"Saya tidak akan datang ke malam gala itu," ucap Emma tegas.
Bu Melani terperangah. "Apa? Tapi kenapa? Ini adalah momen kamu untuk dikenal dunia, Emma! Kamu bisa jadi desainer paling dicari di Asia setelah malam itu!"
Emma tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan luka sekaligus keteguhan. "Malam hari adalah waktu saya untuk Saka, Bu. Sejak dia lahir, saya tidak pernah melewatkan satu malam pun tanpa membacakannya cerita atau menidurkannya. Dunia luar boleh memuja karya saya, tapi bagi saya, Saka adalah satu-satunya 'audiens' yang paling penting."
"Emma, kita bisa bayar babysitter paling mahal untuk satu malam saja!"
"Ini bukan soal uang, Bu Melani," potong Emma lembut namun tajam. "Ini soal janji saya pada anak saya. Saya sudah memberikan siang saya untuk butik, tapi malam saya adalah miliknya. Jika Ibu tidak bisa menyetujui syarat ini, silakan berikan proyek ini kepada desainer lain."
Bu Melani menyandarkan punggungnya, tampak kalah. Ia tahu ia tidak bisa memaksa Emma. Tanpa Emma, L'Aura tidak akan punya taring di hadapan keluarga Adhianata.
"Baiklah," desah Bu Melani dengan berat hati. "Saya akan beralasan pada Aleea bahwa kamu adalah sosok yang sangat tertutup dan memiliki komitmen keluarga yang tidak bisa ditinggalkan. Tapi Emma... kamu benar-benar melewatkan kesempatan emas."
"Kesempatan emas saya sedang menunggu di rumah dengan mainan mobil-mobilannya, Bu," jawab Emma sambil membereskan tasnya. "Terima kasih sudah mengerti."
Di bagian lain kota Jakarta, suara hantaman palu dan deru mesin potong keramik memenuhi udara. Erlan berdiri di tengah bangunan yang sedang dalam tahap finishing. Meskipun ia kini menjabat sebagai Komisaris di Adhianata Digital, salah satu anak perusahaan raksasa milik Arsen, penampilannya tetap bersahaja dengan kemeja flanel yang lengannya digulung.
"Lan, ini keramik untuk ruang tengahnya sudah sampai," Nuri menghampirinya, menunjukkan sampel marmer Italia berwarna putih dengan urat abu-abu yang elegan.
Erlan menatap ruang tengah itu. Matanya menerawang. "Letakkan saja di sana, Nuri. Pastikan posisinya tidak bergeser satu senti pun dari denah asli."
Nuri tersenyum, menyentuh lengan tunangannya itu dengan lembut. "Kamu benar-benar tidak mau mengubah denah ini sedikit pun, ya? Padahal kalau kita geser tembok ini, ruangannya bisa jauh lebih luas dan mewah."
Erlan menggeleng mantap. "Setiap sudut rumah ini adalah napas Emma dan orang tua kami, Nuri. Di pojok itu, dulu Emma selalu menangis kalau dilarang main hujan. Di tangga itu, kami sering duduk berdua sambil makan mi instan saat uang saku kami habis. Aku ingin rumah ini lebih kokoh, lebih mewah, dan lebih hidup dengan materi terbaik, tapi jiwanya harus tetap sama."
Nuri mengangguk paham. Ia tidak merasa cemburu pada masa lalu Erlan. Sebaliknya, ia sangat mengagumi betapa Erlan sangat mencintai adiknya.
"Aku mengerti, Lan. Rumah ini akan jadi saksi bahwa cinta kamu ke Emma tidak pernah luntur. Kita akan buat rumah ini jadi tempat pulang yang paling nyaman," bisik Nuri.
Erlan menatap Nuri dengan rasa syukur. "Terima kasih sudah paham, Nur. Kadang aku merasa Arsen dan aku adalah dua pria yang sama-sama tersesat dalam ingatan, tapi setidaknya aku punya kamu yang membantuku berpijak."
Malam harinya, Erlan berkunjung ke ruang kerja Arsen di gedung pusat Adhianata Corp. Ruangan itu sunyi, hanya diisi oleh suara pendingin ruangan dan aroma kopi hitam yang pekat. Arsen duduk di balik mejanya, menatap beberapa laporan akuisisi.
"Proyek di Jawa Barat sudah mencapai 90 persen, Sen," ujar Erlan, meletakkan dokumen di meja Arsen.
Arsen mendongak, matanya yang tajam tampak lelah. "Bagus. Aku ingin Adhianata Digital memegang kendali penuh atas sistem informasinya. Jangan ada celah."
"Beres. Semuanya terkendali," Erlan duduk di kursi depan meja Arsen.
"Rumah hampir selesai, Sen," ujar Erlan mengalihkan topik.
"Denahnya tetap?" tanya Arsen singkat.
"Tetap. Aku tidak akan membiarkan satu kenangan pun hilang tertimbun beton baru."
Arsen mengangguk. "Bagus. Aku akan kirimkan beberapa lukisan koleksi pribadiku untuk menghiasi ruang tengahmu nanti. Anggap saja hadiah untuk rumah barumu."
"Terima kasih, Sen. Tapi jangan yang terlalu mencolok. Emma tidak suka hal-hal yang terlalu pamer," Erlan tersenyum pahit.
Arsen tertegun mendengar nama itu disebut. Keheningan kembali menyelimuti mereka. Di ruangan itu, dua pria paling berpengaruh di Adhianata Corp sebenarnya hanyalah dua pria yang hatinya masih tertinggal di sebuah peron stasiun dua tahun lalu.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa wanita yang mereka bicarakan sedang berjuang menidurkan seorang balita yang memiliki garis rahang persis seperti Arsen.
Di kontrakannya, Emma baru saja selesai membacakan buku cerita untuk Saka. Bocah itu sudah tertidur lelap, tangan kecilnya memegang ujung bantal Emma.
Ibu Suti masuk dengan segelas air hangat. "Neng... belum tidur?"
"Sebentar lagi, Bu. Emma masih harus mengecek jadwal fitting untuk Aleea minggu depan," jawab Aku sambil menatap layar ponselnya.
"Neng... Ibu dengar tadi Neng nolak datang ke pesta besar itu? Padahal kan Neng bisa dapet banyak uang lagi?" tanya Ibu Suti hati-hati.
Emma menatap Saka, lalu tersenyum pada Ibu Suti. "Uang bisa dicari, Bu. Tapi momen melihat Saka tidur dengan tenang seperti ini... Aku tidak mau menukarnya dengan sorotan lampu mana pun. Lagipula... Aku takut, Bu."
"Takut apa, Neng?"
"Takut kalau Aku melihat 'dia' lagi, Aku akan kehilangan kekuatan untuk tetap menjadi 'hantu'. Aku belum siap, Bu. Saka masih terlalu kecil untuk terjepit di antara kerumitan keluarga Adhianata."
Ibu Suti mengusap bahu Emma. "Gusti Allah boten sare, Neng. Allah tidak tidur. Kalau memang jodoh dan jalannya, mau Neng sembunyi di lubang semut pun, pasti akan dipertemukan. Tapi Ibu hargai keputusan Neng."
Emma mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur yang temaram. Ia berbaring di samping Saka, mencium kening putranya yang beraroma bedak bayi.
"Tidurlah, Saka Gama Adhianata," bisik Emma. "Bunda akan menjagamu dari dunia yang kejam itu. Biarlah hanya karya Bunda yang pergi ke sana, bukan kita."
Lampu kristal raksasa di ballroom hotel bintang lima itu perlahan meredup, menandakan berakhirnya acara puncak Gala Adhianata Corp.
Tepuk tangan riuh masih terdengar sisa-sisa kekaguman tamu undangan. Malam itu, koleksi busana dari Butik L’Aura benar-benar mencuri panggung. Gaun-gaun itu tidak hanya indah, tapi seolah memiliki nyawa yang menceritakan tentang kerinduan dan keanggunan.
Di belakang panggung, Aleea berdiri menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan gaun mahakarya Emma. Ia tampak begitu sempurna, namun wajahnya menyiratkan kekecewaan.
"Bu Melani," panggil Aleea saat melihat pemilik butik itu masuk ke ruang VIP. "Benar-benar tidak ada cara untuk saya bertemu dengannya malam ini? Sedikit saja, di belakang gedung atau di tempat privat?"
Bu Melani menghela napas, wajahnya penuh rasa sungkan. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Mbak Aleea. Seperti yang saya sampaikan tadi, desainer kami memang memiliki prinsip yang sangat ketat soal waktu malamnya. Dia sudah pulang sejak pukul enam sore tadi demi keluarganya."
"Keluarganya?" Aleea menoleh cepat. "Dia sudah punya suami?"