Drama

Sembilan Puluh Sembilan Pukulan

Penulis Yoonna
11 January 2026

Kaluna tetap berdiri tegak di tengah ruangan yang mendadak terasa begitu luas dan dingin. Ia tidak mengejar, tidak juga berteriak. Matanya hanya mengikuti gerak-gerik Andrian yang kini menuntun Kajayanti menuju sofa.

Ia melihat bagaimana tangan Andrian berada di bahu adit tirinya itu, dan bagaimana Kajayanti terus merengek pelan, sengaja menunjukkan kerapuhan yang dibuat-buat agar perhatian Andrian tak beralih.

Sakitnya tidak lagi berupa ledakan amarah, melainkan rasa sesak yang membeku.

"Aku salah, Tuan Sugara," batin Kaluna sambil memalingkan wajah, tak sanggup lagi melihat pemandangan itu. "Tak seharusnya aku membiarkan isi kepalaku berpikir bahwa kau memang telah jatuh hati padaku. Mungkin, hanya aku yang berpikir seperti itu."

Kaluna menertawakan dirinya sendiri di dalam hati. Betapa naifnya ia sempat berpikir bahwa cinta Andrian bisa menjadi penawar bagi luka masa lalunya. Kenyataannya, pria itu dengan begitu mudah memberikan perhatiannya kepada wanita yang baru saja menghina martabat ibunya itu.

Andrian, yang sebenarnya sedang menunggu reaksi meledak-ledak dari Kaluna agar ia punya alasan untuk mendekap istrinya dan menggoda rasa cemburunya, mulai merasa ada yang tidak beres. Kaluna terlalu diam. Keheningan istrinya itu terasa jauh lebih mengerikan daripada tamparan yang mendarat di pipi Kajayanti tadi.

Dari sudut matanya, Andrian melihat Kaluna menarik napas panjang, lalu merapikan gaunnya dengan sangat tenang.

"Dia tidak marah?" tanya Andrian dalam hatinya.

Kaluna berbalik, langkah kakinya terdengar tegas namun menyimpan getaran luka yang dalam saat melewati lantai marmer itu. Tanpa sepatah kata pun, ia malah melangkah keluar rumah.

Melihat Kaluna benar-benar pergi dengan sorot mata yang kosong, Andrian tersentak. Kesadaran menghantamnya seperti godam berat, ini bukan lagi sekadar permainan cemburu yang manis. Ini adalah keretakan nyata.

"Kaluna! Tunggu!" seru Andrian.

Ia hendak berlari mengejar, namun tangan Kajayanti mencengkeram lengannya dengan kuat, tubuhnya sengaja disandarkan sepenuhnya pada Andrian.

"Kakak, jangan... biarkan dia sendiri. Dia sedang emosi, kau hanya akan memperburuk suasana. Aku masih merasa pusing, tolong aku dulu—"

"Cukup, Kajayanti!"

Andrian menghentakkan tangannya dengan kasar hingga cengkeraman Kajayanti terlepas. Wajah pria itu yang tadinya terlihat santai kini berubah menjadi sangat dingin dan menakutkan. Matanya menatap Kajayanti dengan amarah yang meledak.

"Jangan pernah berpikir karena kau memegang liontin itu, kau bisa mengatur hidupku! tentang masa kecil kita, kau hanya seorang adik bagiku! Jangan pernah berharap lebih," maki Andrian dengan suara menggelegar yang membuat Kajayanti menciut ketakutan.

Tanpa memedulikan Kajayanti yang terpaku karena makiannya, Andrian berlari keluar rumah. Matanya menyapu halaman luas kediaman Cassavanos.

"Kaluna!" teriaknya, tapi Kaluna sudah raib dari sana.

Andrian masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah gontai. Dadanya masih bergemuruh, namun rasa percaya diri bahwa ini hanyalah drama kecemburuan, mulai terkikis oleh keheningan yang ditinggalkan Kaluna.

Tapi, tanpa dia sadari, sebuah mobil van hitam baru saja melesat pergi membawa istrinya yang tak sadarkan diri. Dalam benak Andrian, Kaluna mungkin hanya pergi ke apartemen lamanya atau ke rumah salah satu rekannya untuk menenangkan diri.

"Biarkan saja dia pergi dulu," pikir Andrian. "Nanti dia akan pulang, setelah dia tenang, aku akan menjelaskan semuanya dan membuat dia mengerti bahwa Kajayanti tidak lebih dari sekadar tanggung jawab masa lalu."

Malam mulai menjelma. Di balik kegelapan, Andrian masih menunggu kepulangan Kaluna, tapi belum juga mendapatkan tanda-tanda kedatangan istrinya.

"Apa aku begitu keterlaluan? Kaluna, ke mana kau pergi?" keluh Andrian sambil mengusap wajahnya yang memanas.

"Tuan Muda, saya dan anak buah saya akan mencari Nona Kaluna," ujar Leon yang berdiri di hadapannya.

"Nanti saja Leon, kita tunggu sebentar lagi. Dia sedang marah, keadaan akan semakin buruk jika tiba-tiba kau menjemputnya," tahan Andrian.

Leon hanya mengangguk, mengikuti keinginan Tuan Muda nya itu.

Kajayanti berdiri di sudut ruangan, memperhatikan Andrian yang kini duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Pria itu tampak frustrasi, namun masih belum menyadari bahaya yang sebenarnya.

"Kakak..." panggil Kajayanti dengan suara yang dibuat selembut mungkin, seolah-olah dia baru saja tidak dimaki habis-habisan. "Mungkin dia hanya butuh waktu. Kau tahu sendiri, emosi Kaluna seringkali tidak stabil."

Andrian tidak menjawab. Ia menatap buket mawar yang kini tergeletak sembarang di atas meja, sebagian kelopaknya gugur. Ironis. Bunga yang ia harapkan menjadi jembatan cinta, justru menjadi tembok besar yang memisahkan mereka malam ini.

Andrian bangkit berdiri tanpa melihat ke arah Kajayanti. "Jangan ganggu aku dulu!"

Kajayanti hanya mengangguk patuh, namun di dalam hatinya ia tertawa terbahak-bahak.

"Tidurlah yang nyenyak, Andrian Sugara," batin Kajayanti dengan sorot mata yang mengerikan. "Tidurlah sementara istrimu sedang bertaruh nyawa di tangan orang-orang suruhanku. Besok pagi, kau tidak akan menemukan Kaluna yang cemburu, kau hanya akan menemukan penyesalan yang akan menghantuimu seumur hidup."

Kajayanti kembali ke kamarnya, menutup pintu, dan mengirim pesan singkat terakhir kepada sang eksekutor.

"Jangan biarkan dia bicara. Buang dia di tempat yang jauh!"

Malam semakin larut di kediaman Cassavanos. Andrian tertidur di kursi ruang kerjanya dengan sisa-sisa senyuman pahit, masih mengira Kaluna hanya sedang merajuk.

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, Kaluna mulai terbangun di dalam kegelapan yang pengap, tangan terikat, dan sebuah kenyataan pahit menantinya, bahwa perlindungan yang dijanjikan Andrian ternyata hanyalah sebuah ilusi yang mematikan.

Kesadaran Kaluna pulih secara paksa saat rasa perih yang luar biasa menghantam bahunya. Ia terengah, matanya yang masih buram karena pengaruh obat bius mencoba fokus pada siluet tiga pria bertubuh besar yang berdiri di sekelilingnya di dalam gudang tua yang pengap itu.

Salah satu pria, yang tampak seperti pemimpin kelompok, baru saja menurunkan ponsel dari telinganya. Ia menyeringai ke arah Kaluna dengan tatapan yang sangat merendahkan.

"Baik, Tuan Muda!" ujar pria itu ke arah ponselnya sebelum mematikan sambungan.

Ia menoleh pada rekan-rekannya sambil tertawa kecil yang terdengar sangat menyeramkan di telinga Kaluna.

"Nona ini telah memukul Nona Kecil Tuan Muda satu kali. Tuan Muda meminta kita membalasnya dengan memukulnya sembilan puluh sembilan kali agar rasanya impas!" ujar pria itu.

"Wah, itu sangat menyenangkan," sahut pria lain sambil memainkan sebuah cambuk kulit di tangannya.

Tawa mereka yang renyah menggema di dinding-dinding gudang, menciptakan atmosfer kematian yang nyata.

Kaluna mencoba membuka suara, tenggorokannya terasa kering dan lidahnya kelu. "Tuan... Muda..."

"CETARRR!"

Belum sempat Kaluna menyelesaikan kalimatnya, cambuk itu telah melesat dan mendarat telak di lengannya. Rasa panas dan perih yang tak tertahankan menjalar ke seluruh sarafnya. Kaluna menjerit tertahan, tubuhnya mengejang di atas kursi besi tempat ia terikat.

"Itu baru satu, Nona," desis pria itu sambil menarik kembali cambuknya. "Masih ada sembilan puluh delapan lagi. Sebaiknya kau simpan tenagamu untuk berteriak nanti."

Kaluna memejamkan mata rapat-rapat, keringat dingin bercucuran di dahinya. Otaknya yang cerdas mencoba memproses informasi di tengah rasa sakit. Tuan Muda? Nona Kecil?

"Tuan Sugara... benarkah kau sekejam ini?" batin Kaluna hancur.