Di dalam kamar, Emma terbaring lemah. Namun, saat melihat pintu terbuka dan Arsen melangkah masuk sambil menggendong Saka, matanya bersinar terang.
"Kak ..." lirih Emma.
Arsen duduk di tepi ranjang. Ia meletakkan Saka di antara mereka berdua. Ia menggenggam tangan Emma erat, lalu menciumnya lama.
"Maafkan aku, Emma. Maafkan aku tidak bisa melindungimu saat itu," isak Arsen.
Emma menggeleng, jemarinya mengusap air mata suaminya. "Aku yang minta maaf karena terlalu takut, Aku. Tapi Saka... dia yang membuatku kuat."
Saka merangkak ke arah Bundanya, mencium pipi Emma. "Bunda ... jangan bobo."
"Bunda nggak bobo lagi, Sayang," bisik Emma. "Bunda sudah bangun. Ada Ayah di sini."
Di ambang pintu, seluruh keluarga Wijaya, Erlan, Nuri, Diandra, dan Ibu Suti berdiri menyaksikan. Tidak ada lagi rahasia. Tidak ada lagi persembunyian. Di kamar rumah sakit yang sunyi itu, sebuah cinta yang sempat dianggap mati, kini mekar kembali dengan lebih indah lewat kehadiran seorang anak yang menyatukan mereka.
Malam itu, Adhianata Corp mungkin tetap menjadi raksasa bisnis, tapi bagi Arsen Wijaya, kekayaan aslinya baru saja dimulai di pelukan istri dan anaknya.
Malam di kamar VIP Rumah Sakit Medika itu begitu tenang. Lampu utama telah dimatikan, menyisakan pendar temaram dari lampu sudut yang menciptakan bayangan lembut di wajah Emma. Arsen tidak bergeser satu inci pun. Ia duduk di sisi ranjang, membiarkan jemarinya bertaut dengan jemari Emma yang kini terasa nyata, hangat, dan berdenyut.
"Kamu terus menatapku seperti itu, Aku," bisik Emma pelan. Suaranya masih sedikit serak, namun ada nada jenaka yang kembali muncul. "Aku tidak akan lari lewat jendela, kok."
Arsen tidak segera menjawab. Ia mengangkat tangan Emma, mengecup punggung tangannya lama, lalu menempelkannya di pipinya sendiri. "Aku hanya sedang memastikan ini bukan mimpi. Dua tahun, Emma... aku berkali-kali bermimpi seperti ini, dan setiap kali aku ingin menyentuhmu, kamu menguap jadi asap."
Emma tersenyum perih. Matanya berkaca-kaca. "Maafkan aku... maaf karena membuatmu harus memeluk asap selama itu."
Arsen tertawa kecil, namun tawa itu segera pecah menjadi isak yang tertahan di tenggorokan. Ia menunduk, bahunya sedikit berguncang. "Kamu tahu? Ada satu hal yang paling gila yang pernah aku alami. Sesuatu yang bahkan Erlan pikir itu adalah bukti kalau aku sudah tidak waras."
"Aku juga mengalami sakit, Emma," lanjut Arsen sambil mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.
"Di dalam sakitku, aku seperti mendengar suaramu berteriak. Aku merasa kamu memanggil namaku dengan sisa tenaga. Saat aku berteriak pada Kak Erlan, 'Emma melahirkan! Anakku sudah lahir!' Tapi dia hanya menangis, dia memelukku dan bilang itu adalah Sindrom Couvade. Dia pikir dukaku sudah merusak otakku sampai aku mengalami simpati kehamilan untuk istri yang dia kira sudah mati."
Emma meremas tangan Arsen dengan kuat, air matanya kini mengalir deras. "Kamu tidak gila, kita memang terhubung. Hari itu ... saat aku memberikan dorongan terakhir di pinggir rel yang bising, aku memang memanggilmu. Aku membayangkan kamu memegang tanganku. Aku tidak tahu kalau kamu benar-benar merasakannya."
"Aku merasakannya, Sayang. Setiap detaknya," bisik Arsen parau.
"Saka..." Emma menelan ludah, suaranya bergetar. "Saka adalah alasan aku tetap waras. Setiap kali aku merasa putus asa, setiap kali aku takut Ibra akan menemukanku, aku hanya perlu menatap matanya. Di mata itu, aku melihatmu. Itu yang memberiku kekuatan untuk terus menjahit sampai jari-jariku kaku, terus berjuang demi hari ini."
Arsen berdiri dari kursinya, perlahan ia duduk di tepi ranjang rumah sakit yang sempit itu. Ia menarik Emma ke dalam pelukannya—pelukan yang berbeda dari tadi siang. Kali ini lebih pelan, lebih dalam, seolah setiap inci kulit mereka sedang melakukan percakapan yang tertunda selama tujuh ratus hari lebih.
"Boleh aku menciummu?" tanya Arsen, suaranya rendah, nyaris seperti hembusan angin.
Emma tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melingkarkan lengannya di leher Arsen, menarik pria itu mendekat.
Arsen mendaratkan kecupan hangat di kening Emma, cukup lama, seolah sedang menyalurkan seluruh doa dan rasa syukurnya di sana. Kemudian turun ke kedua kelopak matanya, lalu ke ujung hidungnya. Emma memejamkan mata, menghirup aroma maskulin suaminya yang sangat ia rindukan—aroma kayu cendana dan sabun yang khas.
Lalu, bibir mereka bertemu.
Awalnya hanya sebuah sentuhan ragu, selembut kepakan sayap kupu-kupu. Namun, kerinduan yang membara segera mengambil alih. Arsen merapatkan ciumannya, menghisap lembut bibir bawah Emma, sementara tangannya yang besar meraba lembut sisi wajah Emma, ibu jarinya mengusap tulang pipi yang kini sedikit tirus itu dengan penuh pemujaan.
Emma membalas ciuman itu dengan desahan kecil yang tertahan. Ia bisa merasakan lidah Arsen yang menyapu lembut, meminta izin untuk masuk lebih dalam, dan ia membukanya dengan sukarela. Rasa manis, hangat, dan familiar memenuhi indra mereka. Dunia di luar kamar rumah sakit itu seolah lenyap, tidak ada Ibra, tidak ada rahasia, tidak ada ketakutan. Hanya ada Arsen dan Emma.
Tangan Arsen mulai bergerak, meraba turun dari wajah ke leher Emma yang jenjang, lalu berhenti di pundaknya. Ia meremas lembut di sana, seolah ingin memastikan bahwa ini bukan sekadar daging dan darah, tapi Emma-nya. Tangan itu terus turun, meraba punggung Emma di balik baju pasien yang tipis, menyusuri garis tulang belakang yang dulu sering ia kecup sebelum tidur.
Emma merespons dengan meraba dada Arsen, merasakan detak jantung suaminya yang berpacu kencang di balik kemejanya. Ia bisa merasakan otot-otot Arsen yang mengeras, sebuah bukti bahwa pria itu benar-benar nyata dan masih menginginkannya dengan intensitas yang sama.
"Aku merindukanmu sampai rasanya mau mati, Emma," bisik Arsen di sela-sela ciuman mereka, bibirnya masih menempel di sudut bibir Emma.
"Aku juga, Aku... aku juga," sahut Emma sambil mengatur napasnya yang mulai pendek.
Arsen menjauhkan wajahnya sedikit, hanya beberapa milimeter, menatap bibir Emma yang kini memerah dan sedikit basah. Ia meraba bibir itu dengan jarinya, mengagumi keindahannya.
"Dua tahun ini aku tidak pernah menyentuh wanita lain," ujar Arsen, suaranya serak oleh emosi. "Setiap kali ada godaan, setiap kali Papa memintaku mencari pengganti, aku hanya teringat rasa kulitmu. Tidak ada yang bisa menggantikanmu, bahkan dalam bayangan sekalipun."
Emma menarik tangan Arsen, membawanya ke bawah bajunya, meletakkannya tepat di atas perutnya yang kini memiliki bekas stretch mark halus—saksi bisu perjuangannya melahirkan Saka.
"Rasakan ini," bisik Emma. "Ini adalah bukti kalau aku selalu membawamu bersamaku. Luka-luka ini... mereka ada karena kamu juga ada di dalam diriku."
Arsen meraba tekstur kulit perut Emma dengan sangat hati-hati, seolah-olah kulit itu terbuat dari porselen paling mahal. Ia mengecup bibir Emma lagi, kali ini lebih menuntut, lebih lapar, namun tetap sarat akan menjaga. Tangannya merangkul pinggang Emma, menariknya hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka.