Langkah kaki Andrian terdengar seperti guntur yang memecah keheningan koridor rumah Cassavanos. Ia tidak lagi peduli pada martabat atau rasa cemburunya.
Begitu tiba di depan pintu kamar, ia melihat para pelayan berkerumun dengan wajah pucat dan tangan gemetar.
"Minggir!" teriak Andrian dengan suara menggelegar.
Ia merangsek masuk, menyibak kerumunan itu dengan kasar. Langkahnya terhenti tepat di depan ranjang. Dunianya seolah berhenti berputar.
Di bawah cahaya lampu kamar yang terang, kenyataan itu menghantamnya jauh lebih keras daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Punggung Kaluna yang ramping kini terlihat mengerikan. Kulitnya koyak menjadi bilur-bilur merah keunguan yang saling tumpang tindih.
Andrian kehilangan akal. Lidahnya kelu, dan paru-parunya seolah mendadak kosong. Ia teringat bagaimana beberapa menit lalu ia membentak Kaluna, menuduhnya mabuk, dan menatapnya dengan penuh kebencian. Padahal, saat itu Kaluna sedang bertaruh nyawa menahan perih yang tak terbayangkan hanya untuk pulang kepadanya.
"Kaluna..." suara Andrian pecah, nyaris menyerupai bisikan hancur.
Tanpa memedulikan kemejanya yang akan ternoda darah, Andrian langsung berlutut dan mendekap tubuh Kaluna dengan sangat hati-hati, namun penuh keputusasaan. Ia memeluk bagian depan tubuh Kaluna, menyandarkan kepala wanita itu di dadanya, seolah ingin menyerap semua rasa sakit yang dialami Kaluna ke dalam tubuhnya sendiri.
"Maafkan aku... demi Tuhan, maafkan aku," isak Andrian. Tangannya gemetar saat ia menyadari betapa dinginnya kulit Kaluna. "Siapa yang melakukan ini? Katakan padaku, aku tidak akan membiarkannya melihat matahari besok!"
Kaluna, yang sudah berada di ambang kesadaran, hanya bisa merasakan hangatnya pelukan Andrian yang gemetar. Ia tidak menjawab.
Di tengah rasa sakitnya, mata Kaluna tanpa sengaja menangkap sosok Kajayanti yang berdiri di ambang pintu dengan wajah yang memucat, bukan karena kasihan, melainkan karena ketakutan rahasianya akan terbongkar.
Andrian mendongak, matanya yang memerah karena air mata dan kemarahan menatap Leon. "Panggil tim medis pribadi kita! Sekarang! Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan menghancurkan kalian semua!"
Setelah tim medis menyelesaikan tugas mereka dan memastikan kondisi Kaluna stabil, ketegangan di kamar itu sedikit mereda.
Kaluna kini terbaring telungkup, napasnya teratur di bawah pengaruh obat bius. Dokter memberikan jaminan bahwa meski luka itu terlihat mengerikan, tidak ada organ dalam yang rusak. Dengan perawatan intensif, kulitnya akan pulih kembali.
Andrian keluar dari kamar dengan langkah gulai, kemejanya ternodai bercak darah kering.
Di ujung lorong yang gelap, ia menemukan Praka. Pria itu masih di sana, berdiri menyandarkan punggungnya ke dinding dengan tangan bersedekap, matanya menatap tajam ke arah jendela seolah sedang menunggu badai.
Andrian berhenti beberapa langkah di depan Praka. Suasana di antara mereka sangat dingin.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Praka?" tanya Andrian dengan suara rendah, namun penuh penekanan.
Praka tidak langsung menjawab. Ia menegakkan tubuhnya, menatap Andrian dengan tatapan menghina yang tidak lagi ia sembunyikan.
"Dia tidak diculik oleh orang asing, Tuan Sugara," ucap Praka dingin. "Seseorang dari dalam rumah ini mungkin dengan sengaja menyerahkannya pada serigala di luar sana."
Andrian mengerutkan kening, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu?"
"Sembilan puluh sembilan cambukan," lanjut Praka tanpa memedulikan pertanyaan Andrian. "Itu adalah harga yang harus dibayar Kaluna karena kesalahan kecil atas satu tamparan. Para penculik itu hanya menjalankan perintah. Mereka tertawa saat mencambuknya."
Praka melangkah mendekat, memangkas jarak hingga ia bisa melihat pantulan rasa bersalah di mata Andrian.
"Jika aku terlambat satu menit saja, kau hanya akan menjemput mayatnya. Sekarang tanyakan pada dirimu sendiri, Tuan Sugara... ke mana perginya janji perlindungan yang selalu kau sombongkan itu? Dan siapa peri yang sebenarnya sedang kau pelihara di rumah ini sehingga Kaluna harus menanggung siksaan seperti itu?"
Andrian terdiam membatu. Kata-kata Praka langsung membuat pikirannya melesat pada satu nama, Kajayanti.
Kembali ke kamarnya,
Andrian duduk mematung di sisi tempat tidur, matanya yang sembab tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Kaluna. Di bawah temaram lampu kamar, bayangan lecutan cambuk di punggung istrinya terus berputar di kepalanya bagai mimpi buruk.
Kemarahan yang murni dan dingin mulai menggantikan rasa sedihnya. Ia ingat bagaimana Kajayanti memprovokasinya semalam, bagaimana wanita itu selalu ada untuk menyudutkan Kaluna.
"Peri Kecil..." desis Andrian dengan suara rendah yang sarat akan kebencian.
"Bagaimana bisa, kau dulu adalah seorang peri yang lemah lembut malah berubah menjadi seorang peri jahat berhati iblis?" Andrian mengepalkan tangannya.
Rahangnya mengeras. Ia tidak bisa lagi menahan diri. Andrian berdiri dengan kasar, niatnya sudah bulat untuk menyeret Kajayanti keluar dari kamar tamu dan menuntut keadilan saat itu juga.
Namun, baru satu langkah ia beranjak, sebuah sentuhan dingin dan lemah menahan pergelangan tangannya. Andrian tersentak.
Kaluna telah membuka matanya. Meski kelopak matanya tampak berat dan bibirnya masih pecah-pecah, cengkeraman tangannya pada Andrian terasa begitu mendesak.
"Jangan..." bisik Kaluna, suaranya nyaris hilang, serak karena keringat dan rasa sakit.
"Kaluna? Kau sudah bangun? Jangan bergerak, lukamu—"
"Jangan pergi kepadanya lagi, Tuan Sugara," potong Kaluna dengan napas yang tersengal.
Ia berusaha menarik napas dalam, meski itu membuat punggungnya terasa seperti disayat kembali.
Andrian kembali berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Kaluna dengan kedua tangannya. "Dia hampir membunuhmu, Kaluna! Bagaimana bisa kau memintaku diam setelah melihat apa yang mereka lakukan padamu?"
Kaluna menggeleng pelan, sebutir air mata jatuh di sudut matanya. "Jangan sekarang, Tuan Sugara. Bagaimanapun, dia adalah teman masa kecil yang selama ini kau cari," ujar Kaluna dengan susah payah.
"Saat seseorang menyakitimu, aku tidak akan lagi peduli dia siapa, Kaluna!" sahut Andrian.
"Tuan Sugara," panggil Kaluna yang secara refleks membuat Andrian duduk mendekat kepadanya.
"Walaupun, dia adalah orang yang selama ini kau cari, tapi tolong jangan abaikan aku karenanya. Kau itu milikku, aku tidak ingin siapapun menyentuhmu," keluh Kaluna.
Kaluna menatap suaminya dengan tatapan yang begitu tajam sekaligus rapuh.
Andrian terpaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia mengira Kaluna akan menangis atau menuntut balas dendam, namun wanita itu justru menunjukkan ketenangan dan rasa kepemilikan yang mutlak.
"Jangan... pergi dariku," bisik Kaluna dengan suara serak, namun matanya menatap lurus ke dalam manik mata Andrian.
"Kaluna, kau ini berbicara apa? Siapapun dia, aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku mencintaimu, Kaluna!" bisik Andrian, matang.
Andrian terdiam lama. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan cara Kaluna berbicara, namun melihat kondisi istrinya, secara tidak sadar, dia juga malah mengungkapkan perasaannya pada Kaluna.
Andrian kemudian menyadari, Kaluna masih dalam pengaruh bius dan secara tidak sadar telah mengatakan apa yang ingin dia katakan. Andrian menyunggingkan sedikit senyuman, atas perasaannya yang baru saja terjawab oleh Kaluna secara tidak langsung.
Andrian memberanikan diri mencium dahi Kaluna dengan penuh cinta sekaligus rasa bersalah, lalu duduk kembali di sampingnya hingga wanita itu tampak memejamkan mata untuk beristirahat.
"Istirahatlah, Sayang! Aku pastikan semua yang menyakitimu akan hancur!" janji Andrian di dalam hatinya.
Namun, di balik kelopak mata yang terpejam, kesadaran Kaluna justru sedang menyusun badai. Ia tidak sedang memaafkan, ia sedang menyiapkan panggung untuk sebuah pertunjukan yang jauh lebih besar.
"Kau percaya padanya hanya dengan beberapa kata bualannya, Tuan Sugara..." batin Kaluna dengan dingin. Setiap denyut sakit di punggungnya seolah menjadi bahan bakar untuk dendamnya.
"Kau menghukumku dengan sembilan puluh sembilan cambukan. Mari kita lihat, sejauh mana peri pujaanmu itu bisa menjaga kepercayaanmu, sebelum aku menguliti semua kebohongannya tepat di depan matamu."