Tangan Kaluna gemetar saat menerima gunting itu. Ia menatap guling di depan mata Diana. Dengan satu teriakan yang melepaskan semua rasa sakitnya, Kaluna menghujamkan gunting itu ke guling tersebut.
"SRET!"
Kain pembungkus guling itu robek, dan kapuk di dalamnya berhamburan keluar seperti salju yang kotor. Kaluna menyayatnya lagi dan lagi, seolah setiap sayatan adalah pembalasan untuk setiap jarum suntik dan setiap tawa para ilmuwan yang menyiksanya dulu.
"Hancurkan mereka semua, Kaluna!" seru Diana memprovokasi. "Habisi mereka!"
Suara robekan kain dan hantaman keras dari dalam kamar membuat Andrian, Praka, dan Leon yang berada di lorong tersentak. Mereka saling pandang dengan kecemasan yang memuncak.
Tanpa mempedulikan perintah Diana sebelumnya, Andrian langsung berlari masuk kembali ke kamar, diikuti oleh keduanya.
Mereka terpaku di ambang pintu, melihat pemandangan yang ganjil sekaligus mengerikan. Kaluna, dengan napas memburu dan mata yang tajam, terus menghujamkan gunting ke arah guling yang sudah hancur, sementara Diana berdiri tenang di sampingnya seolah sedang mengawasi seorang prajurit yang sedang berlatih.
"Ibu! Dia kenapa lagi?!" seru Andrian dengan nada panik, hendak maju untuk merebut gunting itu dari tangan Kaluna karena takut istrinya akan melukai dirinya sendiri.
"Biarkan dia mengeluarkan segala bebannya, Andrian!" suara Diana menghentikan langkah putranya dengan wibawa yang tak terbantahkan.
"Dia harus sembuh. Trauma itu hanya akan menjadi sejarah mulai malam ini. Dia perlu menghancurkan simbol ketakutannya," imbuh Diana.
Andrian menatap kapuk-kapuk yang berhamburan di lantai, lalu menatap tangan Kaluna yang memegang gunting dengan sangat erat.
"Tapi Ibu, ini berlebihan! Bagaimana jika dia terluka? Bagaimana jika gunting itu mengenai tangannya sendiri?" protes Andrian lagi.
Diana perlahan memutar tubuhnya, menatap Andrian dengan tatapan menghina yang sangat dalam. Ia berjalan perlahan mendekati putranya, lalu berhenti tepat di depan dada Andrian.
"Sejak kapan kau jadi sebodoh ini?" desis Diana dengan nada dingin yang menusuk.
"Kau menyaksikannya, Andrian. Itu tugasmu! Pastikan agar Kaluna tidak terluka. Jika dia memegang senjata, kau adalah perisainya. Jika dia terjatuh, kau adalah alasnya. Jangan hanya berdiri seperti orang bodoh yang ketakutan melihat istrinya menjadi kuat!" sambung Diana lagi.
Diana kemudian menunjuk ke arah Kaluna yang kini mulai berhenti dan menatap kosong ke arah tumpukan kapuk.
"Lihat dia," lanjut Diana. "Dia tidak sedang gila. Dia sedang membunuh monster di kepalanya. Jika kau tidak sanggup menanggung beban melihatnya berubah menjadi singa, maka kau memang tidak pantas menjadi suaminya."
Andrian terdiam seribu bahasa. Kata-kata ibunya menampar logikanya yang selama ini hanya fokus pada cara-cara konvensional untuk melindungi Kaluna.
Sementara itu, Kaluna menjatuhkan gunting tersebut ke lantai yang kini dipenuhi putihnya kapuk. Ia menarik napas panjang, dan anehnya, wajahnya tampak jauh lebih jernih daripada sebelumnya.
Setelah amarah yang meledak itu surut, tenaga Kaluna seolah terkuras habis. Tubuhnya yang lemas jatuh ke belakang, tepat ke dalam pelukan Andrian yang sudah sigap berjaga di belakangnya. Andrian ikut terduduk di lantai, membiarkan istrinya bersandar sepenuhnya pada dadanya di tengah hamparan kapuk yang berantakan.
"Rasakan penderitaanku!" ujar Kaluna sinis di pelukan Andrian.
Suasana menjadi hening, hanya terdengar deru napas mereka yang mulai selaras. Kaluna memejamkan mata sejenak, meresapi kehangatan pelukan Andrian yang kini terasa berbeda. Bukan lagi sebagai ancaman, melainkan sebagai tempat berlabuh.
Saat ia membuka mata, kesadaran dan ketenangan yang dingin terpancar dari tatapannya.
"Tuan Sugara," panggil Kaluna dengan suara rendah namun stabil. "Siapkan semua dokumen dan bukti-bukti itu. Besok... aku akan melawan Marisa di pengadilan."
Andrian tersentak. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia menoleh ke arah ibunya, lalu ke arah Praka dan Leon yang masih berdiri mematung di ambang pintu.
"Kau serius, Luna?" tanya Andrian dengan nada tidak percaya.
Kaluna tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya menatap Andrian, lalu sebuah senyuman tipis namun penuh keyakinan tersungging di bibirnya. Ia mengangguk mantap.
Andrian merasakan beban berat di pundaknya luruh seketika. Ia tersenyum lebar, sesuatu yang jarang ia lakukan di tengah kemelut ini. Ia menyadari bahwa ibunya benar, luka Kaluna tidak akan sembuh jika hanya dibalut dan disembunyikan. Luka itu harus dibersihkan, bahkan jika harus dikoyak lebih dulu agar bisa menyatu kembali dengan kuat.
Di depan pintu, Leon mengembuskan napas lega yang panjang sambil melirik Praka.
"Hampir saja aku membakar semua dokumen itu, Praka," bisik Leon dengan nada ngeri membayangkan jika ia benar-benar melenyapkan aset berharga itu.
Praka terkekeh samar, meski wajahnya masih menunjukkan sisa ketegangan. "Jika itu terjadi, mungkin Tuan Sugara juga akan membakar kepala kita, Leon."
Keduanya tertawa kecil dalam kepahitan yang mulai mencair. Sementara itu, Diana berdiri di sudut ruangan, memperhatikan putranya dan Kaluna dengan tatapan puas. Ia telah berhasil menciptakan sekutu yang kuat, bukan sekadar menantu yang rapuh.
Di sudut lorong yang gelap, jauh dari jangkauan lampu kamar, Kajayanti berdiri dengan napas yang memburu. Matanya yang biasanya terlihat lembut kini berkilat dengan kebencian yang murni.
"BUGH!"
Kajayanti mengepalkan tangannya kuat-kuat dan meninju dinding marmer di sampingnya. Rasa sakit di buku jarinya tidak sebanding dengan rasa panas yang membakar dadanya.
"Sial!" desisnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar, namun sarat akan racun. "Gadis sialan itu seharusnya hancur! Dia seharusnya menjadi gila!"
Ia menyandarkan punggungnya ke dinding, otaknya berputar cepat. Rencana yang ia susun dengan rapi justru menjadi bumerang. Kehadiran Diana yang tak terduga telah mengubah segalanya.
"Jika gadis itu benar-benar sembuh... dan mereka menyerahkan semua bukti itu besok..." Kajayanti menelan ludah, ketakutan mulai merayapi hatinya. "Artinya Ibu akan..."
"Tidak. Aku tidak boleh membiarkan sidang itu berjalan mulus," gumamnya sambil menatap ke arah pintu kamar Kaluna yang masih terbuka sedikit. "Jika aku tidak bisa menghancurkan mentalnya, aku harus menghancurkan buktinya."
Suasana rumah saat itu benar-benar lengang di area sayap barat. Semua perhatian terpusat pada drama yang terjadi di kamar utama. Semua orang masih berada di sana, memastikan Kaluna benar-benar tenang.
Kajayanti tahu, ini adalah celah emas yang tidak akan datang dua kali. Dengan jantung yang berdegup kencang, ia menyelinap masuk ke dalam ruang kerja Andrian. Ruangan itu kosong. Aroma parfum Andrian yang maskulin bercampur dengan bau kertas tua menyambutnya.
Di atas meja kerja yang luas, tergeletak sebuah map cokelat besar dan sebuah kotak penyimpanan data yang masih terbuka.
"Ini tiket kematianmu, Kaluna," bisiknya tajam.
Kajayanti mendekat, matanya berbinar melihat tumpukan dokumen yang berisi sejarah kelam Kaluna. Dengan tangan gemetar karena adrenalin, ia meraup semuanya.
Ia tidak berhenti di situ. Ia melihat sebuah hard drive eksternal yang terhubung ke komputer. Tanpa pikir panjang, ia mencabutnya dengan kasar. Ia membawa semua bukti fisik dan digital itu keluar, lalu berlari menuju perapian besar di ruang tengah bawah yang sedang menyala untuk menghangatkan rumah di malam yang dingin itu.
"Zrasssh!"
Tanpa ragu, Kajayanti melemparkan dokumen-dokumen itu ke dalam lidah api.
Kertas-kertas yang berisi bukti penyiksaan, catatan medis ilegal, dan foto-foto eksperimen itu mulai melengkung, menghitam, dan menjadi abu dalam hitungan detik.
Dia kemudian membanting hard drive itu ke lantai marmer hingga pecah, lalu menendang sisa-sisanya ke dalam bara api yang membara.
"Musnah!" gumamnya dengan senyum penuh kemenangan.