Drama

Bayangan Gradasi - Menjadi Politisi Muda - Bab 30

Penulis Ichan
12 September 2025

Malam itu, langit pusat kota tertutup mendung. Lampu-lampu kota berkelip, seakan menyembunyikan ribuan rahasia yang menunggu untuk meledak kapan saja. Di sebuah rumah sakit yang berdiri megah di pusat kota, seorang gadis terbaring lemah, dikelilingi dinding putih dan aroma obat-obatan. Gadis itu adalah Hanum.

Ia tak tahu bahwa malam ini, di balik bayangan, seseorang akan datang menembus segala risiko. Bukan sebagai politisi muda yang dielu-elukan, bukan sebagai tunangan Sarina, melainkan sebagai pria yang hatinya masih terikat erat padanya.

Seseorang itu adalah Al-Faidzin.


Sejak pengumumannya di malam pertunangan itu, nama Al kian menggema. Media nasional menjadikannya headline. 'Al Faidzin, Wajah Baru Politik Indonesia.' 'Generasi Emas dari Keluarga Faidzin.' Bahkan talkshow di televisi membicarakan tentang masa depannya.

Namun, di balik layar, ada permainan kotor yang lebih besar.

Arman Faidzin, ayah angkatnya, menatap Al dengan sorot penuh perhitungan. Di tangannya ada daftar kursi politik strategis yang sedang kosong. Kursi yang menjanjikan kekuasaan, uangdan akses gelap yang bisa dimanfaatkan.

“Al,” kata Arman, suaranya dingin. “Kesempatan ini jarang datang. Kalau kau menduduki kursi itu, jaringan kita akan makin kuat. Kau akan jadi bintang dan sebagai imbalannya, aku akan pastikan pertunanganmu dengan Sarina berjalan cepat, singkat, lalu selesai. Setelah itu, kau bebas kembali pada siapapun yang kau mau. Termasuk, Hanum.”

Al menatap ayahnya lekat-lekat. Urat lehernya menegang. Janji itu terdengar manis, tapi juga sangat beracun.

“Kau yakin akan menepati janji itu?”

Arman tersenyum samar. “Kau tahu aku selalu menepati kata-kataku kalau itu menguntungkan bagi keluarga ini.”

Kata-kata itu menghantam hati Al. Ia sadar, dirinya bukan sekadar anak, ia adalah pion dalam permainan besar keluarga Faidzin.


Di sudut lain, Firdaus, sahabat lama sekaligus orang dalam politik yang cerdas, mengamati semua ini dengan tatapan tajam. Ia tahu benar bagaimana Arman bekerja, manis di mulut, racun di ujung janji.

Firdaus berbisik pada dirinya sendiri, “Al terjebak. Arman tak pernah berniat melepaskan Sarina. Semua ini hanya jebakan untuk mengikatnya semakin dalam.”

Ia tahu, jika Al menuruti ayahnya, maka Hanum akan selamanya jadi bayangan, tak pernah bisa terang-terangan bersamanya.


Malam itu, setelah perdebatan panjang di kediaman keluarga Faidzin, Al berdiri di depan cermin. Jas hitamnya masih melekat, wajahnya terlihat seperti politisi muda yang digadang-gadang jadi penerus, tapi matanya terlalu kosong.

Di meja kecil di depannya, ada dua benda, kartu akses rumah sakit yang diberikan secara diam-diam oleh orang dalam yang masih setia padanya dan sebuah foto Hanum tersenyum, usang tapi berharga.

Tangannya menggenggam foto itu erat.

“Hanum, aku harus menemuimu malam ini. Meski seluruh dunia melarang, aku tak peduli. Aku harus melihatmu, memastikan kau baik-baik saja.”


Penyelinapan Al ke rumah sakit.

Pukul dua dini hari. Rumah sakit tampak lengang. Kamera CCTV menyorot setiap sudut, penjaga keamanan berjaga di beberapa titik. Namun, Al sudah terbiasa dengan permainan bayangan. Dengan topi hitam menutupi wajahnya dan jaket gelap, ia menyelinap masuk dari pintu samping, menggunakan kartu akses yang ia dapatkan.

Detak jantungnya berpacu. Setiap kali sepatu bot penjaga mendekat, ia menahan napas. Setiap kilatan cahaya senter hampir mengenai wajahnya, ia merapat ke dinding, menunggu hingga aman.

Politisi di siang hari, bayangan di malam hari, itulah dirinya saat ini.

Akhirnya ia sampai di lantai tiga, tempat Hanum dirawat. Lorong sepi, hanya terdengar suara mesin infus dan detak jam dinding.

Al berdiri di depan pintu kamar Hanum. Tangannya bergetar ketika menyentuh gagang pintu.


Pintu terbuka perlahan. Hanum masih terlelap, wajahnya pucat tapi damai. Cahaya lampu redup menyinari rambutnya yang tergerai di bantal.

Al berdiri membeku. Matanya panas, dadanya sesak. Begitu lama aku menahan rindu ini, pikirnya.

Ia melangkah mendekat, duduk di kursi di samping ranjang. Tangannya menyentuh lembut jari Hanum.

“Hanum, maafkan aku. Aku tidak pernah bisa benar-benar pergi darimu. Dunia menuntutku di sana, tapi hatiku hanya untukmu.”

Hanum bergerak sedikit, matanya terbuka perlahan. Saat pandangannya fokus, ia melihat wajah Al tepat di hadapannya.

Air matanya langsung jatuh.

“Al, ini nyata? Bukan mimpi?”

“Nyata, Hanum. Aku di sini.”

Hanum menutup wajahnya dengan tangan, tubuhnya bergetar.

“Kau gila, Al. Kalau seseorang tahu kau di sini, semuanya bisa hancur.”

“Biarlah hancur. Asal aku bisa melihatmu malam ini.”

Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar. Suara langkah sepatu terdengar di koridor. Dua orang pria berbadan besar berhenti tepat di depan pintu kamar.

“Dia di sini?” bisik salah satunya.

“Cek kamar ini,” jawab yang lain.

Al dan Hanum saling pandang, panik. Al segera menaruh jarinya di bibir, memberi isyarat agar Hanum diam. Ia bersembunyi di balik lemari besar di sudut ruangan, tepat sebelum pintu terbuka.

Dua pria itu masuk, memeriksa ruangan dengan tatapan tajam. Mereka mengenakan jas hitam, jelas bukan staf rumah sakit.

"Kosong, tapi kamera menunjukkan ada gerakan di lantai ini.”

“Terus awasi. Kalau benar Al Faidzin datang ke sini, itu kabar emas untuk kita.”

Mereka akhirnya keluar, menutup pintu.

Hanum menarik napas lega, tapi wajahnya penuh kecemasan.

"Al, kau lihat? Mereka mencarimu. Ini berbahaya. Kau harus pergi, sekarang”

Al menggenggam tangannya.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau berjanji untuk bertahan. Jangan menyerah, Hanum. Aku butuh kau hidup, apa pun yang terjadi.”

Hanum menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk dengan air mata berlinang.


Di saat yang sama, di ruang kerjanya, Arman Faidzin menerima laporan melalui telepon.

“Benar, Pak. Ada tanda-tanda Al menyelinap keluar malam ini. Kemungkinan besar menuju rumah sakit.”

Arman tidak terkejut. Ia tersenyum tipis, menyalakan cerutunya.

“Bagus. Biarkan dia bertindak bodoh. Semakin ia dekat dengan gadis itu, semakin mudah aku mengikatnya dengan politik. Besok aku akan umumkan, Al resmi calon kuat untuk kursi itu. Publik akan percaya dia calon bersih. Padahal, semua akses untukku terbuka lebar.”

Ia meneguk minumannya dengan matanya penuh kepuasan.

"Al pikir dia bisa menantangku? Dia lupa, semua ini adalah permainan yang aku ciptakan.”


Namun, Firdaus yang mendengar kabar itu dari jalur lain segera mengambil langkah. Ia tahu Al sedang terjebak.

Jika aku tidak bergerak sekarang, Al akan dikorbankan. Arman akan mengikatnya semakin dalam, lalu membuang Hanum seperti sampah.

Firdaus menghubungi orang kepercayaannya.

"Lindungi Hanum. Apa pun yang terjadi, jangan biarkan mereka menyentuhnya. Aku akan urus sisanya.”


Keputusan Al

Al akhirnya bangkit dari kursi. Ia tahu waktu mereka terbatas. Ia menatap Hanum sekali lagi, lalu menempelkan keningnya di kening Hanum.

“Aku akan kembali, Hanum. Aku janji. Tapi untuk saat ini, bertahanlah. Percayalah padaku.”

Hanum menggenggam tangannya erat, seolah tak ingin melepas.

“Al… jangan biarkan politik menghancurkanmu. Jangan jadi seperti ayahmu.”

Kalimat itu menghantam Al. Ia menarik napas panjang, lalu perlahan melepas genggaman Hanum.

Sebelum pergi, ia meninggalkan sebuah cincin kecil di meja samping ranjang.

“Ini untukmu. Bukti bahwa aku tidak pernah berubah.”

Lalu ia menghilang ke dalam gelap, sama senyapnya ketika datang.


Cliffhanger

Begitu Al keluar dari lorong rumah sakit, ia disergap dua bayangan besar. Pria-pria bersut itu menghadangnya, menatapnya dengan senyum licik.

“Tuan Al Faidzin… rupanya benar Anda tidak bisa menjauh dari ‘cinta rahasia’ Anda.”

Al mengepalkan tinjunya, matanya menyala penuh amarah. Ia tahu, malam ini pertarungan sebenarnya baru saja dimulai.

Sementara di ruang kerjanya, Arman Faidzin menerima kabar cepat dari anak buahnya. Ia hanya tertawa pelan, penuh kemenangan.

“Bagus. Tangkap dia. Malam ini, Al akan belajar arti kata tunduk.”

Dan di kamar rumah sakit, Hanum terbangun karena suara gaduh di luar. Tubuhnya lemah, tapi hatinya penuh firasat buruk. Ia menatap cincin kecil di meja, lalu berbisik lirih:

“Tolonglah, Al… jangan apa-apakan dia.”