Bab 42 Surat Cinta

Penulis JanaIndria
12 January 2026

Di tempat lain, Aleea baru saja menerima email dari Bu Melani berisi file pindaian sketsa terbaru dari "Emma". Begitu file itu terbuka di layar tabletnya, Aleea terpaku. Ia tidak tahu banyak soal teknik menjahit, tapi ia tahu soal rasa.

"Ya Tuhan... ini indah sekali," gumam Aleea.

Tanpa membuang waktu, ia langsung meneruskan gambar itu ke grup WhatsApp keluarga yang berisi dirinya, Arsen, Erlan, dan Nuri.

Aleea: [Image Attached] Aleea: Kak Erlan, Mbak Nuri! Lihat ini! Desainer L'Aura baru saja mengirim drafnya. Sumpah, ini kayaknya pas banget buat Mbak Nuri!

Hanya butuh beberapa detik sampai ponsel Erlan bergetar di atas meja kerjanya di Adhianata Digital. Erlan yang sedang memeriksa laporan bulanan, mengerutkan kening dan membuka pesan adiknya.

Erlan terdiam. Matanya terpaku pada detail bordir bunga melati di bagian kerah gaun itu. Melati. Bunga kesayangan mendiang ibunya yang selalu ia ceritakan pada Emma dulu.

Nuri: Al! Bagus banget! Kok dia bisa tahu ya aku suka gaya klasik yang ada aksen melatinya? Aku langsung jatuh cinta sama gambarnya.

Erlan: Al, siapa nama desainernya?

Aleea: Namanya Emma, Kak. Tapi dia misterius banget, nggak mau ditemui. Kenapa, Kak? Suka kan?

Erlan menatap layar ponselnya lama. Nama itu. Gaya gambar itu. Garis-garisnya terasa sangat familiar, seolah ia pernah melihat coretan serupa di buku tulis adiknya bertahun-tahun lalu. Tapi ia segera menepis pikiran itu. Jangan gila, Erlan. Emma-mu sudah tidak ada.

Erlan: Bagus. Aku setuju. Nuri juga suka. Langsung eksekusi saja.

Aleea: Oke! Besok aku ke L'Aura buat ttd kontrak dan bayar DP-nya! Akhirnya urusan baju beres!


Keesokan harinya, Aleea datang ke Butik L'Aura dengan langkah riang. Ia membawa map berisi kontrak kerjasama eksklusif untuk seluruh seragam keluarga dan gaun pengantin.

"Bu Melani, kakak saya dan calon istrinya sangat bahagia!" ujar Aleea sambil meletakkan map di meja. "Mereka langsung setuju tanpa revisi satu titik pun. Ini luar biasa."

Bu Melani tersenyum lebar. "Syukurlah, Mbak Aleea. Emma pasti senang mendengarnya. Dia memang mengerjakan ini dengan sepenuh hati."

"Boleh saya bertemu Emma sekarang? Saya mau kasih selamat langsung," pinta Aleea.

Bu Melani tampak ragu, ia melirik ke arah pintu ruang desain yang tertutup rapat. "Mohon maaf, Mbak Al. Seperti biasa, Emma sedang fokus memotong bahan pertama. Dia bilang dia tidak ingin diganggu agar energinya tetap terjaga di kain itu."

Aleea menghela napas, sedikit kecewa namun tetap maklum. "Dia benar-benar seniman sejati. Ya sudah, ini kontraknya sudah saya tanda tangani. Pembayaran pertama sudah ditransfer oleh sekretaris Kak Erlan."

"Terima kasih banyak, Mbak Aleea. Kami akan pastikan ini menjadi gaun tercantik tahun ini."

Setelah Aleea pergi, Bu Melani masuk ke ruang desain. Di sana, Emma sedang berdiri menghadap manekin, memegang gunting dengan tangan yang sedikit gemetar.

"Emma! Kabar gembira!" seru Bu Melani. "Keluarga Adhianata sudah tanda tangan kontrak. Mereka suka sekali! Tidak ada revisi! Kamu tahu apa artinya?"

Emma menoleh, mencoba tersenyum meskipun hatinya perih. "Artinya kita bisa mulai menjahit, Bu?"

"Artinya kamu baru saja mendapatkan proyek terbesar dalam sejarah karirmu!" Bu Melani menepuk bahu Emma. "Aleea bilang kakaknya—Pak Erlan—sampai terdiam melihat desainmu. Dia bilang desainmu punya 'kenangan'. Kamu hebat, Emma."

Emma menunduk, menatap kain sutra putih di depannya. Tentu saja ada kenangan di sana, Bu, batinnya. Itu adalah surat cinta saya untuk kakak saya.

Sore harinya, Emma pulang dengan perasaan campur aduk. Di rumah, Saka sedang asyik bermain mobil-mobilan kayu di atas karpet, ditemani Ibu Suti.

"Bunda! Bunda!" Saka berlari menghampiri Emma, memeluk kakinya. "Saka... punya mobil... baru!"

Emma menggendong putranya, mencium pipinya yang gembil. "Mobil baru dari siapa, Sayang?"

"Tante Inem... beli!" sahut Saka riang.

Emma menatap Inem yang baru keluar dari dapur. "Inem, kamu beli mainan lagi buat Saka?"

"Enggak apa-apa, Mbak Emma. Mas Saka tadi pinter banget, nggak rewel pas saya tinggal ke pasar," jawab Inem sambil tersenyum.

Emma duduk di sofa, memangku Saka. Ia menatap anaknya yang kini mulai sibuk menjalankan mobil kayunya di lengan kursi. Wajah Saka benar-benar bayangan Arsen. Setiap kali ia melihat Saka, ia melihat pria yang seharusnya ada di sampingnya saat ini.

"Ibu Suti," panggil Emma pelan.

"Iya, Neng?"

"Gara-gara proyek ini... Emma jadi sering kepikiran," Emma menghela napas. "Apa benar aku harus sembunyi selamanya? Saka semakin besar. Suatu saat dia akan tanya siapa ayahnya. Dan Arsen... dia berhak tahu kalau dia punya anak sehebat Saka."

Ibu Suti menghentikan rajutannya. "Neng, ketakutan itu seperti penjara. Kalau Neng terus-terusan mengunci pintu, Neng nggak akan pernah tahu kalau sebenarnya di luar sana sudah aman."

"Tapi Ibra..."

"Ibra itu manusia, Neng. Bukan Tuhan," ujar Ibu Suti tegas. "Tapi Ibu nggak akan maksa. Neng yang paling tahu kapan Neng siap. Yang penting sekarang, Neng sudah melakukan hal baik buat Kak Erlan lewat baju itu."

Emma terdiam, mencium puncak kepala Saka. "Biarlah baju itu jadi wakilku dulu, Bu. Biarlah Kak Erlan menikah dengan doa-doaku yang terjahit di setiap helai benangnya."

Di kejauhan, suara klakson mobil terdengar samar. Di sebuah gedung pencakar langit, Arsen sedang menatap jendela, tidak tahu bahwa istrinya baru saja mendapatkan tanda tangan kontrak dari adiknya sendiri. Benang-benang takdir sudah mulai terikat, menunggu waktu yang tepat untuk ditarik hingga semua rahasia terungkap.


Pagi itu, Butik L’aura tampak berbeda. Karpet bulu berwarna krem yang baru saja dipasang memberikan kesan hangat, sementara aroma esensial kopi dan vanila menyapa siapa pun yang melangkah masuk. Bu Melani berdiri di depan pintu dengan setelan paling rapi, wajahnya tampak cerah meski sedikit tegang.

Dua mobil mewah berhenti di depan butik. Pintu terbuka, dan serombongan orang turun. Aleea memimpin di depan dengan langkah riang.

"Selamat pagi, Bu Melani!" seru Aleea sambil memeluk singkat pemilik butik itu.

"Selamat pagi, Mbak Aleea. Wah, lengkap sekali hari ini?" jawab Bu Melani sambil menyalami rombongan di belakang Aleea.

Ada Papa Andra dan Mama Ratna yang tampak elegan. Erlan menggandeng Nuri dengan mesra. Di belakang mereka, berdiri sepasang suami istri paruh baya—orang tua Nuri—yang tampak bersahaja namun berkelas. Dan terakhir, Arsen. Pria itu mengenakan kemeja biru navy dengan lengan digulung, wajahnya datar, namun ia tetap ikut masuk demi menghormati Erlan.

"Mari, silakan duduk di area privat kami. Kita akan bahas detail kain untuk Mbak Nuri dan seragam keluarga," ujar Bu Melani ramah.

Area privat itu disulap menjadi ruang tamu yang sangat nyaman. Sofa-sofa empuk melingkar di depan cermin besar.

"Butik ini auranya enak ya, Jeng," bisik Mama Ratna pada Ibu Nuri. "Rasanya tenang, tidak seperti butik besar yang kaku."

"Iya, Bu Ratna. Saya juga merasa nyaman di sini," jawab Ibu Nuri tulus.

Erlan menoleh ke arah Aleea. "Al, mana desainernya? Aku mau bilang terima kasih karena sketsanya benar-benar menyentuh."

Aleea melirik Bu Melani, lalu menoleh pada Erlan. "Kak, desainer kita ini memang agak pemalu. Dia sedang di ruang kerjanya menyiapkan pola dasar. Dia bilang, biar kita fokus dulu pilih bahan, nanti kalau sudah mantap, baru dia kirim asistennya atau Bu Melani untuk ukur badan."

"Misterius sekali ya," timpal Arsen pelan. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling butik. Ada sesuatu dari desain interior butik ini—penempatan vas bunga, pilihan warna gorden—yang entah kenapa membuatnya merasa sesak.