Di tengah kepanikan itu, Diandra tidak ikut masuk ke dalam mobil ambulans rumah sakit yang segera datang menjemput Emma. Pikirannya tertuju pada satu hal, anak itu. Anak laki-laki di ponsel tadi.
"Kamu!" Diandra menarik lengan salah satu penjahit senior yang merupakan rekan kerja Emma. "Kamu tahu di mana Emma tinggal?"
Sari tampak ragu, wajahnya ketakutan. "Mbak Emma minta kami merahasiakannya, Mbak..."
"Mbak, tolonglah, lihat situasinya sangat rumit seperti ini!" Diandra menunjuk ke arah Arsen yang baru saja masuk ke mobil ambulans mendampingi Emma yang tak sadarkan diri.
"Dia istrinya Pak Arsen Wijaya! Dia tidak sedang bersembunyi dari kejahatan, dia sedang pulang! Anaknya sendirian di sana!"
Sari akhirnya mengalah. Ia berlari ke meja admin dan mencatatkan sebuah alamat di secarik kertas. "Ini, Mbak. Perumahan Kenanga, Blok C nomor 12. Dia tinggal bersama ibu pengasuh dan anaknya."
"Terima kasih!" Diandra menyambar kunci mobilnya.
Ia menoleh ke arah Erlan yang hendak masuk ke mobil Papa Andra. "Lan! Kalian ke rumah sakit saja! Urus Emma! Aku akan jemput anak itu!"
Erlan mengangguk cepat. "Hati-hati, Di! Tolong jaga keponakanku!"
Diandra memacu mobilnya seolah-olah nyawanya sedang dipertaruhkan. Pikirannya melayang pada wajah balita di layar ponsel tadi. Bagaimana mungkin Emma menyembunyikan ini sendirian? Bagaimana mungkin dia bertahan?
Setibanya di alamat yang dituju, Diandra melihat sebuah rumah kontrakan yang asri namun sederhana. Di teras depan, seorang wanita paruh baya sedang duduk di kursi kayu, membacakan buku cerita untuk seorang anak kecil yang duduk di pangkuannya.
Diandra turun dari mobil, napasnya tersengal.
"Permisi..." ucap Diandra pelan.
Ibu Suti mendongak, wajahnya tampak bingung melihat wanita cantik dengan setelan butik mahal berdiri di depannya. "Iya, Mbak? Cari siapa?"
Namun, perhatian Diandra langsung teralihkan pada bocah laki-laki yang turun dari pangkuan Ibu Suti. Bocah itu berdiri tegak, menatap Diandra dengan rasa ingin tahu. Diandra menutup mulutnya, denan kaki yang tiba tiba saja terasa lemas.
Rambut yang sedikit kaku di bagian depan, bentuk alis yang tegas, dan yang paling mencolok—tatapan mata yang dalam dan tajam. Itu adalah Arsen Wijaya dalam versi mungil. Tidak perlu tes DNA, tidak perlu penjelasan panjang lebar. Anak ini adalah darah daging Arsen.
"Ya Tuhan..." Diandra jatuh berlutut di depan bocah itu. "Hai, Sayang … namu kamu Saka, kan?"
Saka memiringkan kepalanya. "Iya, tente Capa? Temannya Bunda ya...?"
"Iya sayang, tante ini sahabatnya Bunda, Sayang," bisik Diandra sambil mengelus pipi Saka yang lembut. "Nama Tante, Diandra."
Ibu Suti mendekat dengan cemas. "Mbak ini temannya Neng Emma? Ada apa ya? Kok tadi di telpon kayak ada yang teriak teriak?"
“Kita bicara di dalam saja yuk Bu,” ujar Diandra mengajak Ibu Suti masuk ke dalam rumah. Di sana, ia melihat jejak-jejak kehidupan Emma selama dua tahun terakhir. Mesin jahit di pojok ruangan, sketsa-sketsa yang berserakan, dan banyak mainan mobil-mobilan milik Saka.
"Bu, saya Diandra. Sahabat dekat Emma sejak kuliah," Diandra memulai, suaranya bergetar. "Tadi... di butik... Emma bertemu dengan suaminya. Pak Arsen."
Ibu Suti tersentak, ia memegang dadanya. "Jadi... sudah ketahuan?"
"Ibu tahu kalau suaminya Arsen Wijaya?" tanya Diandra dengan tak kalah kagetnya.
Ibu Suti mengangguk sedih. "Neng Emma cerita semuanya, Mbak. Dia takut sama orang namanya Ibra. Dia takut kalau dia muncul, Mas Arsen atau Kak Erlan akan dicelakai. Dia bertahan demi keselamatan keluarganya."
Diandra meneteskan air mata. "Ibra sudah di penjara, Bu. Sudah lama sekali. Emma tidak tahu..."
"Ya Allah... jadi Neng Emma sembunyi dalam ketakutan yang tidak perlu?" Ibu Suti ikut menangis. "Lalu sekarang Neng Emma di mana?"
"Emma pingsan, Bu. Dia syok berat saat melihat kami semua. Sekarang dia dibawa ke rumah sakit. Pak Arsen, Kak Erlan, dan seluruh keluarga besar ada di sana."
Diandra memegang tangan Ibu Suti. "Bu, saya ke sini mau jemput Saka dan Ibu. Arsen harus melihat anaknya secara langsung. Dia harus tahu kalau alasannya bertahan hidup selama dua tahun ini benar-benar ada."
Ibu Suti segera menyiapkan tas kecil berisi pakaian ganti dan botol minum Saka. Saka tampak senang, ia mengira akan diajak jalan-jalan oleh "Tante cantik" teman Bundanya. Dan memberikan pesan pada inem untuk jaga rumah.
Di dalam mobil, Saka duduk di kursi belakang bersama Ibu Suti. Diandra terus melirik lewat kaca spion, hatinya bergetar melihat kemiripan Saka dan Arsen.
"Bu, bagaimana Emma melahirkan Saka?" tanya Diandra di tengah perjalanan.
"Di rumah saya, Mbak. Dekat rel kereta. Waktu itu Neng Emma pucat sekali, tapi dia kuat. Dia tidak pernah mengeluh. Dia hanya bilang, 'Anak ini harus hidup untukku'." Ibu Suti mengusap rambut Saka. "Dia menamai anak ini Saka Gama Adhianata. Katanya, nama belakangnya harus tetap pakai nama ayahnya."
Diandra terisak. "Adhianata ... Arsen pasti akan hancur sekaligus bahagia mendengar ini."
"Apa Bapaknya Saka orang baik, Mbak?" tanya Ibu Suti polos.
"Dia pria paling setia yang pernah saya kenal, Bu. Selama dua tahun ini, dia tidak pernah sekalipun menyerah mencari Emma. Dia bahkan sakit mual-mual saat Emma mau melahirkan kemarin. Dokter bilang itu sindrom batin."
Ibu Suti tertegun. "Jadi... ikatan batin mereka sejauh itu?"
"Sangat jauh, Bu. Lebih jauh dari yang bisa dibayangkan orang."
Mobil Diandra sampai di lobby rumah sakit. Ia menggendong Saka, sementara Ibu Suti berjalan di sampingnya. Diandra melangkah menuju lantai VIP tempat Emma dirawat.
Di depan kamar, Arsen sedang duduk di kursi tunggu, menunduk dengan tangan menutupi wajahnya. Di sampingnya ada Erlan yang sedang ditenangkan oleh Nuri. Papa Andra dan Mama Ratna berdiri di dekat jendela.
"Arsen..." panggil Diandra pelan.
Arsen mendongak. Wajahnya yang kuyu dan basah oleh air mata menatap Diandra. Namun, pandangannya langsung terkunci pada sosok mungil yang berada dalam gendongan Diandra.
Seluruh orang di lorong itu mendadak membeku.
"Pa... Ma... lihat," bisik Aleea yang baru saja keluar dari kamar Emma.
Arsen berdiri perlahan. Langkahnya terasa berat, seolah bumi sedang menariknya jatuh namun Ia terus berusaha mendekati Diandra.
Saka menatap pria asing di depannya. Ia terlihat tidak takut, justru mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh hidung Arsen yang persis seperti hidungnya.
"Dadda?" gumam Saka polos.
Arsen tersneyum dengan wajah yang kembali basah. Ia mengambil Saka dari gendongan Diandra dengan tangan yang sangat bergetar, memeluk tubuh mungil itu, mencium pelan kening dan pipi Saka, hingga terhirup aroma bedak bayi dan aroma yang entah kenapa terasa sangat akrab di ingatannya.
"Anakku ...." raung Arsen, pelan. Suaranya bukan lagi suara pria sukses yang angkuh, melainkan suara seorang ayah yang baru saja menemukan jantung hatinya yang hilang. "Ini benar-benar anakku..."
Erlan mendekat, ia juga menangis saat melihat keponakannya. "Dia mirip sekali denganmu, Sen. Mirip sekali."
Mama Ratna dan Papa Andra mendekap cucu mereka dengan tangis haru. "Terima kasih, Ya Allah... Engkau mengembalikan Emma dan juga memberkati kami dengan malaikat ini."
Di tengah suasana emosional itu, pintu kamar terbuka. Dokter keluar dengan wajah yang lebih tenang.
"Pak Arsen, Bu Emma sudah sadar. Beliau terus memanggil nama Saka."
Arsen berdiri, menggendong Saka di tangan kanannya, sementara tangan kirinya meraih tangan Diandra sebagai ucapan terima kasih tanpa kata.
"Ayo, Saka," bisik Arsen. "Kita lihat Bunda. Kita pulang sekarang."