Drama

Praka Sang Pelindung

Penulis Yoonna
11 January 2026

"CETARRR!"

Pukulan kedua mendarat di punggungnya. Kaluna menggigit bibirnya hingga berdarah, berusaha tidak memberikan kepuasan pada mereka dengan tangisannya. Di dalam sakunya, tangan Kaluna yang terikat masih mencoba menyentuh gelang manik itu, satu-satunya benda yang kini menjadi simbol kebenciannya pada dunia yang mengkhianatinya.

Pukulan demi pukulan terus menghujam tubuh Kaluna. Setiap lecutan cambuk itu terasa seperti membakar kulitnya, mengoyak kesadarannya hingga ke titik nadir.

"Ha-ha-ha! Ayolah Nona, kau sangat garang di luar sana. Belum setengah yang kau dapat, kau sudah ingin menyerah?" ujar pria yang terus mencambuknya itu.

Pada pukulan ke-tigapuluh, tubuh Kaluna terkulai lemas di kursi besi. Kepalanya tertunduk, napasnya pendek dan putus-putus. Pandangannya mulai mengabur, dunianya perlahan meredup menjadi kegelapan yang sunyi.

"Tuan Sugara... mungkinkah kau berubah secepat itu. Kau... kau selalu melindungi dari iblis itu, bahkan saat aku mampu menghadapinya sediri. Sekarang, berkat gelar peri palsu yang dia curi dariku, kau sampai membalas satu kali pukulanku dengan sembilan puluh sembilan pukulan padaku," batin Kaluna yang sudah tidak mampu bersuara lagi.

Di hadapannya, para pria itu justru semakin liar. Mereka tertawa terbahak-bahak, menikmati setiap rintihan yang keluar dari mulut Kaluna seolah-olah itu adalah musik yang indah.

"Ayo, bangun Nona! Masih ada enam puluh sembilan lagi! Jangan mati secepat itu!" ejek sang pemimpin sambil kembali mengayunkan cambuknya ke udara.

Namun, sebelum ujung cambuk itu kembali menyentuh kulit Kaluna, suara dentuman keras menghancurkan pintu gudang. Sesosok bayangan bergerak secepat kilat, menerjang masuk ke dalam lingkaran cahaya.

"BUGH!"

"BRAK!"

Tanpa peringatan, pria yang memegang cambuk itu terpental jauh setelah sebuah tendangan keras menghantam rahangnya. Dua pria lainnya terperanjat, namun sebelum mereka sempat menarik senjata, sang pendatang baru sudah bergerak dengan kemarahan yang membabi buta.

Pukulan dan hantaman yang presisi menjatuhkan mereka satu per satu ke lantai gudang yang dingin. Suasana yang tadinya penuh tawa kini berubah menjadi rintihan kesakitan para penculik.

Pria itu tidak membuang waktu untuk menghabisi mereka lebih jauh. Ia segera berlutut di depan Kaluna, tangannya yang gemetar karena emosi segera menyentuh wajah Kaluna yang pucat pasi.

"Kaluna... Kaluna, buka matamu!" suara itu parau, penuh dengan rasa bersalah yang mendalam.

Kaluna perlahan membuka matanya yang berat. Di antara kabut kesadarannya, ia melihat wajah yang sangat ia kenal. Bukan Andrian yang datang dengan bunga palsunya, melainkan pria yang selalu ada di bayang-bayang untuk menjaganya.

"Ra-aka..." bisik Kaluna nyaris tak terdengar.

Praka dengan cepat memotong tali yang mengikat tangan Kaluna. Saat ikatan itu terlepas, tubuh Kaluna jatuh ke dalam dekapan Praka. Praka memeluknya dengan sangat erat, seolah ingin membagi kekuatan pada tubuh wanita yang kini penuh luka memar itu.

"Maaf aku terlambat," bisik Praka.

Air mata kemarahan menggenang di sudut matanya saat melihat bekas lecutan di punggung gaun Kaluna yang koyak.

Praka segera melepas jas hitamnya dan menyampirkannya ke bahu Kaluna yang gemetar, menutupi gaun yang telah koyak dan bersimbah darah. Ia mengangkat tubuh Kaluna dengan sangat hati-hati, seolah wanita itu adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja.

Saat Praka hendak melangkah keluar, salah satu penculik yang masih setengah sadar mencoba meraih kakinya. Tanpa menghentikan langkah, Praka menginjak tangan pria itu dengan sepatu pantofelnya hingga terdengar bunyi retakan tulang yang mengerikan. Tatapan Praka tidak lagi seperti manusia, ia adalah malaikat maut yang sedang menggendong hartanya yang paling berharga.

Di dalam mobil yang melesat membelah kegelapan malam, Praka terus menatap Kaluna yang masih terkulai lemas.

"Kenapa kau bisa menemukanku, Raka?" tanya Kaluna dengan suara yang sangat lemah.

"Aku tidak pernah benar-benar melepaskan pengawasanku darimu, Kaluna. Seseorang memberitahu bahwa kau dibawa dengan paksa. Tapi sayangnya, aku telat melacak keberadaanmu, hingga kau terluka seperti ini," jawab Praka jujur.

Kaluna memejamkan mata. Rasa perih di punggungnya mulai mati rasa, berganti dengan kekosongan di hatinya.

"Andrian menginginkan sembilan puluh sembilan cambukan untuk satu tamparanku pada Kajayanti. Dia tidak pernah mencintaiku, Praka. Aku hanya mainan untuk menebus rasa bersalahnya pada masa lalu."

Praka terdiam. Ia tahu ada sesuatu yang janggal. Andrian Sugara mungkin sombong dan arogan, tapi pria itu tidak sebodoh ini. Namun, melihat kondisi Kaluna yang hancur, Praka memutuskan untuk tidak membela siapa pun.

Di bawah lampu jalan yang remang-remang di dalam mobil, Kaluna kembali berbisik dengan suara yang nyaris hilang, "Raka, tolong bawa aku pulang... ke rumah Cassavanos."

Praka menginjak rem dengan mendadak, menatap Kaluna dengan tatapan tidak percaya. "Bagaimana mungkin kau pulang dengan kondisi hancur seperti ini, Kaluna? Punggungmu... luka-luka itu butuh perawatan medis, bukan sandiwara di rumah itu!"

Napas Praka memburu, tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih. "Kajayanti itu... dia benar-benar duri di dalam daging. Aku akan ke sana sekarang, menyeretnya keluar dari rumah Cassavanos dengan tanganku sendiri. Dia harus membayar setiap tetes darahmu!"

"Jangan!" Kaluna menahan lengan Praka, meski gerakan itu membuat wajahnya meringis menahan perih yang luar biasa di punggungnya. "Tidak mungkin dia akan keluar semudah itu, Raka. Jangan gegabah. Apalagi sekarang Nyonya Alivia sepenuhnya memihak padanya. Kau hanya akan masuk ke dalam jebakan mereka."

"Lalu kau mau aku diam saja melihatmu sekarat di sana?" tanya Praka, suaranya naik satu oktav karena frustrasi dan rasa bersalah.

Kaluna menyandarkan kepalanya yang berat ke kursi, matanya menatap kosong ke depan.

"Aku masih bisa menghadapinya. Lagipula... Tuan Sugara pernah berjanji padaku. Jika Kajayanti masih menyulitkanku, dia sendiri yang akan membawaku pergi dari rumah itu."

Kaluna tersenyum getir, teringat cambukan tadi.

"Entah janji itu masih berlaku atau tidak setelah apa yang terjadi hari ini, tapi aku tahu Tuan Sugara bukan orang yang mudah mengabaikan sumpahnya. Aku akan memegang janji itu sebagai senjataku."

Ia menarik napas panjang yang terasa sesak. "Lagi pula, aku tidak boleh keluar dari rumah itu secepat ini, Raka. Tujuan kita... semua rahasia puluhan tahun yang lalu tertanam di fondasi rumah itu. Jika aku pergi sekarang, pintu menuju kebenaran itu akan tertutup selamanya. Aku tidak akan membiarkan pengorbananku, dan cambukan ini menjadi sia-sia."

Praka terdiam. Ia melihat api yang masih menyala di mata Kaluna yang meredup. Perlahan, amarahnya melunak menjadi kekaguman yang menyakitkan. Ia mengangguk pelan, mengerti bahwa bagi Kaluna, misi ini lebih berharga daripada nyawanya sendiri.

"Baiklah," bisik Praka lirih. "Tapi jika mereka menyentuhmu sekali lagi... aku tidak akan meminta izinmu untuk meratakan tempat itu."

Hening sejenak menyelimuti kabin mobil yang dingin. Kaluna memejamkan matanya, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang kian menipis.

"Raka..." panggilnya pelan. "Bagaimana kondisi Ayah?"

Praka memalingkan wajah, menatap lurus ke arah kegelapan jalan di depan mereka. "Tuan Kinan baik-baik saja," jawabnya pelan. Ada jeda sejenak sebelum ia melanjutkan, "Dia... sudah mengetahui siapa aku yang sebenarnya."

Kaluna tersentak. Rasa sakit di punggungnya seolah teralihkan oleh keterkejutan yang menghantam dadanya. "Lalu? Bagaimana reaksinya?"

"Seperti yang kita bayangkan selama ini," Praka mengepalkan tangan di atas kemudi. "Dia seolah kehilangan sebagian kekuatannya setelah menyadari siapa aku. Pria tangguh itu mendadak tampak begitu rapuh. Mengetahui identitasku sama saja dengan membuka kembali luka lama yang berusaha ia kubur."

Kaluna memejamkan mata rapat-rapat. Ia bisa membayangkan guncangan batin yang dialami ayahnya. Namun, di tengah napasnya yang pendek, ia mencoba meraih tangan Praka, memberikan remasan kecil yang lemah namun berarti.

"Aku tahu, Raka," bisik Kaluna tulus. "Kau melakukan apa yang menurutmu benar. Mengungkap kebenaran memang selalu berisiko."

Praka menoleh, menatap wajah Kaluna yang bersimbah keringat dingin. Rasa bersalah masih jelas terpeta di wajahnya, namun kata-kata Kaluna sedikit memberikan ketenangan.

"Raka... pastikan Ayah tetap baik-baik saja," lanjut Kaluna dengan nada memohon. "Sampai keadaan ini berbalik. Aku harus bertahan di rumah Cassavanos sedikit lebih lama lagi."

Praka menghela napas panjang, lalu mengangguk mantap.