Diandra duduk di samping Arsen, ia tampak asyik memperhatikan majalah mode yang ada di meja. Namun, telinganya tetap tajam mendengarkan percakapan keluarga itu.
"Lan, ini kain sutra mutiaranya bagus sekali," ujar Nuri sambil meraba contoh kain yang disodorkan Bu Melani. "Simpel, tidak terlalu berkilau, persis seperti yang ada di gambar desainer misterius itu kan?"
"Kalau kamu suka, itu yang kita pakai, Nur," jawab Erlan lembut.
"Mbak Nuri, desainer kita itu bilang, kain ini kalau kena cahaya lampu pelaminan nanti, warnanya akan berubah sedikit ke arah hangat. Katanya itu melambangkan 'rumah'," jelas Bu Melani, meniru kata-kata Emma semalam.
Mama Ratna mengusap matanya yang tiba-tiba basah. "Rumah... kata-katanya dalam sekali ya."
Arsen terdiam. Kata 'Rumah' adalah kata favorit Emma. Emma selalu bilang, "Kak, pernikahan itu bukan gedung, tapi rumah. Di mana pun kita berada, asal kita berdua, itu rumah."
"Sen? Kamu kenapa?" bisik Diandra menyenggol lengan Arsen.
"Tidak apa-apa, Di. Cuma... sedikit pusing," bohong Arsen.
"Bu Melani," Diandra bersuara, mengalihkan perhatian semua orang. "Desainer Anda, dia memang selalu se-emosional itu ya dalam merancang?"
Bu Melani tersenyum bangga. "designer kami itu bekerja dengan hati, Mbak Diandra. Dia bilang, setiap helai benang harus punya doa. Itu sebabnya karyanya selalu terasa beda."
Papa Andra mengangguk. "Hebat.”
“Arsen, mungkin kita bisa ajak kerjasama untuk proyek seragam hotel baru kita nanti. Orang berbakat seperti ini jarang." Papa Andra seketika memberikan usul, seperti takut kehilangan kesempatan.
"Nanti kita bicarakan, Pa," sahut Arsen singkat.
Setelah hampir satu jam berdiskusi, Diandra merasa butuh ke kamar kecil. Ia pamit sejenak kepada yang lain.
"Aduh, aku ke toilet sebentar ya," bisik Diandra pada Aleea di tengah obrolan mereka tentang jenis lace.
"Di ujung lorong sana, Di," jawab Aleea tanpa menoleh dari katalog kain.
Diandra melangkah menyusuri lorong yang dihiasi lukisan-lukisan cat air bertema mode. Lorong itu cukup sunyi dibandingkan ruang tamu di depan. Namun, saat ia melewati sebuah pintu putih yang sedikit terbuka, langkahnya terhenti.
Suara dari dalam ruangan itu.
"Iya, Sayang... Mas Saka mam dulu ya sama Eyang Suti? Bunda kerja sebentar lagi, nanti Bunda pulang bawain robot-robotan yang baru..."
Diandra mematung. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia mengenal suara itu. Suara lembut dengan nada bicara yang sedikit manja di ujung kalimatnya. Suara yang selama dua tahun ini ia tangisi setiap malam.
"Janji ya jangan nakal? Bunda sayang banget sama Saka..."
Diandra merasa kakinya lemas. Tidak mungkin, batinnya. Emma sudah meninggal. Emma jatuh ke rel. Tapi suara ini...
Logikanya berteriak bahwa ini mustahil, namun hatinya memerintahkannya untuk bergerak. Dengan tangan yang gemetar hebat, Diandra mendorong pintu itu perlahan.
Krieeet...
Di dalam ruangan yang penuh dengan gulungan kain putih mutiara, seorang wanita berdiri membelakangi pintu. Ia mengenakan blus kerja sederhana, rambutnya diikat rapi. Ia sedang menaruh ponselnya di meja desain.
"Mbak Dwi, tolong ambilkan gunting polanya..." wanita itu berucap sambil membalikkan badan.
Wajahnya seketika bertemu langsung dengan tatapan Diandra.
Dan membuat Emma membeku. Ponsel di tangannya nyaris saja terjatuh.
Diandra menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata langsung tumpah membasahi pipinya. Dunianya seolah berhenti berputar. Di depannya, berdiri sahabat terbaiknya. Bukan hantu, bukan bayangan. Kulitnya yang terkena sinar matahari dari jendela terlihat nyata. Napasnya terlihat nyata.
"Em... ma?" bisik Diandra, suaranya parau dan bergetar.
Emma tidak bisa menjawab. Ketakutan yang selama dua tahun ini menyelimutinya kini meledak menjadi kerinduan yang amat sangat.
"EMMAAAAAA!!!"
Diandra menjerit histeris, sebuah jeritan yang mencampuradukkan rasa syukur, marah, dan tidak percaya. Ia menerjang maju, memeluk Emma dengan sangat erat hingga keduanya hampir terjatuh.
"Di... Diandra..." Emma terisak, membalas pelukan itu dengan tubuh yang gemetar.
"Kamu hidup! Kamu hidup, Emma! Ya Tuhan, ini benar-benar kamu!" Diandra menangis meraung-raung di bahu Emma.
"Di, kumohon... diam... jangan keras-keras," bisik Emma panik, berusaha menenangkan sahabatnya. "Ibra ... aku takut-"
"Persetan dengan Ibra!" teriak Diandra lagi, mengabaikan permintaan Emma. "Kami semua mencarimu! Arsen hampir gila, Emma!"
Jeritan Diandra yang melengking memecah ketenangan Butik L'aura. Di ruang depan, Arsen adalah yang pertama berdiri dengan sentakan yang membuat kursinya bergeser.
"Diandra?" gumam Arsen, wajahnya berubah pucat.
"Suaranya dari lorong desainer!" seru Erlan, yang langsung berlari mendahului semua orang.
Arsen mengikuti, jantungnya berpacu seperti genderang perang. Papa Andra, Mama Ratna, Aleea, dan rombongan keluarga Nuri ikut berlari dengan raut wajah panik. Bu Melani berusaha mengejar mereka dengan wajah yang sudah memutih.
Erlan mencapai pintu putih itu lebih dulu. Ia melihat Diandra sedang memeluk seorang wanita di tengah ruangan yang penuh dengan kain-kain pernikahan.
"Diandra! Ada apa?!" tanya Erlan terengah-engah.
Diandra melepaskan pelukannya, berbalik dengan wajah yang basah kuyup oleh air mata. Ia menunjuk ke arah wanita di depannya. "Erlan... lihat... lihat siapa ini..."
Emma berdiri mematung di sudut meja. Ia menatap ke arah pintu, di mana keluarganya berkumpul. Matanya bertemu dengan mata Erlan.
"Emma?" Suara Erlan pecah. Ia melangkah maju dengan linglung.
Di belakang Erlan, Arsen muncul. Langkah Arsen terhenti tepat di ambang pintu. Seluruh tubuhnya mendadak kaku. Dunianya yang selama dua tahun ini gelap, tiba-tiba diledakkan oleh sebuah kenyataan yang mustahil.
Arsen menatap Emma dengan tatapan nanar. Mulutnya setengah terbuka, namun tidak ada suara yang keluar. Ia seolah melihat sebuah keajaiban yang terlalu indah untuk dipercaya, namun terlalu menyakitkan untuk diterima begitu saja.
"EMMA!!!" Erlan berteriak, suaranya menggelegar penuh kepedihan dan kebahagiaan, langsung mendekap adiknya itu dengan pelukan yang seolah ingin meremukkan tulang. Erlan menangis sejadi-jadinya, raungan kebahagiaan dan kepedihan bercampur menjadi satu.
"Kamu hidup! Kamu hidup, Dek! Ya Allah... adikku hidup!"
Emma hanya bisa menangis pasrah. Ia melihat Arsen di ambang pintu. Ia melihat Mama Ratna yang jatuh terduduk sambil menutup mulutnya. Ia melihat Aleea yang menangis dalam diam.
Beban rahasia selama dua tahun, ketakutan akan ancaman Ibra, rasa lelah karena membesarkan Saka sendirian, dan guncangan emosi saat melihat pria yang paling ia cintai kini berdiri di depannya... semuanya menghantam Emma sekaligus.
Pandangan Emma mendadak kabur. Kepalanya terasa sangat ringan.
"Kak... Erlan..." bisik Emma lemas.
"EMMA! DEK!" Erlan berteriak panik, menangkap tubuh adiknya sebelum menghantam lantai.
Arsen tersentak dari keterpakuannya. Ia melompat maju, mencoba meraih Emma. "Emma! Bangun, Sayang! Emma!”
Kekacauan pecah di ruangan itu. Arsen berlutut di samping Erlan yang memegangi tubuh Emma. Tangan Arsen gemetar hebat saat menyentuh pipi Emma yang dingin.
"Bawa ke rumah sakit! Cepat!" perintah Papa Andra dengan suara berwibawa meski ia sendiri sedang menyeka air mata.
Arsen tidak mendengar apa-apa lagi. Ia mengambil alih tubuh Emma dari pelukan Erlan. Ia menggendongnya dengan sangat hati-hati, seolah Emma terbuat dari kaca yang bisa hancur kapan saja.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Emma," bisik Arsen di telinga wanita yang tak sadarkan diri itu. "Jangan pernah lagi."
Kekacauan pecah di ruang desain yang sempit itu. Mama Ratna menjerit histeris, sementara Aleea dan Nuri berusaha menenangkan orang tua mereka. Bu Melani segera memanggil karyawannya.
"Cepat siapkan mobil! Kita bawa ke Rumah Sakit Medika!" perintah Bu Melani pada stafnya.
Arsen menggendong Emma dengan tangan yang gemetar. Ia tidak memedulikan air mata yang membasahi pipinya. "Bertahanlah, Emma... kumohon jangan tinggalkan aku lagi."