Bab 37 Ikhlas

Penulis JanaIndria
12 January 2026

Bu Sarah tidak langsung menjawab. Matanya tertuju pada sebuah kertas sketsa yang ditempel menggunakan selotip di tembok dekat mesin jahit. Sketsa sebuah gaun pengantin dengan aksen lace yang sangat rumit namun elegan, bergaya timeless.

"Emma, sketsa itu ... kamu yang gambar?" tanya Bu Sarah, matanya membelalak.

Emma menoleh ke arah tembok. "Oh, itu... iya, Bu. Iseng saja kalau malam sedang tidak bisa tidur. Itu desain impian saya dulu."

Bu Sarah mendekat, menyentuh kertas itu dengan tangan gemetar. "Luar biasa. Emma, kamu tahu kan saya bekerja sebagai manajer operasional di Butik L'Aura?"

"Iya, Bu. Ibu pernah cerita."

"Butik kami sedang di ambang pailit, Emma," suara Bu Sarah merendah, penuh kesedihan.

"Desainer utama kami mengundurkan diri dan membawa semua pola desainnya ke butik saingan. Pemilik butik, Bu Melani, sedang stres berat. Kami tidak punya koleksi baru untuk fashion show bulan depan. Kalau kami gagal, butik itu akan tutup."

Emma terdiam, ikut merasakan keprihatinan itu. "Saya turut sedih, Bu."

"Emma, bisakah kamu membuatkan saya gambar desain berdasarkan sketsa di tembok ini? Tapi buat lebih detail, beserta jenis kain yang kamu sarankan," pinta Bu Sarah penuh harap. "Saya ingin memperlihatkannya pada Bu Melani. Saya punya firasat, ini bisa menyelamatkan kami."

Emma ragu. "Tapi Bu, saya hanya penjahit rumahan. Saya tidak punya latar belakang pendidikan mode-"

"Seni tidak butuh ijazah, Emma! Mata kamu, tangan kamu... itu jenius," Bu Sarah memegang tangan Emma. "Tolonglah. Saya tidak mau kehilangan pekerjaan, dan Bu Melani itu orang baik. Buatkan ya?"

Emma menatap Saka yang sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu di pojok. Ia butuh masa depan yang lebih baik untuk Saka. Peluang ini mungkin jawaban Tuhan.

"Baik, Bu. Beri saya waktu dua hari. Saya akan siapkan beberapa desain."


Setelah Bu Sarah pulang, Inem datang membawa sebuah tabloid hiburan dan koran bisnis yang ia beli saat belanja tadi pagi.

"Mbak Emma, ini pesanan korannya. Sama ini ada tabloid," ujar Inem sambil meletakkan bacaan itu di meja potong.

Emma mengambil koran bisnis itu, berniat mencari info perkembangan ekonomi. Namun, matanya justru tertuju pada foto di halaman depan tabloid yang masih tergeletak terbuka.

Jantung Emma seolah berhenti berdetak.

Di foto itu, Arsen berdiri tegak mengenakan jas hitam formal yang sangat gagah. Ia tampak lebih matang, lebih tampan, namun tatapannya terlihat lebih dingin dari yang Emma ingat.

Dan di samping Arsen, berdiri seorang wanita cantik berambut panjang, mengenakan gaun berwarna champagne yang sangat mewah. Mereka tampak sangat serasi. Wanita itu merangkul lengan Arsen dengan mesra.

Keterangan foto itu tertulis * "Arsen Adhianata, CEO Adhianata Corp, Bersama Sosok Wanita Cantik yang Selalu Mendampinginya di Setiap Acara Bergengsi."*

Emma merasa dunianya berputar. Wanita itu ... cantik sekali. Begitu anggun dan berkelas.

"Mbak Emma? Mbak kenapa? Kok mukanya pucat?" tanya Inem khawatir.

Emma menggeleng, tangannya meremas pinggiran tabloid itu. "Tidak apa-apa, Nem. Cuma... pusing sedikit."

Emma menatap foto wanita itu—Aleea. Ia sama sekali tidak tahu bahwa itu adalah adik iparnya.

Hatinya tersayat. Pahit sekali.

"Iya ... sepertinya mereka cocok," bisik Emma dengan suaranya yang pecah.

Ia teringat malam di stasiun. Ia teringat janji-janji Arsen. Namun sekarang, melihat Arsen bersama wanita lain, Emma merasa keputusannya untuk "mati" adalah hal yang benar. Arsen sudah punya kehidupan baru. Pria itu sudah bahagia.

"Bunda? Bunda ... napa?"

Saka kecil menghampirinya, wajahnya yang polos menatap Emma dengan cemas. Ia menyentuh air mata yang tanpa sadar jatuh di pipi Emma.

Emma langsung memeluk Saka dengan sangat erat. "Bunda tidak apa-apa, Sayang. Bunda cuma sayang banget sama Saka."

Saka tidak pernah bertanya tentang Ayahnya. Ia tidak tahu apa itu "Ayah". Baginya, dunia adalah Bunda, Mbak Inem, dan Bu Suti. Dan Emma bersyukur akan hal itu. Ia tidak ingin Saka merasakan penolakan dari dunia yang sudah membuang ibunya.

Arsen... jika kamu sudah menemukan penggantiku, aku tidak akan pernah mengusikmu, batin Emma. Biarlah Saka hanya menjadi milikku. Selamanya.


Malam harinya, Emma mencoba fokus mengerjakan pesanan sketsa untuk Bu Sarah. Namun, konsentrasinya sering terganggu oleh celoteh Saka yang belum mau tidur.

"Bunda! Lihat! Saka... jadi hantu!"

Emma menoleh dan nyaris tertawa di tengah kesedihannya. Saka telah membungkus dirinya dengan kain furing putih sisa potongan, hanya matanya yang mengintip malu-malu.

"Aduh, hantunya kok ganteng banget? Hantunya mau makan apa?" goda Emma.

"Makan... cuklat!" Saka berlari mendekat, kain furing itu terseret di belakangnya seperti jubah kerajaan.

"Tidak ada cokelat malam-malam, nanti giginya sakit. Sini, lepas dulu kainnya, kita bobo," Emma menarik lembut kain itu.

"Ndak! Saka... kerja! Seperti Bunda!" Saka merebut pensil sketsa Emma dan mulai mencoret-coret kertas kosong di samping Emma.

Emma memperhatikan garis-garis berantakan yang dibuat anaknya. Saka memiliki genggaman yang kuat, persis seperti Arsen saat memegang pena. Hidungnya, bentuk rahangnya ... setiap inci wajah Saka adalah cetakan Arsen.

"Saka sayang Bunda?" tanya Emma tiba-tiba.

Saka berhenti mencoret, menatap Emma dengan mata bulatnya yang jernih. "Sayang... bang-et! Bunda... punyanya Saka."

Emma memeluk kepala kecil anaknya, mencium rambutnya yang beraroma keringat dan bedak bayi. "Iya, Bunda punyanya Saka. Dan Saka punyanya Bunda. Kita berdua saja, ya?"

Saka mengangguk mantap, lalu kembali mencoret-coret kertas dengan semangat "bekerja".

Emma kembali menatap sketsa gaun pengantinnya. Ia menghapus sisa air mata di sudut matanya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus membuktikan bahwa meskipun tanpa nama besar Adhianata, ia bisa menghidupi anaknya dengan tangannya sendiri.


Dua hari kemudian, Bu Sarah kembali datang dengan wajah cemas. "Bagaimana, Emma? Kamu sudah menyiapkannya?"

Emma menyerahkan sebuah map cokelat. Di dalamnya terdapat tiga desain gaun pengantin dan dua busana pesta formal. Semuanya digambar dengan tangan, lengkap dengan detail payet dan saran material kain.

"Ini luar biasa, Emma!" seru Bu Sarah saat melihat desain pertama. "Desain ini... sangat modern tapi ada sentuhan klasik yang megah. Bu Melani pasti akan menyukainya."

"Semoga saja, Bu," jawab Emma rendah hati.

"Saya akan langsung ke butik sekarang. Oh ya, kalau Bu Melani bertanya siapa desainer ini, saya harus bilang apa? Kamu masih tidak mau menggunakan nama asli?"

Emma terdiam sejenak. Ia teringat foto Arsen dan wanita itu di tabloid. Nama Emma adalah masa lalu yang menyakitkan.

"Katakan saja nama saya Emma. Cukup Emma saja, Bu. Tanpa nama belakang," jawab Emma tegas.

"Baiklah, Emma. Doakan saya ya!"

Sepeninggal Bu Sarah, Emma duduk tertegun di kursi jahitnya. Ia menatap Saka yang sedang tertidur lelap di ayunan kain di pojok ruangan.

"Emma..." gumamnya. "Nama yang diberikan ayah dan ibuku. Aku akan membesarkan namaku sendiri, Saka. Tanpa bayang-bayang orang yang sudah melupakan kita."


Di kantor pusat Adhianata Corp, Arsen duduk di kursi kebesarannya. Ia sedang menatap sebuah laporan properti, namun pikirannya melayang.

"Kak Arsen?"

Aleea masuk tanpa mengetuk pintu. Ia mengenakan baju kantor yang modis. "Sudah siang. Ayo makan. Mama sudah bawakan bekal spesial."

Arsen mendongak. "Taruh saja di sana, Al. Aku tidak lapar."

"Kak, jangan mulai lagi. Kita sudah sepakat, Kakak harus sehat kalau mau menemukan Kak Emma," ujar Aleea sambil meletakkan kotak bekal di meja. "Oh ya, aku tadi lewat butik L'Aura. Katanya mereka mau bangkrut, aku sangat berminat, namun saat aku datangi untuk menawar, malah batal, karena mereka dapat desainer baru yang misterius. Desainnya katanya bakal mengguncang Jakarta."

Arsen hanya mengangkat bahu acuh tak acuh. "Bukan urusanku."