Beberapa hari telah berlalu, dan keajaiban daya tahan tubuh Kaluna serta perawatan medis yang intensif mulai membuahkan hasil. Rasa perih yang biasanya menyengat setiap kali ia bernapas kini telah mereda, menyisakan jejak-jejak luka yang mulai mengering di punggungnya.
Kaluna berdiri di depan jendela besar kamarnya, membiarkan semilir angin pagi menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya setelah malam yang berdarah itu, ia merasa benar-benar bisa bernapas lega.
Namun, pikirannya tidak sedang tertuju pada lukanya, melainkan pada tindakan Andrian selama bersamanya hingga kini.
"Tuan Sugara itu, apa dia benar-benar mencintaiku?" batin Kaluna.
Apalagi selama masa pemulihannya, Andrian hampir tidak pernah jauh darinya. Dia menjaga Kaluna dengan ketulusan yang sulit dipalsukan. Andrian secara pribadi memastikan obatnya diminum, mengganti kompresnya, bahkan berkali-kali tertidur di kursi samping ranjang hanya karena takut Kaluna terbangun dalam ketakutan.
Kaluna memejamkan matanya, meresapi sisa kehangatan dari ucapan Andrian. Di satu sisi, hatinya membeku karena fakta bahwa Andrian adalah bagian dari penyebab menghancurkan hidup ibunya. Di sisi lain, ia tidak bisa menutup mata bahwa, Andrian tidak pernah bertindak sebagai musuh.
“Apakah cinta ini nyata, atau hanya bagian dari rasa bersalahmu?” batin Kaluna kembali bertanya-tanya.
Ia menghela napas panjang. Kemarahan yang selama ini membakar hatinya terhadap sang pembunuh ibunya sedikit terpinggirkan oleh kelembutan Andrian. Untuk sesaat, ego dan misi dendamnya melunak.
Kaluna memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan turun menemui Andrian. Namun, saat melintasi ruang kerja Andrian, langkahnya yang tadinya mantap mendadak goyah. Di depan pintu yang sedikit terbuka, ia membeku. Suara rendah Praka menembus celah pintu, menghujam pendengarannya.
"Bukti-bukti ini sudah lengkap, Tuan Muda," suara Leon terdengar tegas. "Rekaman dan dokumen terkait kejahatan Marisa saat Nona Kaluna masih kecil adalah kartu as kita. Jika kita menyerahkannya di persidangan pidana besok, Marisa tidak akan punya jalan keluar."
"Kaluna belum sepenuhnya pulih, Tuan Sugara. Pengungkapan kasus ini dan menyerahkan bukti-bukti itu memerlukan kesiapan fisik dan mental dari Kaluna. Jika kita gagal, Kaluna akan semakin hancur karena ini," ujar Praka dengan nada berat.
"Tapi pengungkapan kasus ini tidak bisa ditunda, Praka. Kita harus menyerahkan semua bukti trauma masa kecilnya agar hakim memberikan vonis maksimal," sahut Andrian, terdengar ada nada keraguan dalam suaranya.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Kaluna. Bukti? Sidang pidana Marisa? Rekaman masa lalu yang paling ingin ia lupakan?
"BRAK!"
Kaluna mendorong pintu kayu itu hingga menghantam dinding. Wajahnya yang semula tenang kini pucat pasi, namun matanya menyala penuh amarah yang meledak-ledak. Tiga pria di dalam ruangan itu tersentak, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Apa yang kalian bicarakan?" teriak Kaluna, suaranya melengking tajam, memecah kesunyian rumah Cassavanos.
Pandangan Kaluna beralih pada Praka, penuh dengan sorot kekecewaan yang mendalam.
"Raka! Aku sudah memintamu untuk menghancurkan semua rekaman dan bukti-bukti itu sejak lama! Kenapa kau masih menyimpannya? Kenapa kau membiarkan mereka melihatnya?"
"Kaluna, dengarkan aku dulu—" Andrian mencoba melangkah mendekat, tangannya terulur ingin menenangkan istrinya.
Kaluna mundur selangkah, menatap Andrian dengan tatapan tajam, seolah pria itu adalah orang asing yang paling berbahaya.
"Jadi ini alasanmu? Alasan di balik semua perhatianmu? Kau merawatku, hanya agar saksi kuncimu ini tetap hidup dan cukup kuat untuk berdiri di pengadilan?" Kaluna tertawa getir, tawa yang terdengar menyakitkan.
"Kau benar-benar licik, Tuan Sugara. Kau memanfaatkan traumaku, membedah luka yang membuatku ingin mati, hanya untuk memenangkan perkara dengan Marisa!"
"Kaluna-" sela Andrian namun terhenti, Kaluna menghadangkan telapak tangannya ke wajah Andrian.
"Kau bukan sedang melindungiku," lanjut Kaluna dengan suara bergetar karena emosi yang meluap. "Kau hanya sedang memastikan alat perangmu tidak rusak sebelum digunakan. Kau tidak lebih baik dari iblis-iblis yang menyiksaku malam itu!"
Andrian terpaku di tempatnya, lidahnya kelu. Ia ingin menjelaskan bahwa semua ini dilakukan justru untuk memberikan keadilan bagi Kaluna agar Marisa membusuk di penjara, namun kemarahan Kaluna telah membangun tembok yang terlalu tinggi.
Andrian masih berdiri kaku, wajahnya pucat. "Kaluna? Ini tidak seperti yang kau dengar, aku hanya—"
"Hanya apa?! Hanya ingin menggunakan lukaku sebagai alat politikmu?!" Kaluna merangsek masuk, menyapu beberapa dokumen di atas meja hingga berantakan. "Kau memanfaatkan trauma masa kecilku, membedah kembali luka yang membuatku hampir gila, hanya untuk memenangkan perkara dengan Marisa!"
"Kaluna, tenanglah. Ini demi keadilan untukmu juga," timpal Praka mencoba menenangkan, namun Kaluna menepis tangannya.
Kaluna tertawa getir dengan air mata yang mulai mengalir. Rasa sakit di punggungnya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sesak di dadanya saat ini. Ia merasa dikhianati oleh satu-satunya orang yang baru saja mulai ia percayai.
Kaluna melangkah keluar dari ruang kerja itu dan langsung berlari meninggalkan ketiganya.
"Kaluna, dengar dulu! Kau salah paham, bukan begitu maksudnya!" teriak Praka berusaha mengejar, namun suaranya hanya membalul di lorong kosong.
Kaluna tidak berhenti. Ia berlari, mengabaikan rasa nyeri yang mulai berdenyut kembali di punggungnya. Deraian air mata membasahi pipinya, mengaburkan pandangannya. Di kepalanya hanya ada satu pikiran, "Semua orang mengkhianatiku! Bahkan Raka yang paling kupercaya."
Di dalam ruang kerja itu, suasana mendadak kacau. Andrian mematung dengan wajah hancur, sementara Leon tampak bingung harus berbuat apa.
"Kejar dia, Tuan Sugara!" perintah Praka dengan suara tegas namun penuh penyesalan. "Semua sudah terjadi, tidak perlu mencari cara untuk menutupinya lagi. Dia sudah mengetahuinya, dan satu-satunya cara adalah memberinya penjelasan sampai dia mengerti!"
Andrian tersentak dan langsung berlari menyusul istrinya. Praka dan Leon menyusul di belakang. Namun, di tengah kekalutan itu, mereka tidak menyadari, di ambang pintu yang gelap, Kajayanti berdiri dengan senyum tipis yang penuh kemenangan. Keretakan yang ia harapkan kini menjadi jurang yang sangat dalam.
Matanya berkilat melihat keretakan besar ini. Baginya, kemarahan Kaluna adalah pintu masuk yang sempurna. Namun, dia tidak hanya ingin menghasut, dia ingin menghancurkan mental Kaluna secara permanen agar wanita itu tidak pernah bisa bicara di pengadilan manapun.
Kajayanti berlari menuju kamarnya, mengambil sebuah tablet yang selama ini ia sembunyikan.
"Kau punya trauma, Kaluna? Aku akan memberimu neraka yang sebenarnya," gumam Kajayanti dengan senyum menyeringai.
Kajayanti langsung menghadang tepat di hadapan Kaluna.
Kajayanti menyodorkan tablet di tangannya yang sudah memutar sebuah video buram dengan time-stamp belasan tahun yang lalu.
Mata Kaluna terbelalak. Suara tangisan anak kecil yang sangat ia kenal, memecah kesunyian lorong. Di dalam video itu, Kaluna kecil tidak berada di rumah sakit atau pusat rehabilitasi yang layak. Ia berada di sebuah ruangan serba putih yang dingin, dikelilingi oleh pria-pria bermantel putih yang menatapnya tanpa rasa iba.
Itu adalah pusat rehabilitasi palsu, sebuah kedok untuk eksperimen ilegal.
"Lihat dirimu, Kaluna," bisik Kajayanti tepat di telinga Kaluna. "Tentu kau ingat bagaimana rasanya menjadi kelinci percobaan. Mereka menyuntikkan berbagai zat ke tubuhmu, membiarkanmu menjerit kesakitan. Dan kau tahu siapa yang membiayai semua penelitian ini? Tentu saja ayah kita, 'kan." Kajayanti terbahak-bahak.
Kaluna memegangi kepalanya, nafasnya mulai memburu. Ingatan yang selama ini terkunci rapat di balik dinding traumanya meledak seketika. Ia teringat rasa dingin jarum suntik, aroma antiseptik yang tajam, dan wajah-wajah tanpa ekspresi para ilmuwan itu.
Video itu menunjukkan Kaluna kecil yang diikat di kursi besi, tubuhnya gemetar hebat saat sengatan listrik kecil dialirkan untuk menguji respons sarafnya. Rekaman itu begitu menyedihkan hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa hancur, namun bagi Kaluna, itu adalah kiamat kedua.
"Hentikan... hentikan..." rintih Kaluna, kuku-kukunya mencengkeram telinganya sendiri.
"KALUNA!"
Suara teriakan Andrian terdengar dari kejauhan. Ia, Praka, dan Leon berlari mendekat. Namun, mereka terlambat. Kaluna sudah melihat semuanya.