Sebuah lagu ‘Monolog’ menjadi play list yang sedang dinikmati Nayara. Langkahnya gontai menapaki teras rumah. Lampu teras masih menyala, seperti menunggunya pulang sejak sore. Ia melangkah gontai, membuka pintu dengan tenaga yang nyaris habis. Sepatu dilepas sembarangan, tas jatuh ke lantai tanpa ia pedulikan. Tubuhnya langsung bersandar di balik pintu, napasnya tersengal. Pikirannya kacau, batinnya terus bertanya, tapi mana mungkin Belinda berbohong. Itu bukanlah hal kecil, bahkan bisa menghancurkan reputasi Elvano. Akh, rasanya enggan bagi Nayara untuk menyebut nama pria itu. Ia ingin buru-buru menghapus semua dari dalam benaknya. Semesta seakan tak pernah berpihak padanya, baru saja sesaat ia merasakan kembali nuansa jatuh cinta, justru kini harus pupus. “Aaaaakkkkhhhhhhh, Nayara! Please! Kamu harus bisa jadi independent womant. Berhenti jatuh cinta, berhenti berharap sama manusia.” Nayara frustasi, rambutnya acak-acakan tergerai bebas. Malam itu Nayara sendirian dirumah, tidak ada Diva, tidak ada Noah dan yang lainnya. Hanya ia sendirian, bertemankan awan kelabu. Hatinya terasa diremas. Ia bukan hanya terluka, tapi juga bingung harus menempatkan dirinya di mana. Selama ini ia pikir Selina hanyalah masa lalu yang belum selesai, cinta lama yang enggan pergi. Tapi kenyataannya jauh lebih dalam, jauh lebih kompleks. Ada nyawa lain yang terikat di sana. Nayara berjalan tertatih menuju kamar. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa sempat mengganti pakaian. Pandangannya menatap langit-langit, mencoba menenangkan pikirannya yang gaduh. Tangannya meraih ponsel di saku jaket. Tidak ada pesan balasan dari Elvano, dan untuk pertama kalinya, Nayara berharap pria itu tidak menghubunginya malam ini. Ia tidak siap. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia takut jika suaranya akan bergetar, dan Elvano akan menyadari ada sesuatu yang ia sembunyikan. “Biarkan aku sendiri dulu, Tuhan…” bisiknya. Namun harapannya kandas. Tok… tok… tok… Nayara terlonjak. Detak jantungnya mendadak berpacu. Ketukan itu kembali terdengar, lebih tegas. “Semoga bukan dia” batinnya, langkahnya pelan menuruni anak tangga, berhenti sesaat didepan pintu, menarik nafas dalam terlebih dahulu dan menghembuskannya dengan perlahan, sebelum memberanikan diri membuka pintu. Deg! Seseorang yang tak ingin ia temui kini berdiri tepat dihadapannya. Elvano menatap heran kearag Nayara, biasanya ada sambutan yang hangat, namun tidak untuk kali ini. Gadisnya hanya diam, termenung, entah sedang memikirkan apa. “Nay, aku nggak dibolehin masuk nih?” Kalimat itu berhasil menyadarkan Nayara dari lamunannya. “I-iya, silahkan masuk kak!” Nayara melangkah masuk. Hening, tak ada suara sedikitpun. Nayara dan Elvano sama-sama fokus dengan lamunan masing-masing. “Hmmm, Aku buatin minum dulu.” Nayara bangkit dari tempat duduknya, namun, ada yang menahan pergelangan tangannya. “Duduklah! Aku nggak lama, ada yang harus kita bicarakan.” Suara Elvano terdengar tegas, penuh penekanan, bahkan ekspresinya pun terlihat datar. Nayara hanya diam, dan menuruti ucapan Elvano. “Nay, tadi kamu ke rumah Mama?” Nayara hanya mengangguk pelan, tangannya meremas ujung sweater yang ia kenakan, menutupi rasa gugup yang perlahan semakin berat. “Mama, ada bahas apa?” Tanya Elvano lagi. Nayara hanya diam, ia bingung harus menjawab apa. Tak mungkin Nayara melanggar janjinya dengan Belinda dan membongkar semuanya. “Nay,” Elvano mengusap pundak Nayara. “Nggak ada kok Kak,” jawab Nayara gugup, bahkan ia sama sekali tidak berani memandang lawan bicaranya. “Kamu yakin?” Tanya ELvano lagi, matanya penuh selidik, melucuti wajah Nayara, dan Nayara hanya mengangguk pelan, tanpa mengeluarkan suara. “Nay!” Kali ini, Elvano meraih tangan Nyara, menggenggamnya dengan erat. “Kita sama-sama sudah janji untuk saling jujur dan menghadapi semuanya sama-sama. Kamu nggak lupa kan?” Nayara tertunduk, ia tak berani menjawab pertanyaan ELvano, bahkan hatinya bimbang. Kali ini, sebelah tangan Elvano menyentuh pipi Nayara, membuat bola mata mereka saling berhadapan. “Nay, apapun yang mama katakan, nggak usah didengarkan. Sekarang kita sama-sama fokus dengan tujuan kita ya. Aku mohon! Janji itu masih ada kan?” “Kak,” pertahanan Nayara seketika runtuh, tangisnya tak terbendung lagi. Elvano langsung merengkuh Nayara, membawanya kedalam pelukannya. Ada sedikit ketenangan didalam sana, hangat itu yang ia rasakan. Walau Nayara yakin, kehangatan itu tak akan abadi untuk dirasakan. Waktu berlalu, handphone Elvano terus berdering. Rasanya enggan untuk melepaskan Nayara, bahkan rasanya malam itu ia ingin tinggal disana. Namun tuntutan membawanya untuk berpisah. “Aku janji, sepulang dari kota Seberang, aku langsung menemui mu, Nay.” Tangan Elvano begitu lihai, menepikan rambut diwajah Nayara. Nayara hanya mengangguk, namun masih berselimut keraguan. Bukan karena khawatir Elvano tidak menepati janjinya, akan tetap justru ia lebih khawatir jika dirinyalah yang akan melanggar janji itu. Pertemuan malam itu berakhir dengan lambaian tangan. Mobil mewah Elvano kini telah meninggalkan halaman rumah Nayara. Gadis cantik dengan mata sembab dan wajahnya yang masih basah, menutup pintu, dan berlari menuju kamarnya. Tubuhnya jatuh diatas tempat tidur, hilang didalam selimut. Malam itu menjadi malam yang pedih untuk Nayara, ia harus cepat memutuskan mau membawa kemana pilihannya. Matahari bersinar cerah, teriknya mampu menyusup diantara celah-celah ruangan. Namun, Nayara masih meringkuk didalam selimutnya. Suara langkah kaki perlahan mendekat, perlahan pintu kamar terbuka. Sentuhan hangat menarik pelan selimut Nayara. “Ya, ampun Nay!” Suara Diva terdengar nyaring, ia bergegas keluar dari dalam kamar Nayara, mengambil handphone yang tertinggal diruang tamu, dan menghubungi seseorang. Sirine ambulance terdengar nyaring, memecah keramaian ibu kota. Diva berlari mengikuti Nayara yang dibawa masuk kedalam IGD. “Halo, tante! Nayara, tan!” Suaranya terdengar panik. “Ada apa Diva? Nayara kenapa?” Suara diseberang sana justru jauh lebih panik. “Nayara, demam tinggi tante, sekarang lagi ditangani dokter.” “Demam tinggi? Kalian dimana Nak?” “Dirumah sakit Sentosa, Tante.” “Maaf permisi, mbak keluarga pasien?” Seorang pria berseragam putih menghampiri Diva. Diva menutup panggilanya, tanpa sempat berpamitan terlebih dahulu. Perempuan itu menyodorkan selembar kertas pada Diva, dan meminta Diva untuk mengurus administrasi Nayara. Sinar matahari semakin terik, bulir-bulir keringat membasahi kening Nayara yang berbaring diatas ranjang rumah sakit, jarum inpus terpasang dipunggung tangannya. Diva duduk disampingnya, sambil membuka sebuah laptop, menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Harusnya hari ini Nayara mejalani fotoshoot dengan beberapa klien. Diva mengirimkan beberapa email, konfirmasi, dan meminta keringanan, karena kondisi Nayara yang tidak memungkinkan. Kelopak mata Nayara bergerak perlahan, sedikit demi sedikit terbuka, Cahaya putih yang buram, perlahan terlihat jelas. Ruangan serba putih menyapanya terlebih dahulu. “Div,” ucapnya pelan, saat melihat sahabatnya duduk disampingnya. “Nay?” Diva meninggalkan laptopnya. Kini perhatiannya tertuju pada Nayara. “Hati-hati Nay,” Diva membantu Nayara untuk duduk bersandar. Wajah Nayara terlihat pucat, tubuhnya masih lemas, matanya bengkak, sembab. Bahkan ia kini terlihat seperti zombie.
KONTRAK PERASAAN
Penulis
Arunaa
12 January 2026