Bab 46 Pulang

Penulis JanaIndria
12 January 2026

Setelah beberapa saat yang dipenuhi oleh sentuhan dan kecupan yang dalam, Arsen melepaskan tautan bibir mereka. Ia menyandarkan dahinya di dahi Emma, napas mereka beradu, menciptakan uap hangat di antara mereka.

"Saka sedang tidur nyenyak di sofa depan bersama Ibu Suti," ujar Arsen pelan. "Aleea menjaganya dengan sangat protektif. Sepertinya anak kita akan jadi raja baru di keluarga Wijaya."

Emma tertawa, kali ini tawanya terdengar lebih lepas. "Dia memang sedikit manja, Aku. Tapi dia anak yang sangat pintar. Dia sering bertanya padaku tentang segala hal.”

Arsen mengecup hidung Emma. "Aku tahu itu …, dan Istananya sudah siap, Sayang. Kamarmu, taman untuk Saka bermain... semuanya sudah aku siapkan. Aku membangun semuanya dengan keyakinan gila bahwa kamu akan kembali. Dan itu yang terjadi."

"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku," bisik Emma.

"Terima kasih sudah bertahan untuk hidup," balas Arsen.

Arsen kembali meraba tangan Emma, membolak-baliknya, mengagumi jari-jari yang selama dua tahun ini telah bekerja keras menjahit kain-kain, kemudian mengecup ujung jari itu satu per satu.

"Besok, kita akan pulang," ujar Arsen dengan nada yang tak terbantahkan. "Tidak ada lagi persembunyian. Tidak ada lagi daster lusuh. Kamu adalah Nyonya Adhianata, desainer terbaik yang pernah aku kenal, dan ibu dari putraku."

Emma mengangguk, ia merapatkan tubuhnya ke dada Arsen, mendengarkan detak jantung pria itu yang kini menjadi melodi paling menenangkan di dunia. "Ibra?"

"Lupakan dia," desis Arsen, suaranya berubah dingin saat menyebut nama itu. "Dia tidak akan pernah menyentuhmu lagi. Aku sudah memastikan dia membusuk di sana selamanya. Fokusmu sekarang hanyalah mencintaiku, mencintai Saka, dan kembali menjadi Emma yang ceria."

Emma tersenyum, ia menarik kerah kemeja Arsen, memberikan satu kecupan singkat namun manis di bibirnya. "Aku mencintaimu, Arsen."

"Aku lebih mencintaimu, Emma. Jauh lebih besar dari seluruh dunia yang pernah kita lalui."

Malam itu, di kamar yang berbau antiseptik, dua jiwa yang sempat terpisah oleh maut buatan, akhirnya benar-benar pulang. Di bawah selimut rumah sakit, tangan mereka tetap bertaut, meraba kehangatan satu sama lain, memastikan bahwa matahari yang akan terbit besok adalah matahari pertama bagi kehidupan baru mereka yang utuh.


Keesokan paginya, suasana kamar VIP dipenuhi kehangatan. Saka sudah bangun dan sedang asyik memakan bubur disuapi oleh Ibu Suti. Inem berdiri di sudut, masih tampak canggung berada di lingkungan mewah itu.

Arsen berdiri, memandang Ibu Suti dengan rasa hormat yang mendalam. "Ibu Suti... saya tidak tahu bagaimana cara membalas budi Ibu. Tanpa Ibu, saya tidak akan punya istri dan anak hari ini."

Ibu Suti tersenyum tulus. "Ndak usah dipikir, Pak Arsen. Neng Emma itu sudah seperti anak saya sendiri. Mas Saka juga sudah seperti cucu saya."

Arsen menoleh pada Emma. "Emma, aku sudah bicara dengan Papa dan Mama. Kami ingin kalian pulang hari ini juga. Rumah sudah siap."

Emma terdiam sejenak. Ia melirik Ibu Suti dan Inem. "Aku... mereka keluargaku sekarang. Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Ibu Suti yang menjagaku saat aku tidak punya apa-apa. Inem yang membantuku mengurus Saka saat aku harus mengejar pesanan jahit."

Arsen tersenyum, ia sudah menduga hal ini. "Aku tidak memintamu meninggalkan mereka, Sayang. Rumah kita sangat besar. Aku sudah menyiapkan kamar untuk Ibu Suti dan Inem. Mereka akan tetap bersamamu, tetap menjaga Saka, tapi di tempat yang lebih layak."

"Beneran, Pak Arsen?" Inem nyeletuk dengan mata berbinar-binar. "Saya boleh ikut?"

"Tentu saja, Inem. Kamu sudah menjaga keluarga saya di saat sulit, sekarang biarkan saya yang menjaga kesejahteraan kamu," jawab Arsen ramah.

Emma menatap Ibu Suti. "Bagaimana, Bu? Ibu mau ikut Aku?"

Ibu Suti mengusap rambut Saka. "Kalau Neng Emma butuh Ibu, Ibu ikut ke mana saja. Lagian, Ibu nggak bisa jauh-jauh dari gantengnya Ibu ini," godanya sambil mencubit pelan pipi Saka.

Saka tertawa. "Ikut ... Ayah?" tanyanya polos, menunjuk ke arah Arsen.

Jantung Arsen berdesir hebat setiap kali mendengar kata 'Ayah' dari bibir kecil itu. Ia berlutut di depan Saka. "Iya, Jagoan. Kita pulang ke rumah Ayah. Di sana ada banyak mainan mobil-mobilan yang besar."

"Yeee! Mobil!" seru Saka kegirangan.


Konvoi mobil mewah memasuki gerbang kediaman besar Adhianata. Emma menatap keluar jendela mobil yang sengaja ia tumpangi bersama Saka dan Ibu Suti sedangkan Arsen mengikuti di mobil belakang untuk memberi ruang privasi bagi Emma.

"Masya Allah, Neng... ini rumah atau istana?" bisik Ibu Suti saat melihat air mancur raksasa dan pilar-pilar megah rumah itu.

Inem hanya melongo, tidak berani membuka mulutnya. "Mbak Emma... saya takut nyasar di dalam."

Emma tersenyum, namun hatinya berdebar. Dua tahun lalu, ia meninggalkan rumah ini sebagai pengantin yang penuh ketakutan. Hari ini, ia kembali sebagai seorang ibu yang kuat.

Begitu mobil berhenti, seluruh keluarga sudah menunggu di teras. Papa Andra, Mama Ratna, Diandra dan Aleea berdiri dengan wajah penuh haru.

Arsen segera turun dan membukakan pintu untuk Emma. Ia membantu Emma turun dengan sangat hati-hati, lalu menggendong Saka.

"Selamat datang di rumah, Emma," bisik Papa Andra sambil memeluk menantunya. "Maafkan Papa yang dulu sempat meragukan keyakinan Arsen."

“Tidak apa apa kok, Pa.” Emma menjawab sembari tersenyum.

"Sini, cucu Eyang yang paling ganteng!" Mama Ratna mengambil Saka dari gendongan Arsen, menciuminya tanpa henti. "Mirip sekali dengan Arsen waktu kecil, Pa. Mirip sekali!"

Diandra menghampiri Emma, memeluknya erat. "Emma ...."

"Terima kasih, Di." Emma menjawab dengan membalas pelukan sahabatnya, dan tertawa pelan bersama.


Arsen menuntun Emma menuju sayap kanan rumah. Ibu Suti dan Inem sudah diantar oleh asisten rumah tangga menuju kamar mereka yang nyaman di lantai bawah.

"Al bilang kamu menyiapkan sesuatu," ujar Emma saat mereka berdiri di depan sebuah pintu kayu jati yang besar.

"Aku menyiapkannya sejak setahun lalu," jawab Arsen. "Aleea membantuku mendesainnya. Aku ingin ini menjadi kejutan."

Arsen membuka pintu.

Emma terkesiap. Itu adalah sebuah master suite yang sangat luas, namun terasa begitu hangat. Dindingnya berwarna krem lembut dengan aksen kayu alami. Di satu sisi, ada area santai dengan kursi jahit ergonomis yang sangat mewah dan meja desain yang besar, lengkap dengan rak-rak kain yang tertata rapi.

"Kamu... kamu menyiapkan ruang jahit untukku?" tanya Emma tak percaya.

"Aku tahu itu gairahmu, Emma. Kamu sudah membuktikan bahwa kamu desainer hebat tanpa namaku. Jadi, di sini, kamu bisa terus berkarya," Arsen menunjuk ke pintu penghubung di dalam kamar. "Dan lihat ini."

Di balik pintu penghubung, terdapat kamar bayi yang sangat indah. Temanya woodland, tenang dan hangat. Ada banyak mainan kayu berkualitas tinggi, rak buku cerita, dan sebuah ranjang bayi yang sangat nyaman.

"Saka akan tidur di sini. Dekat dengan kita," ujar Arsen.

Emma menutup mulutnya dengan tangan, air matanya tumpah lagi. Ia melihat sebuah bingkai foto besar di dinding kamar bayi. Bukan foto pernikahan mereka, melainkan sketsa gaun 'Gema Kerinduan' yang Emma buat untuk Aleea, namun di bawahnya ada tulisan tangan Arsen: "Terima kasih sudah bertahan untuk pulang."

"Aku ... ini terlalu indah," isak Emma.

Arsen memeluk Emma dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya. "Tidak ada yang terlalu indah untukmu, Emma. Selama dua tahun ini, aku hanya punya harapan. Dan hari ini, harapan itu punya nama, punya wajah, dan punya suara."

Saka berlari masuk ke kamar bayi, langsung menuju kolam bola kecil di sudut ruangan. "Ayah! Bola!"