Drama

Sidang Pidana Marisa

Penulis Yoonna
11 January 2026

Keesokan paginya, matahari bersinar terang, namun suasana di meja makan terasa dingin. Kaluna turun dengan pakaian formal yang sangat rapi, matanya tajam dan wajahnya tampak jauh lebih tegar.

"Tuan Sugara, apa semuanya sudah siap?" tanya Kaluna dengan suara tenang.

Andrian mengangguk dan melangkah ke ruang kerjanya. Tak butuh waktu lama sampai sebuah teriakan menggelegar dari dalam ruangan itu.

"Leon!"

Andrian keluar dari ruang kerja dengan wajah pucat pasi. "Semuanya hilang. Dokumen, hard drive, semuanya... lenyap."

Leon langsung memeriksa ruangan, namun yang mereka temukan hanyalah meja yang kosong.

Andrian nyaris mengamuk, "Kita tidak bisa ke pengadilan tanpa bukti itu! Marisa tidak akan bisa diberatkan!"

Namun, di tengah kepanikan itu, Kaluna justru melangkah maju.

"Kita tetap pergi, Tuan Sugara," kata Kaluna.

Mobil Andrian melesat cepat menuju ke gedung kejaksaan negeri. Tak peduli bukti yang telah hilang, mereka hanya memikirkan cara untuk menyerangmu Marisa dengan cara apapun.

Gedung pengadilan dipadati oleh wartawan dan kilatan kamera. Marisa duduk di kursi terdakwa dengan wajah angkuh, merasa di atas angin karena Kajayanti telah memberinya sinyal bahwa semua bukti fisik telah musnah semalam.

Kajayanti, bersama Alivia duduk di barisan kursi pengunjung, menyilangkan kaki dengan senyum kemenangan yang sulit disembunyikan. Mereka menatap Kaluna yang masuk ke ruang sidang dengan setelan blazer hitam yang tajam.

"Sidang dibuka," ketuk hakim.

Jaksa penuntut umum berdiri dengan wajah tegang. "Yang Mulia, kami memohon maaf. Terjadi insiden pencurian bukti utama di kediaman saksi semalam. Kami meminta penundaan sidang."

Marisa tertawa sinis, sementara pengacaranya langsung berdiri. "Tanpa bukti, tuduhan ini hanyalah fiksi dari seorang wanita yang memiliki riwayat gangguan mental! Kami mohon kasus ini dibatalkan demi hukum!"

Kajayanti hampir saja bersorak di dalam hati. Namun, di tengah keriuhan itu, Kaluna berdiri. Suaranya tenang, namun bergema ke seluruh ruangan.

"Siapa bilang aku tidak punya bukti?"

Suasana sidang yang tadinya penuh kemenangan bagi pihak Marisa mendadak sunyi senyap saat Kaluna berdiri. Ia tidak tampak seperti korban yang kehilangan senjata, ia berdiri tegak dengan otoritas yang membuat seluruh ruangan tertuju padanya.

"Yang Mulia," suara Kaluna tenang namun tajam. "Memang benar ada penyusup yang mencoba melenyapkan kebenaran semalam. Tapi mereka lupa satu hal... aku tidak pernah menaruh seluruh nyawaku dalam satu keranjang."

Mata Kaluna yang berkilat dingin menyambar sosok Praka yang duduk di barisan depan bersama Andrian. Di sebelah kanan Praka, tampak Ken Aji yang ikut duduk di sebelahnya dengan sedikit tegang.

""Yang Mulia," ucap Praka lantang sambil melangkah menuju meja Penuntut Umum. "Ini adalah salinan lengkap, otentik, dan telah dilegalisir dari seluruh bukti fisik dan digital yang baru saja dicoba untuk dimusnahkan."

Suasana di ruang sidang itu mendadak berubah menjadi sangat emosional. Saat Praka menyerahkan koper berisi bukti-bukti itu, ia tidak langsung kembali ke tempat duduknya. Ia melirik ke arah Ken Aji, yang selama ini terpisah jauh dari penderitaan putrinya sendiri.

Praka memang sengaja membawa Ken Aji ke pengadilan hari ini. Bukan hanya sebagai dukungan moral, tapi sebagai sebuah tamparan kenyataan. Praka ingin pria itu melihat dengan mata kepala sendiri betapa hancurnya masa kecil putri yang seharusnya ia lindungi.

Kaluna menatap ayahnya dari kejauhan. Tatapannya tidak mengandung kebencian, tapi kehampaan yang luar biasa. Ia seolah berkata melalui matanya, "Inilah aku yang sebenarnya, Ayah. Inilah neraka yang aku lalui saat kau tidak ada."

Ken Aji tampak membeku. Matanya terpaku pada dokumen-dokumen yang kini dibuka oleh jaksa. Foto-foto laboratorium, catatan medis tentang dosis obat yang tidak manusiawi, dan deskripsi penderitaan Kaluna terpampang jelas di sana.

Ken Aji menundukkan kepalanya, tangannya gemetar hebat menahan tangis yang menyesakkan dada. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia telah gagal total sebagai seorang ayah. Setiap lembar bukti yang dibacakan jaksa seperti belati yang menghujam jantungnya.

Jaksa Penuntut Umum berdiri, memegang lembaran dokumen yang baru saja diserahkan Praka dengan sarung tangan medis. Ia membacanya dengan lantang, memastikan setiap kata terdengar jelas oleh hakim dan terutama oleh Ken Aji.

"Berdasarkan bukti otentik ini, Yang Mulia," Jaksa memulai dengan nada berat, "terungkap sebuah skema kejahatan yang sangat sistematis dan tidak manusiawi. Terdakwa Marisa secara sengaja menukar dokumen identitas Kaluna dengan dokumen orang lain yang telah disetujui untuk menjadi subjek eksperimen. Secara tidak langsung, Marisa telah menjual anak tirinya ke laboratorium itu demi keuntungan pribadi."

Suasana sidang mencekam. Ken Aji mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya mulai berkaca-kaca menatap dokumen yang membuktikan pengkhianatan di balik punggungnya selama ini.

"Lebih jauh lagi," lanjut Jaksa, "dokumen ini melampirkan pernyataan jujur dari seorang dokter yang kini berada di bawah perlindungan kami. Beliau menyatakan bahwa tidak ada sedikit pun gangguan mental di dalam diri Kaluna saat itu. Marisa menyuap tim medis secara besar-besaran untuk memalsukan diagnosa, hanya agar saudara Ken Aji percaya bahwa putrinya mengidap gangguan jiwa kronis. Itu dilakukan agar Marisa memiliki alasan hukum untuk mengurung Kaluna di fasilitas eksperimen tersebut."

Ken Aji tiba-tiba berdiri dari kursinya, suaranya bergetar hebat karena amarah yang memuncak. "Jadi selama ini... kau membohongiku, Marisa? Kau membuatku menganggap putriku sendiri gila hanya agar kau bisa menyiksanya!"

Marisa hanya bisa menunduk, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya gemetar. Ia tidak bisa lagi mengelak karena dokumen yang ada di tangan jaksa mencantumkan bukti transfer bank dan tanda tangannya yang asli.

Setelah jaksa selesai membaca dokumen-dokumen itu, layar besar di ruang sidang itu menyala, menampilkan rekaman yang paling ditakuti Kaluna. Gambar yang buram namun jelas menunjukkan seorang gadis kecil terikat di kursi di sebuah ruangan serba putih yang dingin.

"Tidak! Jangan suntik aku, aku tidak sakit, aku baik-baik saja!"

Suara jeritan Kaluna kecil saat jarum suntik menembus kulitnya menggema di seluruh ruangan, menciptakan keheningan yang mencekam sekaligus memuakkan.

Tubuh Kaluna mulai bereaksi. Keringat dingin mengucur deras, membasahi blazer hitamnya. Napasnya mulai pendek dan wajahnya pucat pasi. Ia memalingkan wajah, tidak sanggup melihat dirinya sendiri yang sedang dihancurkan.

Andrian yang melihat istrinya menderita, secara instinktif langsung bangkit dari kursinya. Ia ingin berlari ke sana, memeluk Kaluna, dan menutup mata istrinya dari peristiwa horor tersebut. Namun, sebelum ia melangkah, sebuah tangan kokoh menahan lengannya.

Andrian menoleh dan mendapati Praka menatapnya tajam. Tidak ada keraguan di mata Praka, hanya sebuah kilatan yang seolah berkata, "Jangan! Percayalah padanya, ini adalah langkah terakhir untuk kesembuhannya."

Andrian terpaku, jantungnya berdebar kencang melihat Kaluna yang masih gemetar.

Di dalam kepalanya, Kaluna mendengar suara-suara itu kembali. Namun kali ini, suara itu bukan lagi bisikan trauma, melainkan suara kekuatan yang baru saja dibangkitkan oleh Diana semalam.

"Kau sudah menghancurkan mereka semua, Kaluna... Lihatlah, mereka tidak berdaya sekarang. Kau sudah menghabisi orang-orang jahat itu dalam dirimu. Itu hanya rekaman lama... sebuah alat untuk menghukum Marisa. Kau adalah pemenangnya sekarang."

Perlahan tapi pasti, gemetar di tangan Kaluna mereda. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan, dan dengan gerakan yang sangat anggun namun penuh kekuatan, ia kembali menegakkan kepalanya.

Ia memutar wajahnya kembali ke arah layar, menatap rekaman penyiksaan itu dengan mata yang terbuka lebar, dingin, dan tak kenal takut.

"Lepaskan aku! Tolong Lepaskan aku, jangan lakukan itu lagi, itu menyakitkan!" rintihan-rintihan Kaluna kecil terdengar semakin memilukan.

Ia menyaksikan dirinya disiksa bukan lagi sebagai korban, melainkan sebagai saksi yang sedang menanti vonis mati bagi musuhnya.

Andrian yang melihat perubahan drastis itu mengembuskan napas lega yang luar biasa. Ia perlahan kembali duduk di kursinya, matanya berkaca-kaca melihat ketangguhan luar biasa istrinya. Kaluna tidak lagi membutuhkan pelukannya untuk merasa aman, dia telah menemukan keamanan itu di dalam dirinya sendiri.