya yang luas, Andrian berdiri menghadap jendela besar yang menampilkan hiruk-pikuk kota, sementara Praka berdiri di depannya dengan setumpuk berkas yang telah disusun rapi.

"Sidang perdana terhadap Marisa akan digelar dalam beberapa hari, Tuan Sugara," ujar Praka. "Semua celah hukum telah kututup. Kita harus memastikan Marisa mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama. Jika perlu, dia tidak akan pernah melihat dunia luar lagi seumur hidupnya."

Andrian berbalik, tatapannya tajam dan tegas. "Tentu. Kita memiliki semua bukti kuat untuk menjeratnya. Dia bukan hanya mencoba menghancurkan Ameertha atau Sugara Group, tapi motif utamanya jauh lebih gelap."

Andrian melangkah ke meja kerjanya, menyentuh map yang berisi kronologi kejahatan Marisa. "Dia sudah mencoba mencelakai Kaluna sejak Kaluna masih kecil. Semua perundungan, upaya sabotase, hingga ancaman-ancaman yang ia lakukan selama bertahun-tahun... kita punya buktinya sekarang. Fakta bahwa dia melakukan ini secara sistematis terhadap seorang anak akan memberatkan kasusnya secara signifikan. Hakim tidak akan memberinya ampun."

"Maksudmu...," ujar Praka, namun tak dia lanjutkan.

"Kita punya bukti tentang penyerahan paksa itu, Praka," ujar Andrian dengan nada rendah yang penuh amarah. "Rekaman penyiksaan itu, eksperimen gila di mana mereka menjadikan Kaluna sebagai kelinci percobaan... aku akan menyerahkan semuanya di ruang sidang nanti. Dunia harus tahu betapa iblisnya Marisa. Itu akan memastikan dia tidak akan pernah keluar dari sana."

"Tidak, Tuan Sugara. Aku tidak setuju," potong Praka dengan nada tegas, mengabaikan hierarki di antara mereka saat ini.

Andrian mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Itu bukti paling kuat yang kita punya!"