Di dalam taksi, suasana terasa hangat. Emma sengaja meminta supir taksi berhenti sebentar di sebuah Warung Padang yang cukup besar saat mereka sudah memasuki area dekat kontrakannya.
"Pak, berhenti sebentar ya, saya mau beli lauk untuk makan malam," ujar Emma.
Emma turun dan kembali beberapa menit kemudian dengan dua kantong plastik besar yang mengeluarkan aroma rempah yang sangat menggoda. Bau santan, cabai hijau, dan rendang langsung memenuhi kabin taksi.
"Waduh, Neng... bau rendangnya sampai sini. Ibu jadi lapar," canda Ibu Suti.
"Saka... mau... daging!" seru Saka sambil mengendus-endus udara, membuat supir taksi tertawa.
Tak lama, mereka sampai di sebuah rumah kontrakan yang asri. Pagar besinya berwarna hitam, dengan halaman kecil yang penuh dengan pot bunga krisan. Inem sudah berdiri di depan pintu dengan wajah sumringah.
"Selamat datang, Eyang Suti!" seru Inem riang, langsung mengambil alih buntelan Ibu Suti.
Ibu Suti terpaku di ambang pintu. "Masya Allah, Neng... ini rumahnya? Bagus sekali. Bersih, tidak ada debu rel."
"Ayo masuk, Bu. Kamar Ibu di sebelah sana, dekat jendela supaya Ibu tetap bisa melihat matahari pagi," Emma menuntun Ibu Suti masuk.
Satu jam kemudian, meja makan kayu di ruang tengah sudah penuh dengan hidangan dari Warung Padang tadi. Emma sudah menata semuanya di atas piring porselen putih—ada Rendang daging yang hitam pekat, Ayam Pop yang lembut, Perkedel, daun singkong rebus, dan tentu saja sambal ijo yang berminyak.
"Ayo, Bu... Inem, sini makan bareng. Jangan di dapur terus," ajak Emma.
"Aduh, Mbak Emma... bau sambal ijonya bikin saya khilaf," ujar Inem sambil mengambil piring.
Saka duduk di kursi tingginya, matanya berbinar melihat ayam pop di depannya. "Bunda... ayam! Em-mam!"
Emma menyuapi Saka dengan telaten, sementara Ibu Suti mulai mencicipi rendangnya.
"Bagaimana, Bu? Enak tidak?" tanya Emma cemas.
Ibu Suti mengunyah pelan, lalu matanya terpejam sejenak. "Neng... ini rendang paling enak yang pernah Ibu makan. Biasanya Ibu cuma bisa cium baunya saja kalau lewat pasar."
"Makan yang banyak, Bu. Sekarang Ibu tidak perlu mikir soal jualan jamu lagi. Tugas Ibu cuma satu: pastikan Mas Saka tidak nakal dan tetap ganteng," Emma menggoda sambil melirik Saka yang pipinya penuh nasi.
Inem tertawa. "Wah, kalau itu mah gampang, Mbak. Mas Saka ini kan aslinya penurut, cuma kalau sudah ketemu mobil-mobilan saja lupanya minta ampun."
Suasana makan malam itu begitu cair. Dialog demi dialog mengalir penuh tawa. Di bawah lampu neon yang terang, Emma merasa hatinya penuh. Ia melihat Ibu Suti yang tersenyum tulus, Inem yang ceria, dan Saka yang tumbuh sehat.
"Neng Emma," panggil Ibu Suti di tengah makannya.
"Iya, Bu?"
"Terima kasih ya, Neng. Ibu tidak pernah membayangkan di masa tua Ibu bisa duduk di kursi empuk begini, makan enak, dan punya cucu ganteng seperti Mas Saka."
Emma meletakkan sendoknya, ia memegang tangan Ibu Suti yang kasar karena kerja keras puluhan tahun. "Ibu... Emma yang harusnya terima kasih. Kalau malam itu Ibu tidak ada, mungkin hari ini tidak akan pernah ada meja makan ini. Ibu adalah alasan Emma masih bisa tersenyum."
Ibu Suti mengusap air mata di sudut matanya. "Sudah, ah... jadi sedih. Mas Saka, itu nasinya jatuh di dagu, Sayang. Sini Eyang bersihkan."
Saka tertawa saat Ibu Suti membersihkan dagunya. "Eyang... sayang... Saka?"
"Sayang banget, Mas Saka. Sayang sekali," bisik Ibu Suti.
Malam itu, di atas meja makan, dengan lauk Padang yang sederhana, cinta dan ketulusan terasa begitu nyata.
Seminggu kemudian, Emma sudah mulai aktif di butik L'Aura. Kehadiran Ibu Suti dan Inem di rumah membuatnya merasa tenang. Saka terlihat sangat bahagia memiliki "Eyang" yang selalu membacakannya cerita atau sekadar mengejarnya saat ia bermain mobil-mobilan.
Satu sore, Emma pulang dengan membawa beberapa majalah mode terbaru. Ia meletakkannya di meja ruang tamu.
Saka, dengan kelincahannya, langsung memanjat kursi dan membuka-buka majalah itu. Inem sedang sibuk di dapur, sementara Ibu Suti sedang sholat ashar.
"Bunda! Ini... siapa?" Saka menunjuk sebuah foto di halaman profil pengusaha sukses.
Emma mendekat, jantungnya mencelos. Foto itu adalah Arsen. Foto yang sama yang membuatnya hancur tempo hari. Namun kali ini, foto itu lebih besar. Arsen tampak sedang tersenyum tipis, berdiri di depan gedung Adhianata Corp.
"Itu... itu orang hebat, Mas," jawab Emma dengan suara yang ia usahakan tetap stabil.
"Ganteng... seperti Saka?" tanya Saka sambil memiringkan kepalanya, jemari kecilnya menyentuh wajah Arsen di kertas.
Emma terpaku. Kemiripan itu memang luar biasa. Bentuk mata, garis bibir, hingga cara Arsen berdiri. Saka adalah miniatur Arsen dalam versi yang lebih ceria.
"Iya, ganteng seperti Saka," bisik Emma, mencium rambut anaknya.
"Dia... Ayah?" tanya Saka tiba-tiba.
Emma tersedak udara. "Kenapa Mas Saka tanya begitu?"
"Tante Inem bilang ... Saka punya Ayah. Ayah di ... langit?" Saka menatap Emma dengan mata bulatnya yang jernih. "Ini Ayah yang di langit?"
Air mata Emma tumpah. Ia memeluk Saka erat. "Bukan, Sayang. Itu hanya orang di majalah. Mas Saka punya Bunda dan Eyang, ya? Kita bahagia, kan?"
Saka terdiam sebentar, lalu mengangguk, namun matanya tetap tertuju pada foto Arsen. "Ayah... ganteng."
Emma segera menutup majalah itu dan menjauhkannya dari jangkauan Saka. Ia merasa ketakutan yang luar biasa. Bagaimana jika suatu saat Saka benar-benar bertemu dengan ayahnya? Bagaimana jika dunia Arsen yang kejam menyeret Saka masuk ke dalamnya?
Di butik, kesuksesan Emma meledak. Desain gaun pengantinnya yang diberi judul "Gema Kerinduan" menjadi viral di kalangan sosialita Jakarta. Bu Melani bahkan memberikan bonus tambahan karena pesanan membludak.
Suatu pagi, Bu Melani masuk ke ruang desain Emma dengan wajah sumringah.
"Emma, ada kabar luar biasa! Adhianata Corp akan merayakan ulang tahun ke-30 mereka bulan depan. Mereka mengadakan gala besar dan meminta L'Aura untuk mengisi salah satu sesi trunk show busana formal untuk jajaran direksi mereka!"
Emma menjatuhkan pensilnya. "Adhianata Corp?"
"Iya! Ini peluang emas! Pemiliknya, Arsen Adhianata, dikenal sangat pemilih. Tapi adiknya, Aleea Adhianata, sangat menyukai desainmu! Aleea sendiri yang meminta desainer 'Emma' untuk menyiapkan gaun spesial untuknya di malam gala nanti!"
Dunia Emma serasa runtuh. Aleea. Wanita yang ia kira sebagai pasangan Arsen itu ternyata adalah orang yang menyukai karyanya.
"Emma, kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali," tanya Bu Melani khawatir.
"Saya... saya hanya kaget, Bu. Itu perusahaan besar, dan sepertinya saya tidak bisa ikut hadir-" Emma berucap sembari mencoba mengatur napasnya.
Suara derit kursi putar di ruang desain Butik L’Aura terdengar kontras dengan keheningan yang menyelimuti wajah Bu Melani. Di depannya, Emma duduk dengan tenang, jemarinya bertaut di atas meja kayu yang dipenuhi contoh kain sutra dan payet kristal.
"Emma, coba kamu pikirkan sekali lagi," suara Bu Melani hampir meratap.
"Ini gala Adhianata Corp. Seluruh direksi, pemegang saham, bahkan menteri akan hadir. Aleea Adhianata sendiri yang meminta kamu—desainer di balik 'Gema Kerinduan'—untuk hadir dan menerima penghargaan khusus di atas panggung."
Emma menarik napas panjang, menatap lurus ke arah Bu Melani. Tatapannya tidak goyah.
"Saya akan kerjakan semuanya, Bu. Saya akan pastikan gaun Aleea adalah gaun paling indah yang pernah dia pakai. Saya akan awasi setiap jahitan untuk seragam direksi sampai titik terakhir. Tapi, saya punya satu syarat yang tidak bisa diganggu gugat."
"Apa, Emma? Sebutkan saja. Gaji tambahan? Mobil operasional?"