Kaluna bangkit dengan sisa tenaganya, menatap Andrian yang baru saja sampai dengan tatapan yang benar-benar kosong, tatapan seseorang yang jiwanya baru saja mati.
"Kau..." suara Kaluna terdengar datar, namun penuh dengan kengerian. "Kau melihatku disiksa seperti binatang di rekaman itu... dan kau menganggapnya sebagai bukti untuk memenangkan perkaramu?"
Andrian mematung saat melihat tablet di tangan Kajayanti. Wajahnya berubah dari panik menjadi ketakutan yang luar biasa. "Kaluna, tidak! Bukan begitu! Rekaman itu..."
"Cukup!" pekik Kaluna. Ia melempar tablet itu ke arah Andrian hingga pecah berkeping-keping. "Jangan pernah sebut namaku lagi! Kalian semua... kalian semua tidak punya hati!"
Kaluna jatuh terduduk, ia mulai tertawa histeris di tengah deru napasnya yang sesak—sebuah tanda bahwa mentalnya telah ditarik kembali ke ruangan serba putih belasan tahun yang lalu.
Andrian mencoba meraih bahu Kaluna yang bergetar hebat, namun Kaluna menepisnya dengan tenaga yang tak terduga, seolah sentuhan Andrian adalah bara api yang membakar kulitnya.
"Jangan sentuh aku! Pergi!" teriak Kaluna dengan suara parau.
Kaluna berbalik dan berlari kencang menuju kamarnya, mengabaikan rasa sakit fisik yang kembali berdenyut di punggungnya.
Kajayanti, dengan kilat kemenangan di matanya, bersiap untuk mengejar. Ia ingin memastikan mental Kaluna benar-benar hancur hingga tak bersisa.
Namun, baru satu langkah ia bergerak, sebuah cengkeraman sekeras baja menghantam lengannya.
"Akh!" Kajayanti memekik kesakitan.
Andrian mencengkeram tangan Kajayanti begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Wajah Andrian kini bukan lagi wajah pria yang penuh penyesalan, melainkan wajah seorang predator yang siap membunuh.
Matanya yang memerah menatap tepat ke dalam manik mata Kajayanti dengan aura kegelapan yang pekat.
"Jangan pernah memancingku, Kajayanti!" desis Andrian dengan suara rendah yang menggetarkan udara. "Jika kau berani menyentuh Kaluna lagi, aku akan melupakan siapa kau sebenarnya! Aku tidak akan peduli pada masa lalu atau statusmu!"
Dengan satu sentakan kasar, Andrian melemparkan tangan itu hingga tubuh Kajayanti terpelanting dan jatuh tersungkur di atas lantai yang keras. Kajayanti mengerang, menatap Andrian dengan rasa takut yang mulai nyata, menyadari bahwa pria itu benar-benar bisa melenyapkannya jika ia melangkah lebih jauh.
Tanpa memedulikan Kajayanti yang tersungkur, Andrian segera berbalik dan berlari menyusul Kaluna ke arah kamar. Di belakangnya, Praka dan Leon mengikuti dengan napas memburu.
Begitu sampai di depan kamar, pintu sudah terkunci dari dalam. Suara barang-barang pecah dan rintihan histeris terdengar dari balik pintu, membuat jantung Andrian seolah berhenti berdetak.
"Kaluna! Buka pintunya! Aku mohon, dengarkan aku sekali saja!" teriak Andrian sambil menggedor pintu kayu itu dengan putus asa.
Praka berdiri di sampingnya dengan wajah yang mengeras. "Tuan Sugara, kita tidak punya waktu. Dia sedang mengalami serangan trauma hebat. Jika kita tidak masuk sekarang, dia bisa menyakiti dirinya sendiri!"
Leon bersiap di posisi untuk mendobrak pintu, sementara dari dalam kamar, suara tangisan Kaluna perlahan berubah menjadi kesunyian yang mencekam. Sebuah tanda bahwa trauma itu telah menyeretnya terlalu jauh ke dalam kegelapan masa lalunya.
Pintu kayu ek itu hancur setelah dobrakan keras Leon, namun tepat saat Andrian hendak melompat masuk ke dalam kamar, sebuah bayangan anggun namun dingin muncul di ujung lorong. Langkah Andrian membeku.
"Ibu... Ka-kau ke sini? Kenapa?" tanya Andrian dengan suara yang mendadak gugup.
Diana berdiri di sana. Pakaiannya yang sempurna dan tatapannya yang tajam tanpa emosi membuatnya tampak seperti patung marmer yang hidup. Ia melirik pintu kamar yang hancur, lalu menatap Andrian dengan tatapan menghakimi.
"Putraku menciptakan banyak kekacauan akhir-akhir ini," ucap Diana dengan nada tenang namun setiap katanya terasa seperti belati yang menusuk. "Kau pikir aku masih bisa diam saja memantau berita di berbagai media?"
Diana melangkah mendekat, suara tumit sepatunya berdentum di atas lantai marmer seolah menghitung detik-detik kehancuran. Ia berhenti tepat di depan Andrian, mengabaikan Praka dan Leon yang menunduk hormat.
Andrian terpaku. Sorot mata Diana memancarkan kecemasan yang tertuju pada kamar itu.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Di mana menantuku?" tanya Diana tegas, suaranya tidak lagi dingin, melainkan menuntut jawaban.
Saat Diana melangkah menuju pintu yang sudah hancur itu, Andrian refleks menghadang jalan ibunya. Wajahnya pias, keringat dingin membasahi keningnya.
"Ibu, tunggu... Kaluna... dia sedang tidak enak badan. Biarkan dia istirahat sebentar, Bu," ujar Andrian berkilah.
Diana menghentikan langkahnya, matanya menyipit menatap putranya dengan penuh selidik. Ia melihat tangan Andrian yang gemetar dan rahangnya yang masih tegang.
"Kau menyembunyikan sesuatu?" tanya Diana dengan nada rendah yang mengancam.
Andrian mencoba membuka mulut untuk mencari alasan lain, namun Diana hanya menggelengkan kepalanya dengan kecewa. Tanpa memedulikan halangan Andrian, Diana menyentakkan bahunya dan langsung merangsek masuk ke dalam kamar.
Melihat pemandangan di dalam kamar membuat napas Diana tertahan.
"PERGI! JANGAN SAKITI AKU LAGI!" teriak Kaluna dengan suara histeris yang memekakkan telinga.
Tangannya mencengkeram kepalanya sendiri, seolah mencoba mengusir suara-suara eksperimen yang kembali berputar di ingatannya.
Andrian yang panik mencoba menahan bahu ibunya saat Diana hendak melangkah lebih jauh. "Ibu, cobalah untuk mengerti! Kondisi Kaluna saat ini sedang tidak stabil! Dia bisa menyakiti siapa pun yang mendekatinya, termasuk Ibu!"
Diana berbalik, matanya berkilat marah hingga membuat Andrian terbungkam.
"Kau pikir dia orang gila?" bentak Diana.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Menonton dan membiarkannya menghancurkan dirinya sendiri?" ujar Diana lagi
Diana mengabaikan peringatan Andrian. Dengan langkah yang mantap namun penuh kehati-hatian, ia mendekat ke arah Kaluna.
Kaluna yang merasa terancam dengan kehadiran orang lain, beraksi liar. Ia menghempas semua barang yang ada di atas nakas hingga hancur berkeping-keping. Dengan tangan gemetar, ia membuka laci nakas dan menarik keluar sebuah botol berisi pil anti-depresan dosis tinggi.
"Hentikan, Kaluna!" seru Andrian dari ambang pintu.
Kaluna tidak mendengar. Ia menumpahkan segenggam pil itu ke telapak tangannya, matanya menatap pil-pil itu seolah itulah satu-satunya jalan keluar dari neraka di kepalanya. Saat ia hendak menelan semua pil itu sekaligus, gerakan tangan Diana jauh lebih cepat.
"PLAK!"
Diana mendorong tangan Kaluna dengan kuat hingga pil-pil putih itu terbang dan berserakan ke seluruh penjuru lantai.
"TIDAK!" Kaluna menjerit, mencoba memunguti pil yang terjatuh, namun Diana segera menarik tubuh Kaluna ke dalam pelukannya.
"Cukup, Kaluna! Cukup!" Diana memeluk Kaluna dengan sangat erat, mengabaikan tangan Kaluna yang memukul-mukul bahunya. "Lihat aku! Kau tidak sendirian. Tidak ada yang akan menyakitimu lagi di sini. Aku bersumpah dengan namaku sendiri!"
Kaluna meronta sesaat, namun kehangatan pelukan Diana yang tulus perlahan meruntuhkan pertahanannya. Isak tangis yang menyesakkan dada mulai pecah. Tubuh Kaluna yang tadinya kaku perlahan melunak di pelukan ibu mertuanya.
Kaluna masih terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat sementara peluh dingin membasahi pelipisnya.
"Siapa kau? Apa kau juga ingin mencekikku?" tanya Kaluna dengan nada rendah yang bergetar.
Matanya yang merah dan sembab menatap wajah Diana dengan sorot mata yang asing. Seolah-olah seluruh memorinya tentang siapa kawan dan siapa lawan telah terhapus oleh trauma yang baru saja meledak.
Pertanyaan itu menghujam jantung Andrian yang berdiri tak jauh dari sana. Kaluna sedang berada dalam fase disosiasi yang parah. Dia bahkan tidak mengenali ibu mertuanya sendiri.