Bab 41 Gaun untuk ipar

Penulis JanaIndria
12 January 2026

"Ya, sepertinya begitu," jawab Bu Melani hati-hati. "Dia sangat berdedikasi pada karyanya, tapi bagi dia, rumah adalah dunianya yang paling nyata."

Aleea terdiam. Ia menyentuh detail bordir di pinggang gaunnya. "Sentuhan tangannya... sangat emosional, Bu. Saya merasa seperti dipeluk oleh kakak perempuan yang sudah lama tidak saya temui. Sampaikan salam saya padanya. Katakan bahwa malam ini dia adalah pemenang yang sebenarnya, meskipun dia tidak berdiri di panggung ini."

"Pasti, Mbak Aleea. Pasti saya sampaikan."


Keesokan harinya, Butik L'Aura dipenuhi bunga ucapan selamat. Telepon tidak berhenti berdering dari pelanggan baru yang ingin memesan baju. Bu Melani melangkah masuk ke ruang desain Emma dengan langkah ringan, hampir seperti menari.

Emma sedang duduk tenang, menyesap teh hangat sambil melihat Saka yang asyik menggambar dengan krayon di pojok ruangan yang sudah disiapkan khusus.

"Emma!" seru Bu Melani. Ia meletakkan sebuah amplop putih di depan Emma.

Emma mendongak, tersenyum tipis. "Gala-nya sukses, Bu?"

"Sukses? Itu meremehkan, Emma! Itu tadi malam adalah ledakan! Aleea Adhianata sangat puas, bahkan dia sedih sekali tidak bisa bertemu denganmu," Bu Melani menunjuk amplop itu. "Buka."

Emma membuka amplop itu dan matanya membelalak. Sebuah cek senilai 100 juta rupiah.

"Bu... ini terlalu banyak. Bonus saya kan harusnya tidak sebesar ini," protes Emma halus.

"Jangan membantah! Itu bonus dari saya dan tambahan khusus dari Aleea sebagai tanda terima kasih. Kamu pantas mendapatkannya, Emma. Kamu sudah menyelamatkan nama baik butik ini," Bu Melani duduk di hadapan Emma, wajahnya berubah serius namun antusias. "Dan ada satu lagi. Aleea merekomendasikan kita untuk proyek yang sangat pribadi."

Emma meletakkan cek itu, mulai merasa waspada. "Proyek apa, Bu?"

"Pernikahan sahabat keluarga mereka. Sebenarnya Aleea menyebutnya 'kakak laki-laki kesayangannya'. Dia ingin kita merancang gaun pengantin untuk calon pengantin wanitanya, juga seragam untuk seluruh keluarga besan."

Jantung Emma berdegup kencang. Kakak laki-laki kesayangan? Apakah itu Arsen?

"Siapa... siapa calon pengantin laki-lakinya, Bu?" tanya Emma, suaranya sedikit bergetar.

"Aleea tidak menyebutkan nama jelasnya, dia hanya bilang kakak kesayangan. Dia sepertinya sangat melindungi privasi keluarganya," jawab Bu Melani santai.

Emma terpaku dalam kebingungan.

"Dan permintaannya sangat spesifik, Emma," lanjut Bu Melani sambil menyodorkan catatan kecil. "Calon pengantin wanitanya orangnya sederhana. Dia ingin gaun yang tidak berlebihan, klasik, anggun, tapi terasa sangat 'rumah'. Aleea bilang, 'buatkan sesuatu yang terasa seperti pelukan seorang adik untuk kakaknya'."

Emma menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai basah. Pelukan seorang adik untuk kakaknya. Kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya. Tanpa Aleea tahu, dia baru saja memberikan tugas itu kepada orang yang paling tepat.

"Saya akan kerjakan, Bu," bisik Emma. "Saya akan buatkan yang terbaik."


Di kediaman Adhianata, suasana makan malam terasa jauh lebih santai. Keberhasilan Gala memberikan energi positif bagi semua orang. Arsen tampak lebih banyak menyantap makanannya, meskipun tetap irit bicara.

"Pa, Ma... Kak Erlan," Aleea membuka pembicaraan sambil menyendok sup. "Soal baju pernikahan bulan depan, aku sudah urus semuanya."

Erlan menoleh, tersenyum pada adik iparnya. "Kamu cepat sekali, Al. Nuri sempat tanya kemarin, katanya dia belum sempat cari desainer."

"Jangan cari yang lain, Kak. Aku sudah pilihkan yang terbaik. Butik L’Aura," ujar Aleea bangga. "Desainernya luar biasa. Dia yang buat gaunku kemarin. Sentuhannya itu... jujur ya, aku belum pernah melihat orang seberbakat itu. Dia bisa menerjemahkan keinginan kita bahkan sebelum kita mengucapkannya."

Papa Andra mengangguk setuju. "Papa lihat seragam direksi kemarin memang sangat berkelas. Simpel tapi berwibawa."

Arsen hanya mendengarkan dalam diam. Nama L'Aura mulai sering terdengar di telinganya.

"Berapa biayanya, Al? Kakak ganti nanti," Erlan merogoh saku jasnya yang tersampir di kursi.

Aleea tertawa, melambai-lambaikan tangannya. "Ih, Kak Erlan! Ini kado dari aku dan Arsen. Lagipula, desainer ini orangnya unik. Dia tidak mau muncul ke publik. Dia hanya mau fokus kerja di ruangannya. Misterius tapi jenius."

"Misterius?" Arsen akhirnya bersuara, nadanya datar namun menyiratkan rasa ingin tahu.

"Iya, Kak Arsen. Dia punya syarat, tidak mau diganggu di malam hari karena harus menjaga anaknya. Dia ibu tunggal. Aku benar-benar ingin bertemu dia, tapi Bu Melani bilang dia sangat menjaga privasinya," Aleea menatap Arsen.

"Aneh ya, Kak? Di zaman orang gila popularitas, dia malah memilih bersembunyi."

"Selama hasilnya bagus untuk pernikahan Erlan, aku tidak keberatan," ujar Arsen singkat.

"Tenang saja, Kak. Aku sudah kirimkan deskripsi kepribadian Mbak Nuri ke butik itu. Dan aku minta desainernya membayangkan dia sedang menjahit untuk kakaknya sendiri. Entah kenapa, aku merasa dia akan mengerti," Aleea tersenyum puas.


Lampu meja di ruang desain masih menyala terang, meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Emma baru saja menaruh pensilnya. Matanya memerah, bukan hanya karena lelah, tapi karena beban perasaan yang tumpah ke atas kertas sketsa itu.

Ibu Suti masuk perlahan, membawa segelas susu hangat. Ia meletakkannya di samping tumpukan kain satin.

"Neng... kenapa menangis lagi?" tanya Ibu Suti lembut. "Pekerjaannya susah ya?"

Emma menghapus air matanya dengan ujung lengan bajunya. Ia tersenyum haru, menatap gambar gaun pengantin yang baru saja selesai ia beri detail melati. "Enggak apa-apa, Bu. Hanya sedang menjahitkan sebuah gaun kebahagiaan untuk orang yang sangat berarti bagiku. Tak pernah kusangka kalau takdir mengingginkan aku bisa 'hadir' di hari istimewanya, dengan di wakilkan oleh gaun ini."

Ibu Suti mendekat, memicingkan mata melihat sketsa itu. "Bagus sekali, Neng. Rasanya... rasanya seperti melihat Neng sedang bicara lewat gambar ini. Ada nyawanya."

"Ini adalah pelukan saya untuk dia, Bu. Meski dia tidak akan pernah tahu siapa yang menjahitnya," bisik Emma.

"Dia itu siapa, Neng? Teman lama?"

Emma terdiam sejenak, lalu ia menatap Ibu Suti dengan pandangan yang dalam. "Ini mungkiin untuk Kak Erlan, Bu. Kakak kandungku. Satu-satunya saudara yang aku punya di dunia ini."

Ibu Suti tersentak hingga tangannya sedikit gemetar. "Astagfirullah... Jadi, gaun ini untuk calon istri Kakak Neng sendiri?"

"Mungkin , Bu." Emma tertawa kecil di tengah isaknya. "Ternyata Kakak sudah menemukan pengganti Emma untuk menjaganya."

"Neng..." Ibu Suti duduk di samping Emma, memegang tangannya. "Kalau begitu, kenapa Neng tidak jujur saja? Bilang ke Bu Melani, bilang ke Mbak Aleea. Biar mereka tahu Neng masih hidup. Kasihan Mas Arsen, kasihan Kak Erlan. Mereka pasti menderita setiap hari."

Emma menggeleng kuat-kuat. Ketakutan itu mendadak muncul kembali, mencekik lehernya. "Tidak bisa, Bu. Ibu ingat apa yang dikatakan Ibra di telepon malam itu? Dia bilang kalau ada satu orang saja yang tahu aku masih hidup, dia akan mengirim Kak Erlan dalam kantong mayat. Aku tidak berani ambil risiko, Bu. Ibra itu gila. Dia punya mata di mana-mana."

"Tapi Neng, sudah dua tahun..."

"Dua tahun atau sepuluh tahun tidak ada bedanya bagi orang seperti Ibra," potong Emma dengan suara bergetar. "Selama aku 'mati', Kak Erlan aman. Arsen aman. Saka aman. Biarlah aku tetap menjadi hantu di balik butik ini, asalkan mereka bisa bernapas tenang."