Adrian tersenyum penuh misteri saat matanya sekali lagi bersirobok, dan dengan lekat menatap Maya yang membentangkan tangan penuh perhitungan.
Entah sejak kapan, dia baru menyadari bahwa ternyata di dalam dirinya juga terdapat urat usil. Sehingga saat melihat Maya begitu menggemaskan, dia merasa geli dan ingin lebih lama menjahilinya. Tetapi tentu saja dia tidak akan melakukannya.
Adrian menarik dirinya menjauh dan berkata. “Kita perlu bertukar nomor ponsel, bukan?”
Tangan lelaki itu sudah mengangkat ponsel yang merupakan rakitan Negara China dengan dua kamera belakang dan satu lubang sidik jari yang tenggelam pada bingkai silikon berwarna ungu yang lembut saat disentuhnya.
Hanya melihat dari modelnya, Adrian tahu ponsel itu adalah jenis keluaran lama, sekitar 5 sampai 6 tahun yang lalu, yang ternyata masih sangat terawat hingga layarnya pun nampak berkilau. Dan dari warna bingkai silikonnya yang berwarna ungu , dia menyimpulkan bahwa Maya sepertinya menyukai warna itu.
Melihatnya, Maya baru menyadari bahwa tadi Adrian hanya sedang mengambil ponsel darinya, dan bukannya ingin melakukan sesuatu seperti yang dia pikirkan. Sudah tentu kenyataan itu membuat Maya malu sekali.
Maya hanya bisa mengalihkan pandangan sambil mengiyakan dengan asal-asalan. Tetapi Adrian sama sekali tak melepaskan Maya dari matanya. Lelaki itu menatap Maya seolah ingin menelanjangi diri Maya dan menggali informasi sedetail mungkin dari diri Maya, tanpa meninggalkan sepercik pun.
“Nanti saat kau sudah selesai dengan pekerjaanmu, kau harus mengirim pesan padaku, maka aku akan menjemputmu,” katanya lagi dengan lembut.
Usai menyimpan nomornya di ponsel Maya, Adrian mengembalikannya, menarik tangan Maya dan meletakkannya di sana.
“Aku … aku pergi dulu,” pamit Maya terburu-buru. Tak menunggu sampai Adrian menanggapi, dia sudah keluar begitu saja dari mobil dan berlari menjauh, masuk ke dalam rumah makan tempatnya bekerja.
Saat Adrian membuka matanya, lelaki itu mendapati kenyataan bahwa dirinya sudah berada di kamar tetap miliknya yang sering kali ia kunjungi sekitar lima sampai tujuh kali dalam satu bulan.
Dia berada di kamar perawatannya, di rumah sakit!
Sudah enam hari sejak terakhir kali dirinya kolaps di pertemuan pertamanya dengan Maya. Dan saat ini, dirinya harus terbaring lagi dan lagi pada ranjang rumah sakit, yang rupanya telah menjadi hangat sebab sering ia tinggali.
Sementara itu, kantung yang tergantung di atas ranjangnya bukanlah cairan infus yang bening, melainkan darah yang lagi-lagi harus dimasukkan ke dalam tubuhnya guna mencegah pendarahan berlebih apabila dirinya kelelahan seperti saat ini.
“Jode,” panggilnya dengan suara menggema memecah keheningan dalam ruang perawatannya. Pasalnya, setiap kali dirinya berada di rumah sakit, pasti Jodelah yang akan menemaninya dan siap sedia setiap saat dia membutuhkannya.
“Hmm, kau sudah bangun?”
Yang terdengar menjawab panggilannya bukanlah Jode, si sopir pribadinya, sehingga hal itu membuat Adrian tak menahan diri untuk menoleh, lalu mempertemukan pandangan matanya dengan sang ayah.
Moohar tampak tersenyum ketika dilihatnya Adrian menoleh terkejut, namun ia sama sekali tak melepaskan fokusnya pada majalah yang dipegangnya di kedua tangannya.
“Jode kuperintahkan untuk menggantikanmu menjaga wanitamu, kurasa saat ini dia dalam perjalanan kembali ke rumah sakit ini,” jelasnya kemudian, menyadari pertanyaan tak terungkap putranya.
Seketika mendengar penjelasan ayahnya, Adrian tersentak dan memaksakan diri bangun dari posisinya berbaring setengah bersandar. “Maya!”
“Istirahatlah dengan baik. Mayamu akan baik-baik saja dalam pengawasan Jode.” Moohar akhirnya menutup majalah di tangannya. Mencegah Adrian agar tak sampai bangun dan bangkit dari ranjangnya.
“Ada baiknya jika kau lebih memperhatikan dirimu sendiri sebelum memikirkan orang lain,” tutur sang ayah mendorong pelan tubuh Adrian, agar putranya itu kembali berbaring.
“Maya bukan orang lain! Dia calon istriku.” Adrian menyanggah setengah emosi, menunjukan bahwa dirinya tidak setuju dengan anggapan ayahnya.
“Ya, apapun itu. Sebaiknya kau tidak memikirkannya menggunakan otakmu yang hampir rusak digerogoti oleh penyakit yang merupakan bagian dari tubuhmu sendiri.” Moohar tak memperlihatkan ekspresi wajah dalam ucapnya, namun ia juga tak melepaskan sedikit pun perubahan wajah Adrian.
Dirinya hanya tak ingin berdebat dengan Adrian. Mengingat bahwa Maya adalah satu-satunya hal yang membuat anaknya itu mengerti apa itu sebuah “keinginan”, Moohar hanya memanfaatkannya sedikit.
“Mungkin hari ini kau masih bisa memikirkannya, melindunginya, melihatnya, memperhatikannya dan … argh! terserah apa yang ingin kaulakukan padanya. Tetapi sedikit saja kau tak mengingat keadaanmu sendiri, mungkin di detik selanjutnya kau bisa saja melupakannya, atau meninggalkannya,” lanjutnya penuh teka-teki.
Adrian termenung mendengar ocehan ayahnya. Dia menyadari apa yang dikatakan sang ayah mungkin saja terjadi. Seperti saat ini, bisa dikatakan bahwa dirinyalah yang meninggalkan Maya.
Dia hanya ingat bahwa saat dalam perjalanan menjemput Maya sore tadi, kepalanya terasa berdenyut tanpa ampun, beruntung ia masih sempat menepikan mobilnya sebelum kehilangan kesadaran pada akhirnya. Dan bagaimana dirinya bisa sampai di rumah sakit ini, tentu saja karena dia tak lepas dari pengawasan sang ayah.
Untuk pertama kalinya, Adrian sangat bersyukur bahwa dirinya dapat memperoleh kembali kesadarannya setelah jatuh kolaps. Sebelumnya, Adrian hanya akan tersenyum ironis sambil berkata dalam hati ‘kenapa dia tidak mati saja?’
Melihat Adrian hanya diam, Moohar membuang napasnya seolah hendak mengurung kembali emosi jiwanya. Dia benar-benar tidak ingin mendebat Adrian untuk kali ini.
“Kau boleh menghubungi Mayamu itu untuk memastikan keadaannya. Dengan begitu kau akan istirahat dengan tenang.” Sambil melemparkan ponsel yang langsung ditangkap oleh Adrian dengan kedua tangannya, Moohar melangkah meninggalkan ruangan itu.
Pun dengan Adrian, begitu sang ayah hilang ditelan pintu, dirinya bergegas membuka ponsel dan menghubungi Maya.
“Ya … aku di sini,” jawab Maya saat menerima panggilan Adrian melalui ponselnya. Saat ini Maya masih dalam perjalanan, masih di dalam mobil bersama dengan Jode. Sehingga saat ponselnya berdering dia tak berlama-lama membiarkannya dan langsung menjawab panggilan itu.
“Emmm … bagaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja?” Adrian bertanya ragu.
“Ya, aku baik-baik saja. Jode menjagaku dengan baik, kami akan sampai sebentar lagi,” kata Maya menjelaskan.
Adrian mengerutkan keningnya. Bukankah ayahnya tadi mengatakan bahwa mungkin saja Jode dalam perjalanan kembali ke rumah sakit? Kenapa lelaki itu masih bersama Maya? Di mana mereka sekarang? Apakah Adrian harus menanyakannya?
Adrian diam dalam keraguan, tak berani bertanya walaupun dalam hati amat gusar. Ia mengurungkan niatnya dan hanya tersenyum, lupa bahwa di sana Maya tidak bisa melihatnya.
“Oh ya, bagaimana keadaan Luky? apakah dia sudah makan? Dia tidak merepotkanmu ‘kan?” Maya malah bertanya, merujuk pada kucing kecil yang mereka pungut di jalan sekitar tiga hari yang lalu saat Adrian membawanya pulang dari tempatnya bekerja.
Mendengar itu, Adrian sedikit meringis, sakit namun tak teraba. Orang yang dicintainya, begitu dia khawatirkan saat ini, malah lebih ingin mendengar kabar dari si kucing malang yang ditelantarkan di jalan itu dari pada kabarnya sendiri.
Namun Adrian bukan lelaki sempit yang akan cemburu buta pada seekor kucing. Dia pun memutuskan untuk menjawabnya.
“Dia sangat baik.” Usai menjawab dan menunduk diam beberapa lama, Adrian tersenyum dan berucap lirih. “Bagaimana denganku? Kau … tidakkah kau ingin tahu keadaanku?”
Bersambung ….