Drama

Memicu Perlawanan.

Penulis Yoonna
11 January 2026

Diana tidak ragu sedikit pun. Dengan tatapan yang penuh otoritas namun sarat akan kasih sayang, ia menangkup wajah Kaluna yang gemetar.

"Aku adalah ibumu," ucap Diana dengan nada yang begitu mantap dan tulus.

Kaluna terdiam seketika. Kata "Ibu" seolah menjadi mantra yang menembus kabut trauma di kepalanya. Selama bertahun-tahun, kata itu adalah luka, tapi cara Diana mengucapkannya memberikan rasa aman yang sudah lama hilang dari hidup Kaluna.

Kaluna menatap Diana lebih dalam, mencari kebohongan di mata wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah ketegasan untuk melindunginya.

"Ibu...?" tanya Kaluna dengan suara kecil yang sangat rapuh, seperti anak kecil yang baru saja ditemukan setelah tersesat di kegelapan.

Begitu kata itu keluar dari bibirnya, pertahanan terakhir Kaluna runtuh. Ia menangis sejadi-jadinya, suara tangisannya terdengar pilu memenuhi ruangan.

Kaluna menjatuhkan kepalanya ke dada Diana, mencari perlindungan di sana. Tubuhnya yang tadi kaku perlahan mulai lemas dalam dekapan Diana.

Diana memejamkan mata, memeluk Kaluna dengan protektif sambil mengelus punggung menantunya itu. Ia bisa merasakan betapa hancurnya jiwa wanita di pelukannya ini.

"Ibu, aku merindukanmu," isak Kaluna lagi.

Andrian yang melihat pemandangan itu merasa hatinya tersayat. Ia ingin mendekat, ingin menjadi orang yang memeluk Kaluna, namun ia tahu bahwa saat ini, kehadirannya justru menjadi sumber rasa sakit bagi istrinya.

Andrian memutar tubuhnya, langkahnya berat dan bahunya merosot karena rasa bersalah yang menghimpit. Namun, baru dua langkah ia menjauh dari ranjang, suara rintihan Kaluna kembali terdengar. Kali ini bukan teriakan histeris, melainkan racauan lirih yang jauh lebih menyayat hati.

"Jangan... jangan suntik lagi..." gumam Kaluna di dada Diana.

Tubuhnya gemetar hebat, jari-jarinya mencengkeram erat pakaian ibu mertuanya. "Dingin... tempat itu sangat dingin..."

Langkah Andrian terhenti seketika. Ia mematung, dadanya sesak mendengar setiap kata yang keluar dari mulut istrinya.

"Mereka terus mencatat..." racau Kaluna lagi, matanya terpejam rapat namun air mata terus mengalir. "Tuan Sugara... dia ada di sana... dia melihatku dari balik kaca, kan? Dia hanya menontonku menangis... dia suka melihatku kesakitan..."

Mendengar namanya disebut dalam konteks yang begitu mengerikan, Andrian berbalik dengan wajah pias.

"Tidak, Kaluna... tidak! Aku tidak pernah ada di sana! Aku tidak mungkin melakukan itu padamu!" Bela Andrian pada dirinya sendiri.

"Diam, Andrian!" bentak Diana dengan suara rendah namun tajam.

Kaluna semakin mengeratkan pelukannya pada Diana, suaranya naik satu nada, penuh ketakutan. "Ibu... suruh pria itu pergi. Dia punya kuncinya... dia punya kunci ruangan putih itu. Dia yang menyimpan rekaman suaraku saat aku memohon agar mereka berhenti..."

Setiap kata yang diucapkan Kaluna adalah racun bagi Andrian. Kaluna mencampuradukkan ingatan masa lalunya dengan pengkhianatan Andrian yang baru saja ia ketahui. Di dalam pikiran Kaluna yang kacau, Andrian bukan lagi suaminya, melainkan bagian dari para penyiksa di masa kecilnya.

Diana menatap putranya dengan tatapan yang sangat dingin, seolah Andrian adalah orang asing yang paling menjijikkan baginya saat ini.

Andrian mundur perlahan, matanya tidak lepas dari Kaluna yang terus meracau pilu. Ia menyadari bahwa dengan memegang bukti itu, telah menjadikannya eksekutor kedua bagi trauma Kaluna.

Andrian sudah berada di ambang pintu, namun jeritan Kaluna menariknya kembali seperti jangkar yang menghujam jantungnya. Suara itu begitu pecah, begitu ketakutan, hingga sanggup melumpuhkan siapa pun yang mendengarnya.

"Ibu, tolong aku! Aku takut, Ibu! Mereka datang lagi... mereka mau membawaku kembali ke sana!" jerit Kaluna.

Tubuhnya meronta di dalam dekapan Diana dengan tenaga yang luar biasa besar, seolah ia sedang berusaha melepaskan diri dari rantai yang tak kasat mata.

Diana berusaha sekuat tenaga menahan tubuh menantunya agar tidak terjatuh dari ranjang atau melukai dirinya sendiri.

Diana mencoba membelai wajah Kaluna, namun Kaluna terus menggelengkan kepalanya dengan liar, menutup telinganya rapat-rapat seolah suara mesin laboratorium itu berdengung kembali di kepalanya.

"Kaluna, hentikan ini. Tidak ada lagi yang akan menyiksamu," ujar Andrian pilu.

Andrian tidak bisa lagi menahan diri. Melihat istrinya tersiksa seperti itu, ia melupakan perintah ibunya untuk pergi. Ia berlari mendekat dan berlutut di sisi ranjang yang lain.

"Kaluna, ini aku! Lihat aku, tidak ada siapa-siapa di sini!" seru Andrian dengan suara bergetar.

Melihat wajah Andrian yang mendekat, mata Kaluna membelalak lebar. Bukannya tenang, ia justru semakin histeris. Ia menunjuk ke arah Andrian dengan jari yang gemetar hebat.

"Jangan biarkan dia mendekat! Ibu, dia yang memegang jarumnya! Dia yang menyimpan semua suaraku di dalam kotak hitam itu!" racau Kaluna dengan napas yang mulai tersengal-sengal karena serangan panik yang luar biasa.

"Kaluna, demi Tuhan, bukan begitu..." isak Andrian, air matanya kini jatuh tanpa bisa dibendung lagi.

"KELUAR, ANDRIAN!" teriak Diana, kali ini dengan otoritas penuh.

Andrian terhuyung berdiri, menatap istrinya untuk terakhir kali sebelum ia benar-benar keluar dari kamar itu dengan jiwa yang hancur. Di lorong, ia bertemu dengan Praka yang hanya bisa terdiam menatap lantai.

"Semua rekaman itu, Praka..." desis Andrian dengan suara rendah yang mengerikan. "Hancurkan. Bakar semuanya di depanku sekarang juga. Aku tidak peduli lagi dengan sidang itu. Aku tidak peduli dengan Marisa. Aku hanya ingin istriku kembali!"

Sementara masih di kamar Kaluna,

Perkataan Diana yang tegas dan penuh kekuatan itu seketika memotong racauan Kaluna. Diana tidak lagi menggunakan nada lembut yang mendayu, melainkan suara yang berwibawa, seolah ia sedang memberikan komando di tengah medan perang.

"Dengarkan aku, Kaluna!" Diana mencengkeram bahu Kaluna, memaksanya untuk menatap matanya. "Jangan takut! Kau bukan lagi anak kecil yang terikat di kursi itu. Kau bukan lagi Kaluna yang dulu yang tidak berdaya!"

Kaluna terdiam, napasnya yang tadi tersengal-sengal mulai melambat meski tubuhnya masih bergetar.

"Kau sekarang adalah seorang petarung. Kau berkali-kali lipat lebih tangguh dari mereka semua!" lanjut Diana, suaranya menghunjam dalam ke kesadaran Kaluna.

"Lawan mereka, Kaluna! Jangan biarkan memori itu memakanmu. Kau sudah menjadi Kaluna yang hebat sekarang, kau punya kekuasaan. Kau bisa melakukan apa saja kepada musuh-musuhmu itu!" tambah Diana.

Kaluna masih menatap Diana dengan mata yang berair, suaranya terdengar sangat kecil dan dipenuhi keraguan.

"Mereka... mereka terlalu banyak untuk kuhadapi sendirian, Ibu. Aku tidak sanggup."

Diana menggelengkan kepalanya dengan tegas, sorot matanya tidak membiarkan sedikit pun ruang untuk menyerah. Ia menggenggam tangan Kaluna yang dingin.

"Kau tidak sendirian, Kaluna. Coba lihatlah di sekelilingmu," ucap Diana sambil menunjuk ke arah ambang pintu.

"Kau punya Tuan Sugara di belakangmu. Ingat bagaimana dia selalu melindungimu? Kau punya Praka yang sejak dulu selalu menjadi dewa penyelamatmu, bukan? Bahkan kau juga punya Leon yang tak pernah takut mati hanya untuk membelamu. Mereka semua adalah senjatamu."

Napas Kaluna yang tadinya memburu perlahan mulai teratur. Kata-kata Diana seolah menyatukan kembali kepingan keberaniannya yang sempat pecah.

Tiba-tiba, Diana meraih sebuah guling dari atas tempat tidur. Ia memegang bantal panjang itu dengan kuat dan menunjukkannya tepat di depan wajah Kaluna, seolah guling itu adalah representasi dari semua ketakutan Kaluna.

"Kaluna, lihat ini!" perintah Diana dengan suara yang menggelegar. "Ini wajah para penjahat itu. Kau lihat? Mereka tidak lebih baik dari guling ini! Dibandingkan dirimu, mereka hanya tumpukan kapuk yang terbungkus kain. Mereka lemah, mereka pengecut, dan mereka hanya bisa menyerangmu saat kau diam!"

Diana kemudian mengambil sebuah gunting kecil yang tergeletak di atas nakas dan menyerahkannya ke tangan Kaluna.

"Sayat tubuh mereka, Kaluna! Hancurkan mereka sekarang juga!" dorong Diana.