Air mata jatuh deras di pipinya, namun ia tetap tersenyum. Sebuah pemandangan yang menyayat hati siapa pun yang melihatnya.
"Kak..." bisik Aleea, mendekat.
Arsen mendongak, matanya basah kuyup namun ia tidak mencoba menghapusnya. "Aku hanya... aku hanya senang melihat Erlan punya teman lagi, Al."
Suara Arsen yang parau membuat seluruh ruangan terdiam. Papa Andra dan Mama Ratna menatap putra mereka dengan pilu.
"Erlan beruntung," lanjut Arsen, suaranya bergetar hebat. Ia menatap Diandra. "Melihat kalian di sini, dan melihat kebahagiaan Erlan, aku jadi teringat Emma. Dia pasti akan menjadi orang pertama yang sibuk untuk membantu, termasuk menyiapkan gaun pengantin untuk Mbak Nuri. Dia pasti akan berteriak kegirangan dan memelukmu, Lan."
Erlan menunduk, air matanya juga tumpah. "Iya, Sen. Dia pasti akan sangat berisik hari ini."
Arsen tersenyum lagi, meski dadanya naik turun menahan isak. "Aku bahagia untukmu, Lan. Benar-benar bahagia. Aku tersenyum karena aku tahu cintamu menemukan rumah baru."
Ia berhenti sejenak, menatap ke arah kamar bayi yang sedang direnovasi di atas. "Dan aku menangis karena aku iri. Aku iri melihatmu bisa memegang tangan orang yang kamu cintai secara nyata. Sedangkan aku ... aku hanya bisa merasakan kehadirannya lewat angin yang lewat."
Mama Ratna bangkit dan memeluk putranya. Arsen membenamkan wajahnya di bahu ibunya, membiarkan tangisnya pecah di tengah kebahagiaan orang lain.
"Maafkan Arsen, Pa, Ma, Lan, Mbak Nuri ... a-ku tidak bermaksud merusak suasana," isak Arsen. "Aku hanya merindukannya. Sangat merindukannya."
Nuri mendekat, ia memegang tangan Arsen yang gemetar. "Mas Arsen, jangan minta maaf, kami paham kok, dan Emma juga tidak pernah pergi. Dia ada di setiap kebahagiaan yang kita rasakan hari ini. Dan dia pasti bangga melihat Mas Arsen tetap kuat."
Diandra merangkul Aleea, keduanya menangis diam-diam. Diandra berbisik, "Al, kamu benar. Dia tidak gila. Dia hanya mencintai dengan cara yang tidak sanggup dilakukan orang biasa."
Setelah tamu-tamu pulang, Arsen berdiri di balkon kamarnya. Aleea datang membawakan segelas susu hangat.
"Kak Arsen oke?" tanya Aleea pelan.
Arsen mengangguk, menghapus sisa air mata di wajahnya. "Aku oke, Al. Terima kasih sudah mengizinkan mereka datang. Aku butuh diingatkan bahwa hidup harus terus berjalan, meski kakiku terasa berat."
"Kak Erlan pasti lega sekali dapat restu dari Kakak," ujar Aleea.
"Dia satu-satunya saudaraku yang tersisa dari pihak Emma," gumam Arsen. Ia menatap ke arah kejauhan. "Al ... soal kamar bayi itu."
Aleea menahan napas. "Kenapa, Kak? Mau dihentikan?"
"Tidak," Arsen menoleh, matanya kini terlihat sangat jernih dan penuh tekad. "Percepat renovasinya. Aku ingin semuanya selesai bulan depan, tepat di hari pernikahan Erlan. Aku ingin memberikan sesuatu yang indah untuk Emma, di hari kakaknya memulai hidup baru."
Aleea tersenyum lebar, ia memeluk kakaknya. "Siap, Bos! Aku akan pastikan kamar itu jadi yang paling indah di dunia."
Di balik kegelapan malam, di sebuah tempat yang tak terjangkau oleh kemewahan Adhianata Corp, seorang wanita sedang menidurkan bayinya. Ia mencium kening anak itu yang sangat mirip dengan pria yang sedang menangis di balkon rumah Adhianata.
"Tunggu Arka, Ayah," bisik Emma lembut.
Diandra yang tidak langsung pulang, memilih duduk di mobilnya, menatap rumah keluarga Adhianata dari kejauhan. Ia membuka tasnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat kecil berisi laporan investigasi pribadi yang ia bayar diam-diam.
"Arsen mengalami Sindrom Couvade," gumam Diandra. "Secara medis, itu hanya terjadi jika ada koneksi batin yang sangat kuat dengan janin yang nyata. Bukan delusi."
Ia menatap foto Emma. "Al bilang Arsen mulai membaik. Erlan mau menikah. Dan aku... aku merasa ada yang aneh dengan hilangnya Emma di stasiun itu. Tidak ada mayat. Tidak ada jejak darah yang cukup untuk menyatakan kematian instan."
Diandra menyalakan mesin mobilnya. Matanya berkilat dengan kecerdasan seorang sahabat yang setia.
"Kalau Arsen yakin kamu hidup, Emma ... maka aku akan mencari bukti fisiknya. Aku tidak akan membiarkan Arsen tersenyum dalam tangis selamanya. Aku akan membawamu pulang."
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arsen tertidur pulas tanpa obat penenang. Di dalam mimpinya, ia melihat Emma berdiri di kamar bayi yang baru saja selesai direnovasi. Emma tersenyum, menggendong seorang anak laki-laki, dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Aku sudah di rumah, Arsen," bisik Emma dalam mimpinya.
Arsen tersenyum dalam tidurnya. Air mata mengalir di sudut matanya, tapi kali ini, itu bukan air mata duka. Itu adalah air mata harapan.
Adhianata Corp boleh tumbuh 300 persen, dunia boleh memuja kekayaannya, tapi bagi Arsen Adhianata, satu-satunya kekayaan yang ia inginkan adalah helaan napas wanita yang ia cintai di sisinya. Dan dia akan menunggu, sampai napas itu kembali terdengar nyata di telinganya.
Suara mesin jahit high-speed, menderu halus di dalam ruangan berukuran empat kali enam meter itu. Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kaca yang lebar, menerangi tumpukan kain satin, brokat, dan katun yang tertata rapi.
Emma terlihat sedang memotong pola dengan sangat teliti. Di sudut ruangan, seorang wanita muda bernama Inem sedang duduk di lantai beralaskan karpet, berusaha menjauhkan gulungan benang dari jangkauan bocah laki-laki berusia hampir dua tahun yang sedang lincah-lincahnya.
"Aduh, Mas Saka! Jangan ditarik benangnya, Sayang. Nanti Bunda marah, lho," bisik Inem gemas.
Saka Gama Adhianata, bocah dengan mata setajam elang namun memiliki senyum semanis madu, hanya tertawa cekikikan. Ia memegang ujung kain perca putih dan menempelkannya ke wajahnya.
"Gajah! Bunda ... gajah!" seru Saka sambil mengacungkan kain perca itu ke arah Emma.
Emma menghentikan guntingnya sejenak, menoleh, dan tersenyum lebar. Rasa lelahnya menguap seketika. "Oh, gajahnya putih ya, Mas? Sini, gajahnya ditaruh di keranjang saja, jangan dikunyah."
"Ndak! Gajah ... mam!" Saka berlari kecil menghampiri Emma, memeluk kaki ibunya dengan erat.
"Inem, tolong ambilkan biskuitnya ya. Sepertinya Mas Saka sudah mulai lapar," perintah Emma lembut.
"Siap, Mbak Emma," Inem bergegas ke dapur.
Sudah enam bulan Emma pindah ke kontrakan baru ini. Meski ia sangat berterima kasih pada Bu Suti, namun suara kereta api yang bergemuruh setiap jam mulai mengganggu jam tidur Saka yang semakin sensitif.
Selain itu, ia butuh tempat yang lebih representatif untuk pelanggan jahitnya. Di sini, di pinggir jalan aspal yang lebih tenang, pelanggannya mulai berdatangan dari mulut ke mulut.
Emma berjongkok, mengusap pipi gembil Saka. "Mas Saka main sama Mbak Inem dulu ya? Bunda harus selesaikan baju Tante Sarah."
Saka mendongak, jemari kecilnya menyentuh dagu Emma. "Bunda ... syantik."
Emma tertawa kecil, mencium kening putranya. "Anak pintar. Kamu memang paling bisa merayu Bunda."
Pintu depan berdenting. Seorang wanita paruh baya dengan gaya elegan namun tampak rawan masuk dengan tergesa-gesa.Bu Sarah, pelanggan setia Emma yang sering memesan kebaya pesta.
"Emma! Aduh, syukurlah kamu ada," ujar Bu Sarah sambil mengipasi wajahnya.
"Eh, Bu Sarah. Masuk, Bu. Silakan duduk. Ada apa, Bu? Bajunya ada yang kurang pas?" tanya Emma sopan.