Pukul tiga dini hari, Andrian terjaga dengan napas terengah. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas. Ia melirik jam di dinding dan Kaluna belum juga kembali. Perasaan tidak enak yang sejak tadi coba ia tekan kini menyeruak naik, mencekik logikanya.
"Tidak mungkin dia pergi selama ini hanya karena cemburu," gumam Andrian.
Ia mengambil ponselnya, mencoba menghubungi nomor Kaluna untuk yang keseratus kalinya. Tetap tidak ada jawaban.
Ia bergegas keluar menuju kamar tamu tempat Kajayanti menginap. Tanpa mengetuk, ia mendobrak pintu itu. Kajayanti terperanjat, berpura-pura baru bangun dari tidur lelapnya.
"Kakak? Ada apa? Kau mengejutkanku," tanya Kajayanti dengan wajah polos.
Andrian mencengkeram bahu Kajayanti, matanya berkilat penuh kecurigaan. "Kajayanti, jujur padaku. Apa yang kau lakukan? Ke mana Kaluna?"
"Aku tidak tahu! Kenapa kau menanyakannya padaku?" Kajayanti mulai menangis, sebuah senjata yang selalu berhasil. "Mungkin dia pergi dengan pria lain? Kau tahu sendiri dia tidak bahagia bersamamu setelah kejadian tadi..."
"Diam!" bentak Andrian.
Ia melepaskan cengkeramannya dan segera menghubungi Leon melalui interkom. "Leon! Lacak mobil yang keluar dari gerbang setelah Kaluna pergi. Sekarang juga! Dan periksa semua rekaman CCTV jalan raya!"
Penyesalan mulai merayap di punggung Andrian. Ia ingat betapa dinginnya tatapan terakhir Kaluna. Ia ingin bermain api dengan rasa cemburu, namun tampaknya ia justru telah membakar seluruh rumahnya sendiri.
Saat hendak melacak keberadaan Kaluna, langkah Leon terhenti seketika. Sorot lampu mobil yang masuk ke halaman Cassavanos memecah kegelapan dini hari itu. Penjaga gerbang segera membuka jalur, dan mobil hitam itu meluncur berhenti tepat di depan teras utama.
"Tuan Muda, Nona Kaluna..." ujar Leon pelan.
Andrian, yang sudah berada di aula bawah, langsung menghambur keluar. Di belakangnya, Kajayanti berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh selidik dan kecemasan yang tersembunyi.
Pintu mobil terbuka. Praka keluar dengan wajah datar yang sedingin es. Ia bergerak ke sisi penumpang, membuka pintu, dan membantu Kaluna keluar.
Tubuh Kaluna tampak lunglai, kepalanya terkulai lemah ke arah bahu Praka. Jas hitam Praka tersampir rapat menutupi seluruh punggung Kaluna, menyembunyikan gaun yang koyak dan noda darah yang mulai mengering di baliknya.
"Kaluna!" Andrian mendekat dengan napas memburu.
Melihat kehadiran Andrian, Praka segera melepas rangkulannya pada Kaluna secara perlahan, memastikan wanita itu tetap berdiri meski tampak goyah. Praka tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Andrian dengan tatapan tajam yang sulit diartikan, lalu mundur selangkah.
Kaluna mengeluarkan tawa kecil yang terdengar serak dan tidak fokus. Ia berjalan terhuyung-huyung ke arah Andrian, menyandarkan tubuhnya pada dada pria itu sambil menggumamkan kata-kata yang tidak jelas.
Bau alkohol yang tajam yang sengaja dipercikkan Praka ke jasnya menyengat indra penciuman Andrian.
"Kau... kau mabuk?" tanya Andrian, nada suaranya berubah dari panik menjadi geram. Ia mencengkeram lengan Kaluna, mengira ketidakberdayaan istrinya adalah efek dari minuman keras. "Ke mana saja kau sampai jam segini dan pulang dalam keadaan memalukan seperti ini, Kaluna?!"
Kaluna hanya memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada Andrian. Di balik kelopak matanya yang terpejam, ia mati-matian menahan jeritan karena setiap sentuhan Andrian pada lengannya menarik kulit punggungnya yang terkoyak.
Andrian dengan matanya menyala menatap Praka yang masih berdiri tegak di samping mobil. Rasa cemas yang sempat menghantuinya kini berubah menjadi api cemburu yang membakar harga diri. Melihat istrinya pulang dalam keadaan mabuk adalah penghinaan besar baginya.
Saat Andrian mencoba meraih pinggang Kaluna untuk membawanya masuk, Kaluna justru menepis tangannya dengan gerakan refleks yang kasar. Kaluna memalingkan wajah, menyembunyikan rintihan tertahan di balik rambutnya yang terurai.
"Jangan menyentuhku, urus sana Nona Kecilmu itu..." gumam Kaluna serak, berpura-pura meracau dalam mabuknya.
Andrian mendengus sinis. "Bagus. Kau pergi entah ke mana dan sekarang kau bahkan tidak sudi disentuh suamimu sendiri?"
Andrian mundur selangkah, harga dirinya terluka hebat di depan Kajayanti dan para pengawalnya. Ia menoleh pada Leon.
"Leon! Antar dia ke kamarnya."
Tanpa menoleh lagi, Andrian melangkah masuk ke dalam rumah, sengaja menunjukkan sikap tidak peduli untuk membalas rasa sakit hatinya. Kajayanti tersenyum tipis di kegelapan, merasa menang karena jarak antara Andrian dan Kaluna semakin melebar.
Leon segera mendekat. "Nona, mari saya bantu," ucapnya sopan.
Leon dengan hati-hati memegang lengan Kaluna untuk memapahnya. Namun, saat tangan Leon sedikit menyentuh bagian samping tubuh Kaluna, ia merasakan tubuh wanita itu menegang hebat. Kaluna menarik napas pendek yang tertahan, matanya terpejam rapat dengan kening yang berkerut dalam.
Sebagai orang yang terlatih dalam pengamanan dan bela diri, Leon merasakan ada yang tidak beres. Langkah Kaluna bukan sekadar sempoyongan orang mabuk. Langkahnya kaku, seolah setiap inci gerakannya menarik saraf yang terluka.
Saat mereka melewati anak tangga menuju lantai dua, jas hitam yang tersampir di bahu Kaluna sedikit bergeser. Tangan Leon yang memegang punggung Kaluna untuk menjaga keseimbangannya tiba-tiba merasakan sesuatu yang berbeda.
"Nona, tunggu dulu!" Langkah Leon terhenti saat tangannya menyentuh cairan yang mencurigakan, hangat dan sedikit lengket.
Leon melirik telapak tangannya di bawah cahaya lampu koridor yang lebih terang. Tidak ada warna yang jelas karena jas itu hitam pekat, namun tekstur cairan itu terlalu kental untuk sekadar keringat.
Ia menatap tengkuk Kaluna yang bersimbah keringat dingin, menyadari bahwa wanita ini tidak sedang mabuk, melainkan sedang bertarung nyawa agar tidak pingsan.
"Nona..." bisik Leon pelan agar tidak terdengar Andrian yang berada di ruangan lain. "Anda tidak sedang mabuk, bukan?"
Kaluna hanya menatap Leon dengan mata yang mulai berkabut, lalu menempelkan satu jari di bibirnya yang pucat, memohon diam.
Leon memapah Kaluna masuk ke dalam kamarnya dengan hati-hati. Begitu pintu tertutup, ia segera memanggil seorang pelayan senior untuk membantu Kaluna berganti pakaian. Leon sendiri menunggu di luar pintu, namun kegelisahan terus menggerogoti hatinya. Tekstur lengket yang ia rasakan di tangannya tadi terus membayangi pikirannya.
Di dalam kamar, suasana sunyi itu pecah seketika.
"A-ASTAGA! NYONYA!"
Sebuah teriakan histeris dari sang pelayan mengguncang keheningan lantai dua rumah Cassavanos. Suara itu bukan sekadar teriakan kaget, melainkan pekikan ngeri yang penuh ketakutan.
Tanpa memikirkan etika lagi, Leon mendobrak pintu kamar dan merangsek masuk.
"Ada apa ini?" teriak Leon.
Langkahnya terhenti seketika, wajahnya yang biasanya kaku tanpa ekspresi mendadak pucat pasi.
Pelayan itu terduduk di lantai dengan tangan menutupi mulut, sementara jas hitam Praka tergeletak di samping tempat tidur.
"Nona, kau..." kata Leon dengan bingung.
Di sana, Kaluna terduduk lemas di pinggir ranjang dengan bagian belakang gaun putihnya yang kini telah berubah warna menjadi merah tua yang pekat. Kulit punggungnya yang putih kini hancur, terbelah oleh lecutan-lecutan panjang yang membiru dan mengeluarkan darah segar.
Kaluna sudah tidak mampu lagi bersandiwara. Kepalanya terkulai, napasnya terdengar seperti rintihan kecil yang menyayat hati.
Leon segera menekan earpiece di telinganya dengan tangan gemetar. Suaranya terdengar tajam dan mendesak saat menghubungi Andrian.
"Tuan Muda! Cepat ke kamar Nona Kaluna sekarang!"
Di ujung sana, terdengar suara Andrian yang masih dingin dan kesal. "Ada apa lagi, Leon? Aku bilang aku tidak mau—"
"Nona Kaluna tidak mabuk, Tuan!" potong Leon dengan nada yang hampir membentak, membuat Andrian terdiam di seberang sana. "Dia terluka parah. Tubuhnya hancur oleh bekas luka cambukan. Punggungnya... Nona Kaluna sedang sekarat, Tuan!"