Suasana di ruang kerja Andrian mendadak tegang. Praka menatap Andrian dengan sorot mata yang tidak setuju, bahkan cenderung konfrontatif.
Ia tahu persis dokumen apa yang dimaksud Andrian, berkas-berkas yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun sebelum Kaluna menikah, yang berisi kengerian di balik dinding pusat rehabilitasi bodong tempat Marisa membuang Kaluna.
"Jika semudah itu, aku sudah menyerahkannya ke polisi sejak awal, bahkan sebelum kau mengenal Kaluna," sahut Praka, suaranya bergetar menahan emosi. "Membuka bukti itu di ruang sidang yang terbuka untuk publik hanya akan menguliti kembali luka lama Kaluna. Kita ingin menghukum Marisa, tapi secara tidak langsung kita akan menghancurkan emosi Kaluna lagi."
Praka melangkah lebih dekat, menatap Andrian tepat di mata. "Kaluna sudah berjuang setengah mati untuk mengubur trauma sebagai kelinci percobaan itu. Jika rekaman penyiksaan itu diputar dan menjadi konsumsi publik, dia akan hancur. Emosinya belum stabil, Tuan Sugara. Jangan hanya memikirkan cara membalas dendam, tapi kita juga harus memikirkan bagaimana caranya Kaluna tetap bisa berdiri tegak setelah sidang ini berakhir."
Andrian terdiam. Ia mengepalkan tangannya di atas meja. Di satu sisi, ia ingin Marisa membayar setiap detik penderitaan Kaluna dengan hukuman maksimal. Namun, di sisi lain, peringatan Praka adalah kebenaran pahit yang tidak bisa ia bantah.
"Dampaknya akan sangat buruk bagi kesehatan mentalnya," lanjut Praka lebih lunak. "Jangan jadikan luka Kaluna sebagai peluru untuk senjatamu, Tuan Sugara."
Andrian menghela napas panjang, bayangan Kaluna yang rapuh kembali melintas. Ia baru menyadari bahwa dalam keinginannya untuk melindungi, ia hampir saja menjadi sosok yang kembali melukai istrinya sendiri.
Tapi kemudian, Andrian menggeleng tegas, matanya berkilat penuh keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia menatap Praka tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Kau salah, Tuan Praka," ujar Andrian dengan suara berat dan mantap. "Kaluna bukan lagi gadis kecil yang rapuh di dalam sel rehabilitasi itu. Dia sudah sembuh, dia telah menjelma menjadi wanita yang tegar. Dan satu hal yang perlu kau pahami, hanya dengan menuntaskan dendamnya dan menyeret semua pelakunya ke dasar kehancuran, Kaluna akan benar-benar bebas dari bayang-bayang itu."
Andrian melangkah maju, suaranya merendah namun tajam. "Menyembunyikan luka tidak akan menyembuhkannya, Tuan Praka. Itu hanya akan membuatnya membusuk di dalam. Aku akan menggunakan bukti ini untuk memastikan Marisa tamat, dan aku sendiri yang akan memegang tangan Kaluna saat dia menghadapi kenyataan itu di ruang sidang. Dia tidak akan hancur, karena ada aku di sampingnya."
Ruangan itu hening sejenak. Praka menatap Andrian dalam-dalam, mencari celah keraguan, namun ia hanya menemukan tekad baja seorang pria yang benar-benar mencintai istrinya dengan cara yang berani.
Perlahan, ketegangan di bahu Praka mencair. Sebuah senyum tipis, namun penuh rasa hormat, muncul di wajahnya. Ia menghela napas panjang, lalu melangkah maju dan menepuk pundak Andrian dengan mantap.
"Pilihanku untuk menyerahkan bukti-bukti itu kepadamu memang tidak pernah salah, Tuan Sugara," ucap Praka tulus. "Selama ini aku terlalu protektif hingga hampir menghalangi keadilan bagi Kaluna sendiri. Aku yakin, kau bisa menemukan cara yang tepat untuk menggunakan pedang ini tanpa melukai tangannya."
Praka melepaskan tepukannya. "Lakukan apa yang harus kau lakukan. Aku akan berada di garis belakang untuk mengamankan opini publik agar tidak ada yang berani meremehkan Kaluna setelah fakta ini terungkap."
Andrian mengangguk kecil, menggenggam flashdisk itu erat. "Terima kasih, Praka. Sekarang, mari kita siapkan panggung untuk kehancuran Marisa."
Sementara Andrian menyiapkan serangan hukum, Kaluna di rumah mulai merasakan tekanan dari Kajayanti.
Suasana di ruang tengah kediaman Cassavanos mendadak mencekam. Kajayanti berdiri di depan Kaluna dengan senyum kemenangan yang memuakkan, membisikkan kata-kata yang membakar telinga.
"Jangan terlalu nyaman di pelukannya, Kaluna," bisik Kajayanti tajam. "Bagaimana pun juga, Andrian adalah pria yang membunuh ibumu. Apa kau sanggup tidur seranjang dengan pembunuh?"
Kajayanti melihat reaksi Kaluna yang tak menanggapi malah merasa di atas angin. Ia melangkah maju, memperpendek jarak hingga napasnya yang berbau parfum manis terasa di telinga Kaluna. Ia sengaja merendahkan suaranya, namun setiap kata yang keluar terasa seperti silet yang mengiris luka lama.
"Kenapa diam, Kakakku tersayang? Apa kau sedang membayangkan wajah Ibu di detik-detik terakhirnya saat pria yang kau puja itu berdiri di depannya? Bayangkan, Kaluna... tangan yang semalam menyentuhmu dengan lembut, mungkin adalah tangan yang sama yang membuat Ibu sesak napas sampai mati."
Kajayanti tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Kaluna.
"Kasihan sekali kau. Menikahi pria hanya untuk menyadari bahwa kau sedang menyerahkan tubuh dan hatimu pada iblis yang menghancurkan hidupmu. Apa kau tidak merasa berdosa setiap kali dia menciummu? Rasanya pasti seperti mengkhianati nisan Ibumu setiap detik, bukan?"
Kaluna mengepalkan tinjunya hingga kukunya memutih. "Tutup mulutmu, Kajayanti!"
"Oh, kau marah? Atau kau malu?" Kajayanti tidak berhenti, ia justru semakin menjadi-jadi. "Kau selalu merasa paling hebat, paling cerdas sebagai CEO. Tapi nyatanya, kau hanya wanita malang yang tidur dengan pembunuh ibunya sendiri. Kau membiarkan dia menyentuhmu, mencintaimu... sementara roh Ibu mungkin menangis melihat anak perempuannya begitu rendah."
Kalimat terakhir itu meruntuhkan pertahanan Kaluna. Penghinaan terhadap ibunya dan harga dirinya sebagai seorang wanita meledak seketika.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Kajayanti hingga tubuhnya terlempar ke belakang. Kaluna terengah, amarahnya sudah di ubun-ubun karena merasa provokasi Kajayanti sudah keterlaluan.
Namun, tepat saat Kajayanti akan jatuh, pintu utama terbuka. Andrian melangkah masuk dan dengan sigap menangkap tubuh Kajayanti, membiarkan wanita itu bersandar di dadanya.
Andrian menyaksikan tamparan itu, namun alih-alih marah, kilatan jenaka muncul di matanya. Ia melihat napas Kaluna yang memburu dan wajahnya yang merah padam. Dalam logika Andrian yang sedang berbunga-bunga, ini adalah puncak kecemburuan Kaluna yang sangat manis.
"Kau kasar sekali hari ini, Kaluna," ujar Andrian dengan nada yang dibuat-buat tenang.
Ia menoleh pada Kajayanti yang mulai bersandiwara menangis di pelukannya.
Bukannya melepaskan, Andrian justru mempererat rangkulannya. Ia mengambil buket bunga mawar cantik yang sebenarnya ia beli khusus untuk merayu Kaluna, lalu dengan sengaja memberikannya kepada Kajayanti.
"Ini untukmu, Kajayanti. Sepertinya kau lebih membutuhkannya untuk menenangkan diri," ucap Andrian sambil mengusap air mata palsu di pipi Kajayanti.
Kaluna terpaku, matanya menatap tidak percaya pada bunga yang seharusnya miliknya itu.
"Mungkin kau butuh waktu untuk mendinginkan kepalamu di kamar," kata Andrian santai, sengaja memancing reaksi lebih jauh.
Kajayanti tersenyum penuh kemenangan di balik dada Andrian. Ia merasa rencananya berhasil. Namun ia tidak tahu bahwa Andrian sedang bermain api.
Andrian mengira ia sedang menggoda istrinya agar semakin cinta, sementara Kaluna sedang berjuang menahan diri agar tidak meledakkan rahasia tentang gelang manik itu sekarang juga.