Aleea menghela napas. "Kakak terlalu kaku. Sekali-kali ikutlah aku ke fashion show. Siapa tahu ada desainer yang bisa kita ajak kerjasama untuk proyek seragam baru maskapai kita."
"Kita lihat nanti," jawab Arsen dingin.
Aleea menatap kakaknya dengan iba. Sejak kejadian di stasiun dua tahun lalu, Arsen memang tumbuh menjadi raksasa bisnis, tapi jiwanya seolah terkunci di masa lalu.
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan pagar kontrakan Emma. Kondisi jalanan yang sempit membuat mobil itu tampak sangat mencolok di lingkungan tersebut. Bu Sarah turun lebih dulu, diikuti oleh seorang wanita dengan setelan jas maroon yang sangat elegan.
Emma, yang sedang membantu Saka menyusun balok kayu di teras dalam, segera berdiri. Ia merapikan jilbabnya dengan canggih.
"Emma! Kenalin, ini Bu Melani, pemilik butik L'Aura," seru Bu Sarah dengan wajah berseri-seri.
Bu Melani melangkah masuk. Matanya menyisir ruangan kecil itu—mesin jahit tua, tumpukan kain, dan dinding yang penuh dengan coretan sketsa. Ia terdiam cukup lama, membuat suasana mendadak tegang.
"Ibu Melani, silakan duduk. Maaf, tempatnya sangat sederhana," ucap Emma sopan.
Bu Melani tidak langsung duduk. Ia berjalan menuju tembok di mana sketsa gaun pengantin yang tempo hari difoto Bu Sarah masih tertempel. Jemarinya yang mengenakan cincin berlian menyentuh garis-garis pensil Emma.
"Kamu menggambar ini tanpa bantuan komputer sama sekali?" tanya Bu Melani, suaranya terdengar berat dan sarat akan emosi.
"Benar, Bu. Hanya pensil dan imajinasi," jawab Emma rendah hati.
Bu Melani berbalik, menatap Emma dengan tatapan yang sulit diartikan, terlihat antara kagum dan tidak percaya.
"Sarah menunjukkan desainmu kemarin. Saya pikir dia berlebihan saat bilang ada 'permata di dalam lumpur'. Tapi melihat aslinya di sini... Emma, garis tanganmu punya jiwa. Sesuatu yang tidak dimiliki desainer ternama mana pun yang pernah saya kontrak."
"Terima kasih, Bu. Saya hanya menuangkan apa yang ada di pikiran saya."
"Apa kamu sadar?" Bu Melani mendekat, matanya berkaca-kaca.
"Desainmu menyelamatkan sepuluh karyawan saya dari pemutusan hubungan kerja pagi ini. Seorang investor besar baru saja setuju mendanai koleksi fashion show kita bulan depan setelah melihat draf sketsamu."
Emma tersentak. "Benarkah, Bu?"
"Ya. Dan saya tidak ingin kehilangan kamu," Bu Melani meraih tangan Emma. "Saya ingin kamu bekerja secara resmi untuk L'Aura. Saya butuh kamu di kantor, mengawasi pembuatan pola dan pemilihan bahan secara langsung."
Emma terdiam, melirik Saka yang sedang asyik memeluk kaki Bu Melani. "Tapi Bu... saya punya anak kecil. Saya tidak bisa meninggalkannya sendirian."
Bu Melani tersenyum, lalu menatap Saka sejenak. Ia tampak tertegun melihat wajah bocah itu—seolah pernah melihat garis wajah itu di suatu tempat, namun ia segera menepisnya.
"Saya mengerti. Soal itu, kamu bisa atur," ujar Bu Melani mantap. "Dengar penawaran saya. Saya gaji kamu lima belas juta per bulan sebagai gaji pokok. Dan untuk setiap satu sketsa yang disetujui untuk diproduksi, saya berikan bonus tiga puluh juta rupiah. Plus bonus kalau design kamu meledak, bagaimana?"
Mata Emma membelalak. Inem yang mengintip dari balik tirai dapur nyaris menjatuhkan nampan minumannya. Tiga puluh juta untuk satu gambar? Itu lebih besar dari penghasilannya menjahit selama setahun.
"I-itu jumlah yang sangat besar, Bu Melani," bisik Emma.
"Bakatmu jauh lebih bernilai dari itu, Emma. Ini investasi untuk L'Aura. Saya tidak mau desainer lain mencuri permata saya," Bu Melani menatapnya penuh harap. "Jadi, apakah kita punya kesepakatan?"
Emma menarik napas panjang. Ia menatap masa depan Saka di depan matanya. "Baik, Bu. Saya terima. Tapi izinkan saya bekerja setelah saya mengatur urusan penjagaan anak saya."
Sore itu juga, Emma tidak membuang waktu. Ia menyewa taksi dan pergi menuju daerah pinggiran lintasan kereta api. Tempat di mana ia pernah "dilahirkan" kembali.
Rumah Ibu Suti masih sama. Bau minyak kayu putih dan aroma jamu menyeruak saat Emma mengetuk pintu kayu yang mulai lapuk itu. Karena faktor usia, bu Suti kini menjual jamu racikannya sendiri untuk menyambung hidup.
"Neng Emma!" seru Ibu Suti, langsung memeluk Emma erat. "Ya Allah, makin cantik saja. Ini Mas Saka? Aduh, sudah besar sekali, sudah pintar lari ya?"
"Iya, Bu. Saka, salim sama Eyang Suti, Sayang," ujar Emma.
Saka mencium tangan Ibu Suti dengan sopan. "Eyang... mam?" tanyanya polos, menunjuk toples kerupuk di meja.
Ibu Suti tertawa haru. "Iya, Sayang. Makan kerupuk sama Eyang ya."
Setelah suasana tenang, Emma memegang tangan Ibu Suti. "Bu... Emma ke sini mau minta tolong."
"Minta tolong apa, Neng? Selama Ibu bisa, pasti Ibu bantu."
"Emma dapat pekerjaan bagus di butik besar. Gajinya sangat cukup untuk kita semua. Emma ingin Ibu ikut pindah ke kontrakan Emma. Emma butuh Ibu untuk membantu Inem menjaga Saka selama Emma di kantor. Emma tidak percaya orang lain, Bu. Hanya Ibu yang Emma anggap keluarga."
Ibu Suti terdiam sejenak, menatap rumah kecilnya yang penuh kenangan.
"Ibu jangan khawatir soal biaya hidup. Emma sudah siapkan kamar yang nyaman untuk Ibu. Emma ingin Ibu menikmati masa tua tanpa harus repot mengurus jamu lagi. Temani Saka saja, Bu. Dia sangat butuh Eyangnya," bujuk Emma, matanya berkaca-kaca.
Ibu Suti menghela napas, matanya basah. "Neng... Ibu ini cuma orang kecil. Ibu malah takut merepotkan Neng yang sekarang sudah jadi orang sukses."
"Tanpa Ibu, Emma dan Saka mungkin sudah tidak ada di dunia ini, Bu. Ibu adalah malaikat kami. Tolong, ikut Emma ya?"
Ibu Suti akhirnya mengangguk. "Baiklah, Neng. Demi Mas Saka. Ibu ikut."
"Sudah siap, Bu?" suara Emma lembut memecah keheningan, saat melihat Ibu Suti berdiri mematung di tengah ruangan. Di tangannya ada sebuah buntelan kain batik berisi pakaian dan beberapa lembar foto usang.
Ibu Suti menoleh, matanya berkaca-kaca. "Neng ... rasanya aneh. Sudah belasan tahun Ibu di sini. Teman Ibu ya cuma suara klakson kereta."
Emma melangkah maju, menggenggam tangan wanita yang telah menjadi malaikat penolongnya itu. "Di sana mungkin lebih sepi dari suara kereta, tapi Mas Saka janji akan jadi lebih berisik supaya Ibu tidak kesepian. Ibu tidak meninggalkan rumah, Ibu hanya pindah ke rumah yang lebih hangat."
Ibu Suti tersenyum kecil, ia mengusap pipi Saka yang sedang asyik memegang ujung baju batiknya. "Iya, ya, Mas Saka? Mas Saka nanti jangan bosan ya dengerin dongeng Eyang?"
"Ndak! Eyang ... ikut!" Saka menarik-narik tangan Ibu Suti, seolah tak sabar ingin menunjukkan dunia barunya.
Mereka pun melangkah keluar. Jaka, sang pemulung, membantu menaikkan buntelan Ibu Suti ke dalam taksi yang sudah menunggu.
Ada tatapan haru di mata Jaka. Uang lima juta dari Emma tempo hari sudah ia gunakan untuk memperbaiki atap rumahnya dan menyekolahkan anaknya, tapi kehilangan Ibu Suti sebagai tetangga adalah hal yang berat baginya.
"Hati-hati ya, Bu Suti. Neng Emma, Mas Saka ... sering-sering main ke sini kalau kangen suara kereta," ujar Jaka sambil melambaikan tangan.